"Upahmu sangat kecil untuk hitungan seorang penulis bayangan. Mari kita asumsikan pendapatan royalti per tiga bulan yang diterima Ara adalah 30 juta Won. Kamu hanya mendapatkan sekitar 3 juta Won. Padahal, kamu rela memangkas jam tidur dan mengabaikan kenyamanan hidup demi menyelesaikan deadline dari penerbit!"
Amy tampak terdiam. Dia mulai memikirkan setiap kalimat yang keluar dari bibir Lily. Apa yang dikatakan Lily memang benar.
Upah yang diterima dari penjualan buku sangat kecil. Jika saja dia bisa memiliki hak cipta atas buku itu, pasti saat ini dirinya bisa hidup sendiri dengan uang hasil tulisannya. Namun, lagi-lagi Amy tidak bisa berbuat lebih karena semua sudah terlanjur.
"Aku tidak bisa berkutik sekarang. Semua sudah terlanjur, novel itu sudah menjadi milik Ara sepenuhnya." Amy terunduk lesu dengan bahu yang merosot.
"Aku akan membantumu! Asal kamu mau melakukan semua yang aku katakan, maka kamu akan mendapatkan hak cipta untuk karya yang sedang kamu tulis kali ini." Lily menatap layar laptop yang masih menyala seraya tersenyum penuh arti.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan untukmu?"
Mendengar pertanyaan Amy, Lily semakin tersenyum lebar. Dia yakin rencananya akan berhasil. Nasib baik benar-benar mengiringinya sejak bertekat untuk membalas perbuatan Ara dan yang lain.
Lily merogoh saku kemudian mengeluarkan sebuah bros berbentuk bunga bakung. Dia langsung memberikan bros itu kepada Amy dan perempuan itu pun meraihnya seraya mengerutkan dahi.
"Apa ini?" tanya Amy serasa meneliti benda yang kini ada di tangannya itu.
"Di dalam bros itu terdapat sebuah kamera. Kamu tinggal menyematkannya pada baju, lalu menekannya satu kali untuk mengaktifkan kamera. Setelah selesai tekan sekali lagi, maka kamera akan berhenti merekam dan mati."
Amy pun mencoba untuk mempraktikkan apa yang diinstruksikan oleh Lily. Begitu kamera menyala akan langsung terhubung dengan ponsel Lily. Jadi, Lily bisa memantau semua secara langsung.
Setelah memastikan alat tersebut berfungsi dengan baik, Amy langsung menyematkannya pada kerah kemeja. Dia langsung mengaktifkan kamera tersebut untuk berjaga-jaga. Dia tidak ingin melewatkan sedikit pun momen ketika Ara bersama dengannya.
"Hanya ini tugasku?" tanya Amy dengan wajah serius.
"Ada satu lagi, tetap selesaikan tulisan terakhir itu, tapi ...." Lily mulai mengungkapkan semua rencananya kepada Amy.
Amy pun mendengarkannya dengan saksama. Sesekali dia mengangguk sebagai tanda bahwa dia paham dengan instruksi yang diberikan oleh Lily. Sesaat sebelum wawancara Ara selesai, Lily langsung berpamitan kepada Amy.
Lily juga memberikan nomor ponselnya kepada perempuan yang akan dijadikan partner untuk menumbangkan Ara. Perempuan itu langsung kembali ke kamar sebelum Ara menyelesaikan wawancara di rumah tersebut.
Tak lama setelah Lily sampai di kamar, Ara masuk juga ke ruangan itu. Dia berjalan gontai ke arah ranjang. Perempuan itu pun merebahkan tubuh ke atas ranjang.
"Hah, melelahkan sekali!" keluh Ara seraya memejamkan mata.
Lily yang berpura-pura memainkan ponsel pun meletakkan benda pipih itu ke atas meja. Dia menghampiri Ara dan memintanya untuk menghapus riasan sebelun istirahat.
"Ngomong-ngomong, terima kasih, ya? Berkat kamu aku mendapatkan banyak pujian dari para wartawan! Kata mereka aku lebih pantas bekerja sebagai aktris di depan layar." Ara langsung tertawa congkak hingga berguling-guling di atas kasur.
Lily hanya tersenyum tipis ketika melihat tingkah Ara yang terlihat layaknya anak-anak. Setelah Ara selesai menceritakan pengalaman wawancaranya dengan media, Lily pun beranjak dari sofa dan mulai menjinjing tas berisi alat make-up.
"Kalau begitu aku pamit! Jangan lupa untuk membersihkan riasanmu dengan cleansing balm, lalu cuci muka!" Lily pun berpamitan kepada Ara.
"Baiklah, terima kasih! Lain kali aku pasti akan memberikan bonus lebih untukmu ketika film ini sukses!"
