Seketika Melodi memelankan suaranya. "Jangan pernah turuti omongan setan. Ingat itu!"
"Iya, aku tahu. Tapi bagaimana kalau Della terus minta tolong sama aku. Karena energi yang dimiliki makhluk itu adalah energi negatif, dia dendam pada siapa saja yang mengusik dirinya."
Mereka sama-sama terdiam dan berpikir hingga bel masuk berbunyi. Mereka berdiri sambil melihat Azka yang berlari di koridor kelas.
"Tumben telat?" tanya Airin pada Azka yang sedang mengatur napasnya.
"Aku tadi dari ruang latihan basket persiapan buat latihan nanti." Azka berjalan di belakang Melodi dan Airin. Mereka kini masuk ke dalam kelas.
Tatapan Airin kini tertuju pada kursi kosong yang berada di dekatnya. Tiba-tiba saja arwah Della muncul dan menatapnya tajam.
"Aaa," Airin bersembunyi di belakang punggung Melodi.
"Ai, kenapa?"
"Mel, kamu duduk di sini ya." Airin menarik Melodi agar menempati tempat duduknya. Dia kini duduk di dekat tembok, di depan Revan dan di samping Azka.
"Kamu kenapa?" tanya Azka.
Airin hanya menggelengkan kepalanya sambil mengeluarkan buku pelajaran Bahasa Indonesia.
Beberapa saat kemudian guru mata pelajaran Bahasa Indonesia masuk ke dalam kelas, setelah mengucap salam dan berdoa, pelajaran pun dimulai.
Seorang guru itu menerangkan materi di depan kelas. Airin mencatat poin-poin penting. Dia menunduk menatap bukunya.
Dia merasa ada bayangan hitam yang melintas di sampingnya. Seketika dia menoleh dan tidak ada apa-apa. Dia kembali fokus dengan bukunya. Tiba-tiba ada yang menggoyang kursinya, dia menoleh dan menatap Revan.
Revan hanya menatap bingung pada Airin.
Kemudian Airin kembali meluruskan pandangannya. Kali ini dia menyimak Bu Ratih yang sedang menerangkan di depan kelas. Ada bayangan hitam lagi yang melintas di sebelahnya. Kursinya kembali bergoyang. Dia menggigit bibir bawahnya karena ada sebuah tangan yang menepuk bahunya. Dia melirik tangan yang ada di bahunya. Tangan itu terlihat hitam dengan kuku-kuku yang panjang.
Airin berusaha agar tidak teriak, akhirnya dia berdiri dan memintai izin untuk ke toilet. Dia setengah berlari keluar dari kelas.
Beberapa saat kemudian Revan juga berdiri dan meminta izin ke toilet lalu dia keluar dari kelas.
Melihat hal aneh itu, Azka menautkan alisnya. Ingin dia menyusul mereka berdua tapi dia tidak ingin membuat teman lainnya curiga.
Kini Airin berlari menuju toilet. Tepat saat Airin akan masuk ke dalam toilet, Revan tiba-tiba menariknya ke ruang OSIS.
"Revan, apaan! Lepasin!"
Revan melepaskan tangan Airin setelah menutup pintu ruang OSIS itu.
"Kamu sebenarnya kenapa? Dari kemarin selalu menatap aku aneh. Apa benar kamu bisa melihat arwah Della?" tanya Revan.
Airin hanya menatap Revan. Sebenarnya dia curiga pada Revan. Apa yang menyebabkan kematian Della adalah Revan?
"Memang kenapa kalau aku bisa melihat arwah Della?" Airin kian menatap Revan.
Revan hanya terdiam. "Kalau kamu memang bisa melihatnya, tolong sampaikan pada dia. Maaf, aku gak bisa menjaga dia. Aku gak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Andai saja waktu itu aku masih menunggu dia di depan rumah dan memastikan dia selamat, mungkin semua ini gak akan terjadi. Perkataan kamu kemarin memang benar, ini semua salah aku."
Airin hanya terpaku menatap kesedihan Revan. Tiba-tiba ada yang mendorong tubuh Airin dengan kuat hingga dia jatuh di pelukan Revan. Punggungnya terasa sangat sakit.
"Airin, kamu gak papa?"
