Makan Malam Bersama

"Apa? Kamu,baikan lagi sama suamimu". Aina, menggeleng kepalanya. Dia, benar-benar sangat heran jalan pikiran temannya.

"Tapi,dia berjanji akan berubah Na. Tidak akan menyakiti ku lagi, keluarga juga memberikan kesempatan kepadanya. Cuman aku, yang dia punya. Keluarganya, lagi-lagi mengusir mas Faris". Kata Yasmin, tertunduk lesu.

"Sampai kapan, Yasmin? Dia, pasti mengulangi kesalahannya lagi. Sudah berapa kali,dia menyakiti mu". Decak Aina,geram terhadap laki-laki seperti itu.

"Dia, beneran berubah Na. Walaupun,aku masih ragu. Mas Faris, memberikan atmnya dan menyerahkan semua uangnya. Makanya,aku percaya masih. Dulu,dia tidak seperti ini". Yasmin,juga mempertimbangkan semuanya.

"Oh, baguslah. Semoga saja,dia tidak menyakiti mu lagi". Kata Aina,dia senang jika suami sahabatnya berubah.

"Makanya dari itu,aku memberikan kesempatan lagi. Jika terulang lagi,aku juga tidak mau kembali kepadanya. Ogah lah,di sakiti terus". Gerutu Yasmin, membuat Aina cekikikan tertawa.

Yasmin dan Aina, melanjutkan mengajarnya. Jam istrirahat para murid, sudah selesai.

***********

"Assalamualaikum,dek". Ucap Faris,dia baru pulang bekerja.

"Wa'alaikum salam,sini tasnya mas". Yasmin, seperti biasa menyambut kedatangan suaminya.

Faris, mengecup bibir Yasmin sekilas. Membuat sang istri, malu-malu kucing.

"Iiihh...Mas, ada-ada aja. Buat Yasmin,malu". Cicit Yasmin, sebenarnya dia suka dengan sikap suaminya.

"Mas kangen,sayang. Malam tadi,masih kurang". Bisik Faris, mengigit telinga istrinya.

"Iiiihhh..Geli mas,sana mandi. Aku,mau menyiapkan makanan untuk kita". Yasmin, meleraikan pelukannya.

"Baiklah,mas juga kangen dengan masakan mu". Faris, langsung menuju ke arah kamar mandi. Tak lupa,membawa handuknya.

Alhamdulillah,jika mas Faris. Benar-benar berubah dan menjadi imam di rumah tangga ini. Batin Yasmin,dia tersenyum sumringah.

Beberapa menit kemudian, Faris sudah selesai acara mandinya.

Dia,duduk di lantai beralas tikar. Menu makan, sudah tersedia di hadapannya. "Makasih,dek. Sudah memasakkan, untuk mas". Kata Faris, mengelus lembut rambut panjang sang istri.

"Sama-sama,mas. Makan yang banyak,aku liat kamu kurusan". Kekehnya Yasmin, menuangkan nasi ke piring suaminya.

"Hemmm... Kepikiran kamu, sayang". Kata Faris, menggoda istrinya. Lagi-lagi, Faris mendapatkan cubitan dari Yasmin.

"Ck,gombal kamu mas". Kata Yasmin, tersenyum kecil.

Mereka berdua, Menikmati makan malam bersama dengan menu seadanya.

Namun Faris, mendapatkan kebahagiaan dan kehangatan dalam dirinya. Apa lagi,berada di dekat sang istri.

Terimakasih,Tuhan. Hampir saja,aku kehilangan berlian yang sangat berharga untukku. Batin Faris,sedadi menatap wajah cantik istrinya.

Selesai makan malam, Faris membantu istrinya mencuci piring. Yasmin, merasa senang dengan sikap suaminya. Berharap,akan terus seperti ini jangan berubah lagi.

***********

"Bu, kenapa makan sedikit? Nanti,malah merepotkan kami". Kata indah,yang kebingungan melihat sikap ibunya. Akhir-akhir ini,ibu sering termenung. Apa ibu, mengkhawatirkan rumah ini.

"Tidak tau,ibu tidak nyaman". Jawab bu Yahya, tersenyum. "Apa kalian sudah,menebus rumah? Lalu,kapan kalian pindah". Tanya bu Yahya, sudah beberapa hari. Anak dan menantunya, tak kunjung pindah-pindah. Lama-kelamaan,para tetangga mencurigai jika anak dan menantuku bangkrut. Sialan,kenapa jadi tambah susah seperti ini. Mana uang gadaian,tidak banyak.

