...༻◩༺...
Raquel dan Luiz mencapai puncak bersamaan. Kini yang tersisa hanya suara lenguhan nafas. Luiz tumbang menelungkup ke atas badan Raquel.
"Kita harus cepat-cepat pergi dari sini..." cetus Raquel. Dia dan Luiz perlahan melepas penyatuan.
"Ya, sepertinya pria botak itu pergi memanggil pihak keamanan," sahut Luiz. Dia dan Raquel bergegas mengenakan pakaian.
Di sisi lain, pria berkepala pelontos sedang dalam perjalanan menuju mobilnya. Dia tidak sendiri. Ada Eros dan tiga pihak keamanan yang ikut dengannya.
"Itu! Mereka di sana!" seru pria berkepala botak. Ketiga pihak keamanan lantas memeriksa mobil yang ditunjuknya. Akan tetapi mereka tidak menemukan siapapun di dalam.
"Kau pasti membohongi kami!" geram Eros. Dia ternyata adalah seorang polisi Meksiko. Tidak heran para pihak keamanan dekat dengannya.
"Tidak! Aku bersumpah mereka tadi di mobilku. Mereka bahkan sempat-sempatnya bercinta di sana!" bantah sang pria berkepala botak yang merasa sangat yakin.
Tanpa sepengetahuan mereka, Raquel dan Luiz bersembunyi dari balik sebuah mobil sejak tadi. Mereka sebenarnya ingin cepat-cepat pergi. Tetapi tidak jadi dilakukan karena pihak keamanan terlanjur datang.
"Aku kasihan dengan pria berkepala botak itu," cicit Raquel. Dia dan Luiz mengintip dari tempat persembunyian mereka.
"Aku tadi meninggalkan uang di mobilnya," sahut Luiz dengan nada berbisik.
"Benarkah? Berapa banyak?" tanggap Raquel.
"Yang pasti cukup untuk biaya mencuci mobil," imbuh Luiz. Dia dan Raquel tergelak kecil bersama. Keduanya segera pergi setelah keadaan sudah aman. Mereka mendatangi taksi yang sudah menunggu lama. Lalu segera pergi ke hotel.
Selama perjalanan, Luiz dan Raquel tidak berhenti berciuman. Sopir taksi yang menyetir bisa mendengar suara decapan lidah mereka dengan jelas. Sopir itu hanya bisa menenggak salivanya sendiri dan memaklumi.
"Ah, benar. Aku lupa dengan Julio," cetus Raquel yang menghentikan ciumannya sejenak dengan Luiz.
"Aku yakin dia akan baik-baik saja." Luiz memegangi tengkuk Raquel. Ciuman mereka kembali berlanjut.
Luiz dan Raquel melupakan Julio begitu saja. Setibanya di hotel, mereka langsung check in. Hanya memesan satu kamar saja.
Setibanya di kamar. Luiz dan Raquel buru-buru melepas seluruh pakaian. Mereka berhubungan intim untuk kedua kalinya. Kini mereka dapat melakukannya dengan leluasa di ranjang.
Suara desahaan Raquel dan Luiz bersahutan. Di iringi bunyi hentakan tubuh yang menyatu.
Karena nafsu yang membara, Luiz dan Raquel melupakan segalanya. Bahkan status mereka sekarang. Keduanya tenggelam untuk terus bercinta.
"Aakh! Luiz!" Raquel tidak berhenti mengerang. Dia juga sesekali mengelu-elukan nama Luiz. Terutama saat lelaki itu mempercepat hentakan pinggulnya di bawah sana. Raquel sudah beberapa kali merasakan puncaknya.
Erangan Raquel membuat Luiz semakin terbakar gairah. Lenguhannya kian lantang seperti halnya Raquel. Sampai akhirnya Luiz mencapai puncak kenikmatan. Tubuhnya bergetar sambil mengangakan mulut. Kegiatan intim lantas berakhir. Luiz melepaskan penyatuan dan telentang ke sebelah Raquel.
"Ini benar-benar malam yang gila..." Raquel berucap sembari mengatur nafas.
"Ya, aku tidak ingin ini cepat berakhir..." balas Luiz lirih.
Raquel perlahan menatap Luiz. "Jika malam ini berakhir, apa yang akan terjadi selanjutnya?" tanyanya.
Luiz membalas tatapan Raquel. Dia telentang miring menghadap perempuan itu.
"Aku bilang, aku tidak ingin ini cepat berakhir," tanggap Luiz seraya membelai lembut rambut Raquel.
"Lalu kau mau hubungan kita seperti apa? Aku mulai merasa bersalah sekarang. Apalagi dengan Tuan Felipe," ungkap Raquel. Saat mengingat Felipe, dia langsung beranjak dari ranjang. Mengenakan kemeja Luiz yang tampak kebesaran di tubuhnya.
Raquel mengambil ponsel dari tasnya. Dia mencoba menghubungi Felipe. Raquel lupa memberitahu lelaki paruh baya itu bahwa dirinya sudah sampai di Meksiko dengan selamat.
Sayangnya panggilan telepon Raquel tidak mendapat tanggapan. Luiz yang sejak tadi memperhatikan, turun dari ranjang. Dia menyempatkan untuk memakai celana terlebih dahulu.
