Matanya membulat, dia kembali tercekat saat melihat Della berdiri di antara mereka. "Della!!"
Airin berjalan mendekat. Dia memberanikan diri menatap wajah pucat Della yang berlumur darah itu. "Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?"
Revan menatap bingung Airin. Apa dia sedang bicara dengannya? Tapi tatapannya menuju ke samping kanannya yang tidak ada siapa-siapa.
"Lo gila ya! Bicara sendiri!" kata Angga, salah satu teman Revan.
"Iya, cewek gak waras!" imbuh Guntur. Dia juga teman Revan.
Seketika Azka menarik mundur Airin. "Airin, jangan berurusan dengan mereka."
Mereka bertiga memang rival Azka karena Azka berhasil mendapatkan gelar kapten basket yang diincar oleh Guntur.
"Emang kalian berdua cocok, yang satu jomblo akut yang satu cewek gak waras."
"Kalian diam! Jangan semakin memperkeruh suasana." Revan membentak kedua sahabatnya. Dia kini menatap Airin yang masih menatap kosong sebelah kanannya.
Meskipun bulu kuduk Airin kini mulai berdiri, karena aura yang ditunjukkan Della sangat gelap, penuh amarah dan kesedihan.
Mereka semua pembunuh!!
Jantung Airin hampir saja berhenti saat mendengar ucapan dari makhluk yang hanya bisa dia lihat itu. "Siapa?"
"Memang cewek aneh." Revan membalikkan badannya dan juga teman-temannya.
Tiba-tiba Della menghilang saat Revan melewati tubuhnya.
Pasti ada sesuatu yang telah terjadi di atap gedung sekolah.
Airin kini melangkah cepat menuju tangga sekolah.
"Airin, kamu mau kemana?" Azka dan Melodi mengikuti langkah cepat Airin.
Airin terus menaiki anak tangga dan sampailah di lantai teratas gedung utama sekolahnya. Airin mengelilingi tempat itu dan berusaha mencari sebuah petunjuk.
"Ai, kamu cari apa? Udah mendung, ayo kita pulang." ajak Melodi karena awan hitam mulai bergerombol dan semakin menambah suasana kian mencekam.
Airin menggelengkan kepalanya. Dia menyisir tempat itu, banyak sampah berserakan. Pasti banyak murid yang diam-diam ke atap gedung itu.
Airin merasa lelah. Dia kini bersandar di pintu sebuah gudang yang kosong.
Airin...
Suara samar itu kembali terdengar, dia melihat gembok gudang yang telah usang itu. Dia pegang gembok itu. "Darah!"
Seketika Melodi dan Azka melihat sesuatu yang ditunjukkan Airin.
Azka berusaha membuka gembok itu. "Gak bisa dibuka."
Airin duduk dengan lemas sambil bersandar tembok. "Mel, kamu sahabat aku dari kecil, kamu percaya kan kalau aku bisa melihat makhluk halus."
"Mata batin kamu terbuka lagi?" Melodi ikut duduk di samping Airin.
"Aku gak tahu. Tapi sejak semalam aku mimpiin Della dan semua kejadian yang diluar akal sehat itu terjadi lagi. Aku melihat Della ada di antara Revan, dan dia bilang mereka adalah pembunuh."
Azka melebarkan matanya. "Mereka? Berarti yang melakukan ini tidak hanya satu orang. Apa jangan-jangan Revan? Dia punya niat jahat pada Della."
"Azka, jangan tuduh yang bukan-bukan dulu. Kita gak punya bukti. Dari cerita Della, Revan itu sangat baik." bela Melodi. "Kita cari bukti-bukti dulu. Kita harus bersikap biasa saja. Jangan sampai pelaku itu tahu kalau kita sedang mengungkap kasus ini. Ini semua demi Della. Della sahabat kita, kita gak mungkin biarkan arwah Della penasaran. Meskipun aku gak bisa lihat arwah Della tapi aku percaya sama kamu, Airin."
"Iya, kamu benar. Kita harus diam-diam mencari bukti itu. Jangan sampai mereka juga mencelakai kita." kata Airin.
"Ya udah, lebih baik kita pulang. Hujan juga akan turun. Ayo Airin, aku antar." ajak Azka.
Melodi hanya terdiam melihat perhatian Azka pada Airin.
"Ya udah, karena aku bawa motor sendiri, biar aku pulang sendiri. Kamu pulang bareng sama Azka saja lebih aman." Melodi berdiri dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan mereka berdua.
