"Mas, sudah mas. Mereka, berdua sudah pergi". Yasmin, menghapus air mata suaminya.
"Maafkan mas,selama ini sudah banyak menyakiti mu". Faris,mulai tersenyum dan memeluk erat tubuh istrinya.
"Gak papa,mas. Aku, senang karena mas berubah. Mereka,hanya memanfaatkan kebaikan mu saja. Tidak pantas, mereka menolong mu. Seharusnya,ibumu bisa membayar cicilan rumah itu. Apa lagi,ada penghasilan tambahan dari toko ibu". Yasmin, kebingungan karena ibu mertuanya selalu kekurangan uang.
"Sudahlah,jangan membahas ini lagi. Mas, harus pergi ke tempat teman. Gak enak, tidak datang. Seharusnya,hari ini juga mas kerja". Kata Faris, beranjak berdiri.
"Yakin,mas? Coba besok saja, kerjanya. Hari ini istirahat dulu". Kata Yasmin, mencegah istrinya pergi.
"Gak bisa,sayang. Mas, sudah janji ke sana. Mau ikut gak? Ayo,kita ke sana". Ajak Faris, langsung di angguki Yasmin.
"Yuk,mas. Kita sudah lama, tidak pergi kemana-mana berduaan". Yasmin, langsung menyetujui ajakan suaminya.Dia, bersiap-siap dan menunggu suaminya cuci muka.
Setelah sudah siap, barulah mereka berdua berangkat.
Yasmin, memeluk erat tubuh suaminya dari belakang. "Bang,jadi keinget masa pacaran dulu. Kita,sering kemana-mana menggunakan motor ini".
"Hemmm...Awal ketemu, sampai nikah. Mas,belum punya motor. Maafkan mas,jadi minder aku sama kamu dek". Kata Faris, tersenyum.
"Gak papa,mas. Motor ini,bisa kamu gunakan untuk bekerja. Lagipula, tempat kediaman kita dekat dengan sekolah aku mengajar". Yasmin, tidak mempersalahkan tentang suaminya. Berubah menjadi seperti ini,jauh lebih baik bagi Yasmin.
"Hmmm.. Aku, seringkali membuatmu sakit hati Yasmin. Huuuff... Ingin sekali,aku memutar waktu. Agar aku, tidak melakukan kesalahan apapun". Ucap Faris, menyesali perbuatannya.
"Alhamdulillah , suamiku berubah menjadi lebih baik. Mas, lumayan jauh yah tempat kerjamu nanti". Yasmin, sedari tadi sudah tak sabar.
"Belok kanan,lalu sampai dek". Jawab Faris, menggenggam jemari tangan istrinya.
Motor berhenti, tepatnya di cucian mobil temannya.
"Haiii...Faris!". Seorang pria, datang menghampiri mereka berdua.
"Hai, Rehan! Apa kabar,lama tidak bertemu". Tanya Faris, mereka saling berjabat tangan.
"Baik,bro. Kamu,gimana". Rehan,balik tanya.
"Alhamdulillah,baik. Eee.. kenalkan, istriku Yasmin". Faris, memperkenalkan istrinya.
Rehan, tersenyum dan mengangguk. Begitu juga Yasmin,dia membalas senyuman teman suaminya itu.
"Ayo,duduk dulu". Rehan, mengajak mereka berdua duduk.
Yasmin, menyaksikan langsung saat mereka berdua membicarakan tentang pekerjaan. Dia, merasa senang karena sang suami tidak masalah mendapatkan pekerjaan seperti ini.
************
Hamid dan Indah,tiba di rumah. Ibu dah lainnya,tak sabar mendengar cerita mereka.
"Bu,Faris tidak mau menuruti perintah kita". Hamid, langsung membuka suaranya.
"Kami, sudah memaksanya mati-matian. Tapi, Faris tidak mau. Malah,dia berpihak kepada Yasmin". Sambung indah,dia sengaja menjelekkan adik iparnya itu.
"Kurang ajar sekali, dia. sudah mempengaruhi anakku,awas kamu". Bu Yahya, geram kepada menantunya itu. "Malam ini,bawa ibu ke tempat mereka. Biar ibu, memberikan pelajaran kepada Yasmin". Pinta Bu Yahya,kepada anaknya.
"Baiklah,bu. Kita ke sana,malam ini". Jawab Hamid, menundukkan kepalanya.
"Kalian harus tegas dong,masa kalah dengan Faris dan Yasmin". Sahut sinta,yang menyunggingkan senyumnya.
"Diam kamu, Sinta! Keluarga mu,yang kaya raya itu mana? Mana, mereka membantu mu ha. Jangan ngomong aneh-aneh, jika kamu sama dengan Faris. Ck,aku tidak sudi memiliki besan seperti orangtuamu itu". Bentak bu Yahya, langsung.
