Tiga jam perjalanan, akhirnya Faris dan kakaknya. Sudah sampai di rumah orangtuanya, Yasmin. Mereka berdua, di sambut hangat oleh pak Jamal dan bu Aminah.
Faris,yang sudah haus sejak tadi. Dia, menghabiskan segelas air es. Ada beberapa cemilan, yang di sediakan oleh mertuanya. Beda sekali dengan, keluarganya itu. Setahun lebih, menikah dengan Yasmin. Baru 3x dia, berkunjung ke rumah mertuanya. Pernah tinggal satu minggu,namun Faris tidak sanggup. Karena tempatnya, sangat kumuh sampai sekarang masih tetap sama.
Sudah lama aku, tidak kesini. Aku kira,rumahnya sudah roboh. Tau-taunya,masih kokoh berdiri. Sanggup sekali, mereka tinggal di tempat kumuh ini. Batin Faris, melihat sekeliling. Begitu juga, Hamid. Dia, nampak tercengang melihat rumah mertua adiknya ini.
Apa benar, ini rumah orangtuanya Yasmin? Kok bisa? mampu membelikan sebuah rumah untuk anaknya. Bahkan Yasmin,juga bisa sekolah dan kuliah. Batin Hamid, merasakan hawa sejuk dan banyak pepohonan di depan rumah.
Banyak rumah orang-orang sekitar, bahkan terlihat mewah dan baru di samping rumah orangtuanya Yasmin. Di kira Hamid, itulah rumah mertua sang adik. Namun kenyataannya,dia salah menerka.
"Faris,kenapa Yasmin tidak ikut? Padahal ibu,kangen sama dia". Kata bu Aminah,duduk di samping suaminya.
Mereka duduk di lantai,hanya beralasan tikar. Tidak ada sofa,yang empuk.
"Yasmin,sibuk mengajar bu. Apa lagi, anak-anak tengah ulangan. Jadi, Yasmin tidak bisa meninggalkan mengajarnya". Alasan Faris,dia sudah menyusun rencana liciknya itu.
"Oh,lalu ada apa kamu ke sini? Tiba-tiba sekali,". Tanya pak Jamal, menatap tajam ke arah menantunya. Kumis tebal, meliuk ke atas.
Hamid,yang terkejut melihat pak Jamal. Seperti preman pasar saja. Pantesan aja, Yasmin yang bersikap barbar. Rupanya, dia keturunan ayahnya.
Waktu pernikahan Faris, Hamid pernah bertemu dengan pak Jamal. Namun,lupa seperti apa? Apa lagi sekarang,kumis pak Jamal semakin lebat dan meliuk ke atas.
"Serem sekali, bapak mertuamu". Bisik Hamid, bergidik ngeri. Namun Faris, tidak meladeni perkataan kakaknya.
"Begini pak, kedatangan Faris ke sini. Ingin melunasi hutang yang,20 juta dulu. Saat itu,bapak meminta sertifikat rumah kami dan sebagai jaminan". Ucap Faris, jantungnya berdegup kencang. Dia, sudah was-was berucap seperti itu.
Pak Jamal dan bu Aminah, saling pandang. Seakan-akan, memberikan kode.
"Oh, sertifikat rumah kalian. Tapi,tumben sekali mau melunasinya. Apa ada sesuatu,". Tanya pak Jamal, ingin mendengar jawaban dari menantunya itu.
"Gak papa,pak. Cuman, ingin melunasinya saja. Tidak enak juga,kami memiliki hutang kepada bapak". Jawab Faris, melirik ke arah kakaknya.
"Ini pak,uang 20 jutanya". Hamid, langsung mengeluarkan uang di dalam tas. Tetapi,dia terkejut melihat isi tasnya kosong melompong.
Glekkkk....
Mana uangnya? Tidak mungkin, hilang. Tidak, mungkin. Batin Hamid, menggeleng kepalanya.
"Nak Hamid,ada apa?". Tanya bu Aminah, merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Bang,ada apa? Mana uangnya, cepat berikan". Pinta Faris, menyenggol lengan kakaknya.
"U-uangnya tidak ada, Faris". Kata Hamid, keringat membasahi keningnya.
Sontak membuat Faris tercengang dan langsung merampas tas kakaknya. "Tidak,ini tidak mungkin. Pasti Abang kan,yang menyimpannya. Bukankah uang itu,ad di dalam tas Abang". Faris, sudah terselimuti oleh emosi.
"Abang, tidak menyimpan uangnya. Sumpah,demi Tuhan. Abang, tidak tahu kemana uangnya? Percayalah,kepadaku". Hamid, membantah atas tuduhan adiknya.
"Aaaargghhh... Bagaimana ini,bang". Faris, sudah frustasi jadinya.
"Sabar, nak. Jangan terbawa emosi, dulu". Pinta bu Aminah,merasa kasian kepada menantunya.
"Apakah,kamu meminjam uang kepada Abang mu untuk membayar hutang mu Faris?". Tanya Jamal, mengerutkan keningnya.
