Belum selesai masalah video tak pantas Hari dengan orang penting dalam dunia film tersebar. Kini ada muncul lagi video ketika dia menampar wajah gadis SMA yang dia temui tadi siang. Mereka mengatakan banyak hal buruk tentang Hari di unggahan orang tersebut.
Bahkan beberapa orang yang tidak Hari kenal ikut menuliskan pernyataan pada kolom komentar, bahwa dia mengenal Hari. Akun-akun itu mengatakan bahwa Hari memiliki sikap temperamen di masa lalu. Jadi, tidak heran kalau dia sampai memukul gadis tersebut.
"Mereka tidak pernah tahu apa yang terjadi sebenarnya! Kenapa mudah sekali memberikan komentar!" teriak Hari frustrasi.
"Jika aku mengakhiri semua secara paksa, apa mereka baru puas?" Sebuah pikiran pendek terlintas di kepala Hari.
Perempuan itu melangkah ke arah meja rias. Dia menulis surat yang ditujukan kepada sang ibu. Selain itu, perempuan tersebut juga menghubungi bibinya untuk menjemput sang ibu. Setelah menyelesaikan semua, Hari pergi keluar rumah.
Hari mengendarai mobil menuju gedung agensinya. Dia naik ke lantai paling atas. Malam itu Hari ingin mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup menghadapi masa depan yang kacau.
Hari langsung naik ke beton pembatas yang ada di tepi gedung. Dia berdiri tegap seakan sedang menantang langit luas yang tengah memayungi. Ketakutan akan menghadapi hari esok jelas terbayang di pelupuk mata.
"Selamat tinggal semua. Dengan begini, kalian pasti puas." Hari mulai menutup mata dan merentangkan tangan.
Perempuan itu melangkahkan kaki ke depan. Dia merasakan angin malam menerpa wajah dan tubuhnya. Ketika hendak menjatuhkan tubuh ke depan, tiba-tiba Hari merasa ada seseorang yang menarik lengannya dari belakang.
Tubuh perempuan itu pun tersungkur ke atas lantai. Ketika membuka mata, Lily tengah meringis menahan sakit karena tangannya tertindih oleh Hari. Melihat perempuan itu membuat Hari terbelalak.
"Ba-bagaimana kamu bisa di sini?"
"Itu tidak penting! Tapi, apa kamu sudah gila? Apa jiwamu selemah ini? Hanya digempur kondisi buruk seperti ini sudah menyerah?" Lily beranjak dari lantai, lalu menepuk mantel yang terkena debu.
"Apa kamu tega meninggalkan ibumu sendiri do dunia uni? Apa kamu yakin orang yang kamu beri kepercayaan untuk merawatnya bisa menjaganya penuh kasih?" cecar Lily seraya menatap tajam Hari.
"Kamu tidak tahu bagaimana hancurnya aku saat ini! Bahkan aku takut untuk menghadapi semua yang akan terjadi besok ketika membuka mata!" teriak Hari frustrasi.
"Apa dengan menjatuhkan diri dari atas gedung akan menyelesaikan semuanya? Toh, itu semua berawal dari kesalahanmu! Kenapa kamu terobsesi dengan peran utama? Padahal menjadi peran pendukung tidak terlalu buruk!"
Hari ikut berdiri. Dia kini mengusap air mata, kemudian menatap tajam Lily. Perempuan itu tampak tidak suka dengan ucapan Lily yang menghakiminya tanpa tahu alasan dia melakukan hal itu.
"Aku melakukan semua itu agar cepat naik! Aku harus segera membuktikan kepada orang-orang yang meremehkanku, kalau aku bisa lebih sukses dari mereka!" seru Hari dengan suara bergetar.
Lily tersenyum miring. Dia membuang pandangan sekilas, lalu kembali menatap Hari dengan menyipitkan mata. Kini perempuan itu melipat lengan di depan dada.
"Tapi apa yang kamu lakukan salah! Proses instanmu itu tidak benar! Akhirnya semua itu menghancurkanmu dengan mudah, bukan?"
"Kamu tahu apa tentang aku?"
"Kemarilah!" Lily menarik lengan Hari.
Perempuan itu mendorong Hari hingga tubuhnya menjorok le dasar gedung. Hari dapat melihat berapa tingginya dia sekarang. Rasa takut mendadak menyelubunginya.
