"Airin, memang kamu beneran tadi dipanggil ke ruang BK?" tanya Melodi. Mereka kini duduk di kantin sambil meminum es.
Airin menganggukkan kepalanya. "Iya, ini semua gara-gara Revan. Coba aja dia gak narik tangan aku ke ruang OSIS, Pak Widodo pasti gak akan salah paham sama aku." Airin menyedot minumannya sampai habis karena tenggorokannya terasa sangat kering.
Beberapa saat kemudian ada yang menggedor meja yang ditempati Airin dengan keras.
Brakkk!
"Gue baru dengar kalau di sini ternyata ada pelakor." bentak Ria di dekat Airin.
"Cih, dasar pagar makan tanaman. Pantesan Della sampai bunuh diri, gak tahunya dikhianati sama sahabat sendiri." imbuh Tia tidak kalah panasnya.
Mendengar hal itu, teman-teman yang lain ikut berkumpul.
"Itu beneran? Wah, gak nyangka muka polos tapi sadis."
"Nggak! Aku gak ada hubungan apapun sama Revan!" Airin kini berdiri. Dia harus bisa membela dirinya sendiri.
"Iya, kalau gak tahu apa-apa kalian jangan asal tuduh." imbuh Melodi, tentu saja dia membela sahabatnya karena Airin tidak seperti apa yang mereka katakan.
"Kalian pikir, kita gak tahu kalian dipanggil Pak Widodo ke ruang BK. Lo ke gap pacaran sama Revan di ruang OSIS." tunjuk Ria di depan wajah Airin. "Gue tadi juga dengar kalau Revan, touch your breast. Dasar cewek murahan!"
Plak!
Airin menampar dengan keras pipi Ria. "Kamu jangan pernah bicara seenaknya. Oh, bukannya saat Della pacaran dengan Revan, kamu juga sering bully dia. Kenapa? Kamu iri gak bisa dapatin Revan!"
"Lo berani ya!" Ria mengangkat tangannya tapi tangan itu ditahan oleh Revan.
"Jaga sikap kamu! Ini bukan salah Airin." Revan menepis tangan Ria.
"Tuh kan guys, sangat kelihatan kan. Apa penyebab Della bunuh diri yaitu perselingkuhan mereka berdua." Ria justru memutar fakta dan semakin memperkeruh suasana.
Ria akhirnya berhasil membuat suasana memanas.
"Dasar pelakor! Pengkhianat!"
Cacian terus terlontar pada Airin dan Revan tapi yang paling parah adalah Airin. Ya, pihak perempuan selalu salah jika terkait dengan orang ketiga.
Ada yang melempar Airin dengan air es, air mineral, bahkan sisa kuah bakso yang pedas.
Melodi dan Revan sudah berusaha melerai, tapi mereka diluar kendali. Mereka justru menarik Airin dan menyiram kepalanya lagi.
"Aw, pedas." Airin menutup matanya saat terkena siraman kuah bakso di kepalanya.
"Airin!!" Azka menerobos kerumunan itu. "Hentikan!" Dia melepas seragamnya dan menutupi kepala Airin yang masih dilempari mereka. "Kalian sadar gak! Justru kalian sendiri penyebab teman kalian bunuh diri. Dulu Della kalian teror dan bully, sekarang Airin. Harusnya kalian salahkan Revan, bukan Airin!!" Azka menatap tajam Revan sesaat. Lalu dia membawa Airin pergi dari tempat itu.
"Kalian bersihkan kantin ini sebelum bel masuk!" perintah Revan. Dia sendiri masih merutuki dirinya sendiri. Semua ini terjadi memang karena kesalahannya.
Airin kini membersihkan dirinya di kamar mandi. Wajahnya terasa panas dan pedas.
"Ya ampun Airin, mereka tega sekali sama kamu. Ini semua ulah si kompor Ria." Melodi membantu Airin membersihkan diri di toilet. Dia usap seragam putih Airin yang terkena caos dan sambal dari kuah bakso.
Sudah dibasuh berkali-kali tapi rasanya mata Airin masih sangat pedas. Matanya kini memerah karena perih dan juga air mata.
"Bel udah bunyi. Kamu sekarang masuk kelas ya, aku bisa sendiri." suruh Airin pada Melodi.
"Tapi Airin..."
