Kisah Misteri Masih Berlanjut

Sekolah mereka kini dihebohkan oleh kasus Guntur dan teman-temannya. Mereka semua tidak menyangka ada kaum penyimpangan di sekolah.

"Sekarang kalian percaya kan? Della itu gak bunuh diri, tapi dibunuh oleh Guntur dan teman-temannya. Airin dan Revan dekat untuk mengungkap kasus ini. Kalian malah menuduh yang bukan-bukan." Azka berdiri di depan kelas, dia ingin membersihkan nama Airin dan juga Revan.

"Iya, lo benar. Kita semua memang salah. Termakan berita hoax dan menghakimi mereka."

"Kalau begitu kalian buat petisi untuk mengembalikan jabatan Revan menjadi ketua OSIS."

"Iya, setuju! Nanti kita mau menjenguk mereka, sekalian ingin meminta maaf."

"Iya, tapi tidak semua boleh menjenguk. Hanya perwakilan saja." kata Azka lalu dia kembali duduk di bangkunya. Perasaannya kini sudah lega. Akhirnya, dia bisa membantu Airin dan juga Revan.

Dia kini menatap Melodi yang duduk di dekatnya. Ini semua berkat Melodi. Andai saja Melodi tidak datang dengan polisi tepat waktu, dia tidak tahu bagaimana nasibnya.

"Mel, makasih ya. Kamu udah nolong aku."

Melodi mengangguk sambil tersenyum. "Makanya kalau ada apa-apa cerita sama aku. Aku juga ingin membantu, aku kan sahabat kalian."

"Iya. Nanti sepulang sekolah kamu ikut ya ke rumah sakit."

"Ya, pasti dong. Punggung kamu udah gak papa?" tanya Melodi, karena dia tahu sendiri pukulan Angga kemarin cukup keras hingga membuat Azka pingsan.

"Ya lumayan masih sakit. Tapi sudah mendingan. Semalam aku sudah check up."

Beberapa saat kemudian, pelajaran pun dimulai.

...***...

"Revan, ayo makan dulu. Dari kemarin kamu belum makan." Alea terus berusaha menyuapi putranya. Sejak kemarin Revan sama sekali tidak mau makan, bahkan dia sudah dehidrasi karena terus muntah.

Revan menggelengkan kepalanya. Rasanya masih terngiang perbuatan be jat Guntur dan kedua temannya. Tidak hanya bibir mereka yang menciumnya dengan paksa tapi mereka juga memaksa Revan untuk mengulum milik Guntur, sangat menjijikkan!

"Nggak!!" Revan kembali merebahkan dirinya dan memunggungi Mamanya.

"Revan," Kedua mata Alea berkaca-kaca lagi melihat kondisi Revan. Dia tahu, pasti Revan masih sangat trauma. "Ayo nak, makan dulu biar cepat sehat."

"Perut aku masih mual." jawab Revan.

Airin yang baru saja selesai makan, kini menatap punggung Revan. Dia sangat kasihan dengan Revan. Dia yang melihat kejadian itu saja merasa sangat jijik, bagaimana dengan Revan.

"Bun, aku mau bicara sama Revan." Airin menurunkan kakinya, dengan bantuan Bundanya Airin kini duduk di sebelah brangkar Revan.

Alea mengusap pipinya yang sudah basah karena air mata. Lalu dia berdiri dan berjalan keluar dari ruang rawat mereka bersama Rili. Mereka membiarkan Airin dan Revan berbicara berdua, siapa tahu dengan begitu Revan mau makan.

"Van, aku tahu kamu masih sangat trauma. Tapi kamu harus tetap makan. Kita masih harus melanjutkan hidup. Kamu gak kasihan sama Mama kamu yang terus sedih melihat kondisi kamu."

"Ai, kamu lihat sendiri kan apa yang mereka lakukan sama aku."

"Iya, aku tahu dan pasti kamu masih sangat trauma. Sekarang coba kamu pejamkan mata kamu, konsentrasi, kamu pikirkan sesuatu hal yang menyenangkan atau suatu hal yang ingin kamu raih di kemudian hari, lupakan kejadian buruk itu. Kamu harus bisa mensugesti diri kamu sendiri."

Revan menghela napas panjang. Lalu dia melakukan apa yang dikatakan Airin. Beberapa saat kemudian dia memutar tubuhnya dan menatap Airin.

