"Lily, ini Ayah." Lupin, ayah dari Lily dan Lilac berbicara dengan suara lirih.
Lelaki itu mendatangi sang putri dengan membawa satu keranjang penuh makanan. Lupin tersenyum lebar kemudian membuka pintu besi itu. Terdengar derit pintu yang menggema memenuhi ruangan, sehingga memecah keheningan yang ada di ruang bawah tanah tersebut.
Iris masih memasang mode waspada. Bagaimana pun juga, Lupin merupakan orang asing baginya. Dia diam-diam menyembunyikan pulpen di balik punggung untuk berjaga-jaga jika lelaki di depannya itu memiliki niat buruk.
"Makanlah, kamu pasti lapar. Ayah membawakanmu semua makanan yang kamu sukai! Cepat makan sebelum ibumu tahu!" Lupin menyodorkan keranjang yang terbuat dari anyaman rotan itu kepada sang putri.
Lily melirik keranjang makanan itu sekilas. Dia menelan ludah kasar karena melihat ada kue beras yang mengintip di balik wadah. Makanan yang sangat dia sukai selama hidup menjadi Iris. Setiap menemui restoran makanan korea di Paris, maka dia akan memesan kue beras.
Lily pun segera menyambar wadah berisi kue beras itu kemudian menyantapnya dengan lahap. Keterampilan Lily dalam mennggunakan sumpit yang kurang baik, tentu saja membuat Lupin mengerutkan dahi.
"Lily, bukan begitu caranya makan menggunakan sumpit. Seperti ini caranya," ucap Lupin seraya membenarkan posisi jari sang putri.
"Bagaimana sih, kamu ini! Apa tanganmu ada yang terluka, sampai memegang sumpit saja kesulitan?" tanya Lupin dengan nada penuh kekhawatiran.
Iris yang sejak lahir tidak merasakan perhatian seorang ayah pun tersentuh. Dia merasa Lily sedikit lebih beruntung darinya karena memiliki ayah yang sangat baik. Sebuah senyum tipis terukir di bibir Lily.
Ketika sedang asyik menikmati kue beras dan beberapa makanan lain, tiba-tiba saja pintu yang menghubungkan ruang bawah tanah dan rumah utama terbuka. Tampak siluet perempuan bertubuh ramping yang diduga Lily adalah Safron, ibunya.
Lupin bergegas menyembunyikan makanan yang dia bawa ke kolong ranjang. Dia pun menatap perempuan yang terus menghampiri itu dengan tangan gemetar. Ketika dia semakin dekat dan wajahnya terlihat jelas, Lupin pun mengembuskan napas lega.
"Astaga Lilac! Ayah pikir kamu ...."
Lilac langsung menempelkan jari telunjuknya ke atas bibir. Setelah itu dia membuka pintu besi di depannya secara perlahan. Ternyata gadis itu juga membawakan beberapa camilan untuk Lily.
"Ayo Lily, makanlah! Cepat! Sebelum ibu bangun dari tidurnya!" Lilac menyodorkan semua makanan ringan itu kepada sang adik.
Namun, perut Lily yang terasa sudah penuh tak sanggup lagi menerima makanan yang dibawakan oleh Lilac. Dia pun menolaknya dengan halus. Raut wajah Lilac sedikit berubah kali ini. Tidak ada senyum manis seperti biasanya.
"Kak, maaf. Bukannya aku tidak menghargai pemberianmu. Tapi, aku benar-benar sudah kenyang." Lily berusaha menjelaskan kondisinya saat ini.
"Begini saja ... biar aku simpan dulu makanan ini. Saat nanti kembali terasa lapar, aku akan memakannya." Lily menggenggam jemari Lilac untuk meredam emosi gadis cantik itu.
"Baiklah, jangan lupa dihabiskan! Aku sudah membawanya kemari dengan bertaruh kartu kredit dan uang jajan! Kamu tahu kan setiap kita tidak mematuhi ibu, maka beliau akan memblokir kartu ATM dan memangkas habis uang jajan untuk satu minggu ke depan?"
Lily mengangguk tanda mengerti. Akhirnya Lilac dan Lupin pun berpamitan, meninggalkan Lily seorang diri di dalam ruang bawah tanah. Sejak hari itu Lily mencoba untuk mengurangi porsi makan seperti yang dikonsumsi oleh Iris.
Meski tubuh Lily seakan menolak kebiasaan itu, Iris tetap melakukannya. Bahkan dia terus melakukan latihan kardio untuk menurunkan berat badan. Dia ingin Lily terlihat cantik ketika hari kelulusan tiba.
