Guntur dan kedua temannya tertawa dengan keras. "Gue kasih lo dua pilihan, lo mau bergabung dengan kita atau nyawa Airin jadi taruhannya."
Revan hanya saling tatap dengan Airin. Sampai sekarang, Azka belum juga datang lalu bagaimana mereka menyelamatkan diri?
"Cih, gue gak sudi!" jawab Revan. Meski nyawa menjadi taruhannya, dia tidak akan mau bergabung dengan mereka.
"Oke, kalau begitu, lihat dia!" Guntur menekan dahu Airin dengan keras. "Apa lo mau menyaksikannya lompat dari atas gedung sini, seperti waktu itu."
"Ini gak ada sangkut pautnya sama Airin! Kalau lo punya masalah sama gue, kita selesaikan sekarang." bentak Revan.
Guntur melepas cekalannya pada Airin lalu mendorongnya dengan keras hingga Airin jatuh dengan kursinya.
"Aw!!" kepala Airin terbentur lantai, terasa sangat sakit dan berdarah. Ikatan tali di tubuhnya juga terasa sangat menyakitkan.
"Airin!" Revan berusaha melepas ikatannya. "Lepasin Airin! Urusan lo sama gue, bukan sama Airin!"
Guntur sekarang mendekati Revan dan meraba wajahnya.
"Apa mau lo!!!" Revan menatap tajam Guntur dengan otot wajah yang mengeras.
"Gue terobsesi sama lo! Gak ada yang boleh miliki lo!"
"Gila! Lo udah gila! Gue cowok normal!"
Guntur semakin tertawa, dia mengambil senjata tajamnya dan menggores pipi Revan. "Bagaimana kalau wajah tampan ini rusak, apakah masih ada yang mau sama lo!"
Revan mengelak, dia berusaha menghindarinya. Tapi Guntur semakin mengintimidasinya.
"Sial lo!" Revan tak bisa mengelak saat Guntur semakin menghimpitnya bersama kedua temannya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, dia berada sangat dekat dengan kaum penyimpangan yang berkedok sahabat.
Airin hanya bisa melihat pelecehan mereka bertiga pada Revan, bahkan sampai terdengar suara muntahan Revan beberapa kali.
"Revan!!" Airin berusaha melepas ikatan talinya tapi semakin dia bergerak rasanya semakin sakit. "Revan! Hentikan!"
Tiba-tiba ada sebuah energi yang masuk ke dalam tubuh Airin. Airin memejamkan matanya sesaat lalu membuka matanya lebar. Dia menggertakkan giginya, dengan gigitannya dia berhasil melepas tali itu. Kini dia berhasil melepaskan dirinya. Dia ambil kursi itu dan mengangkatnya tinggi di belakang mereka bertiga.
Bruakkk!!!
Airin memukul kapala Guntur dengan kursi itu.
"Brengsek lo, kenapa lo bisa lepas."
Airin yang dikuasai oleh Della terus melawan mereka dengan gagang kursi yang masih dia pegang.
"Hei, lo!" Diki memukul punggung Airin hingga membuatnya terjatuh tapi kemudian dia bangkit lagi, dia menyergap Guntur dan mencekiknya. Seketika wajah Airin berubah menjadi wajah Della yang telah hancur dan berlumur darah.
"Kamu harus mati!!!"
Diki dan Riko memukul punggung Airin agar dia melepaskan tangannya.
"Hentikan!" Meski perut Revan masih terasa mual tapi dia tetap berusaha melepas ikatan di tubuhnya. Dia harus menolong Airin. Setelah berusaha dengan keras, ikatan itu akhirnya terlepas. Dia tahan Diki dan Riko yang berusaha memukuli Airin meskipun beberapa kali dia juga terkena pukulan itu hingga kepalanya berdarah. Tubuhnya sudah terasa lemas, dia terus berusaha sekuat tenaga menghalau mereka.
Tiba-tiba pintu gudang itu terbuka. Della yang masih menguasai tubuh Airin melempar tubuh Guntur hingga dia jatuh ke lantai dasar.
"Guntur!!" teriak Diki dan Riko
Airin kini membalikkan badannya lalu menatap Diki dan Riko dengan tajam. "Giliran kalian!!!"
...***...
Azka kini tersadar dari pingsannya. Dia terikat di sebuah kursi dengan mulut yang tersumpal kain.
"Udah sadar rupanya?" Angga tersenyum miring menatap Azka yang sedang mengerjapkan matanya.
Azka berusaha melepas ikatan tangannya tapi ikatan itu sangat kencang.
Angga semakin mendekatkan dirinya. Azka hanya menatap tajam Angga. Mau apa dia?
Angga membungkukkan dirinya, dan menatap wajah Azka sangat dekat. Beberapa saat kemudian, pintu itu didobrak dengan keras dan terbuka lebar.
"Jangan bergerak!!" Tiga orang polisi menodongkan pistol dan membuat Angga mengangkat kedua tangannya.
Polisi itu segera memborgol kedua tangan Angga.
"Azka!" Melodi masuk ke dalam kamar kos itu dan membuka tali serta sumpalan kain di mulut Azka. "Untung belum terlambat."
"Melo, gimana kamu bisa tahu kalau aku ada di sini?" tanya Azka sambil menatap Melodi.
"Diam-diam aku mengikuti kamu. Lalu aku melihat Angga mukul kamu jadi aku segera lapor polisi, karena aku gak mungkin menolong kamu dengan tangan kosong. Awalnya polisi gak percaya, untung aku dibantu sama teman Ayah." jelas Melodi.
"Airin dan Revan dalam bahaya. Mereka ada di atap gedung sekolah." Azka berdiri sambil memegang punggungnya yang terasa sakit. Dia ambil flashdisk yang sempat diambil Angga sebagai barang bukti. "Mel, hubungi orang tua Revan dan Airin suruh ke sekolah sekarang."
"Iya."
Azka segera meminta bantuan pada polisi untuk menambah personilnya dan menuju ke sekolahnya.
Hari sudah mulai gelap, perasaan Azka semakin tidak tenang.
Semoga tidak terjadi apa-apa dengan kalian berdua.
...***...
Airin kini membalikkan badannya lalu menatap Diki dan Riko. "Giliran kalian!!!"
Tatapan tajam Airin seolah menghunus mereka berdua. Tapi mereka berdua tak takut, mereka semakin melawan Airin dan juga Revan.
"Airin, ayo kita pergi dari sini." Wajah Revan sudah terasa sangat perih, tenaganya juga sudah habis. Dia juga tidak sanggup melihat Airin yang dikuasai Della terus memukuli Diki dan Riko. "Della, aku tahu kamu ada ditubuh Airin. Kamu kembali ke alam kamu. Kamu tenang di sana. Mereka semua akan mendapatkan hukuman yang setimpal."
Seketika tubuh Airin melemas. Riko dan Diki juga sudah tidak ada tenaga untuk berdiri.
"Airin!" Revan meraih tubuh Airin dan membawanya keluar dari gudang itu. Tapi jalannya sudah tertatih, dia tidak sanggup lagi. Dia pun jatuh pingsan bersama Airin.
Beberapa saat kemudian terdengar mobil polisi datang ke sekolah. Kedua orang tua Revan dan Airin langsung menuju atap gedung.
"Astaga, Airin!" Rili meraih tubuh putrinya dan memeluknya. "Kenapa bisa kayak gini?" Air mata Rili mengalir di pipinya saat melihat banyak luka di wajah Airin dan juga sekujur tubuhnya.
"Pa, Revan!!" teriak Alea histeris saat melihat putranya terkapar tak sadarkan diri di dekat Airin.
"Kita harus segera bawa mereka ke rumah sakit." Kevin mengangkat tubuh putranya dan membawanya turun dari atap gedung.
Begitu juga dengan Airin.
"Pak, kita menunggu ambulance dulu dan biarkan petugas yang mengevakuasi."
"Kalian gak lihat kondisi putri saya!" Alvin semakin mempercepat langkah kakinya menuruni tangga, meski sempat ditahan oleh oknum. Dia tidak peduli dengan prosedur yang ada, yang terpenting putrinya segera tertolong.
Airin kini berada di dalam mobil bersama Bundanya di kursi belakang. Beberapa saat kemudian mobil itu segera melaju dengan kencang menuju rumah sakit terdekat.
"Airin, bertahan ya sayang. Kamu anak yang kuat." Rili terus memeluk tubuh putrinya. "Sebenarnya apa yang terjadi sampai bisa kayak gini sih?"
Alvin menghela napas kasar, "Dari penjelasan Azka tadi, mereka adalah pembunuh Della dan juga kaum penyimpangan seksual. Tadi di bawah ada satu pelaku yang meninggal, aku gak akan biarkan Airin ikut terseret dalam kasus ini."
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
.
Jadi sebenarnya Revan tuh anak bungsunya Alea dan Kevin, keponakannya Rendra.. 🤭🤭
.
Kalau Melodi itu anaknya Aksara dan Nada, berteman dengan Airin sejak kecil.
.
Kalau Azka, lah, anak baru. Bukan dari home produksi author... 😁😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Azizah az
oke lh, mari kita selesaikan satu persatu ceritanya 👍
2024-03-05
0
lady daisy
sapa rendra thorr
2023-05-13
0