...༻✫༺...
Setelah membuang sampah, Luiz kembali menemui Raquel. Dia berhenti melangkah di depan pintu. Terpaku melihat Raquel yang sedang mengikat rambut panjangnya. Baju corp top yang dikenakannya memperlihatkan area pinggulnya yang seksi.
Luiz menelan ludahnya sendiri. Lalu menggeleng untuk menyadarkan diri. Dia segera memberitahu Raquel informasi yang dirinya dapat tentang apartemen.
"Katanya apartemenmu ini bekas tempat pembunuhan," cetus Luiz.
"Apa?!" Raquel membulatkan mata. "Kenapa kau baru bilang sekarang?" timpalnya.
"Aku baru saja diberitahu tetangga di sini. Mau ke tempat lain saja? Pakai uangku dulu," saran Luiz. "Eh, tunggu dulu. Bukankah kau dapat uang banyak dari ayahku? Aku yakin kau punya uang banyak sekarang. Mengingat posisimu sudah menjadi istrinya," ucapnya menyelidik.
"Itu benar." Raquel tersenyum seraya memegangi tengkuk. "Tapi teman-temanku masih mengenalku sebagai anak yatim piatu, jadi aku hanya mengikuti alurnya saja," jelasnya.
"Sekarang bagaimana? Apa kau ingin pindah?" tanya Luiz
Raquel mendesah lelah. "Mungkin di sini dulu untuk sementara. Aku tidak ingin uangku terbuang. Lagi pula pembunuhnya tidak di sini lagi kan?" katanya. Terpaksa berpikir positif.
Luiz hanya diam. Dia segera bergerak untuk membersihkan apartemen. Hal yang sama lantas dilakukan Raquel. Mereka bahkan membersihkan toilet bersama.
Raquel tersenyum miring. Dia yang kebetulan memegang selang, sengaja menyemprotkan air ke arah Luiz. Pakaian lelaki itu sontak basah. Tanpa pikir panjang, dia langsung melakukan pembalasan. Keduanya bahkan tergelak bersama. Secara alami, mereka akur lagi.
"Kena kau!" seru Luiz, saat berhasil merebut selang dari tangan Raquel. Kini keduanya sama-sama setengah basah.
Sambil tertawa geli, Raquel dan Luiz perlahan saling menatap. Sampai gelak tawa mereka berubah menjadi tatapan lekat. Tatapan keduanya seolah terkunci karena merasa tertarik satu sama lain.
Luiz yang sudah tak kuasa menahan diri, segera mencium bibir Raquel. Mengangkatnya, hingga kedua kaki Raquel mengunci erat di pinggulnya.
Suara kecup-mengecup memecah kesunyian. Ciuman Luiz dan Raquel kian memanas. Mereka bahkan sudah kesulitan mengatur nafas.
Luiz menurunkan Raquel demi melepas bajunya. Hal serupa otomatis dilakukan Raquel.
"Seharusnya aku tidak membantumu..." ucap Luiz dengan nafas tersengal-sengal.
"Ya, seharusnya aku tidak meminta bantuanmu..." lirih Raquel yang juga sudah kehabisan nafas. Dia dan Luiz lanjut berciuman. Bergulat lidah tanpa henti.
Sambil berciuman, Luiz dan Raquel berjalan keluar kamar mandi. Keduanya segera melepas seluruh pakaian saat tiba di depan ranjang. Kini mereka sama-sama dalam keadaan telanjang bulat.
"Ini salah..." desis Raquel seraya merebahkan diri lebih dulu ke ranjang. Suara derit ranjang terdengar jelas. Sebenarnya ranjang di apartemen itu sudah cukup tua. Kalau di ibaratkan dengan manusia, usianya sudah sekarat. Namun Raquel dan Luiz nampaknya tidak memperdulikan itu.
"Ya, ini salah... Jelas sangat salah..." sahut Luiz. Dia memposisikan diri ke atas badan Raquel. Mencumbu liar ceruk leher perempuan tersebut.
"Sial, Luiz! Kita tidak seharusnya melakukan ini... Akh..." lenguh Raquel. Tepat saat mulut dan lidah panas Luiz bergumul di buah dadanya. Meremas dan memperdengarkan suara kecupan yang membuat gairah Raquel semakin terbakar.
