Sejak hari itu, Lily terus mengawasi Susy. Setelah diamati lebih jauh ternyata di antara ketiga orang yang dia pilih, Susy terlihat paling ceroboh. Dia sering melakukan kesalahan ketika menata rambut para aktris dan aktor. Akibat kecerobohan Susy, beberapa dari mereka sempat melayangkan komplain kepada Lily.
Puncaknya terjadi ketika sebuah kejadian heboh membuat Susy terkena omelan dari Hari. Saat itu merupakan hari kesepuluh proses pengambilan gambar. Seperti biasa semua sudah bersiap dengan tugas masing-masing.
Susy kali ini sedang menata rambut Hari. Dia menancapkan kabel alat pelurus rambut ke dalam terminal listrik. Sambil menunggu alat tersebut panas, Susy menyiapkan vitamin rambut dan beberapa produk untuk menunjang penampilan Hari.
"Siapa namamu?" tanya Hari dengan nada bicara datar.
"Sa-saya Susy, Kak."
"Sepertinya aku pernah melihatmu di suatu tempat. Tapi, di mana ya?" Hari tampak mengerutkan dahi ketika menggali ingatannya mengenai wajah Susy.
Menyadari Hari yang seperti menaruh curiga, Susy segera memasang masker ke wajahnya. Dia tampak gugup. Tangan Susy gemetar ketika mengoleskan krim khusus agar rambut Hari terlindungi dari suhu panas alat pelurus rambut.
Setelah merasa alat pelurus rambut cukup panas, Susy pun segera menggunakannya. Akan tetapi, sebuah kejadian tak terduga membuat Hari panik bukan main. Tiba-tiba rambut Hari putus ketika lempengan alat tersebut menyentuh helai rambutnya.
"Astaga, apa yang kamu lakukan pada rambutku!" teriak Hari ketika mengetahui rambutnya putus akibat ulah Susy.
"Ma-maaf, Kak. Se-sepertinya alat yang aku gunakan indikatornya rusak. Suhunya baru 180 derajat padahal," jelas Susy gugup seraya menunjukkan angka yang tertera pada indikator suhu alat tersebut.
"Aku tidak mau tahu, ganti tim penata rambut mereka! Aku ingin Yuna yang mengurus semua ini!" seru Hari berapi-api.
Lily yang mendengar keributan itu pun langsung berlari ke arah Hari dan Susy. Dia menanyakan penyebab dari kemarahan Hari. Susy pun menjelaskannya sambil menangis.
"Susy, kamu istirahatlah. Aku akan mengurus ini semua." Lily tersenyum lembut diikuti anggukan oleh Susy.
Setelah Susy pergi dari tempat itu, Lily meminta maaf kepada Hari. Dia akhirnya memeriksa kondisi rambut Hari. Selain itu Lily juga mengecek alat pelurus rambut yang tadi digunakan oleh Susy.
Ternyata masalah ada pada alat tersebut. Alat itu mengalami kerusakan pada indikator suhunya. Akan tetapi, pada dasarnya rambut Hari memang sudah dalam kondisi buruk.
"Maaf sebelumnya, Nona. Alat ini memang rusak. Tapi, rambut Anda juga memiliki kondisi yang sangat buruk."
Mendengar ucapan Lily tentu saja langsung membuat Hari naik pitam. Dia sangat tersinggung dengan apa yang diucapkan gadis itu. Tak elak Hari pun mengeluarkan umpatan untuk Lily.
Mereka berdua kini menjadi bahan perhatian seluruh aktris dan aktor lain, serta kru yang ada di lokasi syuting siang itu. Lily menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Tenanglah, Nona. Mari kita bicarakan semua dengan kepala dingin sambil aku memperbaiki rambutmu." Lily berusaha tetap sabar.
Perempuan itu meminta Hari kembali duduk. Dia pun menatap kesal Lily melalui pantulan cermin di hadapannya. Lily hanya menanggapi tatapan itu dengan senyuman tipis.
"Saya tahu Anda sangat sibuk. Tapi, Anda jarang sekali keramas bukan? Hal ini bisa terlihat hanya dengan saya menyentuh rambut kotor dan berminyak Anda ini." Lily membelai rambut Hari yang tampak lepek dan berminyak.
"Anda juga jarang melakukan perawatan, padahal rambut Anda sering terkena panas dari alat pelurus dan pengeriting rambut. Belum lagi Anda sering berganti warna rambut. Pola makan Anda juga sangat buruk. Anda hanya memakan apa yang ingin dimakan, tanpa mau mempertimbangkan gizi yang terkandung di dalamnya. Untuk itulah rambut Anda rapuh, serta kulit tampak kusam."