"Mel," Airin menghela napas panjang tapi dia tidak mengikuti Melodi. Dia kini menatap Azka yang ada di sampingnya. "Azka, tolong mulai sekarang jaga jarak sama aku."
"Kenapa?"
"Azka, berapa kali aku bilang, Melodi suka sama kamu."
"Lalu, apa aku salah kalau aku suka sama kamu."
Airin menghela napas panjang. "Gak salah. Hanya posisinya saja yang salah." Airin melanjutkan langkah kakinya. Lalu dia menuruni anak tangga.
Azka masih saja mengikuti langkah Airin. "Oke, aku ngerti, tapi kita bisa menjadi sahabat kan? Meskipun kamu gak membalas perasaan aku, biarkan aku simpan sendiri perasaan ini."
Airin menghentikan langkahnya sesaat. "Iya, kita memang masih bisa menjadi sahabat dan jangan lagi membahas tentang perasaan." lalu dia melanjutkan langkah kakinya.
"Ya udah, mulai sekarang aku gak akan bahas perasaan ini lagi. Ayo aku antar pulang."
Airin menggelengkan kepalanya. "Biar aku minta jemput sama Ayah saja."
"Ya udah hati-hati, aku duluan ya." Azka akhirnya melangkahkan kakinya menuju tempat parkir. Dia tidak bisa memaksa sebuah perasaan. Biarkan saja rasa cinta itu tersimpan rapi di hatinya, entah sampai kapan.
Airin menghentikan langkahnya di depan kelas. Dia mencoba menghubungi nomor Ayahnya tapi tidak aktif. "Tumben nomor Ayah tidak aktif." Airin menghela napas panjang.
Kemudian dia membaca grup kelas, bahwa jasad Della akan dimakamkan nanti sore di kota kelahiran kedua orang tuanya.
"Itu berarti, Della dimakamkan di luar kota. Aku gak bisa mengantar kamu di saat terakhir. Aku juga gak bisa menolong kamu saat kamu minta tolong. Semoga arwah segera tenang di alam sana." guman Airin.
Pandangan mata Airin kini tertuju pada seseorang yang masih berdiri di pinggir lapangan sambil menatap tempat kejadian yang dikelilingi police line itu.
Beberapa saat kemudian hujan turun dengan derasnya. Air hujan itu menyapu darah dan jejak jatuhnya Della.
Meskipun hujan, Revan tetap berdiri di tempat itu.
"Revan," Airin mengambil payung lipatnya lalu membukanya. Dia berjalan mendekati Revan dan memayunginya. "Kamu ngapain berdiri di sini?"
Revan hanya sedikit menoleh Airin lalu dia berlalu begitu saja.
"Revan, aku mau tanya sesuatu sama kamu!" Dia ingin memastikan kejadian sebenarnya saat terakhir Revan mengantar Della. Apa benar Revan mengantar ke rumahnya atau ke sekolah?
Revan menghentikan langkah kakinya. Dia kini menatap Airin.
Airin hanya terdiam. Wajah tampan yang basah terkena air hujan itu tak menutupi kesedihannya.
Tiba-tiba angin bertiup dengan kencang dan menerbangkan payung Airin.
"Yah, payung aku." Airin menutup kepalanya dengan tangan. Dia berlari menepi tapi tiba-tiba dia terjatuh dengan keras. Terasa ada sebuah tangan dengan kuku-kuku panjang mencengkeram kakinya.
"Airin!" Revan membantu Airin berdiri lalu menuntunnya untuk berteduh di depan kelas.
Airin kini duduk di depan kelas sambil melihat kakinya. Dia turunkan kaos kakinya, terlihat luka membiru dan dua bentuk kuku panjang di dekat pergelangan kakinya.
"Kaki kamu kenapa? Sakit?" tanya Revan.
"Ya, lumayan sih. Tapi gak papa."
Revan berdiri dan meninggalkan Airin sendiri tanpa berkata apapun.
Emang bener ya, Revan si kulkas. Gimana aku mau pulang ini? Azka udah pulang belum ya? Nyesel banget aku tadi nolak tawaran Azka.
Airin menghela napas panjang. Dia membuka kembali tasnya untuk mengambil ponselnya. Untunglah tasnya anti air.
Airin...
Suara itu kembali terdengar. Napas Airin semakin terasa sesak. Dia terpaku dan tercekat.
Della semakin terlihat menakutkan.
Apa kamu memang tidak mau menolongku!!
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Setmi Efrianti
siapa yg bunuh Della....??
2024-01-16
0
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
hiiiy 👻👻👻
2023-03-02
2
Nurul Irwansyah
tambah penasaran ni
2023-03-02
2