Hari itu Lily meminta izin untuk pulang lebih cepat. Sara pun mengizinkan karena pekerjaannya sudah selesai, dan pelanggan VVIP yang minta dilayani oleh Lily sudah tidak ada. Perempuan itu bergegas menemui Amy untuk melancarkan rencana selanjutnya.
Setelah sampai di rumah Ara, Lily langsung memberitahu Amy bahwa Editor Lee sudah menemui Ara. Mereka berencana untuk tetap menutupi bahwa penulis novel yang selama ini terbit atas nama Ara adalah hasil karya Amy. Lily pun sudah memprediksi bahwa Amy pasti akan terkena amuk, mengingat sifat labil dan emosi Ara yang meledak-ledak.
"Aku akan memanfaatkan momen ini untuk mengambil bukti terakhir. Apa pun yang terjadi, tolong tahan. Lima menit saja." Lily menggenggam jemari Amy untuk mendapatkan kepercayaan dari perempuan di hadapannya itu.
"Baik, aku akan menahannya. Lagi pula aku sudah biasa mendapatkan pukulan dan caci maki dari Ara." Amy tersenyum getir dengan mata tampak menyipit.
Tak lama berselang terdengar pintu pagar terbuka. Lily pun mengintip dari balik jendela ruang kerja Amy. Sesuai apa yang dikabarkan Jay, Ara sudah sampai di rumah itu.
Lily pun bergegas menuju kamar mandi. Dia membuka sedikit pintu kamar mandi dan menyalakan kamera ponselnya. Perempuan itu berencana merekam semua percakapan antara Amy dan Ara hari itu.
Begitu pintu ruang kerja terbuka, Amy sudah ada di meja kerja. Dalam hitungan menit, perempuan itu sudah kembali fokus dengan pekerjaannya. Ara tampak menatapnya kesal dan terus memaki Amy.
Lily tetap membiarkannya hingga akhirnya sebuah tindak kekerasan terjadi. Akibat perbuatan Ara, Amy mendapatkan luka pada dahinya. Lily yang sudah tidak sanggup melihat ulah Ara pun segera keliar dari kamar mandi.
"Aku rasa yang sampah itu bukanlah Amy. Sampah itu adalah kamu, Ara! Mendiang kedua orang tuamu pasti sekarang sedang menangis di atas sana karena merasa sangat menyesal memiliki anak sepertimu!"
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Ara dengan mata terbelalak.
Lily menghentikan rekaman video, lalu berjalan pelan menghampiri Ara. Dia menatap tajam perempuan di hadapannya itu. Aura mengerikan jelas terpancar dari sorot mata Lily, sehingga membuat nyali Ara menciut.
"Si-siapa kamu sebenarnya? Ka-kalian sengaja menjebakku agar masuk dalam situasi ini, bukan?" Suara Ara terdengar bergetar karena takut.
Lily terus menyudutkan Ara hingga tubuh ramping perempuan itu menempel pada dinding ruang kerja. Ada berulang kali menelan ludah kasar karena tatapan mata Lily yang sangat menakutkan. Lily mulai menyeringai seraya melipat lengan di depan dada.
"Aku dan Amy tidak menjebakmu! Kami hanya membantumu masuk ke dalam lubang yang sudah kamu gali sendiri sejak lama!"
"Apa maksudmu?"
"Memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lain bukanlah perbuatan yang terpuji, Ara. Apa aku perlu mengingatkanmu tentang ini?" Lily merogoh saku mantelnya kemudian mengeluarkan sebuah pencukur rambut elektrik dari sana.
Perempuan itu mulai menyalakan mesin tersebut dan mendekatkannya pada wajah Ara. Tubuh Ara gemetar. Dia memalingkan wajah serta menutup mata untuk menghindar dari mesin tersebut.
"Perkenalkan, aku The Ugly Lily! Lily yang sudah kamu tindas semasa kuliah dulu! Lily Kim yang rambutnya pernah kamu cukur habis 19 bulan silam!" seru Lily dengan mata memerah karena menahan amarah yang berkecamuk di dada.
"Ti-tidak mungkin! Ka-kalian pasti dua orang yang berbeda! Lily si jelek itu tidak akan berani melakukan hal ini kepadaku! A-atau kamu dibayar olehnya untuk melakukan hal ini kepadaku!" seru Ara dengan kalimat terbata-bata.
Lily mundur selangkah, lalu mematikan mesin pencukur rambutnya. Dia menyingkap rambut bagian depan sehingga kini tampak sebuah luka yang pernah dibuat oleh Ara dan teman-temannya. Ya, Ara pernah menggoreskan besi panas ke dahinya untuk membentuk kata babi.
