Hari itu selesai bekerja, Lily langsung pulang ke apartemen. Dia merebahkan tubuh ke atas ranjang seraya memejamkan mata. Perempuan itu mencoba mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya.
Setelah merasa penatnya sedikit berkurang, Lily melangkah ke balkon dan mendongak menatap langit dengan kerlip bintang yang menghiasi. Angin malam membelai lembut rambut panjangnya.
Perempuan itu menatap mega penuh semangat. Mulai hari ini, dia menjalankan rencana balas dendam. Berawal dari Ara, semuanya pun akan mendapat balasan setimpal atas perbuatannya.
"Setelah Ara, aku akan mulai menyentuh para anggota geng yang lain! Mari kita lihat kawanan itu hancur!" Sebuah senyum miring terukir di bibir gadis cantik itu.
Ara membuka pesan yang masuk ke ponselnya dan langsung terbelalak. Dia pun membuka tautan yang dikirim oleh salah seorang temannya. Tautan itu berisi artikel mengenai buku yang akan diadaptasi oleh seorang produser terkenal di Seoul.
Buku itu menceritakan kisah gadis SMA yang dirundung teman-temannya karena miskin dan memiliki wajah yang buruk rupa. Hal yang membuat darah Lily seakan mendidih adalah Ara memakai sudut pandang si korban perundungan. Hal itu seakan menceritakan bahwa dirinyalah yang menjadi korban perundungan.
"Bisa-bisanya dia membuat cerita seperti ini! Memangnya dia paham bagaimana perasaan orang yang mengalami bullying?"
Lily menatap kesal portal berita online yang tengah dia baca. Setelah selesai membaca semua artikel itu, Lily langsung menghubungi Jay. Jay adalah salah satu teman yang tak sengaja bertemu di tempat pelatihan kebugaran ketika dia pertama kali datang ke sana.
"Jay, bisa bantu aku?"
"Apa?"
"Kirimi aku buku yang akan dibuat film oleh Produser Han!"
"Kebetulan aku punya. Akan kubawa ke sana sekarang juga."
Panggilan pun berakhir. Dalam hitungan menit, Jay sudah sampai di depan unit apartemen Lily. Ya, sebenarnya lelaki itu tinggal di apartemn yang sama dengannya, hanya berjarak dua unit saja.
"Ini!" Jay menyodorkan sebuah buku berjudul Aku Tidak Sendirian.
"Terima kasih, masuklah! Kalau mau minum kopi atau makan ramyun buat sendiri!"
"Siap!" Jay menempelkan ujung jari ke alisnya.
Mereka pun masuk kembali ke apartemen dan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Lily membaca semua tulisan yang ada dalam buku itu penuh emosi. Dia berulang kali melontarkan umpatan sambil membanting buku itu ke atas lantai.
Setelah itu, Lily kembali memungut buku tersebut dan membacanya lagi. Hal itu terus dilakukan oleh Lily hingga selesai membaca seluruh isi buku. Kepalanya terasa hampir meledak saat membaca rangkaian kalimat yang dibuat oleh Ara.
"Dia gila! Dia psikopat! Aku rasa novel ini tidak layak tayang di layar lebar. Banyak adegan mengerikan ketika perundungan terjadi!" seru Lily seraya bergidik ngeri.
"Halah, namanya juga novel! Suka-suka yang nulis lah!" sahut Jay ringan seraya menyeruput ramyun pedas yang dia buat
"Oh, jadi sama seperti koki yang mencampurkan sianida pada masakan untuk membunuh semua yang memakannya? Hal itu patut diperbolehkan?"
Mendengar ucapan Lily sontak membuat Jay tersedak. Rasa pedih dan terbakar kini memenuhi area hidung serta kerongkongannya. Lelaki itu pun buru-buru meredakan batuk dengan meminum air putih.
Usai batuknya berhenti, Jay menatap tajam Lily. Lelaki itu mengabaikan ramyun pedas yang sudah tidak lagi menggairahkan untuk dimakan itu. Jay melipat lengan di depan dada tanpa melepasakan pandangan dari teman perjuangannya itu.
"Kamu ini gila? Tentu saja novel dan koki memasak makanan adalah dua hal yang berbeda! Bisa-bisanya menyamakan keduanya!"
"Sama! Mereka membuat sesuatu untuk dikonsumsi publik! Bedanya ... jika makanan akan berpengaruh dengan asupan nutrisi tubuh, sedangkan novel mempengaruhi kesehatan mental dan alam bawah sadar pembacanya!" seru Lily kesal.
"Ah, sudahlah! Melihat Ara menulis novel ini membuat tekatku semakin bulat! Aku akan mencari bukti tentang penulis bayangan yang membantu dia mengerjakan semua novelnya!"
Lily pun membiarkan Jay melongo sendirian di ruang tengah. Perempuan itu langsung masuk ke kamar dan membanting pintu kasar. Lily pun mengakhiri hari itu dengan hati dongkol.
...****************...
