Sabar

Yasmin,menghela nafas beratnya. Saat ibu mertua datang, bersama kakak iparnya itu yang tengah hamil besar.

Padahal Yasmin, buru-buru ingin berangkat mengajar. Tetapi, sudah di menghadapi masalah lagi.

"Yasmin,ibu mau bicara". Ucap bu Yahya, tersenyum sinis.

"Pastinya,tau kan? Maksud, kedatangan kami". Sambung Indah,kakak iparnya Yasmin. Ck, malas sekali berhadapan dengan dia.

"Hemmm... Sertifikat rumah ini,kan. Ck,". Decak Yasmin,membuang muka ke arah lain. Astaga, huuuff... Sabar Yasmin,jangan terbawa emosi jika belum kebablasan.

"Baguslah,jika kamu sudah tahu. Satu minggu,aku beri jatah untuk mengambil sertifikat rumah ini dari bapakmu. Bapakmu itu,memang perhitungan sekali kepada anak dan menantunya". Kata bu Yahya, memandang Yasmin tak suka. Ck, enak sekali punya rumah baru. Tidak akan aku, biarkan kalian tenang. Apa lagi Faris,yang berpihak kepadaku.

"Bu,kenapa harus sertifikat rumah ini? Bukankah,bang Hamid dan Mbak indah juga memiliki rumah. Lalu,kenapa tidak sertifikat rumah kami? Bilang saja,mau memanfaatkan keadaan kami kan". Kata Yasmin, berusaha mengontrol dirinya. Ck,bilang saja ingin mengusik kehidupan kami. Karena kami, tidak akan pernah mendapatkan kedamaian dan ketenangan.

"Yasmin,jaga ucapanmu ha? Tidak punya hati nurani, membantu kami". Sahut indah,yang tidak terima dengan perkataan Yasmin. Kurang ajar sekali,kenapa aku juga ikut-ikutan? Sialan,kamu Yasmin.

"Ck, tidak punya hati nurani? Lalu, bagaimana dengan sikap kalian. Di saat mas Faris, membutuhkan uang 20 juta ha? Kalian semua,malah mengusir kami dan mencaci maki. Itukah, yang dinamakan hati nurani!". Ucap Yasmin, dengan tegas. Mampus kalian, aku akan terus mengungkit masa lalu dan membungkam mulut kalian.

"Yasmin,cukup! Itu hanya masa lalu,kenapa di bahas lagi ha? Lagian,kami benar tidak ada uang sama sekali waktu itu". Bentak bu Yahya, ingin sekali mencabik-cabik wajah menantunya itu. Menantu kurang ajar,sok belagu lagi. Selalu saja,di ungkit-ungkit masa lalu.

"Nah,kami juga tidak mempunyai uang sebanyak itu bu. Maaf,kami tidak bisa membantu. Jika ibu, ingin menggadaikan sertifikat rumah ini. Kenapa,dulu kalian tidak mau menggadaikan sertifikat rumah kalian". Yasmin, tersenyum sinis. Emangnya, aku tidak bisa apa? Untuk melawan kalian,ha. Yah, masalah mas Faris terserah nantinya.

Sontak membuat indah, merasa gelisah dan bungkam."Aalahh.... Jangan banyak alasan, Yasmin. Ingatlah Yasmin,satu minggu lagi. Kamu, harusnya mendapatkan sertifikat rumah ini. Aku, tidak mau tau? Bagaimana, caranya nanti". Bu Yahya, terus bersikukuh untuk mendapatkan sertifikat rumah menantunya itu.

"Benar,kami memberikan beberapa hari untuk berpikir dan mendapatkan sertifikat rumah ini. Tidak perlulah, banyak bertele-tele segala". Bentak indah, tersenyum smrik.

"Bayar dulu,20 juta kepada bapak. Untuk menebus sertifikat rumah ini, bukankah kami berhutang kepada bapak waktu dulu. Terus,jangan lupa di bayar cicilan rumah ini dan cicilan gadaian nanti. Toh,rumah ini belum lunas kok". Kata Yasmin, dengan entengnya.

Yasmin, was-was berucap seperti itu. Dia, sangat yakin sekali. Bahwa rumah ini, sebenernya sudah lunas. Karena ayahnya, tidak suka berhutang kepada siapapun. Berharap,ibu mertuanya tidak nekat menemui orangtuanya.

"Apa? Belum lunas". Ucap bu Yahya dan Inda, bersamaan.

Gila! Kirain sudah lunas,sama saja bohong. Malah, bertambah menjadi masalah baru. Batin indah, ingin sekali menahan niat ibunya.

