...༻◩༺...
Dua hari berlalu. Selama itu juga Raquel dan Luiz tidak saling bicara. Keduanya bahkan seringkali menghindar jika tidak sengaja berpapasan.
Kini Raquel sedang berada di kamar Felipe. Dia hendak sarapan bersama seperti biasa.
"Kau selalu makan bersamaku. Harusnya sesekali kau bergabung bersama Luiz dan Julio di meja makan," celetuk Felipe.
"Mungkin lain kali mereka yang akan aku ajak makan bersama ke sini. Bukankah itu ide yang lebih bagus?" tanggap Raquel.
"Kau benar juga. Bagaimana kalau malam ini?" Felipe bersemangat mendengar ide dari Raquel.
"Mungkin. Jika Luiz dan Julio sudah pulang."
"Ah benar juga. Terkadang salah satu dari mereka pulang larut malam. Aku benar-benar lupa kalau kedua putraku sudah menjadi lelaki dewasa."
Raquel tersenyum mendengar ucapan Felipe. Dia segera menyuapi lelaki paruh baya tersebut makanan.
Felipe tak berhenti memandangi Raquel. Dia selalu terpesona menyaksikan perempuan tersebut.
"Bisakah kau ambilkan ponselku? Aku ingin menghubungi Romi," ujar Felipe. Setelah menghabiskan sarapannya. Dia memang sering menghubungi Romi. Terutama jika ingin mengurus bisnis.
"Tentu saja," sahut Raquel. Dia segera mengambil ponsel. Lalu memberikannya pada Felipe.
Setelah dipanggil, tak lama kemudian Romi datang. Sekretaris pribadi Felipe itu selalu mengenakan setelan jas.
"Tuan memanggilku?" kata Romi seraya membungkuk hormat.
"Temani Raquel untuk mendaftar kuliah hari ini," perintah Felipe. Membuat mata Raquel sontak terbelalak.
"Apa? Kau serius?" Raquel memastikan. Sebab dia mengira Felipe tidak serius mengenai sarannya yang berkaitan dengan kuliah.
"Kalau tidak, aku tak akan memanggil Romi datang," sahut Felipe.
Raquel kesenangan. Dia menutup mulut dengan dua tangan. Dalam keadaan bola mata yang membuncah antusias. "Terima kasih banyak..." ungkapnya sambil memeluk Felipe.
"Aku senang bisa melihatmu bahagia." Felipe mengelus pelan pundak Raquel.
Romi tersenyum menyaksikan pemandangan pasangan suami istri di hadapannya. Dia dan Raquel segera pergi ke kampus Raquel terdahulu. Di sana Raquel bertemu teman-teman lamanya. Hari itu dia resmi kembali kuliah di jurusan perfilman.
Romi pergi setelah selesai mengurus pendaftaran Raquel. Dia membiarkan perempuan tersebut menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Mereka sedang berada di kantin sekarang.
"Aku sangat senang melihatmu kembali. Kita harus membuat film pendek lagi nanti," seru Andres. Salah satu teman dekat Raquel. Ia memiliki hobi menulis. Jadi jika berkaitan dengan naskah cerita, maka Andres yang mendapat tanggung jawab.
"Ya, kau tahu sendiri kan film sebelumnya sukses besar. Bahkan ditonton lebih dua juta kali di youtube!" kata Reyna antusias.
"Aku tahu. Karena aku salah satu orang dari dua juta penonton itu," tanggap Raquel.
"Tentu saja." Reyna merangkul pundak Raquel. Mereka tergelak bersama.
Bertepatan dengan itu, Luiz dan dua temannya melangkah masuk ke kantin. Atensi Luiz langsung tertuju ke arah Raquel. Ia sontak heran.
"Apa-apaan!" gumam Luiz.
"Kenapa?" tanya Carlos. Salah satu teman Luiz.
Luiz tak menjawab. Akan tetapi matanya masih tertuju ke arah Raquel.
"Sadarlah, Carlos! Lihat Luiz melihat kemana," ujar Hector. Teman dekat Luiz yang satunya.
Carlos lantas menoleh ke arah yang sama dengan Luiz. Benar saja, dia bisa melihat kehadiran mantan kekasih Luiz di sana. Yaitu Raquel.
"Apa dia kembali?" ucap Carlos.
"Mungkin. Tapi kenapa? Aku pikir apa yang terjadi terakhir kali sangat berdampak," sahut Hector. Sebagai teman Luiz, dia tahu masalah besar yang menimpa hubungan Raquel dan Luiz terakhir kali. Bahkan sampai membuat Luiz pindah jurusan kuliah.
"Ayo kita ke cafe saja!" Luiz beranjak lebih dulu dari kantin. Carlos dan Hector otomatis mengikuti.
Sementara itu, Raquel sebenarnya tadi menyadari kehadiran Luiz. Akan tetapi dia memilih tidak peduli. Karena tujuan Raquel melanjutkan kuliahnya sekarang demi masa depan.
"Luiz sepertinya belum melupakanmu. Karena sejak putus darimu, aku tak mendengar dia memacari perempuan lain," ungkap Reyna. Ia ternyata juga menyadari kehadiran Luiz dan kawan-kawan.
"Sayang sekali. Tapi aku sudah melupakannya. Siapa dia? Luiz? Ugh! Aku tak pernah mengenal seseorang dengan nama itu," balas Raquel. Berlagak tak acuh.
