"Saya yang melakukannya, Kak." Juno mengangkat tangan seraya melangkah maju dari barisan.
"Benar kamu yang menghancurkan peralatan make up ini, Juno?"
Juno tampak melirik kedua rekan kerjanya. Sedetik kemudian dia kembali menatap Lily sekilas lalu menunduk. Lelaki tampan itu tampak mengangguk lemah.
"Baiklah, aku tidak tahu kamu sengaja atau tidak melakukan hal ini. Yang terpenting sekarang, mari kita kerjakan semuanya tepat waktu! Kita pakai peralatan make up milikku pribadi dan Elijah."
"Ah, baik! Kebetulan aku selalu membawa make up lengkap di dalam tasku." Mata Elijah berbinar dan senyum mengembang di bibir tipisnya.
Mereka pun segera mengerjakan tugas masing-masing. Mereka berempat dapat menyelesaikan semua dengan baik. Keputusan Lily untuk mengajak Elijah, Susy, dan Juno merupakan keputusan yang tepat.
Meski terkadang ceroboh, keahlian mereka patut dipertimbangkan. Beberapa dari pemain film bahkan mengakui kesigapan serta kemampuan tim yang mewakili salon Sara tersebut.
Jam menunjukkan pukul enam sore ketika proses pengambilan film berakhir. Lily dan timnya segera pulang. Mereka berhenti di salon Sara sebelum akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
"Juno, bisa temani aku makan ramyun?" Lilymenghentikan langkah Juno ketika lelaki itu hendak masuk ke dalam mobilnya.
Juno tampak berpikir sejenak. Tak lama kemudian dia mengangguk seraya tersenyum canggung. Lily pun membuka pintu mobil Juno, lantas masuk ke dalam tanpa permisi.
Mereka berdua hanya membisu ketika ada di dalam mobil. Dua kepala itu sedang memikirkan hal yang sama. Sama-sama memikirkan kejadian rusaknya peralatan make up tadi pagi.
Setelah mengendarai mobil selama 15 menit, akhirnya mereka sampai di sebuah kedai ramyun. Keduanya keluar dari mobil, dan masuk ke dalam kedai tersebut. Setelah memesan dua mangkok ramyun, Lily pun membuka pembicaraan.
"Mengenai tadi pagi, apa benar kamu yang membuat peralatan make up itu hancur?" tanya Lily seraya menatap intens bola mata lelaki di hadapannya itu.
"Iya," jawab Juno singkat seraya mengalihkan pandangannya dari Lily.
Juno membuka tutup botol air mineral kemudian meneguknya perlahan. Lily tersenyum miring. Dia curiga bahwa Juno telah berbohong.
"Tatap mata lawan bicaramu jika sedang mengobrol. Aku sedang bicara dengan manusia, bukan dengan udara!"
Mau tak mau, Juno pun menatap Lily. Lelaki itu menelan ludah kasar kemudian mengusap tengkuknya. Lily pun kembali menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
"Bisa jelaskan bagaimana peralatan itu bisa rusak sampai sekacau itu?"
"Sebelumnya aku minta maaf, Kak. Aku tidak memeriksanya lagi kemarin sore." Juno tertunduk lesu menatap ujung sepatunya.
"Aku tidak sengaja menjatuhkannya. Setelah itu aku langsung memasukkannya ke dalam bagasi karena tidak berpikir kalau kondisi di dalamnya akan sekacau itu." Juno menatap sayu Lily yang sedang melipat lengan di depan dada.
"Ya, kamu benar. Tapi ...." Luna mencondongkan tubuh ke arah Juno.
Sebuah senyum miring terukir di bibir perempuan cantik itu. Melihat tatapan tajam dari Lily sontak membuat Juno gugup. Tangan lelaki itu mulai berkeringat.
"Kamu sudah berbohong, Juno. Kamu memang benar kalau seharusnya peralatan itu tidak akan hancur begitu saja hanya karena boksnya terjatuh. Yaaa ... paling hanya berantakan. Tidak sampai hancur seperti itu." Lily terus tersenyum miring dan tatapannya tidak lepas dari Juno.
"Bahan kotak itu sangat kokoh. Jadi bisa melindungi perlengkapan tempurku dengan baik. Kecuali ...." Lily kini bertopang dagu dan senyumnya mulai lenyap.
"Jika ada orang yang sengaja merusak produk yang ada di dalamnya."
Mendengar ucapan Lily, sontak membuat Juno kembali menelan ludah kasar. Dia tertangkap basah karena sudah berbohong. Juno yakin setelah ini pasti akan kehilangan pekerjaan yang sangat dia sukai itu.
