"Airin!" Revan segera berlari, saat dia sampai di tempat semula, dia melihat Airin terjatuh di lantai dengan pipi yang terluka karena bekas cakaran.
"Siapa yang lakuin ini?" Revan mengusap sesaat pipi Airin yang sekarang berdarah.
"Aku gak tahu. Dia bekap aku dari belakang, aku injak kakinya terus dia cakar aku dan kabur."
Kemudian Revan membantu Airin berdiri. "Kita keluar sekarang dari sini." Revan dan Airin segera keluar dari perpustakaan tepat saat bel istirahat berbunyi.
Revan kini mengajak Airin ke UKS terlebih dahulu untuk mengobati luka cakaran itu.
"Airin, kenapa?" Azka mengikuti langkah mereka berdua. Dia melihat Revan yang akan mengobati pipi Airin, ada rasa tidak rela hingga membuatnya mendorong Revan agar menjauh. "Kenapa bisa begini?"
Airin hanya speechless melihat kekhawatiran Azka yang terlalu berlebihan.
"Lo harusnya jagain Airin!" Azka justru mengeraskan suaranya dan membentak Revan.
"Iya, gue juga gak tahu. Gue tinggal sebentar aja, ada yang mau nyulik Airin. Untungnya gagal."
Kemudian, Azka membersihkan bekas cakaran itu dengan cairan rivanol, takut jika nanti terkena virus atau bakteri. Wajah cantik Airin kini justru membekas luka. Setelah itu dia tempel plester luka di pipi Airin.
Revan kini menutup pintu UKS agar tidak ada yang mendengar pembicaraannya. "Kalau lo gak percaya sama gue, mending lo saja yang ke atap sama Airin biar gue ke kos Guntur."
"Kalau gue yang sama Airin, mereka gak akan bertindak." kata Azka.
"Kenapa? Bukannya lo juga jadi incaran mereka."
"Karena mereka tahu kalau..." Azka menatap Airin sesaat lalu dia membalikkan badannya. Ya, mereka tahu kalau Airin tidak akan pernah mau menerima gue.
"Tetap pada rencana awal." Kemudian Azka membuka pintu dan keluar dari UKS.
...***...
"Ai, pulang yuk." ajak Melodi karena Airin masih saja duduk di bangkunya.
"Iya, kamu duluan. Aku masih ada perlu sama Revan." jawab Airin sambil memakai tasnya.
"Oke, aku duluan ya." Melodi akhirnya melangkahkan kakinya keluar kelas. Sebenarnya apa rencana mereka? Melodi sangat penasaran. Dia memutuskan untuk mengikuti Azka.
Kemudian Revan menggeser kursinya dan duduk di sebelah Airin. Mereka sama-sama terdiam sambil mengulur waktu.
"Yuk!" Revan akhirnya menggandeng tangan Airin, lalu mereka keluar dari kelas. Revan melihat ke kanan dan ke kiri sesaat, memastikan jika koridor telah sepi. Lalu mereka berjalan menuju tangga dan naik ke atap gedung sekolah.
Mereka berdua kini berdiri di atap gedung. Memandang langit yang masih membiru dengan angin sepoi-sepoi sore hari.
Kemudian mereka berdua duduk dan bersandar di tembok gudang. Tangan mereka masih saja terpaut.
Oke, Airin akting hanya untuk satu hari ini saja.
Airin menghela napas panjang lalu dia bersandar di pundak Revan.
Maafkan aku Della, aku gak bermaksud mendekati Revan.
"Akhirnya kita bisa berduaan kayak gini." hanya itu yang dikatakan Revan.
"Iya."
Revan mengambil ponselnya lalu menghubungkan panggilannya dengan Azka. Kemudian dia pasang headset bluetooth dan dia pasangkan di telinga Airin lalu dia tutupi dengan rambut panjang Airin.
Airin bisa mendengar suara Azka di seberang sana, begitu juga sebaliknya. Jadi mereka bisa tahu jika salah satu di antara mereka sedang dalam bahaya.
Cukup lama Revan dan Airin berdiam diri di atap itu. Hingga senja telah tiba, beberapa saat lagi langit akan berganti menjadi awan hitam.
