Airin...
Suara itu kembali terdengar. Napas Airin semakin terasa sesak. Dia terpaku dan tercekat.
Della semakin terlihat menakutkan dengan tatapan mata yang tajam.
Apa kamu memang tidak mau menolongku!!
Airin menutup mulutnya. Dia kini berdiri dan akan melangkahkan kakinya yang semakin terasa sakit. Tanpa sengaja dia menabrak dada bidang Revan yang berjalan ke arahnya.
"Aaaa!!!" teriak Airin. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hei, kamu kenapa?" Revan memakaikan jaket yang baru dia ambil dari ruang OSIS di tubuh Airin agar menutupi bagian dadanya. Dia juga membawa salep untuk mengoles luka Airin.
Airin mengatur napasnya yang terasa sangat sesak.
"Sini aku oles kaki kamu biar gak tambah sakit." Revan menyuruh Airin duduk lalu dia berjongkok di depan Airin dan mengoles luka kaki Airin dengan salep.
Airin hanya terdiam. Detak jantungnya masih berdegub tak karuan. Bukan karena kakinya kini disentuh oleh Revan, tapi karena dia memikirkan kalimat Della.
Apa sekarang Della menyalahkan aku karena aku tidak bisa menolongnya?
Airin menautkan alisnya. Dia masih berpikir dengan keras.
Bahkan perkataan Revan sama sekali tidak dia dengar. Tersadar saat Revan menyentuh pundak Airin.
"Hujannya udah reda, ayo aku antar pulang."
"Eh, hmm." Airin meloading beberapa saat. Hujannya memang sudah reda. Dia kembali mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Ayahnya tapi nomor Ayahnya masih saja belum aktif.
"Kalau gak mau, ya udah. Aku duluan ya."
"Eh, tunggu. Iya, aku nebeng." Airin berdiri dan melangkahkan kakinya terpincang.
Revan kini membantu Airin berjalan. Sebenarnya Airin merasa risih dipegang lengannya oleh Revan, tapi mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain. Kakinya masih terasa sakit saat dia gerakkan.
Setelah Revan naik ke atas motornya, Airin kini naik ke boncengan Revan. Tidak ada percakapan apapun selama perjalanan pulang.
Revan membelokkan motornya masuk ke dalam halaman depan rumah Airin.
Setelah Airin turun dari motor, Revan juga ikut turun.
"Makasih ya." kata Airin. Dia akan melangkahkan kakinya tapi Revan kembali membantunya.
"Aku bisa sendiri."
"Tidak apa-apa. Aku bantu."
Airin memencet bel rumahnya. Beberapa saat kemudian Bundanya sudah membukakan pintu untuknya.
"Airin, kamu udah pulang? Kamu kenapa? Basah semua."
"Airin tadi jatuh tante." Revan melepaskan tangannya. "Kalau begitu saya permisi dulu."
"Revan gak masuk dulu."
Revan menggelengkan kepalanya. "Lain kali saja, tante. Permisi."
Setelah Revan pergi Airin berjalan menuju kamarnya dengan bantuan Bundanya.
"Bisa naik tangga?"
"Bisa, Bun. Ini sakitnya cuma sedikit."
Bunda Rili masih membantu Airin menaiki tangga dan sampai di dalam kamarnya.
"Kamu mandi pakai air hangat lalu ganti baju."
Airin kini duduk di kursinya lalu melepas sepatunya. Dia melihat luka di kakinya yang masih terlihat membiru.
"Kakinya masih sakit? Jangan-jangan keseleo, kita periksa ke Dokter ya."
Airin menggelengkan kepalanya. "Bun, Della bunuh diri."
Bunda Rili terkejut. Dia meletakkan baju ganti Airin di atas meja lalu berdiri di sampingnya.
"Dia bunuh diri dari lantai empat di sekolah." lanjut Airin.
"Astaga, kasihan sekali."
"Tapi Airin yakin, Della tidak bunuh diri tapi dia dibunuh."
"Sayang, jangan berpikiran buruk dulu. Biar polisi yang mengungkap kasus ini. Kamu berdoa saja semoga Della tenang di sana."
"Tapi Airin tadi melihat arwah Della."
Seketika Bunda Rili mengusap rambut basah Airin. Hal yang dia takutkan kini terjadi lagi. "Jangan kamu hiraukan ya, jika memang makhluk itu terlihat lagi, biarkan. Kamu tidak usah mencampuri urusan mereka."
"Tapi Bun, apa makhluk itu bisa berubah menjadi jahat?"
Bunda Rili menghela napas panjang. "Airin, makhluk itu mempunyai energi negatif. Kamu biarkan mereka, jangan diganggu. Bunda gak mau kamu kenapa-napa. Nanti Bunda sama Ayah akan cari cara agar mata batin kamu tertutup lagi." Kemudian Bunda Rili kini berjongkok dan melihat kaki Airin. "Airin, kenapa ini seperti kena cakar?"
Airin menggelengkan kepalanya.
Rili berdiri lagi, "Ya sudah kamu mandi dulu. Bersihkan lukanya. Nanti Bunda kasih obat kalau makin sakit kita ke klinik."
Airin menganggukkan kepalanya lalu dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh dirinya.
Bunda Rili kini menunggu putrinya di kamar. Di saat seperti ini, dia harus selalu memberi perhatian pada Airin. Karena dia tahu sendiri bagaimana tidak enaknya diteror makhluk tak kasat mata itu.
Aku takut sekali kalau mata batin Airin terbuka lagi seperti ini. Aku takut Airin berurusan dengan makhluk-makhluk itu, karena dia bukan anak kecil lagi pasti dia akan penasaran dan terus mencari tahu keberadaan mereka.
...***...
Rasanya ingin berteriak dengan keras tapi bibir Airin terasa sangat berat untuk terbuka. Dia berlari dan berlari di jalan yang tak berujung. Gelap dan hawa dingin sangat terasa mencekat seperti menusuk tulang-tulangnya.
Airin tolong aku...
Airin tolong...
Airin menutup kedua telinganya. Dia tidak tahu harus melangkahkan kakinya kemana lagi.
"Della, bukannya aku gak mau menolong kamu. Tapi aku gak bisa!"
Airin, kamu sama saja seperti mereka!!
Tiba-tiba wajah Della semakin terlihat hancur, dia tertawa menyeringai dan melayang ke arah Airin.
"Aaaaa!!!!" Airin membuka matanya dengan napas yang sesak. Ternyata sekarang dia ada di kamarnya. Perlahan dia duduk dan mengambil botol air mineral yang ada di atas nakas lalu meminumnya agar dia lebih tenang.
Dia dikejutkan lagi saat tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarnya.
"Airin, kamu kenapa?"
Airin menghela napas panjang saat melihat Ayahnya masuk ke dalam kamarnya.
"Ayah." Airin memeluk Ayahnya yang telah duduk di tepi ranjangnya.
"Kenapa?"
"Airin takut."
Ayah Alvin mengusap rambut putrinya yang berkeringat. "Kamu mimpi buruk?"
Airin menganggukkan kepalanya.
"Airin, kamu tenangkan diri kamu. Tarik napas panjang lalu pejamkan mata kamu. Konsentrasi dan hilangkan pikiran-pikiran buruk kamu."
Airin mengikuti saran Ayahnya. Kini napasnya mulai teratur dan lebih tenang.
"Ayah dulu punya indigo juga?" tanya Airin sambil melepas pelukannya.
"Iya, jadi Ayah tahu bagaimana rasanya memiliki kelebihan itu. Kamu cukup lihat mereka, jangan mencampuri urusan mereka agar kamu tidak diganggu oleh mereka. Ayah akan cari cara lagi agar mata batin kamu bisa ditutup lagi."
Airin hanya menganggukkan kepalanya. Tapi bagaimana jika mereka yang justru terus menghampiri Airin?
"Masih jam satu, kamu tidur lagi ya. Atau mau tidur sama Bunda?"
Airin menggelengkan kepalanya lalu dia kembali merebahkan dirinya.
"Ya sudah, Ayah temani sampai kamu tidur lagi. Jangan merasa takut lagi, kalau ada apa-apa cerita sama Ayah atau Bunda."
Airin menganggukkan kepalanya lalu dia kembali memejamkan matanya. Merasakan usapan lembut dari Ayahnya di rambutnya membuatnya merasa nyaman, dia pun mulai tertidur.
Masih banyak masalah dan tantangan yang akan Airin hadapi keesokan harinya. Mampukah Airin bertahan dengan kelebihan itu?
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Eika
semoga Airin kuat melaluinya setiap waktu
2023-04-29
0
Yeni Nurmaela
ooo sequel anakny alvin rili y🤭
2023-03-03
1
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
Semangat Airin
2023-03-03
2