"Silakan pesanannya!" ujar seorang pramusaji dengan nampan berisi dua mangkok ramyun dan bumbu pelengkap.
Mereka pun makan dengan diam. Menikmati setiap suapan demi suapan secara perlahan. Setelah selesai, Lily memulai kembali perbincangan panas yang membuat Juno mati kutu.
"Juno, jadi kamu tahu siapa orang yang telah merusaknya? Apa dia ada di tim kita?" cecar Lily.
Juno kali ini tidak bisa berbohong. Jika dia terus menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya, nanti semua akan menjadi semakin rumit. Lelaki itu menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan.
"Susy yang melakukannya. Aku melihat hal itu sesaat setelahĺ meletakkan kotak itu ke dalam mobil."
"Susy? Lalu ... kenapa dia melakukan hal itu?"
Juno tertunduk lesu. Jemarinya saling meremas satu sama lain. Lelaki itu kembali mendongak dan menatap Lily setelah perempuan itu menegurnya.
"A-aku tidak tahu kenapa Susy melakukannya, Kak. Untuk hal ini aku benar-benar jujur!" Juno mengangkat lengan dan membuka telapak tangan di samping wajah.
Lily mengembuskan napas kasar. Dia kembali menyandarkan punggung pada kursi. Perempuan itu melipat lengan dan menatap tajam Juno yang masih tampak gugup.
"Kenapa kamu menutupi kesalahannya?"
"Aku ... ingin melindunginya agar tidak terkena masalah."
"Pengorbanan, ya?" Lily mengerucutkan bibir seraya mengangguk-angguk.
"Tunggu!" seru Lily seraya menggebrak pelan meja di depannya.
"Apa kamu memiliki perasaan atau hubungan khusus dengan Susy?"
Setelah mendengar pertanyaan dari Lily, Juno beranjak dari kursi. Dia berjalan memutari meja, lalu berhenti tepat di samping Lily. Lelaki itu duduk bersimpuh seraya menangkupkan kedua telapak tangannya.
Mata Juno mulai basah. Lelaki itu berusaha menahan tangis seakan sedang ketakutan. Dia berulang kali menggoyangkan lengannya seakan sedang memohon kepada Lily.
"Tolong jangan beritahukan hal ini kepada Bu Sara, Noona. Sebenarnya kami sudah menjalin hubungan asmara sejak setahun belakangan."
Lily melongo mendengar pernyataan mengejutkan dari Juno. Dia tidak menyangka bahwa Juno melakukan hal itu untuk melindungi kekasihnya agar tidak dimarahi oleh Lily. Perempuan itu salut dengan sikap Juno yang berusaha melindungi sang kekasih.
Akan tetapi, Lily tidak membenarkan hal itu. Dia pun menarik napas dalam. Lily menatap intens mata Juno.
"Juno, aku tahu kamu melakukan ini untuk melindungi Susy. Tapi, tindakanmu ini salah. Tidak seharusnya kamu menutupi kesalahan orang lain. Jika hal ini terus kamu lakukan, maka akan menjadi kebiasaan buruk bagi Susy. Dia akan menjadi wanita yang tidak bertanggungjawab atas kesalahan yang dia perbuat."
"Aku memang salah. Maaf, lain kali aku tidak akan mengulanginya." Juno tertunduk penuh penyesalan.
"Tapi, tolong jangan tanyakan hal ini kepada Susy. Aku takut dia akan tertekan. Kehidupannya di rumah sudah sangat membuatnya tertekan."
"Baiklah, setelah ini bekerjalah dengan baik! Jangan lagi melindungi Susy jika dia melakukan kesalahan. Sebagai pasangan yang baik, kamu harus memberitahu bahwa apa yang dia lakukan tidak benar. Bukannya malah membiarkan bahkan sampai menutupi kesalahan yang dia perbuat." Lily tersenyum lembut kepada Juno.
Masalah peralatan rias yang rusak sudah terpecahkan. Namun, ada sebuah pertanyaan besar yang memenuhi kepala Lily. Dia masih berusaha memikirkan alasan utama kenapa Susy melakukan hal buruk itu kepadanya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
aku setuju...
ketika pasangan kita salah jangan malah menutupi kesalahannya tp d berikan pengertian kalo yg dia lakukan tidak baik..
2023-03-10
1
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Ternyata.....😱😱😱😱😱
kamu tidak tau sedang berurusan dengan siapa Juno....
2023-03-10
1
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Aku kira Juno ,. ternyata Susy....
2023-03-10
0