Sesampainya di rumah, Ara langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Suasana rumah itu terasa semakin sunyi karena Amy sudah tidak tinggal di sana. Kemarin setelah dia menghajar perempuan itu, Amy langsung berkemas dan meninggalkan rumah tersebut.
Lily mengajak Amy untuk tinggal bersamanya. Awalnya Amy menolak. Akan tetapi, Amy akhirnya setuju setelah Lily mengatakan dia boleh pergi setelah mendapatkan tempat yang nyaman untuk tinggal.
Ketika hendak bersantai, tiba-tiba saja ratusan notifikasi masuk ke ponsel Ara. Begitu pemberitahuan itu dibuka, Ara langsung terbelalak. Pemberitahuan itu berisi pesan yang dikirim para penggemar melalui instagram.
"Apa-apaan ini?"
Ara membaca setiap pesan yang dikirimkan kepadanya. Isi pesan itu semua sama. Menanyakan perihal kebenaran video yang diunggah oleh sebuah akun anonim. Ara pun penasaran dan langsung masuk ke tautan yang dikirim oleh salah satu penggemarnya.
Kekuatan serta kesombongan Ara runtuh seketika. Ternyata ucapan Lily bukan sekedar gertakan. Perempuan itu benar-benar menyebarkan video ketika kemarin Ara menyiksa Amy.
Perempuan itu berteriak frustrasi. Dia meremas rambut dan air matanya mulai tumpah. Penyesalan memang datang terlambat. Kini dia harus benar-benar pergi meninggalkan Seoul untuk menghindari hujatan para warga kota tersebut.
"Aku akan pergi ke kampung nenek di Jeju!" Ara langsung mengemasi barang ke dalam koper.
Seoul pun digemparkan oleh berita heboh mengenai Ara. Terlebih saat ini film yang akan dibuat oleh rumah produksi sudah memasuki tahap seleksi pemain film. Persiapan untuk itu sudah selesai.
Uang kontrak sudah diterima oleh Ara. Namun, atas kesepakatan manajemen, royalti penjualan tiket akan dialihkan kepada Amy sebagai penulis naskah novel yang sebenarnya. Mereka berusaha menghargai hasil kerja Amy.
Bahkan Amy berhak terlibat dalam kegiatan seleksi pemain. Boby Kang, sang sutradara pun memberi kesempatan kepada pemain baru dari beberapa agensi untuk ikut seleksi. Bahkan dia membuka kesempatan bagi mahasiswi fakultas seni yang berprestasi di bidang akting. Dia ingin filmnya kali ini merangkul banyak pihak yang berpotensi menjadi bintang di masa depan.
"Apa kamu sudah siap, Lily?" tanya Amy yang sudah bersiap dengan riasan natural hasil kerja tangan emas Lily.
"Sebentar lagi!" seru Lily dari dalam kamar.
Tak lama kemudian, Lily sudah keluar dalam balutan pakaian kasual. Celana jeans panjang dengan kaos oblong oversize. Tak lupa perempuan berambut sepunggung itu memakai topi.
"Hei, kenapa pakai topi seperti itu?" tanya Amy seraya mengerutkan dahi.
"Ah, aku takut nanti disangka salah seorang aktris yang mau ikut casting! Nanti bisa-bisa saat sutradara melihat wajahku akan terpukau dan langsung meloloskanku tanpa harus berakting terlebih dulu!" seru Amy seraya terkekeh.
"Dasar! Ayo kita berangkat sekarang!"
Mereka berdua pun segera keluar dari apartemen. Lily melajukan mobil santai untuk membelah jalanan Kota Seoul yang selalu ramai. Kali ini casting dilaksanakan di rumah produksi milik Produser Han.
Lily dan Amy melangkah cepat ke sebuah ruangan yang sengaja digunakan untuk proses pemilihan pemain. Amy diminta untuk duduk di samping sutradara Kang, sedangkan Lily memilih untuk sedikit menjauh. Dia berbaur dengan peserta lain yang ada di barisan paling belakang.
Satu per satu peserta pun mulai menunjukkan kemampuan dalam bermain perannya. Semua akting mereka tampak bagus. Lily sempat mengerutkan dahi ketika mendapati seorang yang dia kenal maju untuk ikut penilaian.
"Profesor Ed?"
"Iya, dia adalah salah satu dosen di kampusku dulu. Tampan, ya!" sahut seseorang yang kini sedang duduk di sampingnya.
Lily pun menoleh ke arah sumber suara. Benar saja, dia bertemu lagi dengan seseorang yang dia kenal. Hari Lee, salah seorang pelaku penindasan yang sempat membuat dirinya hancur itu dapat hidup dengan baik tanpa rasa bersalah.
