"Kamu, gak masak?". Tanya Faris,membuka tudung saji di meja. Nampak kosong melompong,tanpa ada menu makanan apapun.
"Gak,mas. Toh, kamu habis dari rumah ibukan? Pastilah, sudah makan enak dong. Mana mungkin, keluarga kesayangan mu itu. Membiarkan kamu, kelaparan begitu saja. Atau,kamu gak di kasih makan mas? Jangan bilang,kami di usir lagi". Kata Yasmin, tersenyum sinis.
Faris, memandang tajam ke wajah istrinya. "Diam, Yasmin! Jangan mengatai keluargaku, asalkan kamu tahu? Keluargaku dalam musibah dan membutuhkan uang banyak. Sedangkan kamu, tidak pernah memikirkan keadaanku. istri macam apa kamu, Yasmin? Setidaknya, bantulah kesusahan keluarga ku ini".
"Mas, keluarga mu tidak perlu di khawatirkan. Mereka baik-baik saja,makan enak juga. Mereka cuman...".
"Cuman apa, Yasmin? Cuman memanfaatkan kebaikan ku Begitu ha! Cukup,jangan sembarangan memfitnah keluargaku lagi". Faris, langsung memotong perkataan istrinya.
"Terserah kamu,mas. Selalu saja,membela keluarga mu itu. Apa mereka mau, membantu mu di saat kesusahan nantinya ha? Ck,jangan harap itu terjadi mas. Malahan, mereka mengusir mu dan mengejek-ejek harga diri mu". Kata Yasmin,masuk kedalam kamar.
Faris, mengacak-acak rambutnya dan mencari sesuatu yang dapat di makan. Memang benar,di saat dia pulang. Keluarganya,malah makan malam. Tak segan-segan, menyuruh Faris pulang begitu saja.
"Syukurlah,ada mie instan. Punya istri, tidak tau diri. Lihatlah saja Yasmin,aku akan menggadaikan sertifikat rumah ini dan menceraikan dirimu. Tau rasa kamu,ha". Decak Faris, tersenyum smrik.
Yasmin, menangis kesegukan di dalam kamar sebelahnya. Hatinya terasa teriris-iris, melihat sikap sang suami.
"Lihatlah saja nanti,mas. Kamu akan menyesali, perbuatan mu. Selalu, mempercayai ucapan keluargamu itu". Lirih Yasmin, dia berbaring di atas ranjang.
***********
Pagi harinya, Yasmin menghiraukan suaminya. Yangs sudah rapi, tak seperti biasanya. Raut wajahnya, nampak tak sekusut beberapa hari yang lalu.
Yasmin, mengetahui bahwa suaminya pergi kemana? Dia,masih tersenyum dan tak sabar untuk segera mengetahui kebenaran yang keluar dari mulut bapaknya Yasmin. Karena dia, sudah menjalankan rencananya.
"Pagi-pagi,aku beli telor. Cepat masak sana,bikin telor balado atau apa". Pinta Faris,duduk di ruang tamu sambil memainkan benda pipih di tangannya.
"Bahan-bahannya gak ada,mas. Apa lagi,gas juga habis". Jawab Yasmin, tersenyum. "Kalau gak percaya,kamu lihat sendiri".
"Ya sudah,kamu beli sana. Gitu aja repot, masih untung aku membelikan telor ". Bantah sang suami, langsung.
"Uangnya mana,? Uangku habis,kasih uang dulu mas. Gitu aja repot". Kata Yasmin,tak mau kalah dengan suaminya.
"Aaaargghhh.... lama-kelamaan,kepala ku pecah gara-gara kamu Yasmin". Bentak Faris, nyaring.
"Sama mas, lama-kelamaan kepalaku penggal gara-gara kamu". Kata Yasmin, dengan santainya. Ck,jangan harap mas. Aku kalah dengan mu, aku akan menghormati mu sebagai suami. Kecuali kamu,juga menghormati ku.
Faris, sudah geram terhadap istrinya dan beranjak pergi. "Istri tidak tahu diri,kamu". ucap Faris.
Braakkkk....
"Suami tidak tau diri,bikin pusing". Teriak Yasmin,di akhiri dengan gelak tawa.
Faris, sengaja menutup pintu rumah begitu keras. Kekesalannya, sudah memuncak pada dirinya. Entah kenapa,sang istri benar-benar berubah.
Yasmin, melonjak terkejut mendengarnya.
Namun di sisi lain,dia merasa tak ada lagi kehangatan dalam rumah tangganya. "Astagfirullah,mas". Gumamnya,memusut dadanya yang dag-dig-dug terkejut.
"Untuk apa, Yasmin? Kamu menangisi pria, seperti itu". Lirih Yasmin, dia harus semangat menjalani kehidupannya.
