Bu Yahya, tidak sadarkan diri. Hampir 30 menit, tidak ada sadar-sadar lagi.
"Ini semua gara-gara kalian,ibu syok karena Abang dan Mbak memberikan uang senilai 500 ribu". Hana, berteriak keras.
"Hana,diam jangan berteriak keras. Malu,di dengar tetangga". Indah, menegur adiknya itu.
"Kamukan tau Hana, bagaimana kehidupan kami? Tidak seperti dulu lagi,masih untung kami memberikan ibu uang. Kalau tidak, bagaimana ha? Jangan asal, ngomong". Sahut Sinta,yang geram kepada adik iparnya.
"Terima tidak terima,emang ini jalannya. Masih untung kami kasih,uang segitu. Kalau gak mau,yah gak papa. Minta sana dengan, Faris". Decak Gabriel, meninggalkan mereka di kamar bu Yahya.
"Mas....". Lirih Indah,namun tidak menyusulnya. Karena kasian sekali,ibunya tak kunjung sadar.
"Gimana,ini? Kehidupan kita,memang lagi susah. Hanya Faris,yang mampu menyelesaikan masalah ini. Besok aku, temui Yasmin dan ingin bicara kepada Faris". Hamid, nampak frustasi.
"500 ribu,banyak mas. Jika di kumpulkan, dengan yang lain. Apa lagi,ibumu memiliki toko bangunan. Untuk mendapatkan penghasilan tambahan, ibumu saja yang terlalu serakah". Decak Sinta,tak memperdulikan tatapan adik iparnya.
"Sinta! Jaga ucapanmu,itu. Apa kamu tidak kasian,kepada ibuku ha? Gara-gara kalian,ibu kami syok". Hamid, menegur istrinya itu.
Namun Sinta, berlalu meninggalkan kamar ibu mertuanya. Sangat malas, berdebat dengan suaminya. Selalu saja, membela ibunya.
"Bang, gimana ini? Ibu,pasti marah besar. Gara-gara Yasmin,ini". Indah,tengah kebingungan saat ini. "Jika aku, tidak menuruti perkataan mas Gabriel. Dia, bakalan meninggalkan ku bang. Gak mungkinkan,aku membantahnya. Bisa saja,aku di tinggal tengah hamil besar".
"Sama,jika Sinta meninggalkan ku. Orangtuanya,akan mengusir tempat usahaku. Karena tempatnya,milik orangtuanya Sinta. Sama saja,aku kehilangan segalanya Indah. Satu-satunya cara,cuman Faris yang mampu memberikan uang kepada ibu berjumlah banyak. Sisanya,kita santai-santai saja". Hamid,pusing memikirkan masalah keluarganya.
"Jadi,kalian mengabaikan ibu begitu? Enak saja,uang kalian di nikmati oleh istri dan suami". Ternyata bu Yahya, sedari tadi sudah siuman dan mendengarkan pembicaraan anaknya.
"I-ibuu...". Hamid dan Indah, terkejut mendengar ucapan ibunya.
"Ibu, sudah siuman. Bu,pahami keadaan kami. Tolonglah,sama saja mempertaruhkan rumah tangga kami. Begini,uang yang kami beri utuh tanpa yang lainnya. Masalahnya cicilan perbulan,aku minta Faris membayarnya dan memberikan uang kepada ibu berjumlah banyak. Jadi,ibu tidak kekurangan apapun". Bujuk Hamid,yang di angguki Indah.
"Jadi,aku gak ikutan yah". Sahut Hana, langsung. Tak terima,dia harus keluar uang juga.
"Kalian beneran, tidak membohongi ibu". Tanya bu Yahya,dia mulai merasa lega.
"Iya,bu. Karena Faris, selama ini menurut tunduk kepada kita". Jawab indah, tersenyum.
"Ya sudah,temui Faris besok. Dia,harus membayar cicilan perbulan dan memberikan uang kepada ibu. Mana mungkin, Faris tidak lagi bekerja di bangunan. Palingan, akal-akalan Yasmin. Cuman ingin balas dendam, terhadap kita". ucap bu Yahya, senyum kecilnya terlihat di sudut bibir.
"Benar bu,kita harus memberikan pelajaran kepada Yasmin. Coba saja, Faris menikah dengan wanita kaya raya. Gak papa,janda kek. Yang penting kaya, pasti kehidupan kita enak". Sahut indah, tersenyum smrik.
"Alahhhh....Cari pendamping hidup,kaya raya. Sedangkan Abang dan Mbak Indah,apa? Pelit-pelit semua, keluarga istri mu bang dan keluarga suamimu mbak". Hana, langsung mengejek kakaknya.
"Diam kamu, Hana!". Bentak Hamid dan Indah,yang geram kepada adiknya itu. Bisa-bisanya,dia berbicara Sembarangan. sama saja,Hana mengejeknya.