"Lihat sekarang? Tidak semua yang ada di tempat yang tinggi itu selalu baik. Seperti saat ini, kamu merasa takut bukan karena berada di tempat yang sangat tinggi?" Lily melepaskan lengannya dari Hari.
"Sekarang melompatlah, dan kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya!" Lily melipat lengan di depan dada seraya menatap kesal Hari.
Sejujurnya dia sangat senang melihat Hari hancur. Namun, ketika mendapat kabar dari Jay bahwa dia hendak bunuh diri, Lily langsung mencegahnya. Lily ingin Hari menghabiskan sisa hidupnya dengan kenangan buruk.
Lily tidak rela jika sampai Hari dengan mudahnya terlepas dari bayangan kelam masa lalu karena bunuh diri. Kaki Hari seakan lemas. Dia kini tersungkur di atas lantai sambil menangis sesenggukan.
"Kemasi barangmu! Aku akan mengantarmu ke bandara. Pergilah ke Busan. Aku memiliki rumah sederhana di sana. Rawat ibumu dengan baik, dan bukalah usaha kecil karena tempat tinggalmu berada di tempat strategis.
"Kenapa kamu membantuku?" tanya Hari dengan tatapan curiga.
"Kenapa aku membantumu? Apa perlu alasan untuk membantu orang lain?"
Malam itu juga, Hari benar-benar menuruti apa yang diperintahkan oleh Lily. Dia mengajak sang ibu untuk pindah ke Busan. Meninggalkan gemerlap dunia hiburan dan memulai hidup baru di sana dengan mengandalkan toko panekuk isi kacang.
Setelah dua minggu Hari pindah ke Busan, Yuna berkumpul dengan Yura dan Sena di rumahnya. Mereka menaruh curiga karena Ara dan Hari mendadak hilang tanpa memberi kabar. Mereka bertiga pun membahas hal tersebut dan mencoba untuk meraba ke mana mereka berdua pindah.
"Sepertinya kamu sibuk sekali, ya?" tanya Sena kepada Yura.
"Aku bahkan belum sempat memilih gaun pernikahanku dua bulan lagi. Boby juga masih sibuk mengerjakan film barunya." Yura menyesap es kopi hitam kesukaannya.
Setelah lulus kuliah, Yura memilih untuk bekerja di maskapai penerbangan. Hal itu dia lakukan setelah gagal mengikuti beberapa tes untuk menjadi model salah satu produk Fashion terkenal di Paris.
Yura beranggapan, dengan menjadi pramugari dia bisa sering datang ke Paris dan berbelanja produk tersebut dengan uangnya. Selain itu, dia yang suka menjadi pusat perhatian bisa sedikit menyalurkan hobi ketika menjadi pramugari.
Setiap berjalan di dalam bandara dengan memakai riasan dan seragam rapi, mata para pengguna jasa penerbangan pasti menatapnya kagum. Yura sangat suka tatapan-tatapan itu. Hal tersebut membuat dirinya menjadi spesial di mata para penumpang pesawat.
"Apa kalian pernah berpikir bahwa film ini mengandung kutukan?" celetuk Yuna sehingga membuat Sena dan Yura menoleh ke arahnya.
"Kutukan? Astaga! Kamu masih percaya dengan hal seperti itu?" Sena tertawa geli setelah mendengar celetukan sahabatnya itu.
"Begini, jika kalian sudah pernah membaca novel Ara ...."
"Bukan novel Ara, tapi novel Amy!" potong Sena.
"Ya, pokoknya novel itu! Isinya sama persis dengan apa yang pernah kita lakukan kepada Lily! Kalian ingat Lily, bukan?"
Sena dan Yura tampak mengerutkan dahi. Mereka mulai berpikir bahwa semua kesialan yang menghantam Ara dan Hari karena buku yang ditulis oleh Amy.
"Terlebih lagi, setelah hari kelulusan itu ... kabar mengenai Lily sama sekali tidak terdengar. Padahal dia adalah putri pengusaha produk kecantikan terkenal di Seoul."
Perbincangan mereka ternyata didengar oleh Lily dan juga Jay. Ya, mereka sudah mulai menjalankan misi ketiga. Dari percakapan ini, Lily akan memutuskan siapa target selanjutnya yang akan dia hancurkan.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Kalian pasti terkejut kalo tau Lily sekarang udah cantik banget
2023-03-13
1