***********
"Assalamualaikum, bu". Ucap Faris,rupanya satu keluarga tengah menikmati sarapan pagi. Sedangkan dia, perutnya sudah keroncongan karena sang istri tak mau memasak. "Wahhh...Lagi, makan-makan". Kekehnya Faris, tersenyum merekah.
"Sudah datang,kamu. Tunggu saja,di ruang tamu. Aku, baru makan". Kata Hamid, tanpa menyuruh adiknya ikut sarapan pagi.
"Faris,sana tunggu Abang mu di ruang tamu". Kini sang ibu, langsung angkat bersuara.
"Tapi,bu.... Faris, boleh ikut makan? Dari tadi...".
"Gak ada, semuanya pas. Kalau kamu,ikut makan sama kita. Yang ada gak cukup, Porsi makan mu banyak Faris. Mana mampu,kalian makan enak seperti ini". Indah, langsung melarang adiknya makan bersama.
Hati Faris, melongos terasa perih. Saat mendengar, ucapan kakaknya. "Baiklah, Mbak". Jawabnya, langsung membalikkan badan.
"Hemmmm...makan yang banyak,bu". Kata Indah, menyodorkan sup ayam. Terlihat sanga lezat sekali dan beberapa menu lainnya.
"Mas mau,sup". Pinta istri Hamid, langsung di ambil oleh suaminya.
Mereka semua,nampak menikmati sarapan pagi. tanpa, memikirkan perasaan Faris. Dia, termenung sejenak dan memandang ke luar. Memang benar keluarganya, tidak memikirkan dia. Apa yang di katakan Yasmin, tidak salah.
Setengah jam, Faris menunggu kakaknya selesai makan. Belum lagi, bersiap-siap. Sedangkan di meja, tidak ada kopi atau teh. beberapa hari ke rumah ibunya,namun dia tidak pernah di suguhkan minuman atau cemilan. Terkadang dia, meminum air putih ke dapur.
"Ini uangnya,20 juta. Ingat yah,bang. Jangan lupa,nanti di tambahin". Hana, meletakkan uang senilai 20 juta di hadapannya.
"Pasti dek,abang akan menambah uangmu. Doakan saja, semoga berhasil dan kamu bisa melangsungkan resepsi pernikahan megah dan mewah". kata Faris, membuat Hana tersenyum merekah.
"Makasih,bang. Jangan mengecewakan perasaan,Hana. Abang, sudah janji kepada ku." kata Hana,tak memperdulikan perasaan dan pikiran kakaknya itu.
"Apakah, istri mu tahu? Jika kamu dan abangmu pergi ke rumah orangtuanya". Tanya bu Yahya,kepada Faris.
"Tidak bu,dia juga tidak menanyakan aku kemana? Dia,cuman tahu aku pergi bekerja". Jawab Faris, tersenyum.
Perjalanan menuju rumah orangtuanya, Yasmin. Memerlukan waktu 3 jam, perjalanan.
Orangtuanya Yasmin,tinggal di desa. Yang jauh dari kota,namun lumayan ramai di sana.
"Gak sabar bu,kita dapat uang". Kata Indah, tersenyum merekah.
"Sama, Mbak. Aku,gak sabar menikmati resepsi pernikahan ku yang mewah dan megah. Pasti teman-teman Hana, bakalan banyak yang iri". Kata Hana, tersenyum.
"Iya,dek. Teman-temannya Mbak, bakalan datang juga. Kita mengadakan resepsi pernikahan mu,di hotel saja. Mana mungkin,di rumah ini". Sahut Sinta, istrinya Hamid.
"Eeee...Aku setuju, benar kata Mbak Sinta. Kita mengadakan resepsi pernikahan, Hana di hotel yang mahal". Indah,juga ikut-ikutan setuju.
Raut wajah Faris, seketika berubah. keluarganya, sudah menantikan momen tersebut. Dia, harus bisa membuat kakaknya bangga dengannya. Tak mungkin, menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
"Ibu, tidak sabar juga memiliki emas-emas yang harganya mahal". Sahut bu Yahya,dia tak sabar memakai perhiasan emas di tangannya.
"Hussssttttt... Jangan memikirkan aneh-aneh, dulu. Takutnya,uang itu tidak cukup untuk menutupi hutang-hutang kak Hamid dan kak indah". Faris, menghentikan khayalan mereka.
Seketika ibu dan kakaknya,terdiam mendengar ucapan Faris. Seakan-akan, tidak terima menghancurkan keinginan mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
blecky
Faris emng goblok e g ketulungan udh dgtukan ma klwrga msh ae kyak kembo d cocok hdungx
2023-03-21
0