Hal itu dilakukan sebelum Iris masuk ke dalam tubuh Lily. Dia mengetahui semua perbuatan buruk Ara dan teman-temannya dari buku harian yang pernah ditemukan di ruang bawah tanah. Dari sana Iris bisa mengetahui banyak hal tentang Lily.
"Jadi, apa menurutmu aku tega melukai kulit cantikku demi bayaran hanya untuk membalaskan sebuah dendam?"
Ara bungkam. Dia mulai yakin bahwa Lily yang ada di hadapannya adalah salah seorang korban penindasannya ketika kuliah dulu. Akan tetapi, Ara berusaha menepis semua rasa takutnya.
"Kamu kuberikan dua pilihan. Mengaku kepada publik bahwa semua hasil karya itu adalah milik Amy, atau pergi menjauh dari Seoul agar terhindar dari hujatan masyarakat. Kamu tahu 'kan bagaimana pedasnya mulut netizen?" Lily tersenyum miring kembali melipat lengan.
"Kamu pikir aku takut? Aku tidak akan pernah mundur! Aku akan membuatmu kehilangan pekerjaanmu di salon Sara!" teriak Ara frustrasi.
Perempuan itu langsung keluar dari ruang kerja Amy dan membanting pintu kasar. Lily pun segera berlari ke arah Amy yang masih terduduk di atas lantai dengan dahi berdarah. Dia langsung mengobati luka Amy dengan telaten. Setelah Lily selesai membersihkan luka dan memberi obat pada luka Amy, mereka pun berbincang sebentar.
"Apa kamu yakin, Ara akan menuruti ucapanmu?"
"Aku akan menunggu sampai besok siang. Jika dia tidak melakukan salah satu yang aku minta, aku akan menyebarkannya bukti perundungan yang dia lakukan kepadamu ke internet." Lily tersenyum lebar, lalu menyesap kopi yang ada di dalam cangkir.
Keesokan harinya, Ara benar-benar menemui Sara. Dia menceritakan semua perbuatan Lily kemarin ketika ada di rumahnya. Setelah mendengar semua cerita Ara, Sara pun memanggil Lily ke dalam ruangannya.
"Kemarilah, Lily." Sara menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya.
Lily pun duduk dengan tenang seraya menatap Ara yang sedang menatapnya penuh arti. Sebuah senyuman licik terukir di bibir Ara sehingga membuat Lily memutar bola mata.
"Aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi kata Ara ... kamu kemarin bersikap tidak sopan dengan masuk ke ruang kerjanya tanpa izin. Benar begitu?" tanya Sara lembut.
"Ruang kerjanya? Apa dia tidak salah?"
"Kamu masih berani mengelak, Lily? Ada rekaman CCTV di rumahku!" seru Ara seraya menunjuk Lily penuh emosi.
"Benarkah? Mana buktinya?" Lily tersenyum miring.
Kini perempuan itu mengeluarkan ponselnya. Lily membuka galeri kemudian menunjukkan Video yang dia rekam secara diam-diam dalam posisi belum diputar. Ara menelan ludah kasar ketika melihat layar ponsel tersebut.
"Dengan sekali tekan, aku bisa membongkar kebusukanmu ini, Nona Penulis!"
"Kamu!" Ara beranjak dari kursi dan hendak menampar Lily.
Sara yang tidak tahu tentang penyebab sesungguhnya pertikaian mereka pun menghalangi Ara. Saat ini Lily merupakan salah satu aset berharga salonnya. Jika sampai dia tidak melindungi Lily, Sara takut perempuan itu akan kecewa dan berhenti dari salonnya.
"Aku tidak tahu ada masalah apa di antara kalian! Tapi tolong Nona Park. Selesaikan masalah Anda dengan Lily secara dewasa! Bukan menyangkut pautkan masalah pribadi dengan pekerjaan Lily di sini, aku tidak suka!"
Ara yang tidak dapat berkutik akhirnya meninggalkan ruangan itu dengan perasaan dongkol. Dia membanting pintu kasar dan melangkah kesal keluar dari salon Sara. Sementara itu, Lily yang sudah tidak sabar akhirnya melancarkan rencana terakhirnya.
Lily langsung meminta Jay untuk mengunggah video yang kemarin dia rekam ke salah satu media sosial menggunakan akun anonim. Dalam hitungan menit, video itu sudah ditonton dan dibagikan oleh jutaan orang. Hari itu juga nama besar Ara pun runtuh.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments