"Siapa bilang? Aku pernah merasakan apa yang kamu rasakan." Lily tersenyum kecut seraya menatap datar Susy.
"Dulu aku pernah dihina dan dijauhi karena miskin." Lily teringat masa lalunya ketika masih hidup sebagai Iris.
Ya, Iris yang dulu juga memiliki masa lalu yang kelam. Dulu dia juga memiliki tubuh tambun seperti Lily. Namun, Iris hidup miskin dan serba kekurangan. Tidak seperti Lily yang hidup bergelimang harta penuh kemewahan.
Bedanya Iris memiliki seorang ibu yang sangat menyayanginya. Akan tetapi, ketika semua kesuksesan berhasil dia raih sang ibu berpulang. Ada sebuah penyesalan tersendiri bagi Iris, karena tidak memiliki banyak waktu luang ketika sang ibu masih hidup.
Lily menceritakan semua masa lalunya itu kepada Susy. Sontak perempuan itu semakin menangis meraung-raung. Detik itu juga, barulah Susy sadar dia tidak sendiri. Setiap orang memiliki cerita kelam dan penderitaannya masing-masing.
"Jadi, siapa orang yang memperlakukanmu seburuk itu?" tanya Lily.
Susy menunduk. Jemarinya saling meremas satu sama lain. Dadanya berdegup kencang ketika mendapat pertanyaan itu dari Lily.
Terdengar suara hela napas keluar dari bibir Lily. Dia menatap intens lawan bicaranya. Perempuan itu meraih jemari Susy dan mengusapnya lembut.
"Baiklah, jika kamu tidak ingin memberitahukannya kepadaku. Istirahatlah, aku tidak akan mengatakan hal ini kepada Kak Sara. Aku akan memberimu kesempatan sekali lagi. Jadi, aku harap kamu tidak mengecewakanku."
Lily beranjak dari bangku kemudian melangkah masuk ke mobil. Susy pun mengekor di belakangnya. Mereka hanya berdua di dalam mobil, karena Elijah dan Juno datang menggunakan mobil masing-masing.
Suasana hening menyelimuti mereka. Ketika sudah sampai di salon pun tidak ada perbincangan yang terjadi. Sampai akhirnya sesaat sebelum Lily keluar dari mobil, Susy mengungkapkan sebuah fakta mencengangkan.
"Kak Yuna," ucap Susy lirih hampir tak terdengar.
Mendengar nama salah seorang rivalnya disebut, sontak membuat Lily menoleh ke arah Susy. Susy tampak menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Dia adalah orang yang membantu biaya operasi ibuku. Tapi, dengan syarat mau menjadi mata-mata di salon Sara. Dia sengaja menawarkan bantuan bersyarat itu karena tahu aku bekerja di salon saingannya." Bahu Susy merosot dan kini dia menunduk dalam.
"Orang yang memiliki uang dan kekuasaan lebih, kenapa selalu menindas semua yang ada di bawahnya? Mereka menginjak kami kaum lemah demi bisa semakin naik ke puncak." Mata Susy mulai basah dan bahunya bergetar hebat.
"Tidak semua orang kaya atau berpangkat seperti itu. Tergantung kepribadian masing-masing. Sekarang semua pilihan ada di tanganmu. Kamu masih takut melawannya? Jika kamu tidak ingin lagi hidup di bawah bayangan Yuna, aku akan membantumu." Lily menatap Susy penuh keyakinan.
Setelah berbincang panjang lebar, akhirnya Susy membuat sebuah langkah besar. Dia mengundurkan diri dari salon Sara dan pindah ke daerah asal sang ibu. Lily juga memberikan modal kepada Susy untuk membuka salon di daerah tersebut.
Tiga hari kemudian, Lily kembali menjalankan rencananya. Kali ini dia bekerja dengan bantuan Amy. Hari itu Amy datang ke lokasi pengambilan film untuk menyaksikan proses syutingnya.
Ketika tiba saatnya Hari bermain peran, tiba-tiba Amy berteriak. Dia langsung berlari ke arah Hari seraya menatapnya tajam. Hari memutar bola mata karena kesal dengan sikap dari penulis asli novel yang sedang dia mainkan.
"Kamu terlalu kejam! Karakter Jasmin tidak seperti itu! Dia memang merencanakan balas dendam, tetapi bukan begitu caranya!" protes Amy seraya menunjuk wajah Hari kesal.
