"Jadi, untuk besok ... kamu ingin mengajak siapa?" tanya Sara kepada Lily ketika briefing hari itu akan diakhiri.
Lily menatap satu per satu karyawan salon Sara. Dia menatap mereka sambil mengingat lagi bagaimana cara kerja dan ketrampilan semua karyawan tersebut. Lily hanya membutuhkan satu asisten perias dan dua olah penata rambut.
Dari semua karyawan yang ada di salon itu, akhirnya Lily menjatuhkan pilihannya kepada 3 orang pemuda. Dia menganggap bahwa kemampuan mereka baik, dan cara kerja sangat cepat. Mereka bertiga juga sigap serta pandai dalam menghadapi situasi di luar dugaan.
Lily memilih Elijah, Susy, dan Juno untuk masuk ke dalam timnya. Ketiganya tampak senang. Bahkan mereka saling berpelukan karena rasa senang yang mereka rasakan.
"Ingat, Sutradara Kang adalah orang yang sangat menghargai waktu. Aku harap kalian datang tepat waktu! Mengerti?" Lily mencoba untuk memperingatkan ketiga orang yang kini sudah kembali berdiri tegak itu.
"Baik!" seru Elijah, Juno, dan Susy serempak.
"Khusus kalian berempat ... kalian bisa pulang lebih awal. Segera beristirahat, agar besok dapat bangun pagi dan datang ke sini tepat waktu," ucap Sara.
"Terima kasih, Bu Sara!" seru mereka serempak.
Di sisi lain, Yuna yang menerima kabar bahwa pilihan Produser Han jatuh kepada salon saingannya pun marah besar. Perempuan itu langsung mendatangi kantor Jackson dengan amarah yang meledak-ledak. Dadanya bergemuruh hebat karena tidak terima dengan keputusan sang ayah.
Ya, Yuna merupakan putri dari Jackson dan Suji yang sudah dirawat sejak kecil. Dia mendapatkan limpahan kasih sayang dari mereka berdua. Selain kasih sayang, keluarga itu juga memberi Yuna serta Yura fasilitas dan kemewahan sejak tinggal bersama.
Perempuan yang sedang diselubungi amarah itu pun langsung masuk ruangan Jackson tanpa permisi. Dia membanting pintu kasar, lalu menggebrak meja Jackson. Lelaki yang sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon itu pun langsung menghentikan percakapannya.
"Ayah, apa maksud ayah menjalin kerja sama dengan salon Sara? Apa ayah sudah tidak mempercayai kemampuan putrimu sendiri?" protes Yuna dengan dada kembang kempis.
"Yuna, tenanglah. Ayah bisa menjelaskan semuanya. Ibumu ...."
"Halah, jangan kebanyakan alasan! Sejak dulu memang kalian tidak benar-benar mencintai kami!" Yuna balik badan kemudian keluar ruangan itu seraya membanting pintu kasar.
"Yuna, dengarkan ayah dulu!" seru Jackson seraya mengejar sang putri.
Jackson pun berhasil mencekal pergelangan Yuna yang hampir masuk ke dalam lift. Mau tidak mau akhirnya Yuna pun menghentikan langkah. Dia menatap tajam sang ayah seraya melipat lengan di depan dada.
"Ibumu memintaku untuk menjadikannya tim make-up. Lagi pula ini bukanlah proyek film besar. Aku rasa tidak ada ruginya bagimu."
"Tidak ada ruginya? Jelas aku rugi, Yah! Ayah sudah berjanji untuk melibatkanku di setiap proses produksi film dibawah naungan Han Multimedia!"
"Maaf, untuk kali ini saja. Kamu tahu bagaimana sifat ibumu, 'kan? Jika dia memiliki keinginan, maka harus terwujud." Bahu Jackson merosot dengan sorot mata sendu menatap sang putri yang sedang emosi.
Akhirnya Yuna membuang napas kasar. Dia mengangguk pasrah kemudian berpamitan kepada sang ayah. Perempuan itu kembali masuk ke dalam lift dan mencari tahu tentang salon Sara.
Sebuah senyum terbit di bibir Yuna ketika sebuah ide brilian terlintas di otaknya. Perempuan itu langsung menghubungi seorang kenalan melalui sambungan telepon.
"Bisa lakukan sesuatu untukku?"
***
Jam menunjukkan pukul 04:00 ketika Lily, Elijah, dan Juno sampai di depan salon sara. Mereka sengaja berkumpul di sana karena Sara memberi fasilitas mobil untuk transportasi ke lokasi pengambilan gambar.
Shooting akan dilaksanakan pukul 06:30. Jadi, paling tidak mereka harus sampai di sana satu jam sebelum pengambilan gambar dimulai. Semuanya masih tampak santai hingga jam menunjukkan pukul 05:00.
"Elly, bisa tolong hubungi Susy?" pinta Lily.
"Sebentar, Oennie."
Elijah langsung menghubungi Susy menggunakan ponselnya. Setelah menunggu beberapa menit, tak kunjung tersambung. Elijah terus mengulanginya hingga beberapa kali.
Akan tetapi, hasilnya sama. Panggilannya tidak masuk ke nomor ponsel Susy. Firasat buruk langsung menghantui pikiran Lily.
"Apa kalian tidak memiliki nomornya yang lain?" tanya Lily panik.
"Aku ada, biar aku hubungi nomor satunya!" sahut Juno.
Lelaki itu langsung menghubungi rekan kerjanya itu. Namun, hasilnya sama. Susy tidak mengangkat panggilannya meski panggilan itu tersambung.
"Gawat! Seharusnya kita sudah sampai di sana sekarang!" Lily mengacak rambut frustrasi.
"Bagaimana kalau kita ke sana dulu, Kak? Biar nanti Susy menyusul?" usul Juno.
"Baiklah, kita tidak boleh kehilangan kesempatan emas ini! Nasib salon Sara ada di tangan kita!"
Lily bergegas masuk ke mobil. Juno dan Elijah pun mengikutinya. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Lily langsung tancap gas membelah jalanan Seoul yang masih sepi.
Ketika baru berkendara selama 10 menit, dari kejauhan terlihat seorang perempuan dengan motor bebek melambaikan tangan. Mata Lily melebar. Dia menghentikan mobilnya dan menghampiri wanita itu.
"Susy! Kenapa baru sampai sini?" tanya Lily.
"Maaf, Kak. Motorku mogok ketika sampai di depan LOTTE. Aku mencari bengkel belum ada yang buka. Jadi, aku terpaksa mendorongnya sampai ke sini!"
"Kenapa kamu tidak menghubungi kami?"
"Ponsel yang aku bawa baterainya habis, dan yang satu tertinggal di apartemen," jelas Susy dengan suara terbata-bata.
Peluh tampak bercucuran membasahi dahi perempuan bertubuh mungil itu. Lily pun akhirnya mengembuskan napas kasar. Dia segera menghubungi Jay untuk membantunya mengurus motor itu.
Setelah Jay datang, mereka pun kembali masuk ke mobil. Jam menunjukkan pukul 05:46 ketika mereka sampai di lokasi shooting. Lily langsung menemui sang sutradara dan meminta maaf.
Beruntungnya Boby memaklumi hal itu. Akan tetapi, Lily mendapat peringatan keras. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin dan tepat waktu.
"Ayo, kita mulai! Elijah, membawa kotak make-up ke sini!" perintah Lily.
Elijah pun segera membawa sebuah kotak besar dan menyerahkannya kepada Lily. Akan tetapi, masalah lain muncul ketika Lily membuka kotak berisi peralatan make-up itu.
Kotak itu tampak kacau. Padahal hari sebelumnya Lily sudah menatanya dengan rapi. Namun sekarang, kotak tersebut berantakan.
Tidak hanya letak benda-benda itu saja yang tampak kacau. Beberapa serbuk berwarna berceceran, sehingga membuat tampilan kotak bagian dalam terlihat kotor. Ketika Lily membuka salah satu palet pewarna kelopak mata, dia terbelalak.
"Bagaimana bisa ini terjadi?" Lily menunjukkan palet eyeshadow itu kepada Elijah.
"A-aku tidak tahu, Kak," kata Elijah panik sambil berjalan mendekat ke arah Lily.
Elijah pun menengok de dalam kotak peralatan rias wajah. Begitu mengetahui kekacauan yang terjadi, Elijah ikut terbelalak. Perempuan itu pun menelan ludah kasar karena senjata untuk mereka bertempur tiba-tiba rusak. Kakinya terasa begitu lemas hingga dia tak mampu berdiri tegak.
"Ba-bagaimana bisa terjadi?" tanya Elijah terbata-bata.
"Siapa yang membawa kotak make-up ini masuk ke dalam mobil?" Lily menatap satu per satu anggota timnya.
Elijah, Juno, dan Susy hanya menunduk lesu. Susy dan Elijah tampak saling sikut. Hal itu membuat Lily semakin marah.
"Katakan, siapa yang memasukkannya ke dalam mobil!" bentak Lily sehingga membuat tiga orang di depannya tersentak.
"Maaf, Noona. Saya yang membawanya masuk ke dalam mobil!" Juno maju seraya mengangkat tangannya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
siapa pelakunya ...
2023-03-09
1
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
apakah kalian ingat 🤔 LOTTE itu spt nama salah satu obat tetes mata...🙄
Bener gak sih ..
2023-03-09
2
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
apa yg akan kamu lakukan Yuna...🙄
2023-03-09
1