Jam menunjukkan pukul 12:00 ketika Lily menyelesaikan pekerjaannya merias Ara di rumah. Hari itu adalah hari pertama wawancaranya mengenai buku yang akan difilmkan. Ketika Ara sedang melakukan wawancara, Lily memutuskan untuk tetap berdiam di kamar seraya membereskan peralatan make up-nya.
Setelah selesai, diam-diam Lily keluar kamar dan berjalan ke arah ruang kerja Ara yang ada persis di samping ruangan itu. Pintu ruang kerja tidak tertutup rapat, sehingga Lily pun dapat masuk dengan mudah.
Ruangan itu tampak sepi. Hanya ada layar laptop yang tengah menyala tanpa ada seorang pun di sana. Lily bergegas mendekati laptop untuk sekedar melihat pekerjaan apa yang sedang dilakukan orang dalam ruangan itu.
"Naskah baru, ya?" gumam Lily seraya melirik beberapa kertas catatan yang tertempel pada tepi layar laptop.
"Gila! Deadlinenya terlalu cepat!" seru Lily ketika mendapati ada sebuah catatan yang menyatakan bahwa pengerjaan naskah buku harus selesai dalam satu bulan.
"Siapa kamu?" Tiba-tiba dari arah pintu muncul seorang gadis berambut panjang dengan kacamata yang menggantung di hidungnya.
Lily balik badan. Kini tatapan mereka berdua pun bertemu. Dia tersenyum ramah, lalu berjalan ke arah perempuan itu. Lily pun mengulurkan tangan bersiap untuk memperkenalkan diri.
"Saya Lily."
Perempuan berkacamata tebal itu hanya melirik lengan Lily sekilas. Kemudian dia kembali menatap curiga ke arah Lily. Dia tampak tidak suka dengan sikap Lily yang masuk sembarangan ke ruang kerja itu.
"Mau apa kamu ke sini?"
Menyadari kehadirannya tidak disukai, Lily pun menarik lagi lengannya. Dia berjalan ke arah sofa yang ada di sudut ruangan dan duduk di sana. Perempuan berkacamata itu pun hanya mengamati setiap gerakan yang dibuat oleh Lily.
"Apa kamu penulis bayangan Nona Park?" tebak Lily.
Pertanyaan Lily sontak membuat perempuan itu terbelalak. Dia langsung berlari cepat ke arah Lily, dan mencondongkan tubuhnya. Perempuan itu melepas kacamata sehingga kini mata indahnya tertangkap oleh Lily.
"Amarilis Choi, yang biasa dipanggil dengan Amy. Lahir di Gwangsan, Gwangju 22 tahun lalu. Kabur dari panti asuhan ketika hendak diadopsi oleh pasangan kaya dari Seoul. Akhirnya terdampar di Seoul karena ditolong oleh orang tua Ara. Benar begitu?"
"Ba-bagaimana kamu bisa tahu semua itu?" Mata Amarilis membulat sempurna ketika mendengar semua ucapan Lily yang tepat sasaran.
Lily mengangkat lengannya kemudian mendaratkannya ke atas bahu Amy. Tatapannya terasa mengintimidasi Amy, sehingga nyali gadis itu menciut. Amy tampak menelan ludah kasar dengan sudut bibir berkedut.
"Aku bisa tahu apa pun yang ingin kuketahui!"
Lily beranjak dari sofa. Dia berjalan ke arah laptop yang masih menyala, kemudian duduk di belakang meja kerja. Amy pun segera mengikuti Lily.
"Jangan sentuh pekerjaanku!" seru Lily panik.
"Aaah! Jadi ini memang pekerjaanmu? Bukan hasil tulisan Ara?" Lily mengangkat ponsel yang ternyata fitur perekam suaranya sedang aktif.
"Kamu hanya mendapatkan gaji sekitar 10 persen setiap bulan dari hasil penjualan buku yang diterima oleh Ara. Benar begitu?"
Amy tampak tertunduk lesu. Keberanian gadis itu seakan lenyap ditelan bumi. Jemarinya saling meremas satu sama lain.
"Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus mau mengerjakan ini semua jika tetap ingin tinggal di sini. Lagi pula aku tidak tahu bagaimana caranya menembus penerbit mayor. Kata teman kuliahku, itu adalah hal yang sulit!"
"Hei, buku dengan sampul yang tertulis nama Ara itu semua punyamu, hasil karyamu! Artinya kamu juga bisa menembus penerbit mayor!"
"Tapi semua sudah terlambat. Hak cipta atas semua buku itu juga miliki Ara. Aku tidak bisa berbuat apa pun."
"Aku akan membantumu! Mari bekerja sama untuk menjadikanmu penulis yang sesungguhnya!" Lily melirik laptop sembari tersenyum penuh arti.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Kasihan sekali Amy ..
dia yg susah payah nulis tp yg dpt gaji besar Ara..
2023-03-08
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Yeay...
dapat partner ..
2023-03-08
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
pasti itu rasanya sakit sekali ...
2023-03-08
0