...༻◩༺...
Selepas melakukan prosesi pernikahan, Felipe menyarankan Raquel dan Belinda untuk beristirahat. Mereka pasti lelah karena harus menempuh perjalanan jauh.
Akan tetapi Belinda menolak. Dia ingin langsung pulang saja bersama Erik. Dirinya tidak bisa meninggalkan anak-anak di panti terlalu lama. Alhasil Belinda memilih pamit pulang bersama Erik.
"Jaga dirimu baik-baik," ucap Belinda. Dia dan Raquel saling berpelukan. "Pintu selalu kubuka untukmu, Raquel. Jika ada apa-apa, jangan malu-malu untuk datang lagi," sambungnya.
"Aku pasti akan berkunjung lagi. Kau dan orang-orang di panti Mariana adalah keluargaku," ungkap Raquel.
"Aku tahu. Sampai jumpa," pamit Belinda. Dia dan Raquel sudah berhenti berpelukan.
"Jaga dirimu, Raquel. Aku akan merindukan pie apel buatanmu," pamit Erik yang juga harus kembali ke desa Castellano.
"Bye, Erik." Raquel melambaikan tangan. Tak lama kemudian Belinda dan Erik menghilang dari pandangannya.
Setelah melepas kepergian Belinda, Inna mengajak Raquel pergi ke kamar yang telah disiapkan. Saat telah tiba di kamar itu, Raquel lagi-lagi berdecak kagum. Sungguh kamar yang terlampau luas untuk ditiduri satu orang.
"Bukankah ini terlalu besar?" tanya Raquel. Menatap Inna dan dua pelayan lain yang berdiri di dekat pintu.
"Tuan Felipe memang telah menyiapkan kamar ini untuk Nona. Setidaknya sampai Nona bersedia tidur satu kamar dengannya," jawab Inna. Ia tersenyum melihat Raquel yang tak berhenti memperhatikan keadaan kamar.
Mendengar ucapan Inna, Raquel berhenti mengamati keadaan kamar. Ia memasang wajah sendu seraya memegangi tengkuk. Karena menikah atas dasar balas budi, Raquel tentu enggan jika harus tidur satu kamar dengan Felipe.
"Silahkan beristirahat, Nona." Inna dan dua pelayan lain pergi.
"I-iya. Terima kasih," ucap Raquel tergagap. Tepat sebelum Inna dan dua pelayan pergi.
Saat Inna hendak menutup pintu, sebuah tangan mendadak menghentikan. Pemilik tangan itu tidak lain adalah Luiz.
"Tinggalkanlah. Aku ingin bicara dengan ibu baruku," kata Luiz yang langsung ditanggapi Inna dengan anggukan. Wanita paruh baya itu segera pergi bersama dua pelayannya.
Luiz masuk ke kamar Raquel. Ia tak lupa menutup pintunya.
Mendengar pintu tertutup, Raquel menoleh. Pupil matanya membesar saat melihat Luiz.
"Luiz..." panggil Raquel. Dia hampir lupa kalau Luiz adalah putranya Felipe. Kemegahan mansion yang akan menjadi tempat tinggalnya benar-benar membuatnya lupa diri.
"Apa yang sudah kau lakukan pada ayahku?" timpal Luiz.
"Kau pikir aku tahu kalau kau adalah putranya Tuan Felipe? Andai aku tahu, aku juga tidak akan mau menerima lamarannya!" sahut Raquel. Dia sangat membenci Luiz. Begitu pun sebaliknya. Itu karena penyebab dari berakhirnya hubungan mereka karena kesalahpahaman. Hingga sekarang keduanya saling menganggap salah satu sama lain. Jujur saja, hubungan mereka saat berpacaran telah sering mengalami putus nyambung.
Sebenarnya salah satu alasan kembalinya Raquel ke panti asuhan adalah karena ingin menjauh dari Luiz. Tetapi pada kenyataannya dia harus berhadapan lagi dengan lelaki itu.
"Harusnya kau mencari tahu lebih dulu! Bahkan sebelum menikahi ayahku kau tidak pernah berkunjung ke sini!" balas Luiz.
"Bukankah kau juga tidak mencari tahu?!" Raquel berkacak pinggang sambil menyalangkan mata.
Luiz tersenyum miring. "Aku terpaksa menerimamu demi ayahku. Tapi jangan harap aku akan bersikap baik kepadamu. Hubungan kita hanya akan harmonis saat di hadapan ayahku," ucapnya.
"Tentu saja. Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjaga ayahmu dengan baik. Aku menikahinya karena ingin membalas budi," tanggap Raquel.
"Aku harap begitu." Luiz segera keluar dari kamar Raquel. Pembicaraan mereka berakhir disitu.