Hari tidak tahu bagaimana Lily dulu menjalani hidup ketika kuliah. Dia sangat takut untuk sekedar membuka mata dan berangkat ke kampus. Iris pun kembali teringat goresan pena yang dibuat oleh Lily.
Di dalam buku itu, Lily menceritakan bahwa Hari adalah orang yang paling kejam di antara gerombolan perundung tersebut. Dia tidak segan-segan menendang, memukul, menjambak, dan melakukan kekerasan fisik lainnya yang membuat Lily berakhir di ruang bawah tanah setelah pulang dari kampus karena harus mendapat hukuman dari sang ibu.
"Ah, benarkah?" Lily memaksakan senyum lebar kepada Hari.
Tiba-tiba hari mengulurkan tangan. Lily menatapnya sekilas sebelum dia menyambut uluran tangan tersebut. Lily tersenyum kecut melihat perlakuan Hari.
Jika saja Hari tahu bahwa dia adalah Lily yang dikenal, apa perempuan itu juga mau mengulurkan tangan untuknya? Di samping Hari ada seorang gadis lain yang tampak cupu. Perempuan itu mengulurkan tangan kepada Hari dan hanya dilirik olehnya.
"Ternyata kamu masih sama seperti dulu." Lily tersenyum miring kemudian kembali menatap lurus ke depan.
"Ah ya, kamu rookie dari agensi mana?"
Pertanyaan Hari kembali membuat Lily menoleh. Sebuah senyum ramah terukir jelas di bibir aktris yang namanya sedang melambung itu. Lily pun menjelaskan bahwa dia datang untuk mengantarkan seorang teman, bukan untuk mengikuti casting.
"Aigoo! Kamu ini cantik, lo! Kenapa tidak mendaftarkan diri ke agensi? Siapa tahu kita bisa bermain film sama-sama!" ujar Hari dengan mata berapi-api.
"Aku bukanlah pemain peran yang baik." Lily menatap Hari tajam dengan rahang mengeras.
Hari tampak takut karena aura mengintimidasi yang keluar dari sorot mata lawan bicaranya. Dia menelan ludah kasar dan terlihat mulai gugup. Akhirnya Hari berpamitan untuk keluar dari ruangan itu karena sebenarnya dia sudah selesai mengikuti seleksi.
"Dasar munafik!" gerutu Lily.
"Apa Kakak mengenalnya secara pribadi?" tanya peserta berpenampilan sederhana yang tadi diabaikan oleh Hari.
"Ya? Ah, mungkin saja." Lily tersenyum lembut kepada perempuan itu.
"Dari tadi dia ada di sini untuk mengintimidasi pemain lain agar mundur dari pemilihan pemain ini." Raut wajah gadis itu tampak kesal dengan bibir mengerucut.
Perempuan berambut panjang itu tiba-tiba mengusapkan telapak tangannya ke atas rok yang dia pakai. Setelah itu, dia mengulurkan tangan sambil tersenyum lebar sampai kedua matanya hanya membentuk dua garis lurus.
"Aku Mika Jung! Salam kenal, Kak!" seru Mika penuh semangat.
Lily terkekeh ketika melihat Mika. Dia benar-benar merasa sikap gadis di depannya itu sangat lucu. Mika sampai mengusap dulu telapak tangannya karena takut Lily menolak dan mengacuhkannya, seperti apa yang dilakukan oleh Hari.
"Untuk apa mengusap tanganmu seperti itu? Aku Lily Kim, salam kenal." Lily pun menyambut hangat uluran tangan Mika.
Sebuah senyum lebar penuh arti terukir di bibir Lily. Dia sudah menemukan orang yang nantinya akan terlibat dalam proses meruntuhkan karier Hari. Saat hari itu tiba, nama Mika akan melambung dan mendapatkan puncak kejayaannya di bidang ini.
Dua hari kemudian, hasil pemilihan pemain sudah diumumkan. Sesuai dugaan Lily, Hari ditunjuk oleh sang sutradara untuk memainkan pemeran utama ketika dia sudah bertransformasi. Sedangkan Mika menjadi protagonis ketika masih ditindas oleh teman-temannya.
"Wah, keren! Pasti film ini akan melejit! Pemain utamanya adalah Rising Star!" seru Amy antusias.
"Apa kamu yakin, Amy? Jika kamu mengetahui kisah masa lalu Hari, apa kamu rela buku yang kamu tulis itu diperankan olehnya?" Lily tersenyum miring ke arah Amy yang kini tengah menggaruk kepala.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments