Di kediaman rumah Produser Jackson Han, Suji dan sang suami sedang bersantai di ruang tengah seraya menikmati teh dan beraneka kudapan. Senyum Suji terus merekah lebar. Dia sedang menatap layar ponsel seraya berbalas pesan dengan Lily.
Jackson yang menyadari kelakuan aneh sang istri pun mengerutkan dahi. Dia meletakkan kembali cangkir yang digenggam ke atas meja. Lelaki itu menatap penuh tanda tanya ke arah sang istri karena menaruh curiga.
Jackson menyangka Suji tengah berbalas pesan dengan lelaki lain. Dia pun akhirnya merebut paksa ponsel sang istri. Tak elak sebuah tatapan tajam pun dia terima dari Suji.
"Sayang, apa maksudmu merebut ponselku?" protes Suji seraya mengerucutkan bibir.
"Aku penasaran kenapa sedari tadi kamu terus tersenyum seraya menatap benda ini!" Jackson menggoyang-goyangkan benda pipih dalam genggamannya itu.
Tak lama kemudian sebuah pesan masuk ke ponsel Suji. Kini Jackson membuka pesan yang masuk ke ponsel sang istri. Dia terbelalak ketika melihat sebuah pesan dari seorang perempuan cantik.
Lelaki yang sebenarnya mata keranjang itu pun menelan ludah kasar karena terpesona dengan kecantikan Lily. Ketika tengah memandang buas foto profil Lily, Suji pun merebut kembali benda pipih tersebut. Dia menatap sinis sang suami yang kini tengah melongo.
"Bagaimanapun juga, aku memiliki privasi yang tidak boleh kamu langgar, Sayang!" Suji menatap tajam sang suami.
Jackson hanya bisa menggaruk kepala yang mulai botak di bagian depan. Suji merupakan perempuan yang selalu menerima bagaimanapun keadaannya. Suji selalu ada ketika dirinya terjatuh.
Sang istri tidak pernah meninggalkannya sama sekali. Dia selalu memberi dukungan kepada Jackson, sehingga lelaki itu kembali bangkit dan bisa menjadi sukses seperti sekarang.
Jackson kembali meraih cangkir teh dan menyesapnya perlahan. Tak lama kemudian terdengar denting bel rumah.Suji langsung beranjak dari sofa dan setengah berlari menuju pintu rumah. Setelah pintu terbuka, Lily sudah berdiri di depan pintu seraya tersenyum manis.
"Siang, Nyonya Han. Maaf, aku baru sempat mampir. Belakangan ini pekerjaanku semakin sibuk."
"Hei, tidak masalah! Terima kasih, sudah meluangkan waktu untuk mampir. Ayo masuk!" Suji bergegas menarik lengan perempuan itu dan mengajaknya masuk untuk bertemu sang suami.
"Sayang, kenalkan. Dia adalah Lily Kim, orang yang mendandaniku ketika kita datang ke pesta pertunangan putri Presdir Kim." Suji memperkenalkan Lily kepada sang suami yang sedang menatap layar televisi.
"Lily Kim?" Jackson mengerutkan dahi ketika mendengar nama itu, ingatannya langsung melayang ke arah keluarga pengusaha produk kecantikan terkenal di Korea.
"Ya, saya Lily Kim, Pak Produser. Salam kenal!" Lily menunduk penuh hormat kemudian kembali berdiri tegap.
"Ah, ya. Saya Jackson Han, kamu tahu siapa aku, 'kan?" Sebuah senyum miring kini terukir di bibir Jackson.
"Tentu saja, Tuan Han. Saya rasa seluruh warga Korea Selatan bahkan mancanegara mengenal Anda."
Mendapat pujian dari Lily, tentu saja membuat Jackson tersenyum lebar. Suji pun mengajak Lily untuk duduk di sampingnya. Dia meminta sang asisten rumah tangga untuk membuatkan Lily secangkir teh serta mengeluarkan kudapan lain.
"Sayang, kemampuan gadis ini sangat luar biasa. Aku dengar kamu masih belum memutuskan siapa yang akan menjadi tim penata rias dan rambut. Aku benar-benar merekomendasikan salon Sara kepadamu!" seru Suji sembari mengacungkan kedua jempolnya.
