...༻◩༺...
Keberangkatan menuju Meksiko akan dilakukan lusa. Raquel tidak lupa memberitahukan tentang kepergiannya kepada teman-temannya. Perempuan itu terpaksa berbohong mengenai alasan kepergiannya.
"Aku mendapat tiket undian! Ini benar-benar keberuntungan yang datang di waktu sempurna!" cetus Raquel berkilah.
"Ini benar-benar kebetulan yang sempurna. Dengan perginya kau ke sana, kita bisa mendapatkan referensi yang lebih lengkap dan dipercaya," tanggap Andres.
"Ya, kalau perlu sekalian saja kau buat film dokumentasinya sendiri," ujar Reyna.
"Itulah yang aku pikirkan. Aku janji akan membawakan data yang bisa mendukung kita membuat film pendek!" Raquel merasa bersemangat. Ia merasa jalan menuju mimpinya tinggal selangkah lagi.
"Halo, semuanya! Aku ingin mengundang kalian ke pesta ulang tahunku hari ini. Datanglah jam tujuh malam nanti, oke!" seorang perempuan bernama Camilla tiba-tiba datang. Dia segera pergi setelah mengundang Raquel dan kawan-kawan.
"Kau akan pergi bukan?" tanya Andres. Menatap penuh harap. Hal serupa juga tampak dilakukan Reyna.
"Aku tidak tahu. Aku..."
"Ayolah. Apa kau kelelawar? Kenapa kau selalu menolak ajakan kita saat malam hari? Kau sibuk di rumah atau apa?" timpal Reyna dengan tatapan menyelidik.
"Ya, kau bahkan tidak pernah mengajak kami datang ke rumahmu." Andres ikut menimpali.
"Tempatku sangat berantakan dan kecil. A-aku malu mengajak kalian pergi ke sana," dalih Raquel dengan gerakan bola mata yang meliar.
"Kau mengenal aku dan Andres! Kami tidak peduli dengan tempat yang berantakan. Kau pernah tinggal di rumah kontrakan kami bukan? Kau tahu betapa berantakannya rumah itu. Setiap malam kita selalu mendengar suara orang bercinta. Kau dan Luiz pernah melakukannya di sana juga beberapa kali," tukas Reyna. Dia langsung mendapat pukulan di pundak dari Andres.
"Kenapa kau membahas Luiz?" bisik Andres menegur.
"Aku tidak berbohong kan? Aku ingat bagaimana Raquel dan Luiz saat dimabuk cinta dulu," sahut Reyna.
"Bisakah kalian berhenti mengungkit masa laluku? Bukankah kita membicarakan tentang tempat tinggalku?" imbuh Raquel yang merasa risih dengan pembicaraan kedua temannya.
"Maaf..." ungkap Reyna. Merasa tidak enak.
Raquel terdiam sejenak. Dia berpikir akan mencari apartemen kecil untuk dijadikan tempat tinggal palsunya.
"Aku mungkin tidak bisa pergi ke pesta malam ini. Tapi aku akan mengajak kalian ke tempatku besok," ucap Raquel.
"Benarkah? Kenapa tidak sekarang?" tanggap Andres antusias.
"Ayolah, teman-teman. Rumahku sangat berantakan. Aku butuh waktu untuk membersihkannya. Aku tidak mau rumahku tambah berantakan saat mendapat kunjungan dari kalian," terang Raquel.
"Kau ada benarnya. Aku dan Andres memang berniat ingin membuat tempat tinggalmu berantakan," canda Reyna. Dia, Raquel, dan Andres, tergelak bersama.
"Setidaknya kau ikut ke pesta hari ini." Andres mencoba membujuk Raquel lagi.
"Maafkan aku. Sebenarnya aku memiliki pekerjaan paruh waktu. Itulah alasanku selalu tidak bisa ikut kalian saat malam." Raquel memberi alasan. Kebohongan yang diucapkannya semakin bertambah. Berlapis-lapis demi menutup kotak pandoranya yang berisi rahasia bahwa dia sudah menikahi Felipe.
"Harusnya kau bilang dari awal," sahut Reyna.
Pembicaraan Raquel dan teman-temannya berakhir disitu. Selanjutnya mereka berpisah. Pulang ke rumah masing-masing. Akan tetapi tidak untuk Raquel. Dia perlu mencari apartemen kumuh yang tadi dirinya sebutkan kepada Andres dan Reyna.
Raquel memberitahu Romi bahwa dia tidak bisa langsung pulang. Perempuan tersebut memberi alasan kalau dirinya harus mengurus tugas kuliah. Alhasil Romi pulang lebih dulu. Saat itulah Raquel bergerak untuk mencari apartemen.
Satu per satu apartemen didatangi Raquel. Namun belum ada satu pun yang cocok. Kebanyakan apartemen yang ditemukannya terlalu mewah dan mahal. Tidak pas dengan uang saku yang Raquel miliki sekarang.
Ketika sudah menemukan apartemen yang dirasa pas, Raquel justru tidak nyaman dengan tetangga di sana. Meski dia tidak akan menetap di apartemen itu, namun keamanan tetap nomor satu bagi Raquel.
"Sekarang aku harus kemana? Rasanya aku sudah berkeliling kota madrid," gumam Raquel. Dia sudah kehabisan cara untuk mencari apartemen.
Raquel duduk sejenak. Dia merasa tidak bisa melakukannya sendiri. Apalagi saat mendatangi apartemen terakhir, Raquel nyaris kena tipu.
'Haruskah aku minta bantuan Luiz? Dia satu-satunya orang yang mengerti sekarang. Aku yakin Luiz pasti merahasiakan pada semua orang kalau aku adalah ibu tirinya,' batin Raquel menduga. Dengan berat hati, dia akhirnya mencoba menghubungi Luiz.