Setiap hari, Lily terus mendapat hinaan dan cacian dari Yura dan yang lain. Bahkan sesekali mereka masih mengganggunya dengan banyak hal yang tidak menyenangkan. Mereka semua masih sering mengguyur Lily dengan campuran air dan kecap ikan, melumuri kursinya dengan lem, bahkan yang paling parah gadis-gadis nakal itu masih sering memukuli Lily di gudang dan menakut-nakutinya dengan mesin pencukur rambut.
Lily yang masih belum bisa melawan karena tubuh yang sulit bergerak hanya bisa menatap satu per satu wajah anak-anak yang selalu mengganggunya. Dia bertekat akan membalas semua perbuatan mereka suatu saat nanti. Puncak aksi perundungan itu terjadi ketika acara wisuda selesai.
"Ini adalah hari terakhir kita di kampus tercinta. Jadi, ayo kita bermain-main sebentar! Kita akan membuat kenangan yang mengesankan di hari kelulusan ini!" seru Yura seraya menyalakan mesin pencukur rambut dalam genggaman.
"Yura, aku peringatkan kamu untuk menghentikan semua ini! Mundur!" teriak Lily.
Suara dengung mesin itu menjadi momok tersendiri bagi Iris. Di kehidupannya sebelum ini, dia pernah menyaksikan ibunya meregang nyawa karena dibunuh menggunakan mesin tersebut. Sekujur tubuh ibu Iris dilukai menggunakan alat itu dan dibiarkan hingga kehabisan darah oleh pembunuhnya.
"Aku bilang berhenti!" teriak Lily dengan mata yang mulai memerah.
Dada Lily kembang kempis karena menahan amarah dan ketakutan secara bersamaan. Dia menatap tajam ke arah Yura yang kini bengong melihat keberanian Lily. Yura semakin melangkah mendekat ke arah Lily.
Sebuah senyum miring mengerikan kini terukir di bibir Yura. Dia mendekati Lily dan semakin mendekatkan mesin itu ke telinganya. Lily terus berontak agar bisa terlepas dari cengkeraman Sena dan Hari. Namun, usahanya gagal.
"Mari kita buat kenangan indah hari ini, Lily!"
Rambut panjang Lily pun dicukur habis. Bahkan mata pisau pada alat cukur itu sengaja digoreskan ke kulit kepala Lily berulang kali. Setelah puas melalukan perbuatan jahat kepada gadis itu, Yura dan yang lain langsung meninggalkan Lily di dalam gudang.
"Aku sudah mengingat nama dan wajah kalian. Kalian semua akan menyesali semuanya di kemudian hari! Air mata kalian tidak akan cukup untuk menebus kesalahan ini kepada Lily!" Jemari Lily mengepal kuat seraya menatap kawanan kejam itu keluar dari gudang.
Ternyata di hari yang sama, ibu dan ayah Lily juga mengusirnya dari rumah. Mereka sangat marah ketika melihat kondisi Lily yang terlihat begitu menyedihkan itu. Sang ayah yang biasanya sabar pun ikut marah.
Lily berusaha menjelaskan semuanya. Akan tetapi, Lupin menutup telinga. Mau tidak mau sekarang dia harus keluar dari rumah itu. Sebenarnya ini semua bukan masalah, toh ketika hidup menjadi Iris dia juga memulai semua sendirian.
"Aku akan buktikan kalau Lily yang selalu diremehkan ini bisa mengubah dirinya. Dia akan kembali dengan wajah baru dan membalas semua hal menyakitkan yang kalian lakukan!" seru Lily dalam hati.
***
Delapan belas bulan kemudian.
"Jadi, apa alasan Anda ingin bergabung dengan tim make-up kami?" tanya Sara Kim, seorang pemilik salon terkenal yang biasa menangani riasan idol serta aktris Korea ketika mereka hendak menghadiri acara penghargaan.
"Karena saya yakin, kemampuan saya dapat membuat nama salon ini semakin melambung, Kak." Seorang gadis berwajah cantik bak bidadari sedang diwawancarai ketika melamar pekerjaan di Salon Sara.
"Benarkah? Kemampuan apa saja yang kamu miliki?" Sara mencondongkan tubuh ke arah gadis itu seraya tersenyum miring.
Ya, gadis cantik yang tengah melakukan wawancara pekerjaan itu adalah Lily. Lily dengan kecantikan dan tubuh ideal impian para kaum hawa. Perempuan yang dulu selalu dihina karena bertubuh gendut dan wajah penuh jerawat itu, kini menjelma menjadi perempuan yang sangat cantik.
"Apa pun yang Anda perintahkan, bisa aku lakukan dengan baik!" Lily tersenyum lebar penuh keyakinan.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
apakah itu Lily...
2023-03-08
1
auliasiamatir
satu komentar KEREN BANGET...
2023-03-07
1