Raquel yang tak ingin diam, menarik Luiz kembali ke hadapannya. Dia memaksa lelaki itu mengambil posisinya. Sekarang Raquel yang berada di atas badan Luiz. Ia menyentuh setiap jengkal kulit putih Luiz dengan mulutnya yang menganga.
Luiz tidak mau terus diam. Dia dan Raquel melakukan cumbuan yang begitu berhasrat sampai harus beberapa kali berguling di ranjang. Saling bergantian mengambil posisi atas.
Kretak!
Suara retak yang diperdengarkan ranjang menjadi peringatan untuk Luiz dan Raquel. Namun dua insan yang sedang sangat bergairah itu tidak peduli. Mereka malah siap melakukan penyatuan.
"Kau yakin ingin melanjutkan kesalahan ini?" tanya Luiz. Sebelum benar-benar melakukan penyatuan.
"Logikaku sebenarnya mengatakan tidak," jawab Raquel.
"Aku juga..." lirih Luiz. Dia dan Raquel kembali bertukar pandang.
"Just fuuck me, Luiz!" Meski logika mengatakan tidak, namun tidak untuk hati dan tubuh Raquel. Begitu pun Luiz. Mereka kembali saling melumaat bibir satu sama lain.
Tepat ketika Luiz dan Raquel hampir melakukan penyatuan, saat itulah ranjang yang mereka tempati runtuh di bagian kanan. Tubuh Raquel dan Luiz sontak meluncur ke sana. Kaki Raquel bahkan tidak sengaja terluka karena mengenai paku.
"Aarkkh! Sakit!" rintih Raquel.
"Raquel!" seru Luiz cemas. Dia segera mengangkat Raquel dari ranjang. Lalu memindahkannya ke sofa. Atas terjadinya insiden tak terduga itu, hubungan terlarang yang ingin mereka lakukan harus gagal untuk kedua kalinya.
Luiz segera mengenakan celana. Dia juga tidak lupa membantu Raquel mengenakan pakaian.
"Ayo kita pulang. Nanti di perjalanan aku akan belikan obat," ajak Luiz.
Raquel mengangguk. Dia dan Luiz segera meninggalkan apartemen. Sebelum pergi, Raquel tentu tidak lupa menutupi lukanya dengan kain bersih. Ia juga tak lupa menghubungi pemilik apartemen untuk memperbaiki ranjang.
Kini Luiz dan Raquel sudah ada di mobil. Hening menyelimuti suasana. Raquel merasa bersalah saat mengingat apa yang dilakukannya tadi bersama Luiz.
"Itu gagal untuk kedua kalinya," celetuk Luiz.
"Ya, aku rasa itu seperti teguran dari alam. Sebaiknya kita tidak melakukannya lagi. Kau harus menjaga jarak dariku mulai sekarang," ucap Raquel.
"Aku berusaha menjaga jarak darimu sejak awal. Tapi kau yang selalu membuatku mendekat!" sahut Luiz. Dia menghentikan mobil di depan apotek.
"Itu karena aku tak punya pilihan lain. Tidak mungkin aku meminta bantuan Julio yang tak tahu apa-apa? Apalagi Romi. Dia pasti akan mengadu pada ayahmu!" balas Raquel tersungut.
"Aku tak peduli dengan alasanmu. Yang jelas, aku benci kau!" tukas Luiz. Dengan wajah cemberut, dia keluar dari mobil.
Raquel tercengang dengan pernyataan Luiz tadi. Dalam sekejap, hubungannya dan lelaki tersebut kembali menegang.
"Kalau benci kenapa dia tadi mau menyentuhku? Aneh! Dia pikir aku tidak membencinya?" gerutu Raquel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Aini Chayankx Ahmad N
kurang puas upnya🤭makanya jangan khianati babemu luiz
2023-03-11
1
Junifa
rasa benci kalah dengan nafsu 😄heran aku kenapa kalau mereka lagi berdua pasti terjerumus ke dalam gairah membara 😮💨
2023-03-11
2
Wiwik Pkp
Gatot,,🤭🤭
2023-03-11
1