"Hei, kamu tahu apa tentang akting? Kamu hanya bisa menulis karakter. Urusan memerankan karakter itu, aku adalah ahlinya!" Hari menatap tajam ke arah Amy seraya melipat lengan.
"Sutradara Kang! Aku mau pemain utama wanita diganti! Aku mau semua diperankan oleh Mika! Aku merasa aktingnya jauh lebih bagus daripada kamu!"
Melihat cekcok antara Amy dan Hari, tentu saja membuat Boby mengusap wajah kasar. Dia terpaksa harus turun tangan untuk melerai dua wanita yang sedang berseteru itu.
"Hentikan!" teriak Boby ketika sudah berada satu langkah di dekat Amy dan Hari.
"TIDAK!" seru dua perempuan itu bersamaan.
Melihat keduanya menatap tak suka ke arah Boby, sontak membuat lelaki berusia 40 tahun itu menggaruk kepala. Dia tak menyangka, karisma serta ketegasannya selama ini tidak ada pengaruhnya bagi Amy dan Hari.
"Sutradara Kang, aku ingin pemain wanita diganti! Dia terlalu kejam ketika memerankan tokoh utama dalam novelku!" seru Amy seraya melirik kesal ke arah Hari.
"Begini, Amy. Ketika naskahmu sudah dibeli oleh produser, kamu tidak berhak ikut campur lagi. Mau ada perubahan apa pun yang terjadi dalam pembuatan novel, kamu sudah tidak berhak. Ibarat kata hak cipta atas novel tersebut sudah dibeli oleh rumah produksi. Kamu hanya tinggal duduk manis menikmati royalti yang nantinya akan kamu dapatkan dari penjualan tiket. Selebihnya biarkan tim kami yang bekerja." Boby berusaha menjelaskan bagaimana alur kerja rumah produksi ketika mengadaptasi sebuah novel.
"Ganti pemainnya, atau aku akan membatalkan kontrak ini!" ancam Amy.
Mendengar ancaman dari Amy tentu saja membuat Hari geram. Dia menarik lengan Amy dan sedikit memelintirnya. Perempuan itu pun meringis menahan sakit karena ulah aktris cantik tersebut.
"Tidak bisa! Kamu tidak bisa membatalkannya! Aku akan mengadukan semuanya pada Produser Han!" Hari mencoba mengancam balik Amy.
Boby yang khawatir Amy akan terluka akhirnya melerai mereka. Dia mengajak Amy ke sebuah ruangan yang ada di gedung tersebut. Lelaki itu berusaha meredam amarah Amy dan membicarakan semuanya baik-baik.
"Begini, Amy. Ketika sebuah kontrak untuk adaptasi novel sudah ditandatangani, artinya penulis sudah menyetujui kerja sama itu. Jika kamu tetap bersikukuh membatalkan kontrak, maka harus melalui jalur hukum. Bahkan kamu akan terancam pidana dan denda!" Boby mencoba memperingatkan Amy.
Namun, Amy seakan tuli. Dia tersenyum miring, kemudian terus maju mendekati Boby. Lelaki itu seakan tersihir oleh sorot mata Amy di balik kacamata.
Setiap Amy maju satu langkah, Boby akan mundur satu langkah. Hal itu tentu saja membuat semua kru melongo. Lelaki yang biasanya berkarisma itu, mendadak mati kutu ketika berhadapan dengan Amy yang berpenampilan cupu.
"Aku tidak mau dia memerankan Jasmin, TITIK!" Amy berkata seraya menekankan setiap suku kata dari kalimat yang keluar dari mulutnya.
Boby tampak menelan ludah kasar. Dia menatap sekeliling, kemudian berdeham beberapa kali. Lelaki itu tidak menyangka kalau harga dirinya hari itu jatuh di hadapan para kru.
"Kamu bilang saja langsung sama Produser Han! Semua keputusan ada di tangannya!" seru Boby dengan suara bergetar.
"Aku akan ke rumahnya sekarang juga!" Amy balik kanan, kemudian meninggalkan lokasi syuting.
"Apa yang kalian lihat? Ayo, ulangi lagi!" seru Boby seraya mengibaskan lengan seakan sedang mengusir pandangan kru lainnya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
maju mundur cantik dong yah jadinya....😂😂😂😂
2023-03-11
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Bagus Amy...👍👍👍👍
2023-03-11
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
kebanyakan memang spt itu tp tdk semua orang kaya spt itu...
2023-03-11
1