...༻◩༺...
Sebentar lagi hari halloween akan tiba. Raquel dan teman-teman kampusnya merencanakan pembuatan film horor pendek. Mereka sekarang sedang berdiskusi. Duduk di atas rerumputan hijau halaman kampus.
"Aku rasa tema halloween terlalu pasaran. Tahun lalu juga ada banyak sekali anak dari jurusan kita membuat film dengan tema serupa," cetus Andres.
"Itu benar. Tapi kalau memang kita benar-benar ingin mengambil tema halloween, kita harus membuat film yang lebih bagus dari sebelumnya. Jadi otomatis kita harus melihat referensinya terlebih dahulu," sahut Reyna. Sependapat dengan Andres.
"Itu terdengar sangat merepotkan. Aku merasa langsung mendapat beban di pundakku," ungkap Raquel.
Andres tiba-tiba menjentikkan jarinya. Sebagai seorang penulis, dia merupakan orang yang seringkali mendapat ide bagus.
"Aku punya ide! Aku baru saja membaca artikel menarik." Andres mengambil ponsel. Dia segera mencarikan artikel yang dirinya maksud. Lalu menunjukkannya pada Raquel dan Reyna.
"Día de muertos?" Raquel mengerutkan dahi. Dia dan Reyna membaca dengan teliti artikel yang ditunjukkan Andres.
"Yup! Día de muertos. Itu adalah hari perayaan kematian yang dilaksanakan pada tanggal 1 dan 2 November. Aku mendapat inspirasi kalau film yang kita buat akan menceritakan tentang seorang perempuan dari Spanyol berkunjung ke rumah keluarganya. Saat itulah dia bertemu dengan lelaki misterius yang tanpa diketahuinya adalah arwah gentayangan," ujar Andres panjang lebar.
"Tapi perayaan ini dilaksanakan di Meksiko. Kita akan mengeluarkan biaya yang sangat banyak jika ke sana," sahut Raquel.
"Idemu sebenarnya sangat bagus, Andres. Tapi Raquel ada benarnya. Untuk membuat cerita dan film sebagus itu membutuhkan biaya yang banyak." Reyna mengungkapkan asumsinya.
"Tapi jujur, aku juga sangat tertarik dengan Día de muertos. Pasti belum pernah ada orang yang membuat film pendek dengan tema ini," ungkap Raquel sambil melemaskan kedua bahunya.
"Seratus persen! Yang jelas mahasiswa di jurusan perfilman belum ada yang membuat film pendek tema begini saat hari halloween," balas Andres.
"Sebaiknya kita pikirkan lagi baik-baik. Mungkin kita akan mendapat ide lebih baik dengan biaya yang mendukung," imbuh Reyna. Mencoba memberi energi positif.
Raquel mengangguk. Dia dan teman-temannya segera pulang.
Sementara itu, Luiz dan Agnese sekarang berada di dalam mobil. Mereka berciuman bibir di sana. Agnese yang merasa bergairah, bergerak begitu liar.
Namun tidak dengan Luiz. Padahal dia dan Agnese hampir setengah jam melakukan pemanasan.
"Kau tidak bisa lagi?" tanya Agnese
"Ya." Luiz menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa. Aku tidak masalah dengan itu asalkan kau tetap menjadi pacarku." Agnese meletakkan kepalanya ke pundak Luiz.
"Thanks," ungkap Luiz singkat.
"Tunggu dulu. Lalu kenapa tadi malam kau bisa melakukannya?" Agnese teringat dengan percintaannya bersama Luiz tadi malam.
"Entahlah. Aku juga tidak mengerti." Luiz tentu tidak akan mengatakan yang sebenarnya.
"Ngomong-ngomong siapa perempuan yang datang mencarimu itu?" tanya Agnese.
"Dia sepupuku," jawab Luiz. Akan memalukan jika dia mengakui Raquel sebagai ibu tirinya.
"Ah, begitu." Agnese mengangguk dan mencoba memahami.
Luiz mendengus kasar. Dia kesal dengan dirinya yang tak kunjung bisa bergairah tanpa bantuan Raquel. Alhasil Luiz mencoba rencana lain. Yaitu melakukannya sambil memikirkan Raquel.
"Ayo kita coba sekali lagi," ajak Luiz. Kali ini dia melakukannya sambil memikirkan Raquel.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, gairah Luiz memuncak. Dia dan Agnese berhubungan intim untuk kedua kalinya.
'Raquel sialan! Sial! Sial!' Luiz mengumpat dalam hati. Sembari membayangkan badan Raquel yang seksi. Dia mensugesti dirinya sendiri kalau perempuan yang bersamanya adalah Raquel. Sehingga dia dapat memberikan hentakan dalam kepada Agnese.
"Akh! Luiz! Akh!" Lenguhan Agnese kian menjadi-jadi. Dia dan Luiz melakukannya sampai saling terpuaskan satu sama lain.
Usai bercinta dengan Agnese, Luiz pulang. Dia tak lupa mengantar Agnese pulang lebih dulu.
...***...
