Setelah Airin turun dari mobil Ayahnya, dia masuk ke dalam gerbang sekolah. Dia melihat ada mobil ambulance dan juga mobil polisi. Beberapa wartawan juga ada di sekolahnya.
"Apa yang terjadi?" Airin berjalan masuk ke dalam lapangan, banyak orang yang bergerombol di sana termasuk teman-temannya. Polisi sudah memasang police line di dekat lapangan. Di dalam police line itu ada mayat yang tertutup kain orange.
Pelipis Airin kembali berkeringat. Dia berusaha menerobos mereka yang bergerombol di dekat police line.
Matanya membulat saat melihat pergelangan tangan dari mayat itu, "Itu gelang Della. Della!" Seketika Airin menerobos police line meski ditahan oleh polisi. Tapi polisi itu kalah saat ada teman-teman Airin yang ikut menerobos.
Airin membuka penutup itu, hatinya hancur saat melihat kepala Della yang berlumur darah. "Dellaa!!!" Airin memegang tangan Della yang sangat dingin dan kaku.
"Dellaa!!!" satu tangan justru meraih tubuh Della. Dia memeluknya dan menangis. "Della apa yang terjadi sama kamu!" Dia adalah Revan, pacar Della yang baru tiga bulan jadian. Revan adalah seorang ketua OSIS, banyak gadis yang mengejarnya tentu saja banyak yang iri pada Della.
"Jangan disentuh sedikitpun! Kami akan melakukan otopsi pada korban! Apakah ini memang murni bunuh diri atau ada hal yang lainnya." Polisi menarik paksa mereka semua mundur dari tempat kejadian.
"Airin, aku gak nyangka Della pergi secepat ini." Melodi memeluk tubuh Airin yang bergetar karena tangisnya.
"Semalam Della sempat wa aku dan di pesan itu dia minta tolong." Tatapan matanya kini beralih pada Revan yang sedang menyusut air matanya. "Revan!!" Airin melepas tangan Melodi. Dia menatap Revan dengan tajam. "Semalam kamu yang antar Della setelah dari acara ulang tahun aku. Kenapa Della bisa ada di sekolah?"
"Aku juga gak tahu. Semalam aku antar Della sampai depan rumah."
"Apa kamu pastiin, dia masuk ke dalam rumahnya?"
Revan terdiam.
"Della, kamu masuk dulu."
"Iya, sebentar lagi. Kamu pergi dulu baru aku masuk."
"Della, ini sudah malam."
"Iya, makanya kamu cepat pulang."
Waktu itu Della tidak masuk ke dalam rumahnya. Dia masih berdiri di dekat pintu gerbang hingga akhirnya Revan meninggalkannya.
Revan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu gak pastiin dia masuk ke dalam rumah!" Airin mendorong dada bidang Revan. "Kamu sebagai pacar harusnya bisa menjaga dia!" Airin semakin menangis.
Suasana semakin memanas saat kedua orang tua Della datang ke sekolah. Mereka juga ditahan oleh polisi saat akan melihat jasad putrinya.
"Airin, mengapa Della bisa ada di sekolah.? Bukankah semalam, dia minta izin mau menginap di rumah kamu."
Airin menggelengkan kepalanya. "Tidak tante. Della tidak ada rencana sama sekali menginap di rumah saya."
"Tante, semalam saya juga sudah mengantar Della pulang sampai depan rumah." kata Revan. Dia tidak ingin suasana semakin memanas.
Mama Della semakin menangis saat melihat jasad putrinya yang masih tertutup kain orange.
"Kami menemukan surat di dekat korban." Polisi itu membuka surat yang telah berlumuran darah itu.
Kedua orang tua Della mendekat dan ikut membaca isi surat itu. Di sana tertulis, jika Della sudah tidak sanggup lagi melanjutkan hidupnya dan memilih mengakhiri hidupnya. "Della, anak yang kuat, dia gak mungkin bunuh diri..."
Airin berdiri mematung sambil menatap pemandangan kelu itu. Tanpa sadar sedari tadi dia menggenggam gelang milik Della yang terlepas saat dia ditarik paksa menjauh. Dia tatap gelang itu.
Pergi!
Aku gak mau!
Jangan!
