Hari melangkah cepat menyusuri koridor kantor agensinya. Dia dipanggil oleh sang direktur karena video tak senonoh yang tersebar luas di dunia maya. Hari benar-benar tidak menyangka kariernya sekarang berada di ujung tanduk.
Hari merupakan artis pendatang baru yang terbilang cepat naik daun karena selalu mendapat peran utama sejak pertama kali debut. Dalam waktu singkat, dia mendapat banyak penghargaan karena semua film yang dibintangi sukses besar.
Ketika sampai di depan ruangan direktur Star Entertainment, langkah Hari berhenti. Dia menatap pintu yang masih tertutup penuh keraguan. Perempuan itu menarik napas panjang lalu mengembuskannya kasar.
"Paling hanya dapat peringatan! Yuk, semangat Hari!" Hari mengepalkan jemari lalu meninjukannya ke udara.
Hari langsung memutar tuas pintu dan masuk ke ruangan sang direktur. Dia melangkah mendekati meja kerja Direktur Jang lalu mendaratkan bokong ke atas kursi. Tatapan tajam sang direktur tidak serta merta membuat Hari tampak takut.
Nyali seorang Hari memang besar. Dia jelas-jelas melakukan kesalahan, tetapi tidak ada raut penyesalan di wajah cantiknya. Kini Direktur Jang menggebrak meja.
"Dasar perempuan murahan! Bisa-bisanya kamu melakukan hal itu! Nama agensi manajemen kita yang selama ini menaungi banyak bintang berkualitas jadi tercoreng!"
"Maaf, Direktur Jang. Aku menyesal." Hari menundukkan kepala sekali.
Namun, wajah perempuan itu sama sekali tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun. Hal itu tentu saja membuat David Jang semakin marah. Dia mengacak rambut frustrasi kemudian berteriak di depan wajah Hari.
"Kamu harus membayar kerugian ini! Aku tidak bisa membantumu untuk kasus memalukan ini! Mulai detik ini aku memutuskan kontrak denganmu! Kamu juga harus membayar ganti rugi karena sudah menimbulkan masalah besar untuk manajemen!" David menunjuk wajah Hari penuh emosi.
"Jika itu mau Anda, baiklah! Aku berhenti bekerja sama dengan agensi ini! Masih banyak kok agensi lain yang mau menerimaku!"
Hari keluar dari kantor itu dan melenggang santai. Meski ekspresi Hari tampak datar, sebenarnya hatinya tengah kacau. Hari sudah hancur karena pekerjaan yang menjadi impiannya sejak lama, sudah tidak lagi bisa dia lakukan. Sudah pasti dia akan diboikot karena skandal besar memalukan ini.
"Bagaimana ini? Bagaimana jika ibu tahu? Apa ibu sudah tahu tentang ini? Tapi kondisi ibu seperti itu. Seharusnya beliau tidak tahu, 'kan?"
Hari terus bermonolog seraya mengendarai mobil. Ketika sedang sibuk dengan pikirannya, perut Hari mulai terasa melilit. Sejak siang perempuan itu belum makan apa pun.
Akhirnya Hari menepikan mobil dan berhenti di depan restoran sederhana tempat sang ibu dulu mengajaknya makan setiap gajian. Hari turun dari mobil dan mulai melangkah masuk.
Pelayan langsung menghampirinya dan menyodorkan daftar menu makanan kepada Hari. Setelah memesan beberapa jenis makanan, Hari memainkan ponsel seraya menunggu pesanan datang.
"Bukankah dia Hari?" celetuk seseorang yang duduk di seberang meja Hari.
Sontak Hari menoleh ke arah sumber suara. Sebuah senyum tipis dia tunjukkan kepada gerombolan anak SMA yang sedang makan mi kuah hitam seraya menatapnya sinis. Gadis-gadis itu tidak membalas senyuman Hari.
Mereka justru tampak saling berbisik. Namun, ada seorang perempuan yang tiba-tiba mendekati Hari. Dia duduk bersama Hari dan tiba-tiba merebut botol air mineral yang ada di depan Hari.
"Ternyata artis terkenal seperti Kakak makan di tempat begini juga, ya?" tanya gadis itu dengan tatapan mengejek.
"Siapa namamu?"
"Mira Jung," jawab Mira seraya menunjukkan papan nama kecil yang menempel pada kemejanya.
"Mira, aku juga dulu sepertimu. Pemberani, optimis, dan pandai mengintimidasi orang lain."
Ya, Hari seperti melihat dirinya ada di dalam diri Mira. Penampilan keduanya sama ketika Hari masih SMA. Berambut pendek, tampak berani, dan suka mengintimidasi orang lain untuk menunjukkan kekuatan.
"Hah, sok tahu! Hei, Kakak Artis! Ternyata kamu masih memiliki muka, ya? Berjalan santai di luar rumah tanpa rasa malu setelah video vulgarmu tersebar di mana-mana?" Mira melipat lengan di depan dada sembari tersenyum miring.
"Memangnya kenapa? Semua sudah terjadi, untuk apa malu? Memangnya jika aku malu, akan mengubah keadaan? Tidak, 'kan?"
