Faris dan Hamid,merasa lega dan tersenyum sumringah.
Pak Jamal, Kembali duduk di hadapan mereka berdua lagi.
"Alhamdulillah, berkat nak Faris. Hutang berbulan-bulan, akhirnya lunas. Jadi,ibu dan bapak tidak kepikiran lagi. Maklum,kami seadanya saja. Seperti yang orang liat,". Sindir bu Aminah, tersenyum kecil.
Faris dan Hamid,saling melirik. Mereka berdua,mencerna ucapan bu Aminah.
"Alhamdulillah, selesai sudah masalah kita dengan pak Rahmat bu. Di minum nak, Hamid,nak Faris". Ucap pak Jamal, langsung di angguki oleh mereka.
"Iya,pak. Jadi, apakah Faris boleh mengambil sertifikat rumah kami". Pinta Faris, tersenyum.
Bu Aminah dan pak Jamal,saling pandang dan hening seketika.
Pak Jamal, menghela nafas beratnya. "Nak Faris, sebenarnya bapak minta maaf kepada kalian". Pak Jamal, sengaja memotong pembicaraannya.
Hamid dan Faris, merasakan sesuatu yang tidak beres. Ketakutan dan kegugupan, sudah menjalar ke seluruh tubuh mereka.
"Minta maaf? Minta maaf,apa pak". Tanya Faris,yang penasaran. Begitu juga, Hamid.
"Nak Faris,rumah yang kalian tepati itu. Maaf, bapak tidak sanggup membayar bulanannya. Bahkan, sudah menunggak pembayaran selama 3 bulan. Kamukan tau, keluarga kami tidak sekaya keluarga mu". Pak Jamal, berubah ekspresi wajah jadi sendu.
"Bisa jadi,kalian akan di usir dari rumah itu. Ibu dan bapak, menunggu kedatangan kalian. Untuk melanjutkan bayaran, cicilan perbulan rumah yang kalian tepati. Maksudnya,kami lepas tangan nak. Hanya kalian, yang mampu membayarnya". Lanjut bu Aminah, membuat Faris syok berat mendengarnya.
"Loh,gak bisa gitu dong pak,bu. Bukankah,kalian yang memberikan rumah itu kepada Yasmin. Jadi, Faris dan Yasmin lepas tangan". Sahut Hamid,yang sudah terbawa emosi.
"Iya,pak. Kok jadi seperti ini, masalahnya semakin besar. Lalu,mana sertifikat rumah kami? Berikan, kepada kami pak". Pinta Faris, sedikit membentak.
"Maaf, sertifikat rumahnya sudah di ambil. Pihak perumahan, katanya untuk jaminan". Jawab pak Jamal, sekarang Faris bertambah syok berat.
Tubuh Faris ,lemas dan bersandar pada dinding.Dering ponselnya, berbunyi lumayan keras.
Tertera nama Yasmin,di layar ponselnya.
"Ada apa, Yasmin? Jangan aneh-aneh,kalau gak penting". Ucap Faris, pikirannya berkecamuk kemana-mana.
(Mas,kamu dimana? Pulang ya,aku takut mas. Ada dua orang pria, bertubuh besar. Katanya,kita di usir dari rumah ini. Sudah 3 bulan, rumah belum di bayar bapak. Bagaimana,mas? Kita tinggal dimana, cepat pulang). Ucap Yasmin,di seberang telpon sana.
"Nak Yasmin,ibu kangen nduk". Bu Aminah, bersuara cukup keras.
Hamid dan Faris, bertambah gelisah gusar jadinya.
(Ibu! Mas,kamu dimana? Itu,suara ibukan. Oh,kamu tega yah mas. Apa jangan-jangan,mau ngambil sertifikat rumah ha? Gila,kamu mas. Demi keluarga mu, ingin menggadaikan...)
Tut....Tut...
Faris, terkejut karena telponnya terputus. Fiuuhhh... Apakah,pulsa Yasmin habis? Baguslah, bisa gawat nantinya. Batin Faris, sudah pucat pias.
Tatapan pak Jamal,memang sulit di artikan. Hamid,bergidik ngeri melihatnya.
"Loh,kenapa mati telponnya? Aduhh... Padahal, Yasmin belum sempat selesai berbicaranya". Gerutu bu Aminah,nampak kecewa.
"Kemungkinan, Yasmin habis Pulsa bu". jawab Faris, memijit pelipisnya. Kepalanya sudah nyut-nyutan, memikirkan bagaimana menyelesaikan masalah ini.
"Menggadaikan? Maksudnya Yasmin,apa? Bapak, tidak paham Faris". Paka Jamal, meminta penjelasan dari menantunya.
"Maksudnya, teman Yasmin mau menggadaikan ruko pak". Sahut Hamid, langsung.
"Oh, kirain apa tadi". Pak Jamal, manggut-manggut langsung mempercayai ucapan Hamid.
Faris, menghela nafas lega. Dia, tidak bisa berbuat apa-apa. Ketakutannya, semakin menjadi-jadi. Tangannya, sudah gemeteran sejak tadi.
