"Maksudmu?" Amy tampak bingung setelah mendengar ucapan Lily.
Lily pun menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia menatap Amy serius. Perempuan itu juga mencondongkan tubuh ke arah Amy.
"Hari adalah salah satu perundung yang pernah menindasku ketika kuliah."
Amy terbelalak ketika mendengar ucapan Lily. Perempuan itu menampakkan raut wajah tidak percaya. Dia mengerutkan dahi seraya menyipitkan mata.
"Artis seramah dan sebaik dia menindasmu? Aku tidak percaya!" seru Amy seraya menggeleng berulang kali.
Lily beranjak dari sofa kemudian berjalan masuk ke kamar. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan sebuah buku harian dalam genggaman. Lily pun menyodorkan benda itu kepada Amy.
Amy meraih buku tersebut, kemudian mulai membaca lembar demi lembar. Tak elak, perempuan berhati setipis tisu itu meneteskan air mata. Isak tangis pun sampai lolos dari bibirnya.
Setelah Amy selesai membaca lembar terakhir buku itu, tangisnya langsung pecah. Lily yang menyaksikan Amy menangis, segera menepuk lembut punggung perempuan berkacamata itu.
"Ba-bagaimana kamu bisa setegar ini, Lily? Mungkin aku akan melompat dari atas Namsan Tower atau mengikatkan tali tambang ke leherku lalu melompat dari kursi. Atau mungkin mengiris pergelanganku dengan benda tajam?"
"Cih, kamu terlalu mendramatisi!" Lily menatap Amy sinis.
"Jika aku melakukan hal tersebut, mereka yang tidak memiliki nurani itu akan melupakan semua perlakuan buruk yang telah dilakukan kepadaku." Mata Lily menerawang membayangkan kembali bagaimana perlakuan keji yang dilakukan oleh Hari dan komplotannya.
"Untuk itu aku memutuskan untuk mengubah penampilan. Aku ingin kembali dengan wajah baru, lalu membalas semua perbuatan mereka. Aku ingin mereka merasakan bagaimana dihujat oleh seluruh rakyat Korea. Aku mau karier mereka hancur. Lagi pula mereka bisa melejit dalam waktu singkat dengan cara kotor! Aku akan membongkar semua kebusukan mereka!"
"Lily, katakan saja kepadaku jika kamu membutuhkan bantuan! Aku akan menjadi orang pertama yang akan mendukungmu!" Amy menepuk dada jemawa.
"Oh, tidak bisa! Aku adalah orang pertama yang sudah membantu Lily sejak awal!" Dari arah pintu masuk, Jay melayangkan protes.
"Sepertinya aku harus mengganti sandi apartemen!" seru Lily seraya menyipitkan mata.
"Apa kamu lupa bahwa aku ini hacker profesional? Mau kamu ganti sandi menjadi serumit apa pun, aku bisa memecahkannya dalam hitungan detik!" Jay mendongak sombong seraya menyugar rambutnya.
Tak ayal sebuah bantal pun melayang bebas dan mendarat tepat ke kepala Jay. Lelaki itu sampai tersungkur dengan posisi menungging. Sontak Amy terpingkal-pingkal melihat Jay yang tampak seperti orang bodoh.
Beberapa hari kemudian sesuai reservasi yang dibuat, Suji Han datang ke salon. Suji adalah istri dari produser yang membiayai pembuatan film buku milik Amy. Dia merupakan salah satu pelanggan VVIP salon Sara.
Perempuan itu tampak angkuh ketika memasuki salon. Selain melakukan perawatan rambut, Suji ingin menggunakan jasa rias Lily. Dia akan menghadiri acara pesta bersama sang suami. Lily menyambutnya ramah dan menyiapkan peralatan dengan cepat.
"Aku ingin terlihat seperti Marlyn Monroe!" ujar Suji seraya menatap layar ponsel.
"Ya?" Lily mengangkat kedua alis karena heran dengan permintaan kliennya itu.
Sontak Lily membayangkan bagaimana lucunya wajah lebar Suji dipulas dengan riasan ikonis ala artis itu. Bibir merah merona dengan tahi lalat di pipi. Rambut pendek keriting berwarna blonde serta gaun dengan dada terbuka. Sungguh tidak cocok dengan postur tubuhnya.
