Dua Lembar Foto

"Ada satu lagi cewek aneh yang deketin Revan."

"Dia sih cuma tikus kecil, gampang singkirinnya, tinggal buat aja gosip yang bikin anak-anak memanas."

"Hahaha, lo memang gila."

Tanpa sengaja Azka mendengar pembicaraan teman-temannya di dekat ruang ganti pemain basket. Apa yang dimaksud itu adalah Airin?

Brakkk!!!

Azka memukul pintu ruang ganti itu dengan keras. Di dalam sana ada empat orang temannya yang sedang bertelanjang dada. Di antaranya ada Guntur dan juga Angga.

"Ngomongin apa kalian?" tanya Azka.

Mereka semua hanya tersenyum miring. "Lo itu kapten basket, ngatur kita cuma di lapangan! Urusan kita di luar lapangan itu, gak ada sangkut pautnya sama lo!"

"Apa yang kalian maksud Airin!"

Mereka semua kini tertawa dengan keras. "Airin? Kayak gak ada cewek lain aja yang dibicarain. Makanya lo itu jangan bucin, udah tahu ditolak masih saja dideketin."

Azka semakin mengepalkan tangannya, dia mendorong dada guntur dengan keras. "Mau lo apa! Lo selalu aja cari masalah sama gue!"

"Lo berani sama gue!" Guntur menatap tajam Azka. Bahkan ketiga temannya kini juga berdiri di belakang Guntur. Satu tangan Guntur tiba-tiba menyentuh Azka.

"Breng sek!" Azka melayangkan satu pukulan di pipi Guntur lalu dia membalikkan badannya dan keluar dari ruang ganti.

Dia berjalan dengan cepat menuju ruang OSIS. Tepat sekali dugaannya, di dalam sana masih ada Revan yang duduk sambil melamun, dan beberapa anggota OSIS lain yang sedang membereskan buku-buku di sana termasuk Melodi.

"Revan, gimana keadaan Airin?" tanya Azka.

"Airin harus dirawat di rumah sakit karena demamnya sangat tinggi." Revan kini berdiri dan melihat buku-buku kepengurusan OSIS yang sudah tersusun rapi. "Besok kalian tunjukkan buku-buku ini pada ketua OSIS yang baru. Terima kasih atas kerjasamanya selama 6 bulan ini. Aku undur diri dari ketua OSIS." Revan membalikkan badannya dan akan keluar dari ruang OSIS.

Hal itu jelas membuat Azka terkejut. Dia kini menahan langkah Revan. "Bukankah masa jabatan lo masih kurang 6 bulan? Kenapa lo mundur?"

"Ini keputusan Pak Widodo dan guru lainnya." jawab Revan datar. Meskipun dirinya sebenarnya sangat tidak rela dengan keputusan itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

"Lo gak melakukan pembelaan?"

"Buat apa? Gue yang salah. Gue yang menyebabkan semua kekacauan ini terjadi. Gue sudah memberi contoh buruk pada murid lain di sini." Setelah itu Revan melanjutkan langkah kakinya sambil memakai tasnya.

Azka hanya menatap punggung Revan yang kian menjauh. Sebenarnya ada satu dugaan yang harus dia selidiki dan dia butuh bantuan Revan.

"Azka, kita jenguk Airin yuk?" perkataan Melodi membuyarkan lamunan Azka.

"Oke. Sebentar aku ambil tas dulu di loker." Azka sampai melupakan tasnya yang masih tertinggal di loker yang berada di ruang latihan basket. Dia berjalan cepat yang diikuti oleh Melodi. Setelah dia mengambil tasnya tanpa sengaja dia menginjak dua lembar foto. Dia mengambil foto itu.

"Azka, teman-teman kamu sudah pulang semua? Kok sepi?" Melodi mengikuti langkah Azka sampai di dekat lokernya.

Tapi Azka tak menjawab. Dia hanya menatap dua foto yang sekarang ada di tangannya.

"Itu apa?" Melodi melihat kedua foto itu. "Foto Della dan Revan? Ini juga foto kamu dan Airin? Kamu nemu dimana?"

"Jatuh di sini." Azka kini berpikir keras. Apa maksud dari dua foto itu.