"I-iya,pak. Sebenarnya, Faris merasa tidak nyaman dengan bapak. Hutang kami berdua, sudah lama tidak di lunasi. Jadi, Faris dan Yasmin sepakat untuk meminjam uang kepada Abang Hamid. Nantinya, kami akan bayar secara menyicil. Insyallah bakalan,lunas kok". Jawab Faris, menundukkan kepalanya. Karena dia,takut akting ketahuan.
"Astagfirullah,nak Faris. Seharusnya, kamu jangan memikirkan hutang itu. Iyakan,pak". Kata bu Aminah, melirik ke arah suaminya.
"Hemmm... walaupun,kami membutuhkan uang. Kamu tau sendiri,kami ini miskin. Tidak seperti keluarga mu,kaya raya. Tapi....". Pak Jamal, menggantung ucapannya.
Sontak membuat Faris dan Hamid, gelisah gusar. Mereka berdua, tersinggung dengan perkataan pak Jamal.
"Pak,apa boleh Faris meminta sertifikat rumah itu". Kata Faris, sedikit ketakutan.
"Sertifikat rumah? Mana bisa, Faris. Toh, kalian belum melunasinya". Jawab pak Jamal, tersenyum smrik.
Ck, ternyata bapaknya Yasmin sangat perhitungan sekali kepada anaknya. Batin Hamid, berdecak kesal.
"Tapi,pak. Masa sama anak dan menantu, perhitungan sekali. Bukankah, bapak sudah memberikan rumah itu kepada Yasmin. Jadi hak kami,kan pak". Kata Faris, hampir saja meluapkan emosinya.
"Faris, pelankan suaramu". Bisik Hamid, dia greget terhadap adiknya. Jangan sampai,terbawa emosi.
"Bukan maksudku, perhitungan kepada kalian. Hutang tetap hutang, Faris. Tanpa bapak,mana mungkin kamu bebas dari penjara. Toh, keluarga kaya raya mu mana ada membantu sama sekali. Uang 20 juta,nominal yang banyak. Kami,yang miskin seperti ini. Uang segitu, sangat penting untuk kami". Kata pak Jamal,dia sengaja menyindir menantunya itu.
"Astaga,abang baru ingat. Uangnya ada,tapi di dalam mobil. Sebentar,aku ambilkan ". Hamid, terpaksa membongkar rencana mereka. Jika terus dibiarkan, takutnya bertambah besar masalahnya.
"Alhamdulillah,kalau ada". Kata bu Aminah, tersenyum.
"Maaf,pak,bu. Rupanya, Abang Faris kelupaan". Kekehnya Faris, tersenyum manis. Sial,gagal deh. Kiraku,bisa di bodohi dan mendapatkan sertifikat rumah dengan percuma. Akan tetapi,tetap nihil hasilnya.
Hamid,yang terburu-buru mengambil uang yang sengaja di simpannya di mobil. Berharap,pak tua itu bisa di bohongi. Nyatanya, tidak sama sekali. "Sialan,susah sekali di bodohi". Gerutu Hamid, dengan kesal.
Selesai mengambil uang,dia kembali masuk ke dalam rumah. Uang 20 juta, sudah ada di depan mata pak Jamal dan bu Aminah. Mereka berdua, tersenyum.
Namun Faris dan Hamid,menatap tak suka. Memang benar,orang kampung sangat suka dengan uang.
"Alhamdulillah, makasih Faris. Ibu,terima yah". Kata bu Aminah, mengambil uang 20 juta. karena suaminya, sudah selesai menghitung jumlah uang dan pas.
"Assalamualaikum,pak Jamal dan bu Aminah. Eeee...Ada tamu, rupanya". Seorang pria, tiba-tiba datang.
"Pak Rahmat, kebetulan sekali kamu datang". Pak Jamal, mengambil segepok uang 20 juta.
Sontak membuat Faris dan Hamid,saling pandang. Mereka,merasa suasana tidak nyaman.
"Wahhh...Mau bayar hutang,yah". Pak Rahmat, langsung masuk.
"Pak Rahmat, terimakasih atas bantuannya. Ini aku,bayar hutang 20 juta. Ini menantuku,yang dulu mendapatkan musibah. Faris, beliau inilah yang meminjam uang kepada bapak. Bapak,mana ada uang sebanyak itu. Akhirnya, lunas yah pak". Ucap pak Jamal, membuat Faris dan Hamid terheran-heran.
Hanya ada senyuman dan anggukan kepala. Mereka berdua, kebingungan harus berbuat apa-apa.
"Terimakasih,pak Jamal. Aku terima yah, dengan ikhlas. Maaf pak Jamal,aku buru-buru pamit pulang dulu". Pam Rahmat, langsung pamit begitu saja.
Kini Faris dan Hamid, merasa lega sekarang. Tidak sabar, mendapatkan sertifikat rumah itu dan pergi dari rumah kumuh ini. Biarlah uang 20 juta,melayang dalam sekejap. Namun di gantikan, dengan bertubi-tubi banyaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Cahaya Hayati
Jagan harap dapat sertifikat itu rumah Jasmin atas nama Jasmin lol
2023-06-09
1