"Kamu sekarang makan ya. Aku kasihan lihat kamu, dan mama kamu yang terus menangis." Airin mengambil sendok lalu menyuapi Revan.

Revan akhirnya duduk dan mau memakan suapan dari Airin. "Biar aku makan sendiri saja." Revan akan mengambil sendok yang dipegang Airin tapi Airin mengelaknya.

"Gak papa, kali ini saja aku suapi kamu sampai habis." Airin tersenyum kecil sambil terus menyuapi Revan.

"Punggung kamu udah gak sakit?" tanya Revan setelah menelan makanannya.

Airin menggelengkan kepalanya. "Udah gak sakit. Syukurlah, semua rasa sakit sudah hilang dengan cepat. Makanya kamu juga harus cepat pulih, biar cepat pulang juga dari rumah sakit."

Revan mengangguk pelan.

"Dan mulai sekarang kamu juga bisa bersahabat dengan Azka atau aku, ada Melodi juga."

Revan kembali menerima suapan dari Airin. "Aku tidak menyangka, sekarang bisa berteman dengan Azka. Dulu aku sering berantem dengan Azka karena masalah basket. Akhirnya aku keluar dari tim basket dan lebih memilih mencalonkan diri menjadi ketua OSIS."

"Tadi aku sempat baca di grup kelas. Mereka semua buat petisi untuk mengembalikan jabatan kamu sebagai ketua OSIS."

Revan justru menggelengkan kepalanya. "Aku sudah merelakan jabatan itu."

Airin meletakkan piring yang telah kosong di atas nakas. "Jangan gitu, kamu harus tetap menjadi ketua OSIS." Satu tangan Airin memegang tangan Revan. "Tidak ada yang bisa menempati posisi itu selain kamu. Kamu itu pemimpin yang berkompeten, masih ada waktu 6 bulan, pasti masih banyak rencana yang belum kamu lakukan."

Revan menatap genggaman tangan Airin di tangannya.

"Eh, sorry." Seketika Airin melepas genggaman tangannya. Dia mengalihkan pandangannya dari Revan.

"Makasih. Ternyata kamu sangat baik." kata Revan untuk menghilangkan kecanggungan itu.

"Iya, sama-sama." Kemudian Airin berdiri dan berjalan ke brangkarnya sambil menggeret tiang penyangga infusnya.

Tapi langkahnya berhenti saat melihat seorang pria yang memakai kemeja putih dan blazer hitam masuk ke dalam ruangannya.

"Mas, cari siapa?" tanya Airin.

Tapi orang itu tak menjawab. Dia justru berjalan menunduk dan mencari sesuatu.

"Van, dia kakak kamu?" tanya Airin pada Revan.

Revan hanya mengernyitkan dahinya dan menatap Airin bingung.

Kemudian pria itu keluar lagi dari ruangannya. "Loh, dia cari siapa? Kok udah keluar."

"Ai, dari tadi gak ada siapa-siapa yang masuk."

Deg!

Seketika bulu kuduk Airin merinding. "Itu berarti dia hantu. Kamu jangan bercanda. Penampilannya sangat rapi seperti orang biasa."

"Iya, aku gak lihat siapa-siapa masuk ke dalam kamar ini."

Seketika Airin urung naik ke atas brangkarnya. Meski hanya berjarak tiga meter dari brangkar Revan tapi rasanya sangat jauh.

Airin menoleh ke arah pintu lagi. Pria itu kembali masuk dan mencari sesuatu lagi. Seketika Airin menutup wajah dengan tangannya. "Van, dia kembali lagi."

"Ai, gak ada apapun."

"Ada, dia sedang cari sesuatu." Airin semakin menyembunyikan wajahnya di lengan Revan. Meskipun wajah penampakan itu sangat tampan, tapi tetap saja Airin merasa takut.

Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka, barulah Airin membuka matanya dan menatap Bundanya masuk ke dalam ruang rawat.

"Syukurlah Revan, makanan kamu sudah habis. Makasih ya Airin sudah mau bujuk Revan."

Airin hanya tersenyum kaku. "Iya, tante. Tidak apa-apa."

"Airin kenapa wajah kamu pucat lagi. Ayo, kembali ke brangkar kamu. Kamu istirahat dulu."

Airin kembali ke brangkarnya dengan bantuan Bundanya. Dia kembali merebahkan dirinya. Dia kira setelah masalah Della selesai, dia tidak akan melihat penampakan lagi tapi ternyata, dia salah. Dia masih bisa melihat penampakan itu.