Melodi memegang foto itu lalu membaliknya. "Azka, ada tulisan di belakang foto Della."

"End."

"Melodi, cepat kita keluar dari sini." Azka menarik tangan Melodi agar cepat keluar dari ruangan itu. Mereka kini setengah berlari menuju tempat parkir.

Di tempat parkir ada Revan yang sedang bersama teman-temannya. Azka menatap mereka semua yang sedang santai mengobrol. Apa benar dugaannya?

"Azka ayo, katanya mau jenguk Airin?" Melodi sudah menaiki motornya.

"Iya." Lalu Azka juga menaiki motornya. Beberapa saat kemudian motor mereka melaju meninggalkan parkir sekolah.

...***...

Kalian siapa! Jangan lakukan ini!

Tiga orang yang memakai penutup wajah itu terus melecehkan Della. Ada satu orang yang tertawa dengan keras sambil merekam adegan brutal itu.

"Tidak!!!" Airin berteriak dan membuka matanya.

"Airin kenapa? Ada Bunda di sini?"

Airin kini menatap Bundanya yang duduk di dekat brangkar.

"Bunda." Airin bangun dan memeluk Bundanya.

"Kamu mimpi buruk lagi?"

Airin menganggukkan kepalanya.

Rili melepas pelukan putrinya lalu mengambil sebotol air mineral dan membukanya. "Minum dulu biar perasaan kamu tenang."

Airin meneguk minuman itu hingga sisa setengah, lalu meletakkan kembali di atas nakas.

Rili mengecek kembali suhu tubuh Airin. "Syukurlah, suhu tubuhnya sudah menurun. Besok kamu sudah boleh pulang. Tapi masih tetap harus istirahat di rumah, jangan masuk sekolah dulu."

"Iya Bun, hp Airin dimana?"

"Ini hp kamu." Rili mengambil ponsel Airin yang berada di dalam tasnya.

Beberapa saat kemudian, Alvin masuk sambil membawa satu kantong makanan. "Dua kesayangan Ayah, ayo makan dulu. Kak Ayla masih ada tugas kelompok jadi nanti nyusul ke sini sendiri." Alvin meletakkan kantong plastik yang berisi makanan itu di atas meja lalu menghampiri putrinya dan menyentuh tengkuk lehernya. "Sudah turun demamnya." Alvin kini juga duduk di sebelah Airin. "Airin kalau tidak betah sekolah di sana, pindah ke sekolah kak Ayla saja ya."

Airin menggelengkan kepalanya. "Airin gak salah Ayah, kenapa harus Airin yang keluar. Harusnya mereka yang salah yang keluar dari sekolah itu."

"Tapi Ayah dan Bunda gak mau kejadian seperti ini terulang lagi."

Airin hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Lain kali Airin akan lebih hati-hati dan harus bisa jaga diri. Bunda sama Ayah tenang saja ya." Meskipun sebenarnya Airin merasa takut tapi dia harus mengungkap kasus ini. Beberapa gambaran flashback sudah muncul, pasti sedikit lagi dia akan menemukan pelaku yang membunuh Della.

Beberapa saat kemudian Azka dan Melodi mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan Airin. "Airin, gimana keadaan kamu?" Melodi berjalan mendekat dan setengah memeluk Airin.

"Aku udah membaik. Makasih ya, kalian udah datang ke sini."

"Iya. Aku khawatir banget sama kamu pas dengar kamu pingsan."

"Kebetulan sekali kalian ke sini. Ayo, sekalian kita makan." ajak Alvin pada mereka berdua.

"Iya, Om."

Kedua orang tua Airin berpindah ke sofa dan membiarkan mereka mengobrol.

"Ada kabar apa di sekolah?" tanya Airin dengan suara pelan agar kedua orang tuanya yang sedang makan itu tidak mendengar suaranya.

"Revan, mundur dari ketua OSIS." kata Azka.

Hal itu jelas saja membuat Airin terkejut. Selama ini kinerja Revan sebagai ketua OSIS sangat bagus, Airin tak menyangka kejadian ini membuat jabatan itu dicabut.

💕💕💕

.

Like dan komen ya...