"Bu,jangan membicarakan orangtuaku. Selama ini, orangtuaku membantu kepada anak ibu. Karena ibu, selalu memoroti anaknya sendiri. Benar-benar serakah,". Sinta, langsung membentak keras kepada ibu mertuanya.
plakkkk....
"Jaga ucapanmu itu, Sinta! Jangan pernah sekali-kali membentak keras kepada ibuku". Hamid, langsung menampar wajah istrinya.
Indah, tersenyum merekah. Melihat kakak iparnya, meringis dan memegang pipinya yang terasa perih.
"Bagus sekali kami,mas. Berani menampar wajah ku, bersiaplah kamu akan kehilangan tempat kerjamu itu". Sinta, menunjukkan jarinya ke wajah Hamid.
"Sinta! Jangan kurang ajar kamu,heiii... Berikan kunci mobilku, berikan Sinta". Hamid, langsung berteriak keras.
"Tidak, mas. Mobil ini, punyaku. Tidak perlu, mengaku-ngaku hak mu". Sinta, menepis tangan suaminya dan keluar dari rumah.
Hamid, terus-terusan menahan istrinya pergi. "Sinta,mau kemana kamu? Aku, mohon jangan tinggalkan aku. Lihatlah, anak kita Sinta".
"Tidak perduli aku,mas. Anak kita, aku yang bawa. Karena terjamin kehidupannya,jika dia bersama ku. Tidak seperti dirimu,yamg miskin dan tidak memiliki apapun". Sinta, langsung memaksa anaknya masuk kedalam mobil. Dia,tak segan-segan mendorong tubuh suaminya.
"Sinta, maafkan aku Sint. Jangan tinggalkan aku,jika kamu meninggalkan aku. Bagaimana dengan ku? Ayolah,aku tidak hilaf sayang. Maafkan,mas". Hamid, bermohon-mohon kepada istrinya.
"Tunggulah mas, surat perceraian kita. Aku, tidak sanggup memiliki suami yang miskin dan ibumu selalu menuntut ini, itu". Sinta, menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan perkarangan rumah ibu mertuanya itu.
"Aaarghhh... Sintaaa....Jangan, tinggal mas. Sintaaaaa....Ameeeell.... Jangan tinggalkan,papah Amel". Hamid, berteriak histeris atas kepergian istri dan anaknya.
"Mas,mau kemana?". Tanya indah, gelabakan karena suaminya memasukkan baju ke dalam tas.
"Cukup,indah! Aku,akan pulang kerumah orangtuaku. Tak sanggup, hidup seperti ini". Bentak Gabriel, sedikit mendorong tubuh istrinya. "Aku,akan menceraikan dirimu. Setelah anak itu, lahir".
"Mas,tunggu! Jangan tinggalkan aku,mas". Pinta Indah, memohon kepada suaminya.
"Gabriel,kamu tidak punya hati ha! Istrimu, tengah hamil dan meninggalkannya begitu saja. Jangan gila kamu, Gabriel". Bu Yahya, langsung memarahi menantunya itu.
"Aku, tidak sudi lagi bersama keluarga miskin". Bentak Gabriel,dia mendorong tubuh indah. Agar terlepas dari pelukannya,saat terlepas. Barulah, Gabriel masuk kedalam mobil dan meninggalkan perkarangan rumah ibu mertuanya.
Hamid,masih termenung meratapi nasipnya. Indah,juga menangis histeris dan memanggil nama sang suami. Begitu naas, dalam kehidupan mereka.
Hana,hanya diam dan menonton saja. Dia, mengkhawatirkan pernikahannya. Takut sang mempelai pria, membatalkan pernikahan ini. Di saat keluarga pria, mengetahui Hana dan keluarganya bangkrut.
**********
Malam harinya,Yasmin dan suaminya tengah asik menonton televisi.
"Dek, bulan depan kita ke rumah orangtuamu. Kita tanyakan, masalah rumah dulu. Siapa tahu,mas bisa menebus cicilan rumah dan kita tinggal di sana lagi". Kata Faris, Sontak membuat Yasmin terkejut.
"I-iya,mas. Aku,juga sepemikiran". Jawab Yasmin,ragu dengan ucapan suaminya.
"Tenang saja,jika lunas dan tinggal di sana. Sertifikat rumah itu,biar orangtuamu yang pegang. Kemungkinan,kamu masih ragu dengan ku". Kata Faris, tersenyum dan membelai rambut istrinya.
Yasmin, kebingungan bagaimana nanti? Jika sang suami, mengetahui jika rumah tersebut sudah lunas. Akankah Yasmin, memberitahu kebenarannya. Sedangkan di sudut hatinya,masih tidak percaya sepenuhnya kepada sang suami. Trauma masa lalu, selalu menghantui dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
blecky
muga Faris g berubah
2023-03-21
1