Luiz pergi tanpa menutup pintu kamar. Raquel lantas terpaksa menutupnya sendiri. Namun Julio tiba-tiba muncul dan memotretnya dengan ponsel.
Raquel membulatkan mata. Dia tentu kaget dengan apa yang dilakukan Julio.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Raquel.
"Aku memberitahu teman-temanku kalau aku punya ibu tiri muda yang hot," sahut Julio gamblang.
"A-apa kau bilang?" mata Raquel berkedut. Dia bingung harus merespon perkataan Julio. Dia merasa itu seperti ejekan, tetapi di sisi lain dirinya juga merasa itu pujian.
"Selamat beristirahat, Mom!" kata Julio. Dia segera pergi sambil tak berhenti bermain ponsel.
Di sisi lain, Luiz baru masuk ke kamarnya. Dia membanting pintu dengan perasaan kesal.
"Aaarghhh!!! Kenapa harus dia!" keluh Luiz berteriak. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri.
Luiz mengambil kotak dari kolong tempat tidur. Kotak itu sendiri berisi segala kenangannya saat berpacaran dengan Raquel.
Dengan langkah cepat, Luiz keluar dari kamar. Lalu berteriak memanggil pelayan
"Iya, Tuan Muda!" Inna dan beberapa pelayan lain mendekat.
Luiz menyerahkan kotak kardus di tangannya kepada Inna. "Bakar ini sampai habis!" titahnya.
"Baik, Tuan." Inna mengangguk patuh.
"Dan jangan coba-coba melihat isinya! Aku akan mengamatimu dari kejauhan!" tambah Luiz.
"Baik, Tuan." Inna menjawab untuk kedua kalinya. Dia segera pergi untuk melakukan semua perintah Luiz.
Setelah itu, Luiz kembali ke kamar. Dia berdiri di depan jendela. Memperhatikan Inna dan pelayan lain yang siap membakar kotak kardus milik Luiz.
Kini Luiz memandangi dari kejauhan. Saat itulah kenangannya bersama Raquel muncul.
Hal yang pertama Luiz ingat adalah momen pertama kali dirinya bertemu Raquel. Dia mengenal perempuan itu sebagai perempuan yang cantik dan sederhana. Memandang segala hal dengan apa adanya.
Luiz dan Raquel sendiri bertemu ketika menonton teater di pusat kota. Meski duduk berjauhan, kala itu keduanya tak sengaja saling menatap. Mereka langsung merasa tertarik satu sama lain.
Hubungan Luiz dan Raquel semakin dekat saat mereka dipertemukan dalam projek film kampus. Raquel sendiri dulu berkuliah di jurusan perfilman. Sedangkan Luiz kuliah di jurusan seni dan teater. Kebetulan dalam projek tersebut Raquel berperan sebagai sutradara, sedangkan Luiz adalah aktor utama.
Projek film dilakukan selama hampir satu bulan. Cinta Raquel dan Luiz bersemi kala itu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Raquel juga membelikan sebuah kalung perak untuk Luiz.
"Aku tahu ini tidak mahal bagimu. Tapi bagiku, ini adalah kalung termahal yang pernah kubeli." Kalimat yang diucapkan Raquel ketika memberikan kalung itu tidak pernah dilupakan Luiz.
Luiz menenggak salivanya sendiri saat tenggelam dalam kenangan. Apalagi saat dirinya mengingat momen ciuman pertamanya bersama Raquel. Begitu menggebu dan menggairahkan. Hingga Luiz akhirnya terbayang bagaimana bentuk tubuh Raquel yang telanjang. Jantungnya langsung berdegup kencang.
Sungguh, masih ada cinta di hati Luiz untuk Raquel. Dia sudah mencoba memacari perempuan lain setelah putus dengan Raquel. Tetapi tidak ada satu pun perempuan yang bisa menggantikan Raquel dihatinya. Alhasil Luiz berlari keluar kamar. Terutama saat melihat Inna hampir membakar kotak kardus.
"Hentikan!" teriak Luiz.
Inna yang mengerti, sontak menendang kotak yang sudah dimasukkan ke api. Dia terpaksa melakukannya karena luap api yang cukup besar. Kotak tersebut terguling di tanah.
"Maaf, Tuan. Aku tidak bermaksud mengambilnya dengan cara begitu." Inna buru-buru membungkuk dan minta maaf. Sementara dua pelayan lain yang membantunya berusaha keras menahan tawa. Tendangan yang dilakukan Inna tadi merupakan pemandangan langka dan lucu.
Luiz sendiri tak merespon permintaan maaf Inna. Dia hanya bergegas membuka kotak kardus. Lalu mengambil kalung yang tersimpan di sana.
"Sekarang kalian bisa membakarnya!" ujar Luiz sembari pergi dari hadapan Inna dan dua pelayan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
TK
☕🏃🏃🏃
2023-03-03
0