"Udah, kamu sekarang masuk saja." kata Airin sambil membalikkan tubuh Melodi dan mendorongnya agar keluar dari toilet. Kemudian dia kini masuk ke dalam bilik toilet dan menutup pintunya.
Melodi keluar dari toilet. Diluar ada Azka yang hanya memakai kaos lengan pendeknya sedang menunggu Airin.
Melodi menyerahkan seragam Azka. "Seragam kamu kotor."
"Airin gak papa kan?" tanya Azka.
"Airin, dia masuk dalam bilik. Mungkin dia butuh waktu sendiri. Aku ke kelas dulu. Tolong jagain Airin." Melodi kembali melangkahkan kakinya menuju kelas.
Azka menyampirkan seragamnya yang kotor di pundak. Dia beranikan diri masuk ke dalam toilet. Terdengar suara tangisan Airin di dalam.
"Airin kamu gak papa kan?" Azka mengetuk pintu bilik yang tertutup itu.
"Azka, kamu pergi, sebelum guru atau yang lainnya juga salah paham sama kamu."
"Airin."
Akhirnya Airin membuka pintu itu. Dia melangkahkan kakinya cepat keluar dari toilet dan menuju tangga.
"Airin." Azka terus mengikuti langkah Airin menuju atap sekolah.
Airin kini berdiri di tepi gedung. Dia menundukkan pandangannya ke bawah, menatap lantai dasar.
"Airin, kamu ngapain? Turun!" Azka berjalan mendekat tapi Airin semakin melangkahkan kakinya.
"Apa seperti ini perasaan Della waktu itu. Hancur dan sakit hati." Airin kini meluruskan pandangannya.
"Airin jangan kayak gini!" Dengan cepat Azka menarik tangan Airin hingga dia terjatuh, dia takut Airin berbuat nekad juga. "Airin, kamu masih punya aku."
Airin kembali menangis dan mendekap kakinya sendiri. "Aku udah gak sanggup. Aku berusaha kuat melihat semua penampakan itu. Hati aku sangat rapuh. Aku gak bisa dibully seperti ini. Aku sudah capek, aku sudah lelah."
"Ai, masih ada aku. Masih ada Melodi juga. Ayo kita lawan mereka sama-sama. Lawan juga rasa takut kamu. Kalau kamu memang ingin membantu Della agar arwahnya tenang, aku akan bantu kamu mengungkap kasus ini."
Airin menatap nanar Azka. Benarkah dia bisa melalui ini semua?
Kedua mata yang saling bertatapan itu kini menatap sepasang kaki yang berdiri di depannya.
"Airin..."
Seketika Azka mengepalkan tangannya. Dia berdiri menyergap krah seragam Revan. Satu pukulan keras melayang di pipinya. "Ini semua gara-gara lo! Lo jangan menambah masalah hidup Airin! Jauhi Airin!" teriak Azka di depan wajah Revan.
"Iya, gue tahu ini salah gue!" Revan membalas sergapan Azka dan memukul pipinya. "Tapi lo jangan menghakimi gue. Bukan hanya Airin yang jadi korban tapi gue juga hancur."
"Udah jangan berantem!" Airin berdiri dan berusaha melerai mereka tapi Airin justru terdorong dan jatuh.
Tanpa sengaja tangan Airin memegang sebuah robekan kain, tiba-tiba bayangan buruk melintas di benaknya.
Jangan!
Dua pasang tangan menyergap Della. Dia membuka paksa celana Della dan...
Jangan lakukan ini!!
Seketika Airin menangis histeris. "Gak mungkin!!!"
Revan melepas sergapannya. Sedangkan Azka, dia berjongkok dan meraih tubuh Airin yang bergetar hebat.
"Airin kamu kenapa?"
Bayangan-bayangan menakutkan itu terus berputar di kepalanya. Della telah dilecehkan. Bukan hanya satu orang tapi tiga orang. Mereka semua siapa? Wajahnya tertutup.
"Airin..." Azka berusaha menyadarkan Airin yang masih histeris
Tiba-tiba tubuh Airin kian melemas. Dia jatuh pingsan dipelukan Azka. "Airin!"
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Al Fatih
tiga orang....,, kayaknya teman2 nya Revan tuh
2023-11-03
1
Eika
Airin membawa beban yg berat, kalau gak kuat kena mental nanti
2023-04-29
0
Yeni Nurmaela
airin dilicehkan trs dijatuhkan dr atas mungkin
2023-03-04
3