Setelah Lily menjelaskan semua kepada Hari, perempuan itu terdiam. Apa yang keluar dari bibir Lily memang benar. Dia jarang pergi ke salon untuk merawat rambut. Selain itu dia hanya mau makan makanan cepat saji serta jarang olahraga.
"Bolehkah saya memotong ujung rambut Anda Nona Lee. Akan aku rapikan sedikit tanpa mengubah bentuk asli rambut Anda?" Lily mencoba untuk memberikan opsi lain.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Hari menyetujui usulan dari Lily. Lily pun langsung merapikan ujung rambut Hari. Dia mengerjakan semuanya dengan cepat.
"Setelah syuting, Anda boleh datang ke salon untuk mendapatkan perawatan khusus, Nona. Pasti Kak Sara akan senang jika Anda mau berlangganan juga di salon kami." Lily tersenyum lembut seraya menatap cermin di hadapannya.
"Akan aku pertimbangkan. Kerjamu bagus juga, padahal bukankah kamu ini MUA? Bisa menata rambut juga ternyata." Hari terus mengagumi bayangan dirinya yang terpantul dari dalam cermin.
Lily tersenyum simpul, kemudian beralih ke aktris lainnya. Syuting pun berjalan lancar. Begitu kegiatan hari itu selesai, Lily langsung mengajak Susy bicara.
Lily sudah tidak tahan lagi dengan kecerobohan Susy. Jika hal itu terus dibiarkan, maka nama baik salon Sara akan hancur seketika. Kini keduanya duduk di bangku taman bekas gedung sekolahan tempat syuting dilaksanakan.
"Susy, aku hanya ingin kamu mengatakan semuanya dengan jujur." Lily menatap intens gadis bertubuh mungil di depannya.
"Kenapa kamu seceroboh itu terhadap Hari? Kamu tahu, dia pemeran utama untuk film ini. Jika kita tidak melakukan yang terbaik, nama besar salon Sara akan tercoreng. Aku tidak peduli jika hanya namaku yang menjadi buruk. Tapi ...." Lily menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai nama baik salon Sara runtuh. Kamu tidak tahu bagaimana perjuangan Kak Sara untuk bisa sampai di titik ini!"
"Kalian juga tidak tahu perjuanganku agar bisa hidup layak hingga Se karang!" seru Susy dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Dada gadis itu tampak kembang kempis dengan ritme napas yang tak beraturan. Jemarinya mengepal kuat seakan sedang memendam gejolak amarah. Lily berusaha untuk menggenggam jemari Susy, tetapi perempuan itu menepisnya.
"Setiap orang memiliki cerita perjuangannya masing-masing, Susy. Kita tidak bisa menganggap perjuangan kita paling berat. Di luar sana masih ada orang dengan beban hidup yang jauh lebih berat."
"Kamu bisa bilang seperti itu karena tidak tahu bagaimana kerasnya kehidupan yang aku alami!" teriak Susy frustrasi.
Lily terbelalak karena melihat sisi lain Susy untuk pertama kali. Susy seakan sedang meledak karena telah menyimpan kepedihan yang terlalu lama. Dadanya kembang kempis sebab menahan gejolak amarah.
"Aku terus tertekan dan menderita sejak kecil karena hidup di bawah garis kemiskinan. Harus bekerja keras sejak kecil. Ketika mulai mandiri, aku harus kembali memeras otak untuk membiayai ibu yang sakit-sakitan! Ayahku seorang pecandu alkohol, penjudi, serta suka bermain dengan perempuan murahan!" Air mata Susy mulai menetes membasahi pipi.
"Bahkan aku harus menjual harga diri untuk menjadi pesuruh orang yang membantu biaya operasi ibu! Sampai sekarang aku harus bergelut dengan banyak hal kotor yang bertolak belakang dengan nuraniku! Kecurangan, berbuat hal licik, dia mengajari dan memaksaku untuk melakukan itu seumur hidup dengan kedok balas budi!"
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
siapa yg mengajari kamu spt itu.????
2023-03-11
1
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
jangan menganggap kalo hidup kita itu paling berat ujiannya...
coba sekali² kamu melihat kebawah, masih banyak yg lebih berat ujian kehidupannya dari pada kita..
2023-03-11
1
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
iihhh jorok..
2023-03-11
1