"Ha?" Lily terbelalak mendengar ancaman Lilac.
"Kamu kenapa cari masalah sama geng bandit itu? Astaga! Sudah aku bilang jangan dekat-dekat dengan Ed. Dia mungkin akan jadi calon kakak iparmu di masa yang akan datang. Tapi, kamu akan memiliki banyak musuh jika terus meladeni Ed!"
Lily masih terdiam. Dia berusaha untuk memahami keadaan. Perempuan itu mencoba mendalami apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan barunya itu.
"Aku bahkan tidak mengenal siapa itu Ed," ucap Lily lirih hampir tak terdengar.
Lilac yang mendengar ucapan lirih sang adik langsung mendaratkan modul kuliah ke atas kepala Lily. Lily pun meringis menahan sakit seraya mengusap puncak kepala yang terasa sedikit berdenyut.
"Sepertinya kepalamu mengalami cidera setelah pukulan mereka mendera kepalamu ini!"
"Dan kamu malah terus memukul kepalaku! Apa kamu mau membunuhku!" seru Lily.
Mendengar sang adik kembar melawan, membuat Lilac melongo. Si adik yang biasanya hanya diam dan tertunduk ketika dinasihati, tiba-tiba saja menjawab ucapannya.
"Hei, sepertinya pukulan mereka benar-benar membuat kepala serta kepribadianmu bermasalah!" Lilac melipat lengan di depan dada kemudian memelototi sang adik.
"Kenapa? Apa biasanya aku hanya diam ketika ditindas? Apa biasanya aku hanya menunduk ketika mendengar ocehanmu?" Lily kembali membuat sang kakak melongo.
Sontak Lilac mengangkat tangannya, hendak mendaratkan pukulannya ke atas kepala Lily. Jika biasanya nyali Lily mengkerut, kini perempuan itu malah menatap nyalang sang kakak. Lilac langsung menarik lengannya kemudian tertawa terbahak-bahak.
Ujung mata perempuan cantik itu sampai basah karena air mata. Perutnya terasa seperti sedang digelitik ketika melihat sang adik yang berubah 180 derajat. Setelah tawanya berhenti, Lilac mengacungkan kedua jempol ke depan wajah Lily.
"Bagus! Kenapa tidak dari dulu kamu melawan mereka? Coba jika selama ini aku tidak menjagamu! Kamu pasti akan depresi dan mencoba untuk melompat dari atas gedung!"
"Apa aku sepecundang itu?"
"Sudahlah, ayo turun. Aku obati lukamu di kamar. Jika sampai ibu tahu, kita bisa mati. Kamu saja sih lebih tepatnya! Aku kan outri kesayangan ibu" Lilac mendongak seraya melipat lengan.
Lilac pun meminta sang sopir untuk menurunkan mereka di halaman belakang. Mereka memutuskan untuk masuk rumah melalui pintu belakang. Keduanya mengendap-endap saat memasuki rumah mewah tiga lantai itu. Ketika sudah sampai di dekat tangga, tanpa sengaja Lily mentenggol guci kesayangan sang ibu.
Suara gaduh dari pecahan guci itu pun menggema di ruang keluarga. Lilac menepuk dahinya dan melayangkan tatapan tajam ke arah sang adik. Dia kembali menoyor kepala Lily sambil mengumpat tanpa mengeluarkan suara.
"Siapa itu?" Dari lantai satu tampak seorang perempuan paruh baya memakai gaun santai melipat lengan seraya menatap keduanya dengan tatapan tajam.
"I-ibu, itu ...." Lilac mencoba menjawab pertanyaan sang ibu dengan terbata-bata.
"Kamu kenapa lagi, Lily? Kamu buat masalah apa lagi di kampus?" tanya Safron sambil terus melangkah menuruni anak tangga.
"I-itu ... dia ...."
"Kamu diam saja, Lilac! Aku tidak bicara kepadamu!" seru Safron kepada sang putri.
Mendengar sang ibu mulai bicara dengan nada tinggi membuat Lilac tertunduk lesu. Perempuan itu menelan ludah kasar dan semakin menguatkan genggaman tangannya kepada Lily. Jantungnya berdegup begitu kencang seiring dengan langkah kaki sang ibu yang semakin mendekat.
"Lily, kamu masih punya mulut untuk bicara, bukan?" tanya Safron seraya memicingkan mata.
"Tadi aku dihajar oleh lima orang mahasiswi lain karena alasan tak masuk akal. Aku ...."
Belum sampai Lily menyelesaikan ucapan, tiba-tiba saja Safron menjambak rambutnya. Dia terus diseret ke arah sebuah pintu yang ada di dekat dapur. Ketika pintu terbuka, aroma kayu tua dan debu pun merasuki saluran pernapasan Lily.
Derit tangga kayu yang mulai lapuk terdengar begitu mengerikan. Lily bergidik ngeri melihat kondisi ruangan gelap itu. Dia takut lantai kayu yang dia pijak mendadak ambrol karena berat badannya yang diperkirakan mencapai 100 kilo itu.
Ketika sampai di sebuah pintu besi, Safron mendorong tubuh gemuk Lily. Gadis itu tersungkur di atas lantai dengan debu yang sangat tebal. Lily pun terbatuk-batuk karena debu-debu itu seakan menggelitik tenggorokannya.
"Kamu tetap di sini sampai besok lusa! Aku tidak akan memberikanmu makan! Kamu hanya boleh minum air saja! Renungkan kesalahanmu di sini!" seru Safron.
"I-Ibu, bukankah ini terlalu kejam? Apa Ibu lupa terakhir kali ketika menghukum Lily di sini?" Lilac melayangkan protes kepada sang ibu.
"Lily harus dilarikan ke rumah sakit karena pingsan! Dia paling tidak bisa terlambat makan! Lambungnya bermasalah sejak kecil!"
"Jika dia bermasalah dengan lambung, bukankah seharusnya dia akan menjadi lebih kurus? Tapi, kenapa dia terus bertambah 1 kilo setiap minggunya?" Safron tersenyum miring kemudian keluar dari ruang bawah tanah.
Lilac mendekati Lily yang kini memegangi jeruji besi yang membatasinya dengan dunia luar. Lily terlihat layaknya penjahat sekarang. Lilac menggenggam jemari sang adik sambil tersenyum lembut.
"Aku akan membawakanmu makanan tengah malam nanti. Kamu bisa menahannya sampai nanti, 'kan? Di laci meja ada kotak P3K bersihkan lukamu dan segera obati agar tidak infeksi, mengerti?"
Lily hanya mengangguk sekilas. Setelah itu, Lilac pun menyusul sang ibu yang masih berdiri di ujung tangga sambil menatap sinis mereka. Safron pun menutup pintu ruang bawah tanah dan menguncinya, lalu meninggalkan Lily sendirian di bawah sana.
Setelah pintu tertutup, suasana di dalam ruang bawah tanah semakin gelap. Lily meraba dinding untuk mencari sakelar lampu. Setelah menemukan sakelar, dia pun langsung menekannya.
Ruangan itu tampak temaram dengan cahaya dari lampu bohlam berwarna kuning. Di dalam ruangan kecil itu terdapat sebuah ranjang yang menurut Lily terlalu kecil untuk tubuh besarnya. Selain itu, ada sebuah meja belajar dengan beberapa tumpukan buku.
"Ibu yang kejam. Apa dia ibu tiri atau semacamnya?" Lily berdecap kesal kemudian menarik kursi di hadapannya.
Lily mulai melihat-lihat buku yang bertumpuk di sana satu per satu. Kebanyakan buku yang disediakan adalah buku-buku panduan diet dan cara bermake-up. Ketika membuka laci, Lily menemukan sebuah kotak make-up.
"Sepertinya dia dipaksa untuk mengubah penampilan. Jika dibandingkan kakaknya, gadis ini memang terlihat begitu menyedihkan." Lily menatap pantulan wajahnya dari cermin.
Tumpukan lemah bergelayut manja di bawah kulit pipi serta dagunya. Bibir tebal yang seksi itu tampak kering tak terawat. Belum lagi jerawat dan bekas-bekasnya yang menodai wajah Lily.
"Dia sebenarnya sangat cantik, tapi tidak pandai merawat diri. Kasihan sekali! Pasti gadis ini sangat stres dengan kondisi badan dan wajahnya yang tidak sesuai standar di lingkungan sosial." Lily tersenyum kecut.
Kini mata Lily tertuju pada sebuah buku catatan kecil yang ada di sudut laci. Dia pun meraih buku itu dan membukanya perlahan. Dari sana dia tahu bagaimana kehidupan sehari-hari Lily.
Setiap harinya Lily dihina oleh teman-temannya. Bahkan sang ibu juga selalu membandingkannya dengan Lilac yang memang terlihat sangat cantik dan anggun. Akan tetapi, Lily juga menuliskan bahwa ayah serta Lilac selalu melindunginya.
Lilac selalu menjaganya ketika dirundung oleh teman-teman kuliahnya. Sang ayah juga melindunginya ketika sang ibu menghukum Lily. Hati Iris tersentuh dengan kisah yang ditulis oleh Lily dalam buku hariannya itu.
"Menyedihkan sekali hidupnya. Hanya ada dua orang yang terus mendukungnya untuk tetap tegar menjalani hidup." Lily mengusap air mata yang kini menetes membasahi pipi.
Tiba-tiba rasa kantuk membuatnya tertidur dengan posisi terduduk. Lily kembali terbangun ketika mendengar suara pintu ruang bawah tanah terbuka. Siluet seorang lelaki bertubuh tegap mendekati jeruji besi sambil tersenyum lebar.
"Si-siapa kamu!" seru Lily dengan nada cemas.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Vivin Novriyanti
bujuk dah
2023-03-09
2
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
semoga kamu bisa mengubah kehidupan Lily...🙏
2023-03-08
1