"Aku berencana menjalin kerja sama dengan Yuna seperti biasa," sahut Jackson singkat tanpa menoleh ke arah Lily.
"Aigoo, Sayang! Yuna sangat sibuk akhir-akhir ini! Dia tidak akan bisa menanganinya kali ini karena aku dengar banyak karyawannya yang tiba-tiba mengundurkan diri!" Suji terus membujuk sang suami agar dia mau menjalin kerja sama dengan salon sara khususnya Lily.
Suji yakin Lily dapat diandalkan untuk proses pembuatan film rumah produksi sang suami. Kemampuan Lily sangat patut dipertimbangkan. Suji juga mengatakan kepada suaminya bahwa sejak Lily bekerja di salon Sara, langganan VVIP semakin banyak.
Jackson tampak berpikir. Dia memajukan bibir bawah seraya mengusap dagu. Beberapa kali lelaki itu membetulkan letak kacamatanya yang terus melorot.
"Baiklah! Aku akan bekerja sama dengan salon Sara. Lily, bisa kamu hubungi Sara sekarang? Aku ingin berbicara dengannya."
"Baik, Produser Han." Lily mengangguk sopan seraya tersenyum lembut.
Perempuan itu segera merogoh tas dan meraih benda pipih yang ada di dalamnya. Lily menghubungi Sara dan menyerahkan perbincangan selanjutnya kepada Jackson. Ketika Jackson dan Sara berbincang, Lily terus bersorak dalam hati.
Lily tidak menyangka semudah itu menjalankan misi untuk masuk dan terlibat dalam proses pembuatan film milik Amy. Ini merupakan salah satu langkah besar untuk membuat Hati tersingkir dari dunia hiburan. Lily sudah menyiapkan sebuah rencana untuk Hari.
Tinggal menunggu waktu yang tepat, maka karier cemerlang serta nama besar Hati akan hancur seketika. Lily tidak rela para perundung yang sudah menindasnya selama kuliah dapat hidup dengan bahagia, sementara dirinya harus berjuang untuk mengubah masih serta mengobati trauma akan mesin cukur rambut.
"Baiklah, shooting akan dilakukan pekan depan. Lokasinya ada di gedung lama SMA Sarang. Aku harap tim kalian tepat waktu. Aku akan memberikan nomor Sutradara Kang kepadamu agar bisa berkomunikasi dengan nyaman." Jackson tersenyum tipis seraya mengembalikan ponsel kepada Lily.
"Terima kasih, Produser. Anda sudah mempercayakan hal besar ini kepada salon kami. Kami akan lakukan yang terbaik demi mendukung kesuksesan film ini!"
Keesokan harinya ketika Lily sampai di salon, dia mendapatkan sebuah kejutan meriah dari Sara dan juga rekan kerjanya. Sebuah MMT besar di pasang di bagian depan salon yang menampilkan wajah Lily.
Ruang depan salon pun dihias sangat meriah. Seperti akan ada pesta di dalam salon tersebut. Lily yang kebingungan mencerna keadaan itu, hanya bisa melongo seraya menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Ahhh! My Golden Finger sudah datang!" seru Sara seraya menyambut Lily dengan pelukan.
"A-apa ini?" tanya Lily kebingungan.
"Aigoo, kenapa kamu pura-pura tidak tahu? Berkat kamu, salon kita dipercaya untuk mengurus make up dan rambut para aktris dan aktor yang akan bermain di film Poor Girl! Gimana sih kamu? Bukannya kemarin kamu menemui langsung Produser Han untuk membicarakan hal ini?"
"Ah, ya ... anggap saja begitu." Lily tersenyum canggung lalu melangkah masuk ke kantor Sara.
Di dalam ruangan bernuansa merah muda itu, Sara mengatakan bahwa Lily akan menjadi ikon serta ambasador dari salon miliknya. Brosur cetak dan website resmi salon Sara akan menampilkan wajah cantik Lily.
Julukan The Golder Finger pun Sara sematkan untuk anak emasnya itu. Sara benar-benar merasa Lily membawa keberuntungan terhadap salonnya. Dia tidak tahu saja kalau tujuan utama Lily datang ke sana adalah demi melancarkan aksi balas dendam kepada komplotan Hari dan lainnya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments