Yasmin, tengah duduk lesu di teras rumah. Dia, tidak sabar melihat kondisi suaminya itu.
Yasmin, menyembunyikan jati diri orangtuanya. Yang memiliki beberapa hektar sebidang tanah dan kebun sawit.
Rumah kumuh itu, hanyalah sementara waktu Yasmin dan suaminya tinggal di sana. Karena rumah baru,belum selesai.
Keluarga suaminya, seringkali mengatai keluarganya miskin tak memiliki apapun. Namun, mereka salah menerka.
Ada untungnya, Yasmin menyembunyikan apa saja yang di miliki orangtuanya. Ternyata, keluarga suami memang suka memanfaatkan kebaikan menantu dan anak-anaknya.
Begitu juga pak Jamal, memerintahkan kepada Yasmin. Jangan pernah mengumbar atau memberitahu apa saja yang di miliki orangtuanya. Biarkanlah, mereka mengatai apapun.
Yasmin,hanya mengangguk dan patuh. Karena harta orangtuanya,bukan miliknya. Untuk apa,dia mengumbar dan menyombongkan diri.
Sejauh ini, Yasmin merenungkan rumah tangganya. Apa lagi, sifat suaminya selalu membuatnya sakit kepala dan sakit hati.
Di kira Faris, Yasmin belum ada menghubungi orangtuanya masalah sertifikat rumah. Nyatanya, Yasmin lebih dulu memberitahu kepada orangtuanya.
Perumahan yang di berikan oleh ayahnya,memang sudah lunas. Yasmin dan keluarganya,hanya akal-akalan saja. Agar sertifikat rumah itu,tetap aman dan Faris tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Anggap saja, memberikan pelajaran.
"Dek". Faris, memanggil Yasmin dan membuyarkan lamunannya.
"Mas, akhirnya kamu pulang. Aku,takut mas. Rumah kita,hiks....Hiks...". Yasmin, memeluk suaminya baru datang. Hari mulai senja,baru saja Faris dan Hamid sampai.
Mata Hamid, tertuju pada dua tas besar di teras. Lalu,mengusap wajahnya dengan kasar.
"Mau tinggal dimana,kalian? Gak mungkin,di rumah ibu". Tanya Hamid, sedangkan di rumah sudah banyak orang dan sumpek.
"Apa yang Abang,ucap? Jelaslah,kami tinggal di rumah ibu. Lalu,kami kemana lagi? Kalau,cari kontrakan atau ngekos. Yah... Gimana kami, makan bang. Belum lagi, memberi ibu". Faris,menduga bahwa kakaknya tidak mengijinkan mereka tinggal di rumah ibu.
"Jangan Faris,di rumah orangnya banyak. Belum lagi,mbakmu dan suaminya. Belum lagi,ibu dan amukan Hana". Hamid ,harus mencari alasan kuat agar Faris dan istrinya tidak menginap di rumah ibunya.
"Bang, gimana ? Kita gak,punya apa-apa lagi". Lirih Yasmin,menangis kesegukan.
"Ayo, kita kerumah ibu. Setidaknya,kita menginap di sana untuk beberapa hari lagi". Kata Faris, memasukkan tas ke mobil. "Selepasnya,kita pikirkan kedepannya gimana".
Terpaksalah, Hamid membawa mereka berdua. Entah apa yang terjadi, nantinya.
"Dek,kenapa kamu bilang ke orangtuamu tentang kami menggadaikan sertifikat rumah itu? Aku, benar-benar kecewa kepada mu". Kata Faris, menatap tajam ke arah istrinya. "Malu dek, bahkan orangtuamu memberikan sertifikat kepada pihak perumahan. Sekarang bagaimana lagi? Semuanya,jadi berantakan". Faris, meluapkan amarahmya.
"Gara-gara kamu, Yasmin. Uang 20 juta,raib begitu saja. Kamu tahu,uang 20 juta darimana,ha?". Bentak Hamid,sedari tadi geram kepada adik iparnya.
Yasmin,hanya menunduk dan menggelengkan kepalanya. "Ck,aku benar-benar geram kepada istri mu Faris. Miskin,sok belagu lagi. Uang 20 juta,dari mahar Hana. Sekarang,kalian berdua berhutang kepada Hana. Siap-siap saja, mendapatkan amukan Hana. Terutama kamu, Yasmin". Bentak Hamid, mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa sih,yang kamu pikirkan Yasmin? Gara-gara kamu, semuanya jadi berantakan dan masalah besar. Heran sekali aku, selalu saja membuatku emosi". Faris,tak kalah geramnya kepada Yasmin. Tak segan-segan, Faris mendorong kepala Yasmin.
"Cukup mas, sampai kapan aku terus mengalah dan mendapatkan caci makian dari keluarga mu ha! Apa kamu tidak dengar, keluarga mu terus saja mengatai miskin terhadap kedua orangtuaku. Dimana pembelaan mu,mas". Ucap Yasmin, dengan keras. "Mereka cuman, memanfaatkan kebaikan mu saja. Nanti di saat kamu meminta bantuan,ck mana mau mereka".
Plakkk ...