Terpopuler

Comments

Eika

Eika

punya prinsip yg bagus Revan

2023-04-29

0

lihat semua
Episodes
1 Awal Terbukanya Mata Batin
2 Tragedi Di Sekolah
3 Menyimpan Rasa
4 Mimpi Buruk Lagi
5 Dekati Dia!
6 Salah Paham
7 Merasa Rapuh
8 Tak Sadarkan Diri
9 Dua Lembar Foto
10 Kita Sahabat
11 Flashback
12 Sebuah Rencana
13 Kamu Akan Ikut Bersamaku!
14 Tetap Pada Rencana Awal
15 Puncak Masalah
16 Semua Telah Berlalu
17 Kisah Misteri Masih Berlanjut
18 Tolong Aku
19 Mereka Dimana?
20 The Next Couple Of Leader
21 Setengah Hati yang Tertinggal
22 Hujan
23 Modus Terbaru
24 Tak Bisa Menemanimu
25 Apa Hanya Pelarian?
26 Belum Waktunya
27 Murid Baru
28 Will Be Mine?
29 Andai...
30 Perubahan
31 Merasa Aneh
32 Aura Pemikat
33 Di Perpustakaan Itu...
34 Ungkapan Rasa yang Salah
35 Penasaran
36 Masih Butuh Waktu
37 Galau
38 Do You Know What I Feel?
39 Bolos Bareng
40 Masa Lalu Satya dan Lisna
41 Mengantar Pulang
42 Kesedihan Azka
43 Siapa Dia?
44 Hati yang Terluka
45 Menanti Sebuah Jawaban
46 Belajar Di Perpustakaan
47 Hidup Itu Rumit
48 Benarkah Dia?
49 Hal Tak Terduga
50 Mengikuti Fani
51 Belum Terlambat
52 Semua Telah Terjadi
53 Sudah Lelah
54 Tidak Bisa Bersama Lagi
55 Belum Bisa Memaafkan
56 Semakin Bucin
57 Kenangan Manis
58 Berangkat Camping
59 Sudah Baikan
60 Tersesat di Hutan
61 Tidak Menemukan Jalan
62 Kita Harus Tetap Bersama
63 Harus Bertahan
64 Semoga Saja
65 Terus Berusaha
66 Semua Telah Berlalu
67 Kamu Pasti Bisa
68 Nge-Date
69 Butuh Usaha
70 Masuk Sekolah
71 Di Kafe
72 Lepaskan!
73 Semua Terungkap
74 Jangan Menyerah
75 Kado?
76 Pacar Pura-pura
77 Siapa Putri?
78 Permintaan Terakhir
79 Mimpi Atau Nyata?
80 Ada Apa Airin?
81 Tidak Sadar
82 Merasa Bersalah
83 Bukan Airin
84 Cermin Itu!
85 Mencari Airin
86 Kalian Pembunuh!
87 Menyesal?
88 Kamu Pasti Bisa!
89 Sudah Membaik
90 Noni Belanda
91 Sejarah
92 Kepulangan Azka
93 Kerasukan
94 Jangan Takut
95 Kedatangan Revan
96 Menjelajah Waktu
97 Pulang Cepat
98 ke Rumah Revan
99 Makam Esmee
100 Meminjam Raga?
101 Jangan Sedih Lagi
102 Semangat Azka
103 Persembahan Terakhir
104 Melepaskan
105 Putus?
106 Hari Kelulusan
107 Perpisahan
108 Pertama di Kampus
109 Bermain Basket Lagi
110 Menganggapmu Pacar
111 Kontrak Hampir Selesai
112 Kencan
113 Jangan Pergi
114 Menyesal
115 Kembalilah Azka
116 Video Viral?
117 Pelukan Terakhir
118 Selamat Tinggal
119 Will You Marry Me?
120 Ledakan
121 Gawat
122 Sudah Sadar
123 Pemulihan
124 Pagi Itu...
125 Pagi Itu 2
126 Married With Bad Boy
127 Selalu Bersama
128 Sudah Jadi?
129 Gender Reveal
130 Wellcome To The World
131 PENGUMUMAN
132 Hantu Kapten Basket (Karya Baru)
133 Azka terbaru udah rilis
Episodes