"Eee... Sebenarnya,mas Gabriel tidak bisa menebus rumah kami. Uangnya, sudah membangun usaha bu. Gak papakan,kami tinggal di sini". Jawab indah, tersenyum. "Lagian, Hana mau menikah. Tinggal dua minggu lagi,kita harus banyak persiapan". Huuuff.... Gara-gara mas Gabriel,kenapa semua uang untuk usahanya. Sumpek juga, lama-kelamaan di rumah ini.

"Oke,ibu paham. Kalian Hamid, bagaimana? Apa, sudah menebus rumah". Tanya bu Yahya, sontak membuat Hamid gelabakan.

"Kami,sama bu dengan indah". Jawab Hamid, langsung. Gara-gara Sinta, banyak arisan sosialita. Hampir 30 juta,melunasi hutangnya. Bagaimana, nanti? Uang segitu,mana cukup menutupi kerugian usahaku.

Bu Yahya, mendengus dingin. "Baiklah,tapi jangan lupa. Istrimu yang nganggur itu, bersih-bersih rumah ini. Jangan ngelunjak, kalau mau menumpang di rumah ini". Kenapa juag,di pecat dari perusahaan. Bikin susah saja dan nambah malu lagi.

"Kamu, dengarkan Sinta? Apa,yang di katakan ibuku". Kata Hamid,kepada istrinya. Menyebalkan sekali, punya istri boros dan hobi shopping.

"Dengar,mas. Tapi,bantuin sama indah dan Hana. Kalau aku sendiri,ogah mas. Mending,kita tinggal di rumah orangtuaku". Kata Sinta,yang kesal dengan sikap mertuanya.

"Aku hamil, Mbak. Mana bisa, membantu mu ini,itu". sahut indah, tersenyum smrik.

"Aku gak mau, masa pengantin wanita beres-beres rumah. Nanti, tanganku kasar". Hama,juga menolaknya.

"Gak,aku gak sanggup tinggal di rumah orangtuamu. Belum lagi, abangmu yang menyebalkan sekali. Apa lagi, usahaku seperti ini. Pasti, keluarga mu mengejek-ejek ku. Dimana menaruh, harga diri ku Sinta". Hamid, langsung membantahnya.

"Sinta,kamu jangan jadi kurang ajar. Masa dengan suami,kamu biarkan di ejek. Seharusnya,kamu bersyukur karena tinggal di sini". Sahut bu Yahya, menatap tajam ke arah menantunya. "Mentang-mentang susah, tidak ada membantu suamimu. Percuma,punya besan kaya raya. Tapi, pelitnya minta ampun. Sama juga, dengan mu Gabriel. Tidak jauh, bedanya".

Lagi-lagi suasana makan malam, semakin rumit. Nafsu makan, hilang sudah. Sinta dan Gabriel, pergi dan masuk kedalam kamar masing-masing.

"Bu, sudahlah jangan berkata apa-apa lagi. Mas Gabriel, bakalan marah besar terhadap ku". Kata Indah,yang pusing memikirkan rumah tangganya.

"Selalu saja, seperti ini". Gumam Hamid,dia tetap melanjutkan makannya.

Hana,hanya diam dan diam. Lagi-lagi, suasana semakin tegang.

Selesai makan, Hamid menemui istrinya tengah menangis kesegukan di dalam kamar.

"Sinta, jangan menangis. Jangan di ambil hati, perkataan ibu. Sabar yah, semoga saja usahaku berkembang pesat. Biar kita bisa, pindah dari sini". Hamid,membujuk istrinya.

"Sampai kapan,mas. Aku, capek sekali mengerjakan tugas rumah ini. Adikmu, selalu beralasan hamil lah. Takut sakit,karena sebentar lagi menikah. Muak, mendengar alasan mereka. Apa lagi ibumu,dulu selalu memujiku karena kita banyak uang. Sekarang,malah ada cacian". Bentak Sinta,yang tak kuasa menahan sesak di dadanya.

"Sabar, maafkan ibuku. Tolonglah,pahami keadaan kita sayang". Pinta Hamid,lagi.

"Cukup mas! Bulan ini,jangan berikan uang kepada ibumu. Aku,capek mas yang mengerjakan tugas rumah ini. Pokonya,uang itu untuk ku. Sudah lama, tidak belanja". Sinta,yang selalu royal dan hobi menghamburkan uang.

"Sinta, tolonglah pahami. Kita, tinggal di rumah ibuku. Baiklah,aku akan memberikan uang senilai 500 ribu. Tidak ada 2 juta,sisanya untukmu sayang". Bujuk Hamid, Sontak membuat sang istri tersenyum.

"Baiklah,mas. Tapi, kamu harus memerintahkan adikmu bersih-bersih juga". Ucap Sinta,yang di angguki Hamid.

Sinta, tersenyum smrik. Dia,akan berkuasa di rumah ini. Ogah sekali, menuruti perkataan ibu mertuanya itu.

Episodes
1 Sertifikat Rumah
2 50 Juta
3 Sabar
4 Terlilit Hutang
5 Pusing
6 Sebuah Rencana
7 Syok Berat
8 Kekerasan
9 Kekerasan
10 Di usir
11 Kesempatan
12 Makan Malam Bersama
13 500 ribu
14 Bermain Api
15 Pertikaian
16 Cucian Mobil
17 Lelah
18 Teman
19 Terserempet
20 Pulang
21 Mengalah
22 Was-was
23 Pesan Masuk
24 Menggerebek
25 Pria Yang Berbeda
26 Tidak Tinggal Diam
27 Dua pelaku
28 Diusir
29 Tidak Ada Kesempatan
30 Mengusir
31 Surat Cerai
32 Berbohong
33 Menemui Yasmin
34 Meminta Maaf
35 Balas Dendam
36 Mengelak
37 Pilihanku
38 Malu
39 Berubah
40 Saling Menyindir
41 Gagal
42 Seserahan
43 Juragan
44 Sepupu
45 pingsan
46 Pertama Kalinya
47 Belanja
48 Fitnah
49 Sabar
50 Masalah lagi
51 Membalas
52 Alergi
53 Rendang Daging
54 Malam Pengantin,Yang Tertunda
55 Obat Tidur
56 Jebakan
57 Nasi Goreng Spesial
58 Privasi
59 pertikaian
60 Mereka
61 Merenggang Nyawa
62 Kritis
63 Siuman
64 Interogasi
65 Berlalu
66 Menumpahkan Rasa Rindu
67 Ada Yang Salahkah
68 Pulang
69 Diusir
70 Menyesal
71 Ragu
72 Pengganggu
73 Cabut Mas
74 Mual
75 Morning sickness
76 Demi Cucu
77 Nasi Goreng Spesial
78 Opor Ayam Jago
79 Di Sengat Lebah
80 Malam Mingguan
81 Dia
82 Emosi
83 Ngutang
84 Lagi
85 Mengenang Masa lalu
86 Kontraksi
87 Tamat
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Sertifikat Rumah
2
50 Juta
3
Sabar
4
Terlilit Hutang
5
Pusing
6
Sebuah Rencana
7
Syok Berat
8
Kekerasan
9
Kekerasan
10
Di usir
11
Kesempatan
12
Makan Malam Bersama
13
500 ribu
14
Bermain Api
15
Pertikaian
16
Cucian Mobil
17
Lelah
18
Teman
19
Terserempet
20
Pulang
21
Mengalah
22
Was-was
23
Pesan Masuk
24
Menggerebek
25
Pria Yang Berbeda
26
Tidak Tinggal Diam
27
Dua pelaku
28
Diusir
29
Tidak Ada Kesempatan
30
Mengusir
31
Surat Cerai
32
Berbohong
33
Menemui Yasmin
34
Meminta Maaf
35
Balas Dendam
36
Mengelak
37
Pilihanku
38
Malu
39
Berubah
40
Saling Menyindir
41
Gagal
42
Seserahan
43
Juragan
44
Sepupu
45
pingsan
46
Pertama Kalinya
47
Belanja
48
Fitnah
49
Sabar
50
Masalah lagi
51
Membalas
52
Alergi
53
Rendang Daging
54
Malam Pengantin,Yang Tertunda
55
Obat Tidur
56
Jebakan
57
Nasi Goreng Spesial
58
Privasi
59
pertikaian
60
Mereka
61
Merenggang Nyawa
62
Kritis
63
Siuman
64
Interogasi
65
Berlalu
66
Menumpahkan Rasa Rindu
67
Ada Yang Salahkah
68
Pulang
69
Diusir
70
Menyesal
71
Ragu
72
Pengganggu
73
Cabut Mas
74
Mual
75
Morning sickness
76
Demi Cucu
77
Nasi Goreng Spesial
78
Opor Ayam Jago
79
Di Sengat Lebah
80
Malam Mingguan
81
Dia
82
Emosi
83
Ngutang
84
Lagi
85
Mengenang Masa lalu
86
Kontraksi
87
Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!