Raquel tak punya pilihan. Dia bisa saja meminta tolong Romi atau Julio. Akan tetapi dua orang itu tentu tidak mengetahui fakta kalau dirinya masih merahasiakan status pernikahan dengan Felipe.
Di sisi lain, Luiz sedang berada di bar bersama teman-temannya. Ia menikmati sebatang rokok. Luiz segera mengambil ponsel ketika mendengar suara dering berbunyi.
Pupil mata Luiz membesar saat melihat nama Raquel di layar ponsel. Dia mengerjap beberapa kali. Memastikan apakah yang didapatinya nyata atau tidak.
"Kau baik-baik saja, Luiz?" tanya Carlos. Berhasil memergoki keanehan yang ditunjukkan Luiz.
"Aku keluar sebentar." Bukannya menjawab, Luiz malah pergi keluar bar. Lalu mengangkat panggilan Raquel. Dia mengira perempuan itu akan memberikan kabar mengenai ayahnya.
"Ada apa? Kau tidak memberikan makanan yang salah pada ayahku kan?" timpal Luiz.
"Tentu saja. Tapi... Aku butuh bantuanmu. Itu pun jika kau bersedia membantu," sahut Raquel dengan nada canggung.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Luiz.
"Kau tahu... Aku yakin kau menyembunyikan status kita sekarang. Maksudku status kita sebagai ibu dan anak tiri. Aku--"
"Bukankah jelas? Akan memalukan kalau aku mengakuimu sebagai ibu tiriku!" potong Luiz tegas.
"Aku juga berpikir demikian. Andai lelaki yang kunikahi sekarang bukan ayahmu, mungkin aku tidak masalah memberitahukan semua itu pada semua orang. Tapi masalahnya Tuan Felipe adalah ayahmu," jelas Raquel panjang lebar.
"Bisakah kau bicara langsung ke intinya?"
"Aku sedang mencari apartemen kecil. Sudah hampir seharian aku mencari. Tapi belum menemukan tempat yang tepat," ungkap Raquel.
"Jadi kau mencari apartemen untuk dijadikan sebagai tempat tinggal palsumu?" tebak Luiz.
"Bisa dibilang begitu. Aku yakin kau mengerti. Aku butuh waktu untuk mengatakan status kita ke publik."
"Aku juga. Baiklah kalau begitu, kau dimana? Aku akan membantumu. Tapi ingat! Aku melakukan ini demi merahasiakan status kita. Mengerti?"
"Aku mengerti."
Pembicaraan Luiz dan Raquel berakhir. Luiz segera berangkat menemui Raquel. Dia tiba dalam selang sekian menit. Raquel langsung masuk ke mobilnya.
"Kau ingin mencari apartemen seperti apa?" tanya Luiz. Raquel lantas menjelaskannya secara spesifik. Dia menginginkan apartemen murah dan kecil. Pastinya sesuai kriteria yang dirinya sebutkan pada Andres dan Reyna.
"Aku sepertinya tahu satu tempat yang sesuai dengan kriteriamu itu." Luiz memutar alat kemudi. Mengarahkan mobil ke tempat yang dirinya maksud.
Sesampainya di tempat tujuan, Luiz dan Raquel langsung memeriksa salah satu unit apartemen yang kosong. Meski agak berantakan, tempatnya sesuai dengan harapan Raquel. Terutama harganya. Lokasinya sendiri berada tidak jauh dari kampus.
"Ini sangat cocok!" seru Raquel.
"Kau yakin? Kalau kau mau, kita bisa periksa tempat lain," tanggap Luiz yang heran. Sebab dia merasa apartemen pilihan Raquel sekarang terlalu berantakan. Dia yakin tempat itu sudah lama tidak ditinggali.
"Tidak perlu. Aku akan memilih ini." Pilihan Raquel sudah bulat. Pemilik apartemen yang ikut lantas tersenyum.
Raquel langsung melakukan pembayaran. Ia tidak masalah harus membersihkan tempatnya sendiri.
"Terima kasih. Kau bisa pulang sekarang. Aku ingin tinggal sebentar untuk bersih-bersih!" saran Raquel. Usai melakukan pembayaran. Dia segera berbenah.
Luiz diam saja. Dia tidak pergi dan malah membantu Raquel bersih-bersih. Perempuan itu otomatis tersenyum senang. Sisi baik Luiz juga tidak berubah seperti sisi buruknya, lelaki tersebut memang dikenal murah hati dan sangat perhatian.
Luiz mengumpulkan sampah ke dalam kantong plastik. Dia meninggalkan Raquel sebentar untuk membuang sampah keluar.
Saat menunggu pintu lift terbuka, seorang lelaki kebetulan keluar dari unit apartemen di sebelah unit apartemen Raquel.
"Kau tinggal di sana?" tanya lelaki tersebut sambil melirik ke pintu unit apartemen Raquel yang terbuka. Dia berjambang dan terlihat tampan seperti pria keturunan Spanyol pada umumnya.
"Bukan aku. Tapi temanku," jawab Luiz.
"Maaf menakutimu. Tapi dua tahun yang lalu terjadi pembunuhan di unit apartemen itu," bisik sang pria.
"Apa?" Mata Luiz membulat.
"Aku sering mendengar suara aneh dari sana," tambah pria tersebut seraya memegang pundak Luiz. Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka. Dia dan Luiz segera masuk bersama ke sana.
Luiz membisu. Memikirkan tentang yang disebutkan pria tadi kepadanya. 'Perlukah aku memberitahu Raquel?' batinnya meragu. Mengingat Raquel terlanjur sudah menyukai unit apartemen yang di tempatinya sekarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
SariRani
Kok jadi horor begini thor 🥲
2024-08-12
0