"Memang benarkan, Mbak sinta dan bang Gabriel. Mereka berdua, berani mengancam. Yakin bang Faris,mau membayar cicilan gadaian rumah ini? Toh, bang Faris tidak mendapatkan bagian sedikitpun". Hana, tersenyum smrik. Kini Hamid dan indah, baru sadar.
"Astaga,kita lupa bang. Bagaimana,jika Faris tidak mau menuruti perintah kita". Ucap indah,yang sudah gelisah gusar. jika Faris, tidak mau membantu mereka. Habislah sudah, siap-siap mereka di usir dari rumah ini.
"Tapikan,kita usaha dulu. Kita paksa, mengatas namakan ibu. Jangan sampai dia, melalaikan kewajiban untuk membahagiakan ibu". Jawab Hamid, mendengus dingin.
"Tapikan,ibu memiliki toko bangunan. kita masih bertahan, dengan hasil penjualan bangunan untuk membayar cicilannya". kata Hana, mendapatkan tatapan tajam dari ibunya.
"Ibu, tidak setuju. Uang hasil penjualan bangunan itu,cuman milik ibu. Tidak ada hak,yang lainnya. Jangan macam-macam,Hana". Tegur,bu Yahya langsung.
Hamid dan Indah,cuman pasrah dan diam. Mau tak mau,harus memaksa Faris. Ibunya , bersikukuh untuk tidak membayar sedikitpun cicilan perbulan rumah yang mereka tempati.
Sinta, tengah ke dapur. Hendak minum,dia merasakan haus.
"E'ehmmm...Apa kamu, bahagia memiliki ibu mertua matre". Kata Gabriel, rupanya dia menyusul Sinta.
"Ck, bukan hanya matre,tapi serakah juga. Ingin sekali pisah,lalu menikmati suasana rumah orangtuaku. Aku kira, Hamid bisa menjadi kaya raya terus-terusan. Ternyata,cuman sementara". Sahut Sinta, tersenyum.
"Sama,aku ingin sekali pisah dengan indah. Dia, istri yang menyebalkan. Selalu saja, ibunya yang di utamakan. Gara-gara dia, selalu boros. Makanya,kami bangkrut seperti ini". Gabriel,melirik ke arah kakak iparnya itu.
"Kenapa,kamu menatapku seperti itu?". Delik mata Sinta,menaruh rasa curiga.
"Aku,mulai tertarik dengan kakak ipar ku. Bagaimana,kita menyusun rencana? Pastilah, orangtua kita senang. Karena memiliki menantu,yang setara". Gabriel, langsung menjalankan aksi liciknya. Sudah lama memperhatikan gerak-gerik,kakak iparnya ini.
"Sama,aku juga mulai tertarik dengan mu. Wahai,adik iparku". Sinta,tak kalah menggodanya.
"Huusssstttt... Baguslah, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Ingat,kita harus menjalankan rencana dengan hati-hati". Gabriel,tak segan-segan menyentuh bibir kakak iparnya itu.
Dua sejoli tengah bermesraan di dapur, tidak memperdulikan bagaimana keadaan di dalam kamar.
**************
Besok harinya, Yasmin tengah sibuk di dapur.
Sedangkan Faris,sibuk menghubungi teman-temannya. Semoga saja,hari ini langsung mendapatkan pekerjaan.
"Yakin,mau kerja hari ini? Siapa tahu,mas mau istirahat dulu". Kata Yasmin, sambil memasak. Hari ini, Yasmin tidak mengajar.
"Gak,dek. Lebih cepat, lebih baik". Jawab Faris, langsung. Satu persatu,nomor yang di hubunginya. Jawaban temannya,tetap sama. Tidak ada lowongan, pekerjaan.
Apa lagi, Faris cuman tamatan SMP. Tidak seperti kakaknya,yang lulusan SMA. Kata ibunya, ngapain sekolah lagi. Lebih baik cari kerjaan, untuk membantu ekonomi.
"Alhamdulillah, Abang mendapatkan pekerjaan dek. Tapi,di cucian mobil". Kata Faris, tersenyum. Tentunya Yasmin, bahagia mendengarnya. "Gak papakan,dek. Aku,cuman mendapatkan pekerjaan seperti ini. Yang jelas, penghasilan tidak seperti dulu".
"Alhamdulillah,gak papa mas. Aku, senang sekali atas usahamu. Semoga saja, nanti dapat pekerjaan yang lebih bagus". Yasmin, terus menyemangati suaminya itu.
"Aaammiiinn... Makasih, Yasmin". Faris, memeluk erat tubuh istrinya yang tengah memasak. Yasmin, tersenyum dan merasakan kebahagiaan di dalam rumah tangganya.
Berharap,akan seperti ini terus-menerus. Tanpa,ada masalah apapun ke depannya.
"Fariiiiissss......Yasmiiiiin.....Farisss". Teriak seseorang, di luar rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
blecky
kshan Faris sbnerx tp Faris g tegas blas jdi suami
2023-03-21
1