Reyna dan Andres hanya saling bertukar pandang. Mereka tahu kalau Raquel menunjukkan reaksi palsu. Mengingat perempuan tersebut tidak pernah berpacaran lagi semenjak putus dari Luiz.
"Kau mau berkunjung ke rumah kami?" tawar Andres. Dia memiliki rumah yang memiliki lima kamar. Semua kamar itu sendiri dirinya sewakan pada teman-teman kampus yang membutuhkan. Tidak peduli perempuan atau laki-laki. Dulu Raquel juga pernah menempati kamar di sana.
"Ya! Ayo kita buat pesta penyambutan," seru Reyna sambil menyatukan tangan.
"Maaf, guys. Sepertinya aku tidak bisa. Aku harus langsung pulang. Mungkin lain kali," tolak Raquel secara halus. Dia langsung pergi. Dirinya tidak lupa dengan tugas mengurus Felipe. Lagi pula Raquel akan mulai kuliah besok. Ia masih bisa berkumpul dengan teman-temannya.
Raquel memilih pulang dengan menggunakan bus. Namun saat baru keluar dari gerbang kampus, sebuah mobil menghampiri.
"Aku sudah menunggu, Nona..." Romi segera keluar dari mobil. Membukakan pintu belakang untuk Raquel.
"Kau menungguku?" Raquel merasa tak percaya. Dia juga mengedarkan pandangan ke segala arah. Takut teman-temannya melihat. Raquel merasa belum siap memberitahukan statusnya sekarang. Apalagi lelaki yang dia nikahi adalah ayahnya Luiz.
"Tuan Felipe menyuruhku untuk menunggu," ujar Romi.
Raquel mengangguk. Dia segera masuk ke mobil. Namun sebuah tangan mendadak menghentikan. Pemilik tangan itu ternyata Luiz
"Kenapa kau di sini?" timpal Luiz.
Dahi Raquel berkerut. Dia langsung menarik tangannya dari genggaman Luiz. "Aku ingin meneruskan kuliah!" sahutnya.
"Tapi kenapa harus di sini lagi?" Luiz menatap tajam. Hal serupa juga dilakukan Raquel.
"Memangnya kenapa? Apa masalahmu? Bukankah kau harusnya senang ibumu kuliah di tempat yang sama denganmu?" tukas Raquel seraya pura-pura tersenyum. Mengingat ada Romi yang sedang memperhatikan.
"Ya sudah. Aku pulang duluan," pamit Raquel. Kemudian masuk ke dalam mobil. Dia dan Romi beranjak pergi.
Luiz memejamkan matanya rapat-rapat. Setelah harus serumah dengan Raquel, kini dia juga harus satu kampus dengan perempuan itu.
"Aku harus lakukan sesuatu," gumam Luiz. Ketika pulang ke rumah, dia langsung menemui Felipe. Hendak meminta sesuatu pada ayahnya tersebut.
Luiz membuka pintu kamar Felipe. Di sana dia lagi-lagi bertemu Raquel.
"Bisakah kau tinggalkan aku dan ayah berdua? Aku ingin bicara serius dengannya," pinta Luiz. Terpaksa bersikap baik karena sang ayah menyaksikan.
Raquel mengangguk dan keluar dari kamar. Meskipun begitu, dia tidak pergi. Akan tetapi menguping di depan pintu.
"Ayah! Izinkan aku tinggal di apartemen," kata Luiz.
"Kenapa?" Felipe mengernyitkan kening.
"Aku hanya merasa..." Luiz bingung bagaimana harus menjelaskan. "Aku sudah dewasa untuk tinggal sendiri," sambungnya. Memberi alasan seadanya.
"Aku tahu itu. Tapi ini bukan masalah kedewasaan atau apa. Tapi kepedulianmu terhadapku. Walau sekarang sudah ada Raquel yang menjagaku, tapi sebagai ayah aku juga ingin kau selalu ada. Kita bahkan jarang bertemu meski tinggal serumah. Aku yakin akan semakin jarang bertemu saat kau tinggal di tempat lain. Lagi pula kenapa kau tiba-tiba ingin pindah? Apa Raquel membuatmu tidak nyaman?" ucap Felipe panjang lebar.
"Bukan itu Ayah." Luiz menggeleng. "Ya sudah, kalau begitu aku akan tetap di sini," lanjutnya yang tak tega menolak keinginan sang ayah. Luiz lantas keluar dari kamar.
Raquel buru-buru menjauh dari pintu. Lalu bersembunyi ke balik dinding. Dia mendengar semua pembicaraan Luiz dan Felipe.
Selepas memastikan Luiz pergi, Raquel keluar dari tempat persembunyian. Dia kembali masuk ke kamar Felipe. Kali ini dirinya dan lelaki paruh baya itu akan menonton film bersama.
Di sisi lain, Luiz menghubungi seorang perempuan bernama Agnese. Perempuan yang sudah lama menyukainya. Namun cinta Agnese selalu ditolak Luiz karena berbagai alasan. Terutama mengenai obsesinya terhadap Luiz. Agnese sendiri adalah teman seangkatan Luiz di jurusan Ekonomi.
"Bisakah kau datang ke rumahku? Ayo kita bercinta," ujar Luiz.
"Apa? Kau serius?" tanggap Agnese dari seberang telepon.
"Ya. Kau mau atau tidak? Kalau tidak, maka aku--"
"Tentu saja. Aku akan bersiap!" potong Agnese. Sekarang Luiz hanya perlu menunggunya datang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Aini Chayankx Ahmad N
hadueh nanti gak jadi lagi
2023-03-06
2