Jalan satu-satunya adalah, menggadaikan sertifikat rumah yang mereka tempati.
"Tidak,aku tidak setuju menggadaikan sertifikat rumah ini. Mau tinggal dimana kita? Jika kita, tidak mampu membayarnya". Bantah bu Yahya,dia geram dengan menantunya yang memberikan ide yang tak masuk akal.
"Bang, Mbak. Apa kalian tidak merasa kasian kepada,ibu. Bagaimana,jika jual saja mobil kalian". Kata Faris, mencari ide lainnya.
"Enak saja,main jual barang orang". Bantah Gabriel, langsung.
"Gak, aku gak setuju. Jika mobil kami di jual, apa kata teman-teman nantinya. Jika kami, tidak memiliki mobil". Sahut Sinta, tidak mau.
"Ayolah,bu. Apa ibu,tega sekali kepadaku. Jika mas Gabriel, meninggalkan ku dan anak ini. Ayolah bu, serahkan sertifikat rumah ini". Indah, memohon kepada ibunya.
"Tenanglah bu,kami akan membayar cicilan perbulannya. Ayolah bu,demi anak-anak ibu. Nantinya,ibu juga enaknya". Hamid,juga ikut membujuk ibunya. Jangan harap,aku mengeluarkan uang untuk membayar bulanannya. Toh,ada Faris dan lainnya.
"Ibu,tega melihat ku dan di permalukan. Di saat aku,gagal melaksanakan resepsi pernikahan. Hiks...Hiks...". Isak tangisnya, Hana.
"Tapi..... Baiklah, asalkan kalian berjanji untuk membayar cicilannya nanti ". Akhirnya bu Yahya,mengalah dan menuruti kemauan anaknya.
Faris, merasakan sesuatu yang tidak enak. Apa lagi, tatapan mata dari kakaknya.
Mereka semua, sudah bisa tertawa dan menghela nafas lega.
"Alhamdulillah,aku minta bagian juga". Kata Faris, wajahnya berbinar seketika.
"Enak saja,kamu sudah melenyapkan uang Hana. Itu jatahmu,". Sahut Hamid, langsung.
"Iya, ibu sudah kecewa dengan mu Faris. Kamu boleh tinggal di sini, tapi di kamar belakang". Kata sahut sang ibunya.
"Jangan pernah,kamu mencicipi masakan di dapur. Kalau mau,beli sendiri bahannya. Kamu boleh,minum air putih saja". Sambung Indah, tersenyum kecil.
"Tapi,bu...".
"Alahhh...Gak ada tapi-tapian, lebih baik kamu nyusul istrimu yang tidak berguna itu. Bikin malu,bikin emosi juga". Bentak bu Yahya, langsung beranjak pergi
Faris, lagi-lagi gagal membuat keluarganya bangga kepada dirinya sendiri.
"Ingat itu, Faris. Jangan pernah, mencicipi masakan di dapur". Ucap indah,lagi dan di angguki Faris.
Faris, beranjak berdiri dan ke arah belakang. Kepalanya sakit dan ingin beristirahat sejenak. Tiba di kamar belakang,dia langsung emosi. melihat kamar belakang, nyatanya seperti gudang. Di penuhi perabotan,yang tak layak di pakai.
"Kenapa,diam? Cepat sana bersihkan,kamu memang pantas tidur di situ". Kata indah, tersenyum smrik.
"Tapi, Mbak.... Tidak ada kasur dan lainnya. Hanya saja,ada perabotan yang tidak layak". Kata Faris, mengerut keningnya.
"Alahhhh...Jangan sok belagu, Faris. Masih untung,kamu dapat tempat tinggal. Daripada jadi gelandangan, di jalanan". Sahut Hamid,juga.
"Baiklah,aku pergi dari rumah ini. Tapi,jika ada sesuatu lagi nantinya. Jangan harap,aku membantu kalian. Sudah cukup, menghancurkan rumah tangga ku. Terutama ibu,yang sudah menyakiti hati ku". Tegas Faris, menatap tajam ke ibunya.
"Ck,sana pergi. Kami, tidak membutuhkan dirimu lagi. Yang ada bertambah rugi, gara-gara idemu. Uang 20 juta, hilang. Seharusnya,kami tidak mempercayai ucapan mu itu". Indah,tak segan-segan mengusir adiknya itu.
"Pergilah, Faris. Jangan jadi benalu di rumah ini,nyesal kami baik-baikin kamu. Nyatanya, tidak ada apa-apa". Bu Yahya,juga ikut-ikutan mengusir anaknya.
"Bang Faris,jika penampilan abang jelek begitu. Lebih baik,jangan datang di acara resepsi pernikahan ku". Kata Hana, mampu menaruh luka di hati Faris. Adik yang selalu dia sayang, bahkan tega berucap seperti itu.
Faris, tertunduk lesu dan keluar dari rumah. Dia, benar-benar sangat menyesal karena menyakiti hati istrinya. Satu-satunya tujuan,mencari dimana Yasmin? Akankah dia, berhasil mendapatkan istrinya lagi.
"Besok saja,aku langsung ke sekolah. Yasmin,pasti mengajar. Hari ini,aku numpang dulu di tempat teman". Lirih Faris, terus berjalan.
Maafkan aku, Yasmin. Yang tidak mempercayai ucapan mu, mereka hanya memanfaatkan kebaikan ku saja. Setelahnya, mereka mengusir ku begitu saja. Ibu,kenapa kamu berbeda dan pilih kasih. Apakah,aku anakmu atau tidak. Batin Faris,sejal dulu dia selalu di abaikan dan tak di perhatikan oleh ibunya.
Sedangkan Yasmin,dia menuju ke Atm. rupanya,ada uang masuk senilai 10 juta. Yang di kirim oleh orangtuanya, Yasmin mengambil beberapa lembar uangnya.
Lalu, melanjutkan perjalanan ke rumah temannya. Dia, sengaja menitipkan motornya di sana. Takutnya,sang suami semakin menggila untuk di jual.
"Yasmin, masuklah. Ya ampun,kamu berantakan sekali". Kata Aina,teman seperguruannya.
"Yah,habis berperang Na. Gerah aku,mau mandi. Gak papa nih,aku tidur di rumahmu". Tanya Yasmin,yang merasa tak nyaman dengan temannya.
"Astaga,gak papa Yasmin. Aku sendiri juga, selamanya di sini juga gak papa". Kekehnya Aina, tersenyum.
Yasmin, bersikukuh menolak ajakan temannya. Untuk tinggal bersama,di rumah Aina. Karena Yasmin, sudah dapt ijin untuk menepati rumah kosong di sekolah. Awalnya, pihak sekolah menyediakan beberapa tempat tinggal para guru juga.
********
Bu Yahya dan anak-anaknya, tersenyum merekah. Melihat setumpuk uang, banyak.
Uang hasil gadaian sertifikat rumah, berjumlah 300 juta. Yang akan di cicil, perbulannya dalam jangka waktu 1 tahun. Jika tidak di lunasi,maka rumah akan di sita.
"Bu,bagianku 100 juta. Untuk menebus rumah kami 50 juta lebih, sisanya untuk modal usaha kami". Kata Hamid, langsung.
"Sama bu,kami 100 juta untuk menebus rumah dan usaha mas Gabriel". Indah,juga ikutan.
"Jadi, sisanya untuk resepsi pernikahan bun cukup kok,100 juta untuk resepsi pernikahan ku". Kekehnya Hana, tersenyum.
"Loh, untuk ibu mana? Gak bisa,ibu gak setuju". Bantah bu Yahya, bisa-bisanya dia tidak mendapatkan bagian uang.
"Bu,pahami keadaan kami. Nantinya,ibu juga yang enak". Kata Indah,yang gelisah. Saat suaminya, menyenggol lengannya.
"Gak,ibu juga butuh uangnya. Begini saja, resepsi pernikahan 100 juta. Sisa 200 juta,kita bagi adil. Enak saja,apa lagi ini rumah ibu". Bu Yahya, tidak terima dengan perlakuan anaknya.
"Gak bisa,bu. Bagaimana dengan rumah dan usaha kami". Kata Gabriel, sebenernya dia sudah geram terhadap keluarga istrinya.
"Masing-masing 50 juta, untuk modal usaha kalian. Yah,gak papa kalian numpang dulu di rumah ibu. Lumayan, untuk di tabung uangnya dan bisa melunasi hutang di bank. Kalian mau,jadi anak durhaka. Masih untung, Faris tidak ada". Decak bu Yahya, menatap sinis ke arah menantunya. "Punya menantu gak ada gunanya, percuma keluarga kalian kaya raya. Saat seperti ini,mana membantu ha? Larinya,ke ibu juga".
"Jika ibu, tidak mau. Ya sudah,aku pamit Indah. Lebih baik,aku menyerah saja". Gabriel, memancing reaksi ibu mertuanya itu.
"Bu,aku mohon". pinta Indah, menangis kesegukan lagi.
Lagi-lagi menantunya bu Yahya, mengancamnya dan tidak bisa berkutik lagi. Mana mungkin,dia rela anaknya tidak memiliki suami. Bagaimana, kehidupan anak dan cucunya nanti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
blecky
gmna Faris u sja yg bodoh membuat itrindmi klwrga yg g mengapmu klwrga
2023-03-21
1