Ara sedang berada di salon Sara siang itu. Dia tengah diberi perawatan rambut oleh salah seorang karyawan yang ada di sana. Hari itu Lily tidak bisa melayaninya karena harus merias pelanggan lainnya.
Ya, Lily memang bisa mengerjakan semuanya. Namun, Sara tetap memfokuskan pekerjaan merias untuk Lily. Ara sedang berusaha menikmati setiap pijatan yang diberikan oleh karyawan Sara.
Mata Ara sempat terpejam karena rasa kantuk yang datang menghampiri. Akan tetapi, ketika hampir saja tertidur tiba-tiba ponselnya berdering. panggilan dari Editor Lee membuatnya mengerutkan dahi.
"Halo, Editor Lee."
"Ara, kamu serius dengan naskah yang kamu tulis ini?"
"Apa maksud Anda, Pak Lee?"
"Kamu menuliskan bahwa dulu kamu adalah perundung! Kamu melakukan hal bodoh dan keji itu bersama empat orang lainnya! Apa maksudmu, ha?"
Ara yang awalnya bersandar pada kepala kursi, kini langsung duduk tegap. Kepala yang awalnya ringan kini terasa berat dan berdenyut. Perempuan itu pun memijat pelipisnya perlahan.
"Bisa jelaskan pelan-pelan, Pak? Aku tidak mengerti. Aku hanya melanjutkan novel itu dari seri pertama yang akan difilmkan!"
"Temui aku di Kafe Enjoy satu jam lagi!"
Sambungan telepon pun terputus. Lily yang sudah paham dengan situasi yang dialami Ara, akhirnya menghampiri perempuan itu. Dia berpura-pura menaruh simpati dengan menanyakan apa yang sedang terjadi. Ara pun menceritakan semuanya dengan berapi-api.
"Semua ini pasti ulah Amy! Aku akan memberi perhitungan dengannya!" seru Ara.
"Tenanglah, selesaikan dulu perawatanmu untuk mengurangi stres. Setelah itu hadapi semua ini dengan kepala dingin." Lily kini mengambil alih pekerjaan rekannya.
Kebetulan pekerjaan Lily melayani pelanggan lain sudah selesai. Jadi, dia memutuskan untuk menemani Ara. Sekedar untuk mendengarkan omelan tak berbobot perempuan itu.
Selain itu, Lily juga sengaja mengulur waktu agar Ara langsung menemui Editor Lee setelah keluar dari salon. Jika tidak mengulur waktu, bisa dipastikan Amy akan terkena ledakan amarah Ara. Jam menunjukkan pukul 13:00 ketika Lily menyelesaikan pekerjaannya.
Emosi Ara sedikit berkurang sekarang. Ketika melirik jam yang melingkar di tangannya, wajah perempuan itu berubah panik. Dia langsung beranjak dari kursi kemudian keluar dari salon. Begitu Ara menjauh, Lily langsung menelepon Jay.
"Awasi dia," ucap Lily dengan ponsel menempel di telinga.
Setelah mendapat jawaban dari Jay, Lily pun mematikan sambungan telepon. Sebuah senyum miring dan tatapan tajam dia layangkan kepada Ara yang semakin menjauh dari pandangan.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya Ara sampai di kafe. Editor Lee sudah menunggunya dengan wajah masam. Dia langsung menunjukkan naskah yang dikirimkan oleh Amy kepadanya.
Mata Ara membulat sempurna ketika membaca sekilas isi dari naskah tersebut. Naskah novel setebal 400 halaman itu menceritakan tentang perjalanan hidup kelam Ara. Di sana dia juga mengaku telah bersalah dan meminta maaf kepada semua orang yang pernah merasa tersakiti.
"Apa semua yang kamu tulis ini benar? Apa kamu sengaja ingin mengakhiri karier dari dunia penulisan? Apa kamu sudah bosan? Atau ... pembagian royalti sebanyak 20 persen masih kurang untukmu?" Editor Li menggebrak meja di depannya hingga benda yang ada di atasnya melayang selama satu detik.
"I-ini ... naskah ini ...." Ara mulai kehabisan jawaban.
Jika Ara mengatakan bahwa itu bukan tulisannya pasti kariernya akan hancur seketika. Akan tetapi, bila dia mengatakan bahwa itu memang tulisannya sama saja dengan membongkar aibnya sendiri kepada masyarakat umum.
"Jadi, apa yang bisa kamu jelaskan kepadaku mengenai naskah ini?" Editor Lee mengetuk naskah yang sudah dicetak itu dengan ujung jarinya.
"Itu ... aku sengaja membuat gimmick agar novel kali ini semakin laku. Si-siapa tahu seri kedua ini bisa menjadi plot twist dari novel sebelumnya."
"Plot twist katamu?" tanya Editor Lee seraya mencondongkan tubuh ke arah Ara.
"I-iya, Pak." Ara tertunduk lesu seraya meremas jemarinya sendiri.
"Baiklah, akan aku katakan hal ini kepada pihak penerbit. Tapi ...." Lee menyipitkan mata kemudian membuka bagian biografi penulis yang ada di bagian belakang naskah tersebut.
"Kenapa profil penulis bukan nama dan fotomu? Siapa Itu Amy Chan?"
Ara langsung meneliti apa yang ditunjukkan oleh Editor Lee. Pupil matanya melebar seketika. Ternyata kali ini Amy menuliskan profil dirinya ke dalam buku.
"Apa selama ini kamu menggunakan jasa penulis bayangan?"
"Maaf, Pak." Ara tertunduk lesu.
Namun, dalam hati Ara amarahnya sedang memuncak. Dia berniat akan menghajar Amy habis-habisan setelah pulang ke rumah. Terdengar hela napas kasar dari bibir sang editor.
"Aku akan mengatasi hal ini. Jangan sampai fakta ini terbongkar ke media. Pulanglah!"
"Ba-baik Editor Lee." Ara beranjak dari kursi kemudian menunduk dalam dan meninggalkan kafe itu.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Ara terus mengomel. Bahkan sesekali dia langsung menekan klakson jika ada mobil yang melaju di depannya. Ara terus menekan klakson hingga mobil itu mau menyingkir dan memberinya jalan.
Sesampainya di rumah, Ara langsung menghampiri Amy di ruang kerja. Amy tampak sibuk dengan tumpukan buku untuk referensi pengerjaan novel berikutnya. Ya, kepala Amy memang selalu dipenuhi ide brilian.
Bagi Amy tidak ada hari tanpa menulis dan membaca. Dia tampak serius menatap hamparan buku yang dibuka secara bersamaan. Sampai-sampai perempuan itu tidak menyadari kalau Ara sudah berada di depan meja kerjanya.
"Amy! Apa kamu sudah gila?" teriak Ara frustrasi.
Menyadari kehadiran Ara dengan raut wajah marah, sontak Amy beranjak dari kursi. Dia langsung mendekati Ara dan mencoba untuk menenangkannya.
"Apa maksudmu menulis naskah itu? Lalu kenapa kamu tidak mencantumkan profilku di akhir naskah, melainkan milikmu!"
"Ah, itu ...." Belum sempat Amy menjelaskan semua, Ara langsung mendorong tubuhnya.
Tak elak tubuh perempuan itu tersungkur di atas lantai. Dahi Amy pun membentur sudut meja hingga menimbulkan luka sobek. Darah perlahan mengalir membasahi pipinya.
Amy meringis menahan sakit. Ketika dia hendak bangkit dari atas lantai, Ara menginjak kepalanya. Kini bukan hanya darah yang mengalir membasahi pipi.
Akan tetapi, air mata Amy juga bercucuran. Hatinya seakan diremas mendapat perlakuan keji dari Ara. Dia benar-benar merasa tidak dianggap sebagai manusia oleh saudara angkatnya itu.
"Seharusnya sejak awal ibu dan ayah tidak membawa sampah ke dalam rumah ini!" seru Ara dengan gigi rapat.
"Aku benar-benar menyesal telah mempercayaimu sampai sejauh ini, Amy! Kamu menusukku dari belakang!" Ara terus menguatkan injakkannya di atas pelipis Amy.
Perempuan berkacamata itu hanya bisa menitikkan air mata. Rasa marah dan sedih bercampur di dalam hatinya. Dadanya bergemuruh hebat, tetapi tenggorokannya seakan tercekat sehingga tidak bisa mengeluarkan suara.
Amy ingin sekali berteriak sekuat tenaga, tetapi dia menahannya. Dia mencoba bersabar sedikit lagi. Beberapa detik kemudian dari arah kamar mandi terdengar suara derit pintu yang terbuka.
Sontak Ara menoleh ke arah kamar mandi. Bibirnya menganga lebar ketika mengetahui siapa yang kini ada di ruangan itu. Mata perempuan itu terbelalak dengan jemari yang mengepal kuat.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Vivin Novriyanti
allahu akbar..
2023-03-09
1
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
siapa???
2023-03-08
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
mampus...
awal kehancuran d depan mata...
2023-03-08
0