"Pak Jamal,begini. Bagaimana,uang tadi di kembalikan lagi. Toh, sertifikat rumah Faris dan Yasmin tidak ada". Hamid, langsung memikirkan sesuatu. Sudah hilang sertifikat rumah,mana mungkin kehilangan uang 20 juta. Bagaimana nanti, adiknya pasti mengamuk-ngamuk.
"Iya,pak. Uang 20 juta, untuk menebus sertifikat rumah kami. Jika tidak ada sertifikat rumah, kembalikan uangnya lagi". Pinta Faris,juga. Bisa gawat,jika uang ikut-ikutan hilang. Namun, hasilnya nihil.
Pak Jamal, mengerutkan keningnya. "Loh,kenapa di kembalikan? Bukankah,itu uang jadi milikku. Karena kamu, sudah membayar hutang. Mana boleh,bayar hutang terus minta di kembalikan uangnya lagi".
"Bukankah kalian berdua, melihat sendiri. Uangnya sudah di ambil oleh pak Rahmat, untuk melunasi hutang mu Faris. Uang segitu kecilkan,bagi keluarga mu. Biasanya,kamu dan ibumu sok membanggakan kekayaan kalian. Kok jadi,mengungkit uang tadi. Kalian tidak ada haknya, lagi". Sambung bu Aminah, tatapan sinis.
"Bagaimana,bang? Aku, bingung". Lirih pelan Faris, bagaimana dia menghadapi sikap ibunya nanti.
"Aku,gak tau. Hadapilah amarah,ibu dan Hana". Kata Hamid, tersenyum smrik.
"Bang, tolonglah aku bang. Bukankah,aku selama ini sudah membantu juga". Faris, semakin frustasi karena memikirkan uangnya.
"Pak,aku mohon. Kembalikan uang itu, kepada kami. Sebenarnya,itu uang mahar adikku pak". Pinta Faris, memohon.
"Aduhhhh...Aku,gak mau tau Faris. Minta saja,kamu kepada pak Rahmat. Pasti kamu bakalan,di hina orang-orang sini. Uang untuk membayar hutang,minta di kembalikan lagi. Jangan membuat malu,apa lagi merendahkan harga diri". Kata pak Jamal, menatap tajam ke arah menantunya itu.
"Bang,gimana? Aku, benar-benar pusing". Bisik Faris, keringat bercucuran di kening. Telapak tangannya, sudah basah oleh keringat.
"Pak Jamal, pahami keadaan kami. Tolonglah, kembalikan uang tadi". Kata Hamid, meminta iba kepada pak Jamal.
Kini pak Jamal, beranjak berdiri. "Jika menginginkan uang itu,ambil sendiri dari pak Rahmat. Biasanya, beliau nongkrong di warung sana".
Pak Jamal,yakin sekali. Mana mungkin, mereka mau. Apa lagi di sana, banyak orang melihat. Jika mereka benar-benar nekat, pastilah harus tebal menahan malu. Apa lagi pak Rahmat,tak segan-segan memarahi orang yang tidak tahu diri.
"Sebenarnya,kami ingin menyusul kalian ke sana. Lalu, menyerahkan sertifikat rumah itu. Karena kami, tidak sanggup membayar bulanannya. Tapi,saat Yasmin memberitahu semuanya. Bahwa kamu dan keluargamu, ingin mengadaikan rumah itu. Demi kepentingan pribadi kalian, tetapi menyakiti perasaan anakku". Bu Aminah, langsung membungkam mulut mereka.
Faria, mematung seketika. Rupanya, Yasmin lebih dulu memberitahu soal rencananya ini.
"Yah,karena niat kalian buruk kepada Yasmin. Aku, serahkan sertifikat rumah itu yang berhak. Yasmin, sudah mengetahui semuanya. Jika rumah itu,bukan miliknya lagi. Cukup sampai di sini,kami membantu kalian. Sedangkan keluargamu,yang kaya raya itu. Mana ada, secuil membantu kalian Faris" sambung pak Jamal, mampu membuat Hamid terdiam.
"Faris, seharusnya kamu berpikir panjang nak. Dulu,di saat kalian dalam terpuruk. Dimana, keluarga yang kamu bela itu? Kami, mengetahui semuanya. Saat kamu dan Yasmin,di usir dari rumah ibumu. Aku ingin menyusul kalian, tetapi suamiku yang menahannya". Kata bu Aminah, memendam rasa sakit di hatinya. Ketika anaknya, di perlakukan seperti itu.
Pak Jamal dan istrinya,tak segan-segan mengeluarkan unek-unek yang di pendam salama ini. Tibalah pak Jamal, mengusir mereka pulang.
Tentunya harga diri Hamid,di injak-injak karena di usir seperti itu.
Faris dan Hamid, pulang dengan tangan kosong melompong. Mereka berdua, saling diam tanpa berbicara satu sama lain.
Faris,mencerna perkataan kedua mertuanya itu. Dia,harus bersikap baik kepada Yasmin. Jika tidak mau, kehilangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments