Ara terbelalak ketika mengetahui rambut panjangnya dipangkas habis oleh Lily. Dia langsung beranjak dari kursi. Sebuah tatapan tajam pun kini dia layangkan ke arah perempuan yang sedang memegang hasil potongan rambutnya.
"Kenapa kamu memotong habis rambutku! Apa kamu sudah gila?"
Bukan hanya Ara yang terkejut. Sara pun tak kalah terkejut setelah Lily memotong rambut pelanggan VVIP-nya. Sara menelan ludah kasar kemudian menghampiri Ara dan berusaha untuk menenangkannya.
"Te-tenanglah, Nona. Di-dia berniat menjadikan wajahmu jauh lebih segar. Untuk itulah dia memotong pendek rambutmu!"
"Aku tidak peduli! Mulai hari ini aku berhenti berlangganan dari salon ini!" Ara langsung melepas kain yang membalut dadanya, kemudian melangkah kesal ke arah pintu keluar.
"Kamu benar-benar sudah gila! Belum bekerja saja sudah membuat salonku mengalami kerugian!" gerutu Sara sambil menatap tajam Lily.
Lily melangkah lebar mengikuti Ara yang hampir mencapai pintu keluar. Seditik sebelum jemari lentik penulis tersebut menyentuh gagang pintu, Lily langsung menghentikannya.
"Aku memangkas habis rambut Anda bukan tanpa alasan, Nona Park."
Mendengar ucapan Lily membuat Ara menghentikan niatnya untuk meninggalkan salon tersebut. Perempuan itu perlahan balik badan kemudian melipat lengan di depan dada. Dia menyipitkan mata, mencoba untuk mengintimidasi lawan bicara.
"Anda memiliki wajah tirus yang sebenarnya cocok untuk gaya rambut apa pun. Tapi, sayangnya Anda memiliki volume rambut yang terbilang tipis. Jadi, sebenarnya saya akan memotongnya dengan jenis potongan rambut yang disebut pixie cut."
Sara pun segera berlari menghampiri Ara. Dia kembali menggandeng jemari perempuan itu. Perlahan sebuah senyum terukir di bibir Sara.
Selama ini, salonnya hanya melakukan apa yang menjadi keinginan pelanggan. Mereka tidak pernah mempedulikan apakah gaya rambut yang diminta pelanggan cocok untuk mereka. Hari itu juga, Sara pun mulai membuka mata tentang pentingnya memberi masukan baik bagi para pelanggan.
"Dengan potongan rambut pixie, Anda akan terlihat jauh lebih muda. Selain itu Anda akan lebih mudah dalam merawat rambut. Mengingat Anda adalah penulis yang sangat sibuk dengan banyak deadline dan naskah, potongan rambut ini tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengeringkannya ketika keramas."
Setelah mendengar penjelasan dari Lily, akhirnya Ara sedikit lebih mengerti. Dia pun akhirnya kembali melangkah masuk ke salon. Sara memintanya untuk kembali duduk di kursi dan memasangkan kain kip ke leher Ara.
Setelah semua selesai. Lily mulai memotong helai demi helai rambut Ara. Dia memberi sedikit poni pada bagian depan rambut agar wajah tirus Ara tidak terlihat semakin panjang.
Setelah berjibaku dengan kegiatan potong rambut, Lily pun segera memberikan perawatan creambath serta masker rambut untuk Ara. Berkat pijatan lembut Lily ketika mengeramasinya, perasaan Ara menjadi jauh lebih rileks. Dia sudah melupakan kekesalannya beberapa waktu lalu kepada Lily karena mendapat pelayanan yang sangat baik dari perempuan itu.
"Setelah ini, saya akan mencoba untuk merias wajah Anda. Sepertinya Anda terlalu lelah hingga mulai menampakkan lingkar hitam di area mata. Jangan sampai Anda berubah jadi panda seminggu kemudian." Lily tertawa kecil ketika melayangkan candaan itu kepada Ara.
Ara pun mulai nyaman berbincang bersama Lily. Dia sudah bisa menerima lelucon yang keluar dari bibir tipis Lily. Bahkan kini Ara bisa tertawa lepas karena kalimat lucu yang selalu keluar dari bibir perempuan itu.
"Baiklah, kebetulan setelah ini aku akan menemui Produser Han untuk membahas masalah buku yang akan diadaptasi ke layar lebar!" seru Ara penuh percaya diri.
"Oke, mari kita mulai!"
Lily pun langsung membersihkan wajah Ara dari sisa riasannya yang sederhana. Setelah itu dia meminta Ara untuk cuci muka. Usai cuci muka, Lily mengoleskan beberapa perawatan kulit dasar dan diakhiri dengan tabir surya.
Usai mengoleskan produk perawatan wajah, Lily pun segera merias Ara. Kali ini dia memilih untuk membuat wajah pelanggan pertamanya itu terkesan natural dan segar. Lily menggunakan warna koral untuk menghias kelopak mata serta bibir dan pipi Ara.
Selain itu, Lily juga menyarankan agar Ara memakai setelan blazer berwarna pastel. Busananya itu dipadukan dengan sepatu pantofel hak lima centimeter serta tas tangan kecil. Tidak lupa Lily meminta Ara memakai anting sederhana dan jepit rambut pita agar tetap memiliki kesan anggun meski berambut pendek.
"Selesai! Bagaimana?"
Ara mematut dirinya di depan cermin. Dia terpukau melihat penampilannya sendiri. Ara seakan melihat bayangan orang lain, bukan dirinya.
"Benarkah ini diriku! Astaga! Semua yang menempel di tubuhku kini terasa sangat cocok dan tidak membosankan! Berarti benar kata Kak Sara! Penampilanku sebelumnya sangat tidak menarik! Makanya sampai sekarang aku belum memiliki kekasih!" seru Ara seraya terkekeh.
"Aigooo! Bukan begitu, Nona. Kamu selalu cantik dan sangat pantas memakai pakaian model apa pun. Hanya saja kali ini kecantikanmu semakin bersinar karena tangan terampil Lily!"
"Tunggu!" Ara yang awalnya memainkan poni di depan cermin kini balik badan.
Perempuan itu menatap Lily dengan mata menyipit. Perlahan dia melangkah mendekati Lily yang masih memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Ara melipat lengan di depan dada dan memiringkan sedikit kepalanya.
"Buka maskermu!"
Lily pun perlahan melepaskan tali masker dari telinga. Setelah seluruh wajahnya terlihat, kini Ara dapat meneliti setiap detail muka orang yang telah melayaninya siang itu. Tiba-tiba bibir Ara menganga lebar.
"Wuaaah! Ternyata kamu cantik sekali Lily!" seru Ara sambil menutup mulutnya dengan ujung telapak tangan.
"Aku dulu juga kenal dengan orang yang bernama Lily! Kalian memiliki nama yang sama, tapi wajah dan penampilan kalian sangat berbeda!" seru Ara ketika membandingkan Lily yang dulu dengan yang sekarang.
Ya, perempuan itu tidak sadar bahwa orang yang ada di hadapannya itu adalah Lily yang dulu pernah dia kenal. Ara seakan sedang menggali kuburannya sendiri karena tengah mencibir penampilan Lily pada masa lalu, di depan muka orang itu secara langsung.
Mendengar setiap ocehan dan hinaan yang dilontarkan Ara mengenai Lily di masa lalu membuat Iris tersenyum kecut. Sikap Ara tidak pernah berubah. Dia benar-benar menilai semuanya dari penampilan saja.
"Hahaha, baiklah! Aku mau tetap berlangganan di salon ini. Tapi, aku harus dilayani olehmu ketika datang! Sesekali aku akan mengundangmu ke rumah jika aku tidak sempat ke sini! Aku ingin setiap tampil di depan media memiliki penampilan yang selalu berbeda!" seru Ara setelah puas menghina penampilan lama Lily.
"Baiklah, Nona Penulis. Terima lasih sudah mau percaya kepadaku. Semoga hubungan bisnis kita berlangsung lama!" Lily tersenyum miring penuh arti.
Setelah itu Ara pun benar-benar pergi meninggalkan salon. Dia diantar keluar salon oleh Sara. Sementara menunggu calon bosnya kembali, Lily membereskan semua alat yang dia gunakan untuk melayani Ara. Tak lama berselang Sara pun datang menghampiri.
Perempuan itu tersenyum lebar kemudian menggandeng lengan Lily. Keduanya pun langsung duduk di kantor Sara dan membahas perilah upah yang diinginkan Lily. Jika gaji karyawan lain Sara yang menentukannya, kali ini dia memberikan hak spesial untuk Lily.
Lily boleh meminta berapa pun gaji yang dia mau. Hal itu dilakukan oleh Sara tentu saja karena melihat sendiri bagaimana Lily mengerjakan pekerjaan tiga orang sekaligus dalam satu waktu. Hasilnya pun tidak mengecewakan.
"Bagaimana dengan tujuh juta won sebulan? Apa kamu mau menggajiku segitu?" tanya Lily untuk mendapat persetujuan dari Sara.
"Hei! Apa itu tidak terlalu murah untukmu? Gaji karyawanku saja sekitar 4,5 juta won sebulan! Sedangkan kamu bisa mengerjakan 3 pekerjaan sekaligus! Kamu memiliki banyak keahlian! Aku akan menggajimu 10 juta won tiap bulannya! Deal?" Sara mengulurkan tangannya seraya tersenyum lebar.
Lily pun ikut tersenyum lebar. Dia meraih jemari Sara sebagai tanda bahwa sekarang mereka menjalin kerja sama. Ya, Lily menganggap bahwa ini merupakan kerja sama yang sangat menguntungkan baginya.
Selain mendapat uang dari Sara, dia juga bisa menyalurkan keahlian, sekaligus memulai langkah awal untuk membalas perbuatan orang-orang kejam yang kini sedang berada di puncak kejayaan. Lily berniat ingin menghancurkan karier mereka ketika sudah berada di puncak.
Selain karier yang hancur, Lily ingin semua orang yang menghinanya dulu mendapatkan balasan. Rencana Lily adalah ingin membongkar kebusukan mereka ke muka umum, sehingga semua sadar bahwa orang yang selama ini dipuja-puja tak lebih dari sekedar sampah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
A Myeon
wahhh versi the Glory ini thorr
2023-03-24
1
auliasiamatir
rencana yang sangat keren lily
2023-03-09
1
Vivin Novriyanti
msk perangkap bls dendam kyknya..
2023-03-09
1