Kisah misteri ini masih berlanjut.

.

💕💕💕

.

Like dan komen ya..

Terpopuler

Comments

Eika

Eika

apakah ada hubungan dengan Guntur dkk

2023-04-29

0

Ansyanovels

Ansyanovels

Duh, penasaran. Kira-kira misteri apa lagi, ya? Pasti bakal seru nih! Semangat, Thor updatenya gua akan menantinya hihi ❣️

2023-03-09

2

Ansyanovels

Ansyanovels

Huek! Gilak mau muntah

2023-03-09

1

lihat semua
Episodes
1 Awal Terbukanya Mata Batin
2 Tragedi Di Sekolah
3 Menyimpan Rasa
4 Mimpi Buruk Lagi
5 Dekati Dia!
6 Salah Paham
7 Merasa Rapuh
8 Tak Sadarkan Diri
9 Dua Lembar Foto
10 Kita Sahabat
11 Flashback
12 Sebuah Rencana
13 Kamu Akan Ikut Bersamaku!
14 Tetap Pada Rencana Awal
15 Puncak Masalah
16 Semua Telah Berlalu
17 Kisah Misteri Masih Berlanjut
18 Tolong Aku
19 Mereka Dimana?
20 The Next Couple Of Leader
21 Setengah Hati yang Tertinggal
22 Hujan
23 Modus Terbaru
24 Tak Bisa Menemanimu
25 Apa Hanya Pelarian?
26 Belum Waktunya
27 Murid Baru
28 Will Be Mine?
29 Andai...
30 Perubahan
31 Merasa Aneh
32 Aura Pemikat
33 Di Perpustakaan Itu...
34 Ungkapan Rasa yang Salah
35 Penasaran
36 Masih Butuh Waktu
37 Galau
38 Do You Know What I Feel?
39 Bolos Bareng
40 Masa Lalu Satya dan Lisna
41 Mengantar Pulang
42 Kesedihan Azka
43 Siapa Dia?
44 Hati yang Terluka
45 Menanti Sebuah Jawaban
46 Belajar Di Perpustakaan
47 Hidup Itu Rumit
48 Benarkah Dia?
49 Hal Tak Terduga
50 Mengikuti Fani
51 Belum Terlambat
52 Semua Telah Terjadi
53 Sudah Lelah
54 Tidak Bisa Bersama Lagi
55 Belum Bisa Memaafkan
56 Semakin Bucin
57 Kenangan Manis
58 Berangkat Camping
59 Sudah Baikan
60 Tersesat di Hutan
61 Tidak Menemukan Jalan
62 Kita Harus Tetap Bersama
63 Harus Bertahan
64 Semoga Saja
65 Terus Berusaha
66 Semua Telah Berlalu
67 Kamu Pasti Bisa
68 Nge-Date
69 Butuh Usaha
70 Masuk Sekolah
71 Di Kafe
72 Lepaskan!
73 Semua Terungkap
74 Jangan Menyerah
75 Kado?
76 Pacar Pura-pura
77 Siapa Putri?
78 Permintaan Terakhir
79 Mimpi Atau Nyata?
80 Ada Apa Airin?
81 Tidak Sadar
82 Merasa Bersalah
83 Bukan Airin
84 Cermin Itu!
85 Mencari Airin
86 Kalian Pembunuh!
87 Menyesal?
88 Kamu Pasti Bisa!
89 Sudah Membaik
90 Noni Belanda
91 Sejarah
92 Kepulangan Azka
93 Kerasukan
94 Jangan Takut
95 Kedatangan Revan
96 Menjelajah Waktu
97 Pulang Cepat
98 ke Rumah Revan
99 Makam Esmee
100 Meminjam Raga?
101 Jangan Sedih Lagi
102 Semangat Azka
103 Persembahan Terakhir
104 Melepaskan
105 Putus?
106 Hari Kelulusan
107 Perpisahan
108 Pertama di Kampus
109 Bermain Basket Lagi
110 Menganggapmu Pacar
111 Kontrak Hampir Selesai
112 Kencan
113 Jangan Pergi
114 Menyesal
115 Kembalilah Azka
116 Video Viral?
117 Pelukan Terakhir
118 Selamat Tinggal
119 Will You Marry Me?
120 Ledakan
121 Gawat
122 Sudah Sadar
123 Pemulihan
124 Pagi Itu...
125 Pagi Itu 2
126 Married With Bad Boy
127 Selalu Bersama
128 Sudah Jadi?
129 Gender Reveal
130 Wellcome To The World
131 PENGUMUMAN
132 Hantu Kapten Basket (Karya Baru)
133 Azka terbaru udah rilis
Episodes