"Wah, benar-benar bermuka tebal! Bagaimana sih cara orang tuamu mendidik? Sampai-sampai ...." Belum sampai ucapan Mira selesai, sebuah tamparan mendarat mulus di pipi gadis itu.
Hari tampak menatapnya penuh amarah. Jemari perempuan itu mengepal kuat, menahan gejolak emosi yang menghantam dada. Sikap ramah yang biasa ditunjukkan Hari di muka umum kini tidak tampak lagi.
"Aku akan santai dan tetap diam jika kamu hanya menghinaku. Tapi, jangan pernah bawa-bawa orang tuaku! Mereka tidak salah!" seru Hari.
Perempuan itu langsung beranjak dari kursi. Dia menghampiri kasir dan meminta pesanannya dibungkus saja. Setelah membayar pesanan dia pun pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, wartawan sudah menunggu di depan pagar. Mereka semua ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kumpulan pemburu berita itu terus mengajukan pertanyaan tanpa henti.
Hari hanya melemparkan senyuman dan terus berjalan masuk menerobos gerombolan wartawan tersebut. Setelah berhasil masuk ke rumah, dia menyandarkan punggung pada daun pintu. Tubuhnya merosot dan Hari mulai menumpahkan kesedihannya.
"Sialan! Siapa orang yang telah menyebarkan semua itu! Dia harus bertanggungjawab! Karier impianku hancur seketika karena dia!" seru Hari di tengah isak tangis.
Ketika kembali ke rumah, Hari bisa melakukan apa pun yang dia mau. Meluapkan semua amarah serta kesedihan sepuasnya. Tekanan serta tuntutan dunia hiburan mengharuskannya memakai topeng setelah keluar dari rumah.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki mendekati Hari yang sedang meringkuk mengeluarkan tangis. Ketika Hari mendongak, sosok renta sang ibu yang berjalan membungkuk menatapnya panik. Perempuan berusia senja itu duduk berjongkok di depannya dan memegang erat lengan atas sang putri.
"Hari, apa anak-anak nakal itu mengejekmu lagi? Siapa namanya? Di mana mereka tinggal? Ibu akan mendatangi ibu mereka semua dan mengatakan bahwa anak mereka nakal!"
Nyonya Lee sudah menderita Alzheimer sejak dua tahun belakangan. Ingatannya berhenti ketika Hari masih SD. Hari sebenarnya hidup dalam keluarga sederhana dengan segala keterbatasan. Saat masih kecil, dia merupakan korban perundungan.
Dari pengalaman itu, justru membuat Hari meniru perbuatan teman-teman yang menindasnya ketika mulai masuk SMP. Hari beranggapan dengan menindas orang lain, maka dirinya akan jauh lebih ditakuti dan terlihat kuat.
"Hari, cepat katakan siapa orangnya! Ibu akan menemui mereka!" seru Nyonya Lee.
Hari tidak menjawab. Tangisnya semakin pecah ketika melihat kondisi sang ibu yang semakin memburuk. Obat-obatan serta terapi yang selama ini dia usahakan tidak berpengaruh banyak. Hari meraih tubuh sang ibu dan memeluknya erat.
"Maafkan aku, Ibu. Aku belum bisa menjadi putri yang baik!" seru Hari di antara tangis yang pecah.
Nyonya Lee tampak kebingungan. Namun, dia tidak bertanya banyak kepada sang putri. Perempuan itu hanya menepuk pelan punggung hingga putrinya itu tenang.
Setelah sedikit lebih tenang, Hari masuk ke kamarnya. Dia membuka akun sosial media dan membaca beberapa komen jahat para antifans. Bahkan beberapa penggemar yang dulu memuja dirinya, sekarang berbalik arah.
Mereka ikut menghujat Hari dengan memberikan komentar penuh ujaran kebencian. Semua itu membuat Hari sangat tertekan. Mata penuh air mata itu kini menatap layar ponsel dengan banyak komentar negatif tentang skandal yang menerpa Hari.
[Oh, jadi begini kelakuan artis yang sedang naik daun?]
[Pantas saja naiknya cepat, dia double job jadi gundik para produser dan sutradara.]
[Aku menyesal sudah pernah mengidolakan perempuan ****** seperti dia.]
"Bisakah semua ini berakhir jika aku mengakhirinya dengan jalan pintas?" Hari terus menatap layar ponsel yang kini menampilkan puluhan ribu komen jahat para netizen.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
tidak semua masalah dpt terselesaikan dengan jalan pintas Hari...
coba kamu renungkan dan perbaiki diri kamu sendiri ..
2023-03-12
1
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Harusnya para netizen jangan bermulut pedas ..
kalo mau menghina seseorang jangan bawa² orang tua kita...
pada hakikatnya tidak ada orang tua yg mendidik anak untuk jadi anak yg gak bener ..
semua orang tua pasti menginginkan anaknya jadi anak yg baik dalam segala hal ..
2023-03-12
2
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
. Awwww
2023-03-12
1