Luiz berjalan menghampiri Raquel. Dia merebut ponsel dari tangan perempuan tersebut. Kemudian memeluk Raquel dari belakang.
"Meksiko tujuh jam lebih lambat dari Spanyol. Di Madrid sekarang tengah malam. Ayahku pasti sedang tidur nyenyak," ucap Luiz. Tangan nakalnya masuk ke dalam kemeja Raquel. Meremaas buah dada perempuan tersebut.
Raquel sontak terangsang. Dia reflek memejamkan mata dan mendongak. Di balik kemeja yang dipakainya, dia masih tidak mengenakan pakaian apapun.
"Aku ingin kita seperti dulu lagi... Tidak peduli bagaimana status kita sekarang..." bisik Luiz. Hembusan nafasnya yang panas dapat dirasakan Raquel di telinga.
Raquel memutar tubuhnya menghadap Luiz. Dia tidak memberi jawaban. Tetapi malah mencium bibir Luiz. Mereka sepertinya kembali merasa dimabuk cinta.
Saat itulah ponsel Luiz berdering. Dia mendapat telepon dari Julio. Namun Luiz memilih mengabaikan panggilan tersebut. Dia mengangkat Raquel dan terus bergulat lidah dengan perempuan itu.
"Kau harus angkat teleponnya. Mungkin saja Julio atau ayahmu..." ujar Raquel. Menghentikan ciumannya dari Luiz sejenak. Mengingat dering ponsel tak kunjung berhenti.
"Oke. Tapi berjanjilah kita akan melanjutkan ini setelah aku mengangkat telepon," sahut Luiz yang langsung dijawab Raquel dengan anggukan.
Luiz segera mengambil ponselnya. Nama Julio tertera dilayar. Dia langsung mengangkat panggilan itu. Anak remaja tersebut memberitahu bahwa dia sudah ada di hotel.
"Kenapa sejak tadi kau tidak mengangkat telepon? Kami mencarimu ke klub malam. Kau membuat ibumu khawatir," omel Luiz sembari melirik Raquel. Dia tentu merasa aneh menyebut perempuan itu dengan sebutan ibu.
"Aku sibuk dengan temanku. Berikan ponselnya pada Mommy. Aku ingin bicara dengannya," pinta Julio dari seberang telepon. Luiz lantas memberikan ponselnya pada Raquel.
"Kau tidak seharusnya keluyuran di tempat asing. Bagaimana kalau kau hilang? Ayahmu nanti pasti khawatir," ujar Raquel.
"Maaf, Mom. Bukankah yang terpenting aku baik-baik saja? Aku harap dengan kepergianku, kau dan Luiz bisa lebih dekat."
Mata Raquel membulat. Mendengar Julio berkata begitu dia sudah merasa seperti tertangkap basah.
"Le-lebih dekat apa maksudmu?" Raquel tergagap.
"Maksudku lebih dekat sebagai ibu dan anak," terang Julio.
"Ah, iya. Tentu saja." Raquel merasa lega.
"Sekarang cepatlah ke hotel. Aku menunggu di lobi. Aku tidak bisa check in karena uang persediaanku tak cukup," kata Julio. Dia mengira Raquel dan Luiz masih berada di klub malam.
"Apa? Di lobi?" Raquel menatap Luiz. "Baiklah, aku dan Luiz akan segera ke sana," tambahnya.
"Kenapa?" tanya Luiz penasaran.
"Julio ada di lobi. Dia menyuruh kita menemuinya ke sana," jawab Raquel sembari melepas kemeja. Lalu menyerahkannya pada Luiz. Lelaki itu justru mematung dalam keadaan memandangi tubuh Raquel yang tidak berbalut sehelai benang pun.
"Luiz! Tahanlah dirimu." Raquel terpaksa melempar kemejanya ke wajah Luiz. Dia tahu lelaki tersebut tergoda dengannya lagi. Raquel buru-buru mengenakan pakaian. Begitu pun Luiz. Mereka langsung menemui Julio ke lobi.
"Aku kira kalian masih di luar?" tukas Julio saat melihat kemunculan Luiz dan Raquel.
"Kami menyerah mencarimu!" tanggap Luiz ketus. Dia menghampiri meja resepsionis.
"Kalau kau mau pergi, harusnya minta izin dulu," ucap Raquel yang berhenti di hadapan Julio. Memberi nasihat pada remaja itu.
Julio justru tersenyum dan tiba-tiba memeluk Raquel. Pupil mata pemuda tersebut seketika membesar.
"Oh god, Mom! Apa kau tidak memakai bra?" bisik Julio menduga. Dia dapat merasakannya saat memeluk Raquel.
Mata Raquel terbelalak. Karena tadi tergesa-gesa, dia memutuskan tidak memakai bra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Nonk Mpiee Z { IG > nonk_mpiee
karya mu selalu the best thor, 💕💕
selalu nunggu novel terbaru😊💕
2023-03-15
4
Aini Chayankx Ahmad N
aku baca bab ini,kenapa murahan sekali si raquel.aku gak mau menghina novelmu kka,tapi aku terbawa suasana saja.ah gak tau lagi mau bilang apa,karna keputusan hanya ada padamu kak.aku kasian ma bapaknya
2023-03-15
0