Updated 133 Episodes

1
Awal Terbukanya Mata Batin
2
Tragedi Di Sekolah
3
Menyimpan Rasa
4
Mimpi Buruk Lagi
5
Dekati Dia!
6
Salah Paham
7
Merasa Rapuh
8
Tak Sadarkan Diri
9
Dua Lembar Foto
10
Kita Sahabat
11
Flashback
12
Sebuah Rencana
13
Kamu Akan Ikut Bersamaku!
14
Tetap Pada Rencana Awal
15
Puncak Masalah
16
Semua Telah Berlalu
17
Kisah Misteri Masih Berlanjut
18
Tolong Aku
19
Mereka Dimana?
20
The Next Couple Of Leader
21
Setengah Hati yang Tertinggal
22
Hujan
23
Modus Terbaru
24
Tak Bisa Menemanimu
25
Apa Hanya Pelarian?
26
Belum Waktunya
27
Murid Baru
28
Will Be Mine?
29
Andai...
30
Perubahan
31
Merasa Aneh
32
Aura Pemikat
33
Di Perpustakaan Itu...
34
Ungkapan Rasa yang Salah
35
Penasaran
36
Masih Butuh Waktu
37
Galau
38
Do You Know What I Feel?
39
Bolos Bareng
40
Masa Lalu Satya dan Lisna
41
Mengantar Pulang
42
Kesedihan Azka
43
Siapa Dia?
44
Hati yang Terluka
45
Menanti Sebuah Jawaban
46
Belajar Di Perpustakaan
47
Hidup Itu Rumit
48
Benarkah Dia?
49
Hal Tak Terduga
50
Mengikuti Fani
51
Belum Terlambat
52
Semua Telah Terjadi
53
Sudah Lelah
54
Tidak Bisa Bersama Lagi
55
Belum Bisa Memaafkan
56
Semakin Bucin
57
Kenangan Manis
58
Berangkat Camping
59
Sudah Baikan
60
Tersesat di Hutan
61
Tidak Menemukan Jalan
62
Kita Harus Tetap Bersama
63
Harus Bertahan
64
Semoga Saja
65
Terus Berusaha
66
Semua Telah Berlalu
67
Kamu Pasti Bisa
68
Nge-Date
69
Butuh Usaha
70
Masuk Sekolah
71
Di Kafe
72
Lepaskan!
73
Semua Terungkap
74
Jangan Menyerah
75
Kado?
76
Pacar Pura-pura
77
Siapa Putri?
78
Permintaan Terakhir
79
Mimpi Atau Nyata?
80
Ada Apa Airin?
81
Tidak Sadar
82
Merasa Bersalah
83
Bukan Airin
84
Cermin Itu!
85
Mencari Airin
86
Kalian Pembunuh!
87
Menyesal?
88
Kamu Pasti Bisa!
89
Sudah Membaik
90
Noni Belanda
91
Sejarah
92
Kepulangan Azka
93
Kerasukan
94
Jangan Takut
95
Kedatangan Revan
96
Menjelajah Waktu
97
Pulang Cepat
98
ke Rumah Revan
99
Makam Esmee
100
Meminjam Raga?
101
Jangan Sedih Lagi
102
Semangat Azka
103
Persembahan Terakhir
104
Melepaskan
105
Putus?
106
Hari Kelulusan
107
Perpisahan
108
Pertama di Kampus
109
Bermain Basket Lagi
110
Menganggapmu Pacar
111
Kontrak Hampir Selesai
112
Kencan
113
Jangan Pergi
114
Menyesal
115
Kembalilah Azka
116
Video Viral?
117
Pelukan Terakhir
118
Selamat Tinggal
119
Will You Marry Me?
120
Ledakan
121
Gawat
122
Sudah Sadar
123
Pemulihan
124
Pagi Itu...
125
Pagi Itu 2
126
Married With Bad Boy
127
Selalu Bersama
128
Sudah Jadi?
129
Gender Reveal
130
Wellcome To The World
131
PENGUMUMAN
132
Hantu Kapten Basket (Karya Baru)
133
Azka terbaru udah rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!