Airin melepas headset yang terpasang di telinganya karena panggilan itu tiba-tiba terputus setelah bunyi suara jatuh.
Revan kembali menghubungi Azka tapi nomornya tidak aktif. "Apa yang terjadi dengan Azka?" gumamnya pelan.
Semakin sore, Airin mulai merasa kedinginan. "Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Azka. Apa mereka gak akan datang ke sini?" bisik Airin di dekat telinga Revan.
Revan menggeleng pelan lalu dia melepas jaketnya dan memakaikannya di badan Airin.
"Tunggu 10 menit lagi, kalau tidak ada tanda-tanda dari mereka. Kita pulang saja." balas Revan dengan bisikannya.
...***...
Azka sampai di tempat kos Guntur. Dia melihat tidak ada motor Guntur maupun teman yang lainnya di tempat parkir. Dia kini turun dari motornya dan berjalan masuk ke dalam tempat kos.
Dia berhenti di depan kamar kos Guntur. Sepi tidak ada siapapun. Dia menoleh ke kiri dan juga ke kanan, memastikan tidak ada orang yang melihatnya.
Kemudian dia mencoba membuka gembok kecil yang menempel di pintu dengan obeng. Setelah mencoba dengan tenaga penuh, akhirnya gembok itu berhasil terbuka. Kemudian dia masuk ke dalam kamar Guntur tanpa menghidupian lampu dan hanya mengandalkan cahaya temaram yang menembus tirai.
Perutnya tiba-tiba terasa mual saat melihat foto dirinya dan juga Revan terpasang di dinding kamar kos Guntur dengan berbagai pose. Bahkan fotonya yang sedang bertelanjang dada di ruang ganti basket dicetak berukuran besar dan sangat jelas.
Perut Azka terasa semakin diaduk-aduk. Bisa-bisanya foto-fotonya dijadikan ajang fantasi liar. Azka merobek foto-foto itu dan membuangnya ke lantai. Dia harus segera mencari barang bukti di tempat itu. Dia membuka laci meja dan menemukan sebuah flashdisk tapi tiba-tiba ada yang memukulnya dari belakang dengan keras hingga membuat Azka jatuh terduduk.
Dia ambil paksa ponsel Azka lalu menginjaknya hingga ponsel itu mati total.
"Lepasin!!"
Dia menyergap tangan Azka dan memukulnya lagi hingga Azka jatuh pingsan.
...***...
"Kita pulang sekarang saja. Hari udah mau gelap." kata Revan sambil membantu Airin berdiri.
Airin menganggukkan kepalanya. Dia juga takut dicari kedua orang tuanya jika dia masih belum pulang juga hingga malam.
Baru saja mereka membalikkan badannya. Ada tiga pasang kaki yang menghadang mereka.
"Kalian pikir, kalian lebih pintar dari kita!" Guntur tersenyum miring, lalu dia memberi kode pada Diki dan Riko untuk menyergap mereka berdua.
Guntur segera membuka gudang yang ada di atap itu lalu mendorong paksa tubuh mereka berdua masuk ke dalam gudang.
Revan berusaha memberontak. Dia tendang kaki Diki hingga sergapannya lepas. Dia memukuli Diki dan Riko hingga mereka tak bisa melawan.
"Kalau kamu melawan lagi, Airin habis ditangan gue!" Guntur menyergap leher Airin dan mengarahkan senjata tajam.
"Shits! Gue gak nyangka lo seorang ba ji ngan! Kita berteman udah hampir dua tahun, lo benar-benar bang sat!"
Guntur hanya tertawa. Diki dan Riko kembali menyergap Revan lalu mengikatnya di kursi, begitu juga dengan Airin.
Guntur dan kedua temannya semakin tertawa dengan keras. "Gue kasih lo dua pilihan, lo mau bergabung dengan kita atau nyawa Airin jadi taruhannya."
Revan hanya saling tatap dengan Airin. Sampai sekarang, Azka belum juga datang lalu bagaimana mereka menyelamatkan diri?
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Setmi Efrianti
ngeri akh...
2024-01-17
0
lady daisy
thorr wat della selamatkn airin ngan revan
2023-05-13
0
Yeni Nurmaela
smga melody dtg tepat waktu
2023-03-07
3