Lily hanya tersenyum simoul seraya melambaikan tangan. Ketika meninggalkan kamar itu, sebuah senyum penuh arti terukir di bibir Lily. Dia mengangkat salah satu alis dan melangkah mantap menuruni anak tangga. Sementara waktu, dia akan mengawasi Ara dari jauh melalui kamera pengintai yang sudah dia berikan kepada Amy.
...****************...
"Sudah berapa persen?" tanya Ara kepada Amy dengan nada ketus.
"Lima puluh persen," jawab Amy santai sambil terus mengetik di atas papan ketik laptop.
Tatapan perempuan berkacamata itu tidak lepas dari layar laptop. Dia berusaha sekeras mungkin untuk segera menyelesaikan novel sebelum batas waktu yang ditentukan oleh penerbit. Namun, pikirannya bertambah kacau karena terus mendapat tekanan dan ancaman dari Ara.
"Apa! Kamu sudah gila, ha? Bahkan seminggu lagi naskah itu harus dikirim ke editor! Bagaimana bisa baru selesai 50 persen? Kamu ngapain aja selama ini!" Ara menggebrak meja hingga membuat tatapan Amy beralih dari laptop.
Amy menatap sebal Ara dengan napas memburu. Melihat raut wajah Ara yang berusaha menutupi amarah, Amy langsung mendekati perempuan itu. Dia berdiri tepat di depan penulis bayangannya itu seraya menyipitkan mata.
"Kamu sudah mulai berani melawanku?"
"Aku tidak pernah melawanmu, Ara. Aku melakukan semua sesuai apa yang kamu mau. Aku menghabiskan waktu demi menyelesaikan apa yang seharusnya kamu kerjakan! Bahkan aku melakukan semua ini sejak kamu duduk di bangku kuliah!" Amy mencoba untuk memancing kemarahan Ara.
Sesuai dugaan Amy, amarah Ara mulai memuncak. Perempuan itu menampar pipi Ara dengan keras. Wajah Ara sampai berpaling dan kulit pipinya tampak merah.
"Kamu sudah berani, ya?" Ara menunjuk wajah Amy dengan rahang mengeras sempurna.
"Ayah dan ibu sudah memungutmu dari jalanan, merawatmu, membiayai kamu untuk kuliah! Tapi, ketika aku meminta tolong untuk menyelesaikan pekerjaan kecil kamu malah banyak alasan!" teriak Ara penuh amarah.
"Pekerjaan kecil? Pekerjaan dengan gaji puluhan juta Won kamu bilang kecil? Lalu, apakah seperti itu caranya meminta tolong kepada seseorang, Ara?" Amy pun menatap tajam lawan bicaranya itu penuh kebencian.
"Lagi pula aku tidak pernah meminta ayah dan ibu memungutku dari jalanan, merawat, atau membiayai kuliah! Bahkan aku keluar dari panti asuhan karena tidak ingin diadopsi oleh orang kaya! Aku tidak menginginkan keluarga kaya! Aku hanya ingin memiliki keluarga yang menerimaku dengan tulus!"
Dada Amy kembang kempis teringat masa lalunya. Sejujurnya kedua orang tua Ara memanglah orang yang baik dan tulus. Akan tetapi, putri tunggalnya ini sangat jahat kepadanya.
Sejak kecil, Ara selalu mengambil paksa uang saku Amy. Dia pun selalu merusak semua benda yang diberikan oleh orang tua Ara. Bahkan sering kali perempuan itu menjahili Amy yang sangat takut dengan cicak dan binatang merayap lainnya.
"Tanpa kamu menekanku, aku akan menyelesaikannya tepat waktu! Jadi tutup saja mulut besarmu itu!"
"Kamu berani?" Tanpa aba-aba Ara pun langsung meraih rambut Amy dan menariknya kasar.
Tubuh Amy pun langsung tersungkur di atas lantai. Ara dengan beringas menendang tubuh Amy tanpa ampun. Amy hanya bisa menitikkan air mata tanpa mampu melawan. Jika dia melawan, maka Ara akan melakukan hal yang lebih buruk dari itu.
Seminggu berlalu, naskah pun sudah dikirimkan kepada penerbit. Amy dapat bernapas lega dan sedikit beristirahat sambil menunggu umpan balik dari editor. Sebuah senyum miring terukir di bibir Amy manakala teringat akan ada sebuah kejutan dasyat yang mengguncang karir Ara.
Di sisi lain, Ara yang sedang bersantai di salon Ara menerima panggilan dari Editor yang selama ini mengurus naskahnya di penerbit mayor. Dunia Ara seakan jungkir balik ketika mendengar ocehan dari sang editor.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Ya ampun...
gak punya hati dan otak ...
2023-03-08
1