"Aww, punggung aku. Sakit." Airin berusaha meraba punggungnya karena sepertinya ada sesuatu yang menancap.
Revan membalik tubuh Airin. Dia melihat punggung Airin. "Tidak ada apa-apa."
"Kenapa sakit sekali." Airin membungkukkan badannya karena punggungnya terasa sangat berat.
"Airin!" Revan menahan tubuh Airin tepat saat pintu ruang OSIS itu terbuka.
"Apa yang kalian lakukan!" Pak Widodo selaku guru BK tiba-tiba saja masuk ke dalam ruang OSIS. "Revan kamu pegang apa?"
Airin juga baru tersadar jika tangan Revan berada di lengannya dan sangat dekat dengan dadanya.
Seketika Revan menjauhkan dirinya.
"Revan, kali ini bapak benar-benar tidak menyangka dengan perbuatan kamu ini. Kamu ketua OSIS, harus memberikan contoh yang baik pada yang lainnya. Bukan malah memanfaatkan ruang OSIS sebagai fasilitas berpacaran saat jam pelajaran seperti ini."
"Pak, ini bukan salah Revan. Tadi punggung saya sakit dan Revan berusaha menahan tubuh saya."
"Kalau kamu sakit, kenapa ke ruangan ini, dan bukan ke UKS."
"Kalau soal ini, Revan yang salah!" Setelah melakukan pembelaan pada Revan, Airin sekarang justru menyalahkan Revan.
"Iya, kalau soal ini memang saya yang salah telah mengajak Airin ke ruangan ini. Tapi saya tidak ada niat buruk sama sekali pada Airin."
Pak Widodo hanya melipat tangannya. "Ikut saya ke ruang BK, kita selesaikan masalah ini di ruang BK." Kemudian Pak Widodo membalikkan badannya dan berjalan menuju ruang BK.
Mau tidak mau Airin dan Revan mengikuti langkah Pak Widodo.
"Ini semua gara-gara kamu, awas aja kalau aku sampai kena masalah!" Airin menatap tajam Revan yang kini berjalan di sampingnya.
"Iya, ini salah aku. Semua salah aku!" Hanya itu yang dikatakan Revan. Kemudian tidak ada lagi percakapan dari mereka sampai mereka masuk di ruang BK dan duduk berjajar.
"Sebenarnya saya juga sedang menyelidiki penyebab Della bunuh diri." Pak Widodo kini duduk di hadapan mereka berdua. "Saya juga sudah tahu kalau kamu, Revan adalah pacar Della. Apa yang menyebabkan Della bunuh diri karena kedekatan kalian? Kalian selingkuh di belakang Della?"
Seketika Airin melebarkan matanya. "Tidak Pak! Saya tidak ada hubungan apapun dengan Revan. Della sahabat saya, mana mungkin saya mengkhianatinya."
"Pak Widodo tolong jangan menarik kesimpulan sendiri. Saya tidak ada masalah apapun dengan Della. Saya sendiri juga merasa janggal dengan tragedi yang menimpa Della. Hubungan Della dengan saya waktu itu baik-baik saja, dan saya juga tahu persis, Della tidak mempunyai masalah apapun dengan keluarga dan sahabatnya." jelas Revan.
"Lalu mengapa Della bisa bunuh diri?"
Mereka sama-sama terdiam. Airin tidak bisa bilang jika dia mencurigai ada yang membunuh Della. Dia masih belum punya bukti apa-apa.
"Sudah banyak kasus seperti ini, hanya karena putus cinta atau diselingkuhi, beberapa remaja nekad bunuh diri. Padahal jalan hidup mereka masih panjang. Saya akan melakukan bimbingan konseling tentang masalah ini pada murid-murid di sekolah ini, dan kamu Revan, status ketua OSIS kamu akan kita bicarakan dengan dewan guru lainnya karena kamu sudah memberi contoh yang buruk."
Revan hanya mengepalkan tangannya. Sebenarnya siapa dalang dibalik semua ini?
💕💕💕
.
Jangan lupa like dan komen ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Eika
kasian banget Airin
2023-04-29
0
Ela Jutek
seru nie
2023-03-05
1
Yeni Nurmaela
mungkin teman2ny revan yg bunuh,makany dela suruh deketin revan,otomatis nanti deket juga ma tmn2ny
2023-03-03
3