Wajah Yasmin,di tampar oleh suaminya sendiri. "Mas,kamu....". Sorotan mata Yasmin, menatap tajam. Air matanya,tak membuat hati sang suami iba. Terimakasih,mas. Kamu sudah menampar wajahku,akan aku ingat kesalahan mu ini. Sekarang aku, berniat untuk melepaskan dirimu. Kamu, tidak pantas jadi suamiku mas. Sudah cukup,selama ini aku bertahan dengan keegoisan mu
"Kamu pantas, mendapatkan tamparan Yasmin". Hamid, tersenyum smrik. Dia,malah senang jika adiknya menampar sang istri. "Jadi suami,harus tegas Faris".
Dada Faris turun naik dan memalingkan wajahnya ke arah lain. "Turuti perkataan ku, Yasmin. Jika tidak, siap-siap saja aku lempar ke jalanan". Maafkan aku, Yasmin. Aku,hanya memberikan kamu sedikit pelajaran.
Sesampai di halaman rumah, orangtuanya Faris. Terlihat di teras rumah, sudah banyak menyambut kedatangan mereka. Yasmin, benar-benar muak melihat wajah yang sok kaya raya.
Yasmin, lebih dulu keluar dari mobil dan membawa tas miliknya. Dia,menjauh dari halaman rumah mertuanya itu.
Melihat sang istri pergi,Faris langsung menghentikan langkah Yasmin. "Yasmin,kamu kemana ha? Jangan ngelunjak, Yasmin. Gara-gara,aku menampar mu ha! Jadi,kamu sok kabur-kaburan begitu. Dasar kekanak-kanakan, lupakan Yasmin".
Yasmin, menghempaskan tangan suaminya. "Jangan sentuh aku,mas! Aku, tidak sudi di sentuh oleh pria yang sudah menyakiti ku. Cukup, mas! Cukup! Kamu, sudah menyakiti perasaan ku dan batinku. puaskan,mas! Kamu, sudah menampar wajah ku ini". Teriak Yasmin, dengan kerasnya.
"Yasmin, hentikan jangan membuat malu. Ayo, kita masuk ke dalam. kita selesaikan semaunya, baik-baik. Oke,aku minta maaf Yasmin. Aku,mohon sayang. Aku, benar-benar hilaf". Kini Faris,mulai melemahkan suaranya.
Yasmin,menghela nafas dan mengangguk. Faris, mengajak Yasmin ke dalam rumah ibunya. Namun, tatapan mata mereka tertuju pada Yasmin. Seakan-akan, tidak menyukai kedatangan mereka.
"Dasar,bikin malu aja". Gerutu Indah,mencibik bibirnya.
"Ck, ngapain kelian ke sin? Mana bawa tas,lagi". Tanya bu Yahya, langsung.
"Bu,kita masuk kedalam dulu. Malu,di lihat orang". Pinta Faris,membawa istrinya ke ruang tamu.
Sedangkan Hamid, memilih membungkam mulutnya. Tak mampu, menjawab pertanyaan mereka. Apakah sertifikat rumah dapat,atau tidak. Nyatanya, lebih parah lagi. Hamid,yang sakit kepala dari tadi dan bersiap untuk mengahadapi amukan mereka.
"Sebenarnya, rumah kami di sita bu. Karena bapaknya Yasmin, tidak mau mampu membayar bulanannya. Bahkan, sudah menunggak 3 bulan". Kata Faris, menunduk.
"Apa....???". Semuanya, terkejut mendengar perkataan Faris. Bu Yahya,syok berat. Sedangkan Yasmin, menunggu dan ada senyuman kecil di sudut bibirnya.
"Jadi,kalian mau numpang tinggal di sini? Oh, tidak...". Gerutu Indah, mondar-mandir.
"Yang benar aja,bang Faris. Lihatlah, orangnya di rumah ini banyak. Mau menambah lagi, astaga....Tambah sumpek, bang". Sambung Hana,sejak dulu tidak menyukai kakak iparnya itu.
"Sudah aku katakan, Faris, Yasmin. Kalian cari kontrakan atau ngekos saja". Sahut Hamid, langsung.
Gabriel dan Sinta,hanya diam dalam perseteruan antara keluarga ini. "Sin,kamu tahan lama-lama tinggal di sini? Aku, sudah gak betah". bisik Gabriel,kepada Sinta.
"Ck,sama Gabriel. Aku, sebenernya ogah sekali. Mau gimana lagi,usaha mas Hamid bangkrut". Jawab Sinta, melirik adik iparnya lumayan tampan dari suaminya itu.
"Bangkrut? Bukankah,dia mengatakan mau du unjung tanduk". Gabriel, mengerutkan keningnya.
"Dia, berbohong kepada semua orang. Agar orang lain, tidak merendahkan dirinya". Kata Sinta, tersenyum kecil.
Yasmin,hanya diam dan menundukkan kepalanya. Biarkan sang suami, berbicara dulu. Mendengarkan, bagaimana mereka mengusir yang kedua kalinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Cahaya Hayati
yg miskin itu keluarga mu Paris miskin harta miskin akhlaq,😃😃😃😃
2023-06-09
1
blecky
yg miskin sbnerx klwrga Faris bkn klwrga yasmin
2023-03-21
1