"Iya,kenapa? Baru tau yah,mana mungkin bapak membayarnya dengan cash. Bukankah,ibu mertuaku bilang. Jika kedua orangtuaku, tidak memiliki banyak uang. Toh, pasti pahamkan perkataan ku". Yasmin, tersenyum smrik.

"Emang iya, keluargamu itu miskin-miskin Yasmin. Jangan-jangan, membayar Faris dulu. rumah orangtuamu,di gadaikan lagi". Ejek indah, menaikkan satu alisnya.

Mendengar ucapan kakak iparnya, Yasmin berusaha sabar. Tangannya, sudah mengepal erat, ingin sekali melayangkan tinjunya. Hatinya terasa sakit, karena mereka tak segan-segan mengejek orang tua Yasmin. "Semiskinnya orangtuaku, mereka tidak pernah mengambil sertifikat rumah anaknya dan ingin menggadaikan. Lah,kalian yang memang orang kaya dan memiliki uang banyak. Kenapa, meminta sertifikat rumah kami dan ingin menggadaikannya? Dimana,letak harga diri kalian ha? tidak tahu, malu". Ejek Yasmin,tak kalah juga.

"Yasmin! Jaga mulutmu itu ha. Jangan sampai,aku menampar wajah mu itu". Bentak indah, dengan keras.

Wajah ibu mertuanya, langsung berubah menahan amarahnya. "Dasar, perhitungan sekali bapakmu itu Yasmin. Baiklah,jika tidak mendapatkan sertifikat rumah ini. Kami, harus menyediakan uang 50 juta. Dalam jangka waktu,1 mingguan. Jika tidak, berisap-siap untuk kehilangan Faris". Bu Yahya, langsung mengancam menantunya itu.

"Dengar itu, Yasmin. Tentu saja, Faris memilih kami di bandingkan kamu". Sambung Indah, tersenyum merekah. Baguslah,jika Faris bercerai dengan wanita ini. Benar-benar muak, dengan sikapnya. Miskin saja,sok belagu

Yasmin, menggeleng kepalanya. Karena ibu mertuanya, langsung mengalihkan pembicaraan. "Tidak Perlu mengalihkan pembicaraan,bu, Mbak indah. Jika tidak mampu, ngapain juga mengadakan resepsi pernikahan besar-besaran. Toh, waktu acara pernikahan ku dulu. lumayan besar,gak mahal-mahal amat. Masa mau mengadaikan rumah ini, dengan uang senilai 100 juta. Lalu, sisanya untuk ibu. Emangnya,yang beli rumah ini ibu atau kalian ha? Keenakan sekali,hidup kalian. Itukah,yang di namakan orang kaya".

"Cukup,Yasmin! Jangan macam-macam,kamu bicara ha. jangan sampai,aku menampar wajah mu itu. Menantu tidak berguna kamu,ha". Bu Yahya, sudah geram terhadap menantunya.

"Loh, bukankah inu memiliki 2 menantu lagi. Terus, apakah mereka membantu ibu? Pasti tidak kan,bu. Jadi, sama-sama tidak berguna kan. Kasian yah, Mbak Indah! Punya suami tidak berguna, seperti yang di katakan ibu mertua ku ini". Yasmin, terkekeh geli.

Indah, langsung menggeretakkan giginya dengan keras. Ingin sekali, memakan Yasmin hidup-hidup. Sedari tadi,ada saja melawan ucapan mereka. "Awas kamu, Yasmin! Jangan sampai, aku melayangkan tanganku ini".

"Menantu ku yang lain, berbeda Yasmin. Tidak seperti dirimu,". Bantah bu Yahya, langsung.

"Berbeda, gimana bu? Aku, kerja dan atau jangan-jangan menantu ibu yang lainnya nganggur atau mau bangkrut. Oups..maaf,bu gak sengaja keceplosan. Makanya bu,jangan terlalu membanggakan menantu yang sombong. Lihatlah sekarang, mereka mana mau membantu ibu. Malah,lari ke tempat kami yang selalu di rendahkan dan hina miskin". Yasmin, memasang wajah datar. "Terserah kalian saja,yang pastinya aku tidak akan membantu kalian".

"Yasmin,mau kemana kamu ha". Indah, ingin mencegah Yasmin pergi.

Tanpa ba-bi-bu lagi, Yasmin langsung meninggalkan mereka dan pergi. Tak memperdulikan caci makian dan umpatan pedas, mereka.

"Yasmin.... Yasmin.... kurang ajar sekali,kamu. Heii.... Tunggu,ibu belum selesai berbicara ha". Teriak bu Yahya, memanggil menantunya itu.