Lily mati-matian menahan tawa. Dia terus menggigit bibir bagian dalam agar tidak kelepasan. Perempuan itu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Begini, Nyonya Han. Saya bisa saja merias Anda seperti Marlyn Monroe. Tapi, riasan itu kurang cocok dengan Anda. Bagaimana kalau aku rias seperti Adele?" Lily mencoba untuk memberi pilihan lain kepada Suji.
"Apa kamu menyindirku?" Sebuah tatapan tajam dipantulkan oleh cermin di depan Suji.
Lily tersenyum ramah. Dia mulai menghapus make-up yang menempel di wajah kliennya itu dengan lembut. Setelah selesai, barulah di kembali bicara.
"Kalau begitu, aku akan merias wajah Anda seperti Marlyn Monroe. Silakan nanti dinilai sendiri. Apa Anda pantas memakai riasan jenis itu atau tidak." Lily tersenyum miring dan mulai mengulaskan alas bedak ke wajah Suji yang tadi sudah diolesi pelembab.
Lily pun merias wajah kliennya itu sesuai keinginan. Alis tinggi yang menukik tajam dan tipis, bibir berisi dengan lipstik merah merona, serta riasan mata dengan winged eyeliner.
Setelah selesai hasilnya tentu saja tidak sesuai dengan bentuk wajah Suji yang cenderung bulat. Bagi Lily, ini adalah hasil kerja tangannya paling buruk. Melihat sikap Suji yang angkuh, dia ingin memberikan bukti agar kliennya itu percaya.
Ketika Suji menatap pantulan dirinya dari dalam cermin, dia pun marah besar. Dia menatap tajam Lily dan rahangnya mengeras sempurna. Suji berpikir bahwa Lily sengaja melakukan hal itu kepadanya karena kesal dia menolak masukannya.
"Kamu sengaja memperburuk riasanku, bukan? Dasar MUA amatir! Kamu tidak bisa memuaskan pelanggan! Aku sangat kecewa dengan salon ini karena sudah memperkerjakan perias pemula sepertimu!" Suji hendak beranjak dari kursi, tetapi bahunya ditahan oleh Lily.
"Nyonya Han, maaf sebelumnya. Saya bukanlah seperti yang Anda tuduhkan barusan. Saya sudah mencoba memberi Anda masukan, tapi ditolak. Sebagai MUA saya mencoba memberikan pelayanan terbaik." Kali ini tidak ada lagi senyum ramah yang terukir di bibir Lily.
Lily menatap tajam Suji melalui pantulan cermin di hadapannya. Suji pun tampak menyipitkan mata karena kesal dengan sikap MUA yang sedang melayaninya itu. Lily akhirnya menekan amarah, sehingga sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
"Nyonya, berikan saya kesempatan sekali lagi untuk merias Anda dengan benar. Merias sesuai bentuk wajah serta warna kulit Anda. Riasan ala Adele sangat cocok untuk Anda. Percayalah kepadaku!"
Akhirnya Suji terdiam. Dia mencoba memberi Lily kesempatan. Wajah perempuan itu pun mulai dibersihkan dari riasan sebelumnya. Lily segera merias ulang wajah Suji.
Setelah melalui proses selama satu jam lebih, kini wajah Suji tampak lebih segar. Dia tidak menor seperti tampilan sebelumnya. Justru sekarang Suji tampak anggun dan jauh lebih muda.
"Bagaimana, Nyonya?" tanya Lily sambil menatap pantulan wajah kliennya dari dalam cermin.
Mata Suji melebar seketika. Bibirnya menganga lebar ketika melihat bayangan melalui cermin. Berulang kali dia mengagumi diri sendiri yang tampak jauh lebih muda karena hasil riasan Lily.
"Kamu memang hebat!" puji Suji.
Perempuan itu langsung balik badan kemudian menatap lembut Lily. Sikap Suji berubah 180 derajat sekarang. Dia tampak ramah dan sopan ketika berbicara dengan Suji.
"Mulai sekarang, kamu akan bertanggungjawab atas riasanku! Sebenarnya putriku juga seorang MUA terkenal. Tapi dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Jadi, aku memilih salon ini jika memiliki acara penting untuk mengurus penampilanku!"
"Terima kasih, Nyonya sudah mempercayakan penampilan Anda kepada salon Sara, khususnya pada saya." Lily menunduk penuh hormat seraya menyembunyikan senyum miringnya.
"Misi kedua akan segera dimulai," gumam Lily.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments