Semua Telah Berlalu

"Karena kamar kelas 1 penuh dan VIP tinggal satu kamar, kedua pasien kami jadikan satu di ruang VIP nomor 5." kata suster setelah Dokter menjelaskan keadaan Revan dan Airin.

"Baik sus, terima kasih."

Kedua orang tua Revan dan Airin segera menuju ruang rawat mereka. Tapi langkah mereka terhenti saat ada petugas dari kepolisian mengikuti mereka.

"Maaf, untuk sementara saudara Revan dan saudari Airin dalam tahap pemeriksaan kasus karena ada satu orang meninggal dalam insiden."

Mendengar hal itu seketika Kevin dan Alvin tersulut emosinya.

"Pak, mereka di sini korban. Dia yang meninggal itu memang karena ulahnya sendiri. Hukum mereka yang masih hidup, jangan libatkan putra dan putri kami!"

"Biarkan saya hubungi pengacara keluarga saya. Kami sebagai penjamin mereka berdua. Kita akan urus kasus ini di kantor polisi sekarang juga." Kevin mengusap bahu istrinya yang sedari tadi masih menangis. "Mama, tenang saja ya. Aku akan suruh anak buah aku untuk jaga di sini. Biar aku urus masalah ini di kantor polisi."

"Iya, Pa." Alea menganggukkan kepalanya lalu dia masuk ke dalam ruang rawat Revan dan Airin bersama Rili.

Mereka berdua masih belum sadarkan diri. Beberapa plester terpasang di pipi dan hidung. Perban besar juga terpasang di kepala mereka. Luka lebam di sekujur tubuh kini juga terlihat.

"Airin, mengapa bisa seperti ini?" Rili masih saja menangis meratapi keadaan putrinya. Dia kini duduk di samping brangkar Airin dan mengusap rambutnya yang lepek. Wajah Rili masih terlihat sangat pucat. "Ini yang Bunda takutkan, ketika kamu harus berurusan dengan makhluk tak kasat mata itu maka kamu juga berurusan dengan para psychopath." Rili terus mengusap rambut putrinya. "Cepat membaik ya sayang." Dia cium lembut kening Rili.

Beberapa saat kemudian Revan tersadar, dia langsung mual dan muntah lagi.

"Revan." Mamanya memijat punggung Revan agar mualnya bisa mereda.

"Ma, ada pasta sama sikat gigi? Aku mau sikat gigi, perut aku rasanya mual banget."

"Sebentar Mama lihat dulu di kamar mandi. Kalau tidak ada biar dibelikan sama anak buah Papa." Alea segera berdiri dan menuju kamar mandi. Biasanya di ruang vip sudah disiapkan lengkap dengan peralatan mandi.

Tatapan mata Revan kini tertuju pada Airin yang masih belum sadarkan diri.

"Revan, ada di dalam kamar mandi. Ayo, Mama bantu." Alea membantu putranya bangun lalu turun dari brangkar dan memapahnya ke dalam kamar mandi.

Cukup lama Revan di dalam kamar mandi, dia terus menyikat giginya dan rongga mulutnya karena apa yang dilakukan Guntur dan kedua temannya itu sangat menjijikkan.

"Revan, udah nak. Nanti gusi kamu berdarah."

Revan berkumur lalu dia termenung di depan washtafel.

"Apa yang sudah mereka lakukan sama kamu?" tanya Alea tapi Revan justru memeluknya.

"Sangat menjijikkan dan mengerikkan." kata Revan, dadanya terasa sesak mengingat kejadian itu.

"Ya sudah, lupakan kejadian itu ya. Semua akan baik-baik saja. Mereka akan dihukum yang setimpal." Kemudian Alea melepas pelukannya. "Ayo, kembali ke kamar."

Revan menganggukkan kepalanya. Dia kembali ke brangkarnya dengan bantuan Mamanya.

Setelah Revan naik ke atas brangkar, Alea mengambil makanan dan akan menyuapi putranya. Tapi Revan menggelengkan kepalanya, perutnya masih terasa sangat mual.

"Revan, makan dulu. Ayo, biar perut kamu enakan."

"Perut aku masih mual, aku mau istirahat saja Ma."

"Ya sudah, kamu istirahat dulu. Kalau udah enakan langsung makan. Kamu lupakan kejadian yang telah berlalu." Alea menyugar rambut putranya dan memberinya usapan lembut.

Tapi Revan justru menatap Airin yang masih terbaring lemah. "Airin belum sadar? Tidak ada masalah yang serius kan pada Airin?" tanya Revan.

"Sekujur tubuhnya banyak luka dan besok akan ct scan tulang belakang karena luka memar di tulang belakangnya cukup parah. Ya semoga saja kondisi Airin baik-baik saja." jawab Rili.

"Maafkan saya tante, ini semua salah saya. Saya juga tidak bisa melindungi Airin." kata Revan. Tubuh Airin memang terkena pukulan berulang di bagian punggungnya, semoga saja tidak berakibat fatal.

"Ini bukan salah kamu. Ini sudah takdir. Kebetulan sekali, mata batin Airin terbuka lagi. Ya, mau tidak mau Airin harus berhadapan dengan makhluk-makhluk itu." cerita Rili sambil terus mengusap rambut Airin.

"Jadi Airin anak indigo?" tanya Alea.

Rili menganggukkan kepalanya. "Iya, sejak dia lahir. Dia meniru Ayahnya. Sulit sekali menutup mata batinnya karena sudah bawaan dari lahir. Setiap saat aku selalu khawatir dengan kondisi Airin."

"Sabar ya, pasti ada jalan untuk menutup mata batinnya lagi."

"Iya, semoga saja."

Revan masih terus menatap Airin.

Kasihan juga Airin. Pasti ini tidak mudah baginya.

...***...

Airin berjalan seorang diri di sebuah taman yang sangat indah dan dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran.

Dia kini duduk di bangku taman, beberapa saat kemudian terlihat Della menghampirinya sambil tersenyum. Wajahnya sudah terlihat berseri.

"Terima kasih Airin, kamu sudah membantuku." katanya dengan lembut.

"Della..." Seketika Airin berdiri dan memeluk tubuh Della. "Semoga kamu tenang di sana. Maafkan aku, waktu itu aku tidak bisa menolong kamu."

Della menggelengkan kepalanya. "Kamu sudah banyak menolongku. Terima kasih. Kini aku bisa pergi dengan tenang."

Setelah itu Della melepaskan pelukannya dan dia menghilang.

"Della..."

Airin kini membuka matanya.

"Sayang, akhirnya kamu sadar." Rili yang baru saja terbangun di pagi hari itu, akhirnya bisa melihat putrinya yang sudah membuka matanya.

"Bunda." Airin mengulurkan tangannya dan memeluk Bundanya.

"Kamu sudah aman sayang. Semua sudah berakhir." Rili mengusap lengan Airin agar Airin lebih tenang.

Airin menganggukkan kepalanya.

"Mana yang sakit sayang? Biar dicek lebih lanjut sama Dokter." tanya Rili sambil melepas pelukannya.

Airin tak merasa sakit sama sekali bahkan memar ditubuhnya juga telah memudar. "Udah gak sakit, Bun. Rasanya tubuh aku udah gak ada yang sakit."

Seketika Rili melihat tangan dan kaki Airin lalu dia menutup tirai pembatas untuk melihat punggung Airin.

"Coba Bunda lihat punggungnya." Rili membuka punggung Airin. "Syukurlah, memarnya sudah memudar sayang. Bunda panggilkan Dokter ya, agar kamu diperiksa lagi." Rili segera menekan tombol merah yang ada di dekat brangkar.

"Revan, ada di sebelah ya Bun? Bagaimana keadaannya?" tanya Airin.

"Revan, terus muntah sejak semalam. Sepertinya dia baru bisa tertidur."

Airin mengernyitkan dahinya. Pasti apa yang terjadi kemarin membuat Revan sangat trauma.

💕💕💕

.

Like dan komen ya...

Terpopuler

Comments

Khoirun Ni'mah

Khoirun Ni'mah

Revan pasti dicium bergantian sama Guntur cs,,,iya pasti mual ngebayangin peristiwa kemarin.cara ampuh ngilanginnya ya ciuman ma cewek... Airin mungkin

2023-03-08

3

lihat semua
Episodes
1 Awal Terbukanya Mata Batin
2 Tragedi Di Sekolah
3 Menyimpan Rasa
4 Mimpi Buruk Lagi
5 Dekati Dia!
6 Salah Paham
7 Merasa Rapuh
8 Tak Sadarkan Diri
9 Dua Lembar Foto
10 Kita Sahabat
11 Flashback
12 Sebuah Rencana
13 Kamu Akan Ikut Bersamaku!
14 Tetap Pada Rencana Awal
15 Puncak Masalah
16 Semua Telah Berlalu
17 Kisah Misteri Masih Berlanjut
18 Tolong Aku
19 Mereka Dimana?
20 The Next Couple Of Leader
21 Setengah Hati yang Tertinggal
22 Hujan
23 Modus Terbaru
24 Tak Bisa Menemanimu
25 Apa Hanya Pelarian?
26 Belum Waktunya
27 Murid Baru
28 Will Be Mine?
29 Andai...
30 Perubahan
31 Merasa Aneh
32 Aura Pemikat
33 Di Perpustakaan Itu...
34 Ungkapan Rasa yang Salah
35 Penasaran
36 Masih Butuh Waktu
37 Galau
38 Do You Know What I Feel?
39 Bolos Bareng
40 Masa Lalu Satya dan Lisna
41 Mengantar Pulang
42 Kesedihan Azka
43 Siapa Dia?
44 Hati yang Terluka
45 Menanti Sebuah Jawaban
46 Belajar Di Perpustakaan
47 Hidup Itu Rumit
48 Benarkah Dia?
49 Hal Tak Terduga
50 Mengikuti Fani
51 Belum Terlambat
52 Semua Telah Terjadi
53 Sudah Lelah
54 Tidak Bisa Bersama Lagi
55 Belum Bisa Memaafkan
56 Semakin Bucin
57 Kenangan Manis
58 Berangkat Camping
59 Sudah Baikan
60 Tersesat di Hutan
61 Tidak Menemukan Jalan
62 Kita Harus Tetap Bersama
63 Harus Bertahan
64 Semoga Saja
65 Terus Berusaha
66 Semua Telah Berlalu
67 Kamu Pasti Bisa
68 Nge-Date
69 Butuh Usaha
70 Masuk Sekolah
71 Di Kafe
72 Lepaskan!
73 Semua Terungkap
74 Jangan Menyerah
75 Kado?
76 Pacar Pura-pura
77 Siapa Putri?
78 Permintaan Terakhir
79 Mimpi Atau Nyata?
80 Ada Apa Airin?
81 Tidak Sadar
82 Merasa Bersalah
83 Bukan Airin
84 Cermin Itu!
85 Mencari Airin
86 Kalian Pembunuh!
87 Menyesal?
88 Kamu Pasti Bisa!
89 Sudah Membaik
90 Noni Belanda
91 Sejarah
92 Kepulangan Azka
93 Kerasukan
94 Jangan Takut
95 Kedatangan Revan
96 Menjelajah Waktu
97 Pulang Cepat
98 ke Rumah Revan
99 Makam Esmee
100 Meminjam Raga?
101 Jangan Sedih Lagi
102 Semangat Azka
103 Persembahan Terakhir
104 Melepaskan
105 Putus?
106 Hari Kelulusan
107 Perpisahan
108 Pertama di Kampus
109 Bermain Basket Lagi
110 Menganggapmu Pacar
111 Kontrak Hampir Selesai
112 Kencan
113 Jangan Pergi
114 Menyesal
115 Kembalilah Azka
116 Video Viral?
117 Pelukan Terakhir
118 Selamat Tinggal
119 Will You Marry Me?
120 Ledakan
121 Gawat
122 Sudah Sadar
123 Pemulihan
124 Pagi Itu...
125 Pagi Itu 2
126 Married With Bad Boy
127 Selalu Bersama
128 Sudah Jadi?
129 Gender Reveal
130 Wellcome To The World
131 PENGUMUMAN
132 Hantu Kapten Basket (Karya Baru)
133 Azka terbaru udah rilis
Episodes

Updated 133 Episodes

1
Awal Terbukanya Mata Batin
2
Tragedi Di Sekolah
3
Menyimpan Rasa
4
Mimpi Buruk Lagi
5
Dekati Dia!
6
Salah Paham
7
Merasa Rapuh
8
Tak Sadarkan Diri
9
Dua Lembar Foto
10
Kita Sahabat
11
Flashback
12
Sebuah Rencana
13
Kamu Akan Ikut Bersamaku!
14
Tetap Pada Rencana Awal
15
Puncak Masalah
16
Semua Telah Berlalu
17
Kisah Misteri Masih Berlanjut
18
Tolong Aku
19
Mereka Dimana?
20
The Next Couple Of Leader
21
Setengah Hati yang Tertinggal
22
Hujan
23
Modus Terbaru
24
Tak Bisa Menemanimu
25
Apa Hanya Pelarian?
26
Belum Waktunya
27
Murid Baru
28
Will Be Mine?
29
Andai...
30
Perubahan
31
Merasa Aneh
32
Aura Pemikat
33
Di Perpustakaan Itu...
34
Ungkapan Rasa yang Salah
35
Penasaran
36
Masih Butuh Waktu
37
Galau
38
Do You Know What I Feel?
39
Bolos Bareng
40
Masa Lalu Satya dan Lisna
41
Mengantar Pulang
42
Kesedihan Azka
43
Siapa Dia?
44
Hati yang Terluka
45
Menanti Sebuah Jawaban
46
Belajar Di Perpustakaan
47
Hidup Itu Rumit
48
Benarkah Dia?
49
Hal Tak Terduga
50
Mengikuti Fani
51
Belum Terlambat
52
Semua Telah Terjadi
53
Sudah Lelah
54
Tidak Bisa Bersama Lagi
55
Belum Bisa Memaafkan
56
Semakin Bucin
57
Kenangan Manis
58
Berangkat Camping
59
Sudah Baikan
60
Tersesat di Hutan
61
Tidak Menemukan Jalan
62
Kita Harus Tetap Bersama
63
Harus Bertahan
64
Semoga Saja
65
Terus Berusaha
66
Semua Telah Berlalu
67
Kamu Pasti Bisa
68
Nge-Date
69
Butuh Usaha
70
Masuk Sekolah
71
Di Kafe
72
Lepaskan!
73
Semua Terungkap
74
Jangan Menyerah
75
Kado?
76
Pacar Pura-pura
77
Siapa Putri?
78
Permintaan Terakhir
79
Mimpi Atau Nyata?
80
Ada Apa Airin?
81
Tidak Sadar
82
Merasa Bersalah
83
Bukan Airin
84
Cermin Itu!
85
Mencari Airin
86
Kalian Pembunuh!
87
Menyesal?
88
Kamu Pasti Bisa!
89
Sudah Membaik
90
Noni Belanda
91
Sejarah
92
Kepulangan Azka
93
Kerasukan
94
Jangan Takut
95
Kedatangan Revan
96
Menjelajah Waktu
97
Pulang Cepat
98
ke Rumah Revan
99
Makam Esmee
100
Meminjam Raga?
101
Jangan Sedih Lagi
102
Semangat Azka
103
Persembahan Terakhir
104
Melepaskan
105
Putus?
106
Hari Kelulusan
107
Perpisahan
108
Pertama di Kampus
109
Bermain Basket Lagi
110
Menganggapmu Pacar
111
Kontrak Hampir Selesai
112
Kencan
113
Jangan Pergi
114
Menyesal
115
Kembalilah Azka
116
Video Viral?
117
Pelukan Terakhir
118
Selamat Tinggal
119
Will You Marry Me?
120
Ledakan
121
Gawat
122
Sudah Sadar
123
Pemulihan
124
Pagi Itu...
125
Pagi Itu 2
126
Married With Bad Boy
127
Selalu Bersama
128
Sudah Jadi?
129
Gender Reveal
130
Wellcome To The World
131
PENGUMUMAN
132
Hantu Kapten Basket (Karya Baru)
133
Azka terbaru udah rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!