Indah,juga ikut-ikutan mengompori ibunya. "lihatlah,bu. Istrinya Faris, benar-benar tidak sopan santun kepada kita. Ck,muak rasanya berhadapan dengan Yasmin".

Terpopuler

Comments

Cahaya Hayati

Cahaya Hayati

mertua kurang ajar sudah miskin belagu sok sok an jadi kaya padahal merempst is aku pula yg geram 😃😃

2023-06-09

1

blecky

blecky

lbih baek u khlgan suami model Faris sja Yasmin nanti pasti dpt yg lbih jgan mau d injk2

2023-03-21

1

lihat semua
Episodes
1 Sertifikat Rumah
2 50 Juta
3 Sabar
4 Terlilit Hutang
5 Pusing
6 Sebuah Rencana
7 Syok Berat
8 Kekerasan
9 Kekerasan
10 Di usir
11 Kesempatan
12 Makan Malam Bersama
13 500 ribu
14 Bermain Api
15 Pertikaian
16 Cucian Mobil
17 Lelah
18 Teman
19 Terserempet
20 Pulang
21 Mengalah
22 Was-was
23 Pesan Masuk
24 Menggerebek
25 Pria Yang Berbeda
26 Tidak Tinggal Diam
27 Dua pelaku
28 Diusir
29 Tidak Ada Kesempatan
30 Mengusir
31 Surat Cerai
32 Berbohong
33 Menemui Yasmin
34 Meminta Maaf
35 Balas Dendam
36 Mengelak
37 Pilihanku
38 Malu
39 Berubah
40 Saling Menyindir
41 Gagal
42 Seserahan
43 Juragan
44 Sepupu
45 pingsan
46 Pertama Kalinya
47 Belanja
48 Fitnah
49 Sabar
50 Masalah lagi
51 Membalas
52 Alergi
53 Rendang Daging
54 Malam Pengantin,Yang Tertunda
55 Obat Tidur
56 Jebakan
57 Nasi Goreng Spesial
58 Privasi
59 pertikaian
60 Mereka
61 Merenggang Nyawa
62 Kritis
63 Siuman
64 Interogasi
65 Berlalu
66 Menumpahkan Rasa Rindu
67 Ada Yang Salahkah
68 Pulang
69 Diusir
70 Menyesal
71 Ragu
72 Pengganggu
73 Cabut Mas
74 Mual
75 Morning sickness
76 Demi Cucu
77 Nasi Goreng Spesial
78 Opor Ayam Jago
79 Di Sengat Lebah
80 Malam Mingguan
81 Dia
82 Emosi
83 Ngutang
84 Lagi
85 Mengenang Masa lalu
86 Kontraksi
87 Tamat
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Sertifikat Rumah
2
50 Juta
3
Sabar
4
Terlilit Hutang
5
Pusing
6
Sebuah Rencana
7
Syok Berat
8
Kekerasan
9
Kekerasan
10
Di usir
11
Kesempatan
12
Makan Malam Bersama
13
500 ribu
14
Bermain Api
15
Pertikaian
16
Cucian Mobil
17
Lelah
18
Teman
19
Terserempet
20
Pulang
21
Mengalah
22
Was-was
23
Pesan Masuk
24
Menggerebek
25
Pria Yang Berbeda
26
Tidak Tinggal Diam
27
Dua pelaku
28
Diusir
29
Tidak Ada Kesempatan
30
Mengusir
31
Surat Cerai
32
Berbohong
33
Menemui Yasmin
34
Meminta Maaf
35
Balas Dendam
36
Mengelak
37
Pilihanku
38
Malu
39
Berubah
40
Saling Menyindir
41
Gagal
42
Seserahan
43
Juragan
44
Sepupu
45
pingsan
46
Pertama Kalinya
47
Belanja
48
Fitnah
49
Sabar
50
Masalah lagi
51
Membalas
52
Alergi
53
Rendang Daging
54
Malam Pengantin,Yang Tertunda
55
Obat Tidur
56
Jebakan
57
Nasi Goreng Spesial
58
Privasi
59
pertikaian
60
Mereka
61
Merenggang Nyawa
62
Kritis
63
Siuman
64
Interogasi
65
Berlalu
66
Menumpahkan Rasa Rindu
67
Ada Yang Salahkah
68
Pulang
69
Diusir
70
Menyesal
71
Ragu
72
Pengganggu
73
Cabut Mas
74
Mual
75
Morning sickness
76
Demi Cucu
77
Nasi Goreng Spesial
78
Opor Ayam Jago
79
Di Sengat Lebah
80
Malam Mingguan
81
Dia
82
Emosi
83
Ngutang
84
Lagi
85
Mengenang Masa lalu
86
Kontraksi
87
Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!