Teriakan-teriakan Della terdengar memilukan di telinga Airin. Tiba-tiba tubuhnya terasa lemas dan dia jatuh pingsan. Untunglah Azka berhasil menangkap tubuh Airin.
"Airin, kamu kenapa?" Azka menggoyangkan tubuh Airin tapi Airin tetap tidak membuka matanya.
"Azka, kita bawa ke UKS sekarang!"
Azka segera menggendong tubuh Airin dan membawanya ke UKS. Setelah sampai di UKS, dia membaringkannya di atas brangkar. "Mel, ambil minyak kayu putih."
"Iya."
Azka sangat khawatir dengan keadaan Airin yang tiba-tiba jatuh pingsan. Azka adalah salah satu sahabat Airin, dia seorang kapten basket dan tentu saja sangat keren. Tapi wajah tampannya tak membuatnya memiliki seorang pacar, bahkan untuk mendapatkan Airin saja sangat sulit.
"Ai, ayo bangun." Azka mengusap telapak tangan Airin dengan kedua tangannya, sedangkan melodi kini mendekatkan minyak kayu putih di hidung Airin.
Airin, tolong aku...
Airin, tolong aku...
Suara itu terus berbisik di telinga Airin. Seketika dia terbangun dan berteriak.
"Airin kamu kenapa?" tanya Azka.
Airin mengedarkan pandangannya, ada Azka dan juga Melodi di sampingnya. Dia usap pelipisnya yang berkeringat sambil menghela napas panjang. "Aku mimpi buruk."
Azka mengambil air mineral yang tersedia di UKS lalu memberikannya pada Airin. "Kamu minum dulu agar lebih tenang."
Airin segera meminum segelas air mineral itu sampai habis.
"Kamu sebenarnya kenapa?" tanya Melodi.
Airin memutar tubuhnya dan kini duduk di tepi brangkar. "Semalam aku mimpiin Della. Dia bunuh diri dari atap sekolah dan ternyata hal itu benar terjadi. Della sempat mengirim pesan, dia minta tolong dan share lokasi berada di atap sekolah tepat jam 12 malam. Aku baru baca pesan dia tadi subuh."
"Della ngapain malam-malam ke sekolah? Bukankah dia diantar sama Revan ke rumahnya?" tanya Azka.
"Revan pergi sebelum Della masuk ke dalam rumahnya. Aku yakin, ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi pada Della. Kalian ingat kan, sejak Della jadian dengan Revan, banyak yang tidak suka dengan dia. Dia juga sering diteror dengan surat kaleng suruh putusin Revan." kata Airin. Della memang sering cerita padanya tentang teror surat kaleng itu.
Melodi menganggukkan kepalanya. "Jangan-jangan, ini ulah dari fans fanatik Revan."
Azka hanya menautkan alisnya. "Fans fanatik Revan? Kalian coba pikir deh, mereka cewek masak iya berani neror Della sampai dia bunuh diri kayak gini."
"Terus?"
Azka menggelengkan kepalanya. "Aku tahu, kamu sangat kehilangan Della, begitu juga dengan kita. Kita selidiki masalah ini sama-sama." Azka menyingkirkan anak rambut yang menutupi pipi Airin.
Airin mengalihkan pandangannya dari Azka lalu dia menggandeng tangan Melodi dan mengajaknya keluar dari UKS.
Karena tragedi itu, seluruh murid dipersilakan untuk pulang lebih awal.
Airin kini menghentikan langkahnya. Dia menatap Revan yang sedang berdiri di dekat ambulance.
Jasad Della sudah dimasukkan ke dalam ambulance dan beberapa saat kemudian ambulance itu melaju meninggalkan kawasan sekolah.
Airin dan Melodi berjalan mendekat. Begitu juga dengan Azka yang mengikutinya di belakang.
Airin menatap nanar line police dan tanda putih yang membentuk tubuh Della.
Airin...
Seketika Airin menoleh dan menatap Revan yang sedang berdiri bersama teman-temannya.
Matanya membulat, dia kembali tercekat saat melihat Della berdiri di antara mereka. "Della!!"
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Azizah az
kangen Ama om hantu, ku cari2 cerita awalnya ternyata disini
2024-03-05
0
Setmi Efrianti
Good
2024-01-15
0
Al Fatih
semangat Kaka ...,, utk genre horor nya,, aq merinding,, berasa jadi Airin
2023-11-03
0