Updated 133 Episodes

1
Awal Terbukanya Mata Batin
2
Tragedi Di Sekolah
3
Menyimpan Rasa
4
Mimpi Buruk Lagi
5
Dekati Dia!
6
Salah Paham
7
Merasa Rapuh
8
Tak Sadarkan Diri
9
Dua Lembar Foto
10
Kita Sahabat
11
Flashback
12
Sebuah Rencana
13
Kamu Akan Ikut Bersamaku!
14
Tetap Pada Rencana Awal
15
Puncak Masalah
16
Semua Telah Berlalu
17
Kisah Misteri Masih Berlanjut
18
Tolong Aku
19
Mereka Dimana?
20
The Next Couple Of Leader
21
Setengah Hati yang Tertinggal
22
Hujan
23
Modus Terbaru
24
Tak Bisa Menemanimu
25
Apa Hanya Pelarian?
26
Belum Waktunya
27
Murid Baru
28
Will Be Mine?
29
Andai...
30
Perubahan
31
Merasa Aneh
32
Aura Pemikat
33
Di Perpustakaan Itu...
34
Ungkapan Rasa yang Salah
35
Penasaran
36
Masih Butuh Waktu
37
Galau
38
Do You Know What I Feel?
39
Bolos Bareng
40
Masa Lalu Satya dan Lisna
41
Mengantar Pulang
42
Kesedihan Azka
43
Siapa Dia?
44
Hati yang Terluka
45
Menanti Sebuah Jawaban
46
Belajar Di Perpustakaan
47
Hidup Itu Rumit
48
Benarkah Dia?
49
Hal Tak Terduga
50
Mengikuti Fani
51
Belum Terlambat
52
Semua Telah Terjadi
53
Sudah Lelah
54
Tidak Bisa Bersama Lagi
55
Belum Bisa Memaafkan
56
Semakin Bucin
57
Kenangan Manis
58
Berangkat Camping
59
Sudah Baikan
60
Tersesat di Hutan
61
Tidak Menemukan Jalan
62
Kita Harus Tetap Bersama
63
Harus Bertahan
64
Semoga Saja
65
Terus Berusaha
66
Semua Telah Berlalu
67
Kamu Pasti Bisa
68
Nge-Date
69
Butuh Usaha
70
Masuk Sekolah
71
Di Kafe
72
Lepaskan!
73
Semua Terungkap
74
Jangan Menyerah
75
Kado?
76
Pacar Pura-pura
77
Siapa Putri?
78
Permintaan Terakhir
79
Mimpi Atau Nyata?
80
Ada Apa Airin?
81
Tidak Sadar
82
Merasa Bersalah
83
Bukan Airin
84
Cermin Itu!
85
Mencari Airin
86
Kalian Pembunuh!
87
Menyesal?
88
Kamu Pasti Bisa!
89
Sudah Membaik
90
Noni Belanda
91
Sejarah
92
Kepulangan Azka
93
Kerasukan
94
Jangan Takut
95
Kedatangan Revan
96
Menjelajah Waktu
97
Pulang Cepat
98
ke Rumah Revan
99
Makam Esmee
100
Meminjam Raga?
101
Jangan Sedih Lagi
102
Semangat Azka
103
Persembahan Terakhir
104
Melepaskan
105
Putus?
106
Hari Kelulusan
107
Perpisahan
108
Pertama di Kampus
109
Bermain Basket Lagi
110
Menganggapmu Pacar
111
Kontrak Hampir Selesai
112
Kencan
113
Jangan Pergi
114
Menyesal
115
Kembalilah Azka
116
Video Viral?
117
Pelukan Terakhir
118
Selamat Tinggal
119
Will You Marry Me?
120
Ledakan
121
Gawat
122
Sudah Sadar
123
Pemulihan
124
Pagi Itu...
125
Pagi Itu 2
126
Married With Bad Boy
127
Selalu Bersama
128
Sudah Jadi?
129
Gender Reveal
130
Wellcome To The World
131
PENGUMUMAN
132
Hantu Kapten Basket (Karya Baru)
133
Azka terbaru udah rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!