Raquel baru saja tiba di rumah. Romi langsung mengajaknya makan siang di kamar Felipe. Di sana sudah ada Julio dan Luiz yang duduk berdampingan. Mereka langsung menatap ke arah Raquel ketika perempuan itu datang.
"Ada apa ini?" tanya Raquel bingung.
"Bukankah ini idemu. Aku mengajak semua orang makan bersama di sini," jawab Felipe.
"Benarkah?" Raquel tersenyum lembut seraya berjalan menghampiri Felipe. Dia berjalan ke kursi tempat dirinya biasa duduk.
"Oh, jadi ini idemu, Mom?" tanya Julio.
"Karena Ayah kalian tidak bisa makan di meja makan, maka lebih baik kau dan Luiz yang bergabung ke sini kan?" tanggap Raquel. Dia segera mengambil hidangannya. Menyendok makanan untuk diberikan pada Felipe.
"Tidak perlu, Raquel. Aku kali ini akan makan sendiri," ujar Felipe sambil merubah posisi menjadi duduk.
Raquel dan Luiz sigap membantu Felipe. Bersamaan dengan itu, mereka sempat-sempatnya mencuri pandang.
Setelah Felipe duduk tegak di atas ranjangnya, semua orang lantas makan. Felipe tidak berhenti tersenyum sembari memandangi ketiga orang tersayangnya.
"Aku sangat bahagia sekarang," ungkap Felipe.
"Ini sebenarnya agak menyusahkan," cetus Julio gamblang. Dia kesusahan makan karena tidak ada meja. Luiz pun langsung memukul kepalanya.
"Bersikaplah dengan baik!" tegas Luiz.
"Aku hanya berkata jujur. Aku yakin kau juga merasa tidak nyaman menikmati makanan tanpa meja," balas Julio.
Felipe tergelak melihat pertengkaran kedua putranya. Jujur saja, itu salah satu hal yang dia rindukan.
"Sudahlah! Aku akan menyuruh Romi untuk mengambilkan kalian meja," ucap Felipe.
"Tidak usah, Ayah! Makananku dan Julio hampir habis," tolak Luiz cepat.
Raquel sejak tadi hanya diam. Dia fokus menikmati hidangannya. Untuk orang seperti Raquel sudah terbiasa makan tanpa meja. Mengingat di panti asuhan dirinya terkadang tidak mendapat tempat duduk dan mengalah untuk anak-anak.
Hening sempat menyelimuti suasana. Hanya ada suara denting sendok yang mengenai piring.
Felipe menatap Raquel. Seketika dia teringat dengan Imelda, yang tak lain adalah mendiang istrinya sendiri. Felipe ingat setiap satu tahun sekali dia pergi ke Meksiko untuk mengenang kematian Imelda di rumah mertuanya.
"Ayah, apa tahun ini kau tidak akan ke Meksiko?" celetuk Luiz. Dia tahu di setiap tahun Felipe pergi ke Meksiko untuk mengenang kematian sang istri. Kebetulan tempat kelahiran istrinya itu di Meksiko.
"Bagaimana aku bisa ke sana dalam keadaan begini? Justru aku ingin kalian semua yang pergi ke sana. Ajaklah Raquel ke sana bersama kalian," sahut Felipe.
Mata Luiz dan Raquel membulat. Keduanya tentu enggan harus pergi bersama.
"Tapi--"
"Ide bagus, Ayah! Aku yakin Momy Raquel akan menyukai kota Della Cruz!" Julio memotong perkataan Luiz tanpa sengaja.
"Tapi bagaimana denganmu? Aku tidak mau kau sendirian di sini. Biarkan saja Luiz dan Julio yang pergi," usul Raquel.
"Tidak. Kau harus ke sana. Kau harus melihat bagaimana Día de muertos dilaksanakan," kata Felipe.
Pupil mata Raquel membesar. "Kau bilang apa? Día de muertos?" ulangnya yang tiba-tiba merasa antusias. Mengingat dia dan teman-temannya berniat membuat film bertema Día de muertos. Dengan perginya Raquel ke sana, dia bisa mendapat referensi atau membuat dokumentasi sendiri.
"Ya, kau tahu tentang hari perayaan kematian itu kan? Aku selalu merayakan itu setiap tahun di Meksiko untuk mengenang Imelda," tutur Felipe.
"Ayah, dia benar. Kami--"
"Baiklah kalau begitu." Raquel memotong ucapan Luiz. Ia berubah pikiran. Dirinya setuju demi projek film pendeknya.
"Ini pasti menyenangkan!" seru Julio senang.
Sementara Luiz terlihat menunjukkan ekspresi datar. Perasaannya campur aduk sekarang. Di antara tidak terima dan menerima. Mengingat dirinya sedang berusaha melupakan Raquel.
..._____...
Catatan Kaki :
Día de muertos : Adalah perayaan hari kematian yang dilaksanakan di Meksiko setiap tanggal 2 November.
Info : Bahasa kebangsaan Meksiko sendiri adalah Spanyol. Jadi dua negara ini memiliki keterkaitan yang erat dalam budaya dan masyarakatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments