Beberapa saat lalu setelah Arland mengatakan jika Kanaya sedang berada diruang poli kandungan dan istrinya itu benar dinyatakan hamil, Keenan bergegas pergi menemui Kanaya tanpa memperdulikan keadaannya yang juga lemah.
Kanaya dan Damar tersentak kaget ketika pintu ruangan poli kandungan terbuka dari luar dengan cukup keras.
Kanaya langsung membuang muka melihat siapa yang datang, sementara Damar tetap bergeming di tempatnya berdiri. Tatapannya yang semula terus menatap Kanaya kini menundukkan kepalanya. Fakta tentang kehamilan Kanaya benar-benar membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.
Sementara diluar ruangan, Arland berjaga bak pengawal. Khawatir jika sewaktu-waktu Tania dan Vino datang, dan melihat drama besar yang kemungkinan terjadi didalam ruangan.
Keenan membawa langkah kakinya mendekati Damar, hal tak terduga Keenan merendahkan tubuhnya bersimpuh di hadapan adiknya itu.
Dan Damar pun tak terkejut lagi, karena ia tahu apa yang akan Keenan katakan.
"Kau masih ingat kan, apa yang Bang Keenan katakan saat kita melakukan perjanjian?"
Tentu Damar masih sangat ingat, namun ia tidak memberikan jawaban apapun.
"Damar, Bang Keenan mohon demi bayi yang dikandung Kanaya. Abang mohon keikhlasan mu untuk merelakan Kanaya." Keenan mengatupkan kedua tangannya memohon dihadapan Damar.
"Semua keputusan ada pada Kanaya." Setelah mengatakan itu, Damar pun berbalik keluar dari ruangan itu. Yah, ia memang meminta Kanaya untuk mempertahankan bayi itu, namun semua keputusan tetap ada pada Kanaya sendiri.
Setelah Damar meninggalkan ruangan itu, Keenan berdiri lalu menghampiri Kanaya yang masih berbaring di atas ranjang pasien.
"Kau dengar sendiri kan Damar bilang apa? Dia menyerahkan semua keputusan padamu, dan Aku mohon demi bayi kita...
Belum sempat Keenan menyelesaikan ucapannya, Kanaya bangun dan melayangkan tamparan diwajahnya.
Plak...
"Jangan harap aku akan mempertahankan bayi ini! Kehadiran bayi sudah menghancurkan kehidupanku, sama seperti kamu yang sudah merenggut kebahagiaan ku bersama Bang Damar."
Keenan menatap istrinya dengan sendu, dadanya bergemuruh. Ucapan yang terlontar dari bibir Kanaya memporak-porandakan hatinya, tak ada yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini selain sakit. Kanaya ternyata tidak menginginkan bayi nya.
"Kanaya, aku tahu ini berat untukmu, aku juga tahu jika kau sangat membenciku. Tapi bayi itu tidak bersalah, Kanaya, akulah yang salah, perbuatanku malam itu yang salah." Keenan tak kuasa menahan air matanya agar tak jatuh. Selama tiga bulan ini, ia dengan sabar menghadapi semua sikap Kanaya namun, hari ini dadanya benar-benar sesak saat Kanaya mengatakan tidak akan mempertahankan bayinya.
Keenan menatap Kanaya dengan lekat, mencoba menggenggam tangan Kanaya, namun istrinya itu segera menepis.
"Aku mohon pertahankan bayi kita, aku janji setelah dia lahir...
Keenan tak sanggup melanjutkan ucapannya, ia mengusap wajahnya dengan kasar kemudian kembali menatap Kanaya dengan penuh permohonan.
"Aku janji setelah bayi itu lahir dan kau masih membenciku, aku bersedia melepaskan mu."
Meski berat, namun dengan terpaksa Keenan katakan agar Kanaya mau mempertahankan bayi itu.
Jika ia tidak bisa memiliki Kanaya, setidaknya ada bagian dari diri Kanaya yang ikut bersamanya. Yah, Keenan tidak bisa membohongi dirinya jika selama tiga bulan bersama Kanaya ada sebuah rasa yang tumbuh dihatinya. Egois kah dirinya telah mencintai kekasih adiknya sendiri?
"Aku mohon, tolong pertahankan bayi itu." Sekali lagi Keenan memohon dengan nada yang bergetar, air matanya kembali jatuh.
Sementara Kanaya hanya diam saja, ia tidak menyangka jika Keenan juga bisa menangis.
.
.
.
Keenan keluar dari ruang poli kandungan dengan perasaan yang sedikit lega, meskipun Kanaya tidak memberikan jawaban apapun namun ia yakin jika Kanaya akan mempertahankan bayinya. Kanaya tidak mungkin tega membunuh darah dagingnya sendiri.
"Hei teman, kau menangis?" Arland sedikit terkekeh melihat kedua mata Keenan yang sembab.
Vino dan Tania yang sudah datang sejak beberapa menit lalu langsung beranjak menghampiri putranya.
"Keenan, apa yang terjadi, Nak? Kenapa kau menangis?" Tania menatap putranya dengan cemas.
"Tidak ada apa-apa, Ma. Aku hanya terlalu bahagia karena akan menjadi seorang Ayah." Ujar Keenan sembari mengukir senyum diwajahnya untuk meyakinkan mama dan papanya.
Tania dan Vino pun langsung memeluk putra mereka dengan penuh haru, rasa bahagia juga menghampiri mereka karena akan menjadi kakek dan nenek.
"Lalu apa yang terjadi padamu, Nak?" Tania mengurai pelukannya. "Tadi Arland menelpon kami, katanya kamu pingsan."
Keenan tersenyum, "Aku juga tidak apa-apa, Ma. Dua bulan ini aku memang sering mengeluhkan pusing dan mual, dan ternyata itu adalah gejala kehamilan simpatik." Jawab Keenan.
Vino menertawai putranya, karena dua kali Tania mengandung tidak pernah ia yang merasakan efek kehamilan itu. Namun, ia selalu direpotkan dengan berbagai macam ngidam istrinya.
Vino berhenti tertawa, ketika mendapatkan cubitan di pinggangnya yang cukup menyengat.
"Tidak apa-apa, Ma, aku senang karena aku yang merasakannya bukan Kanaya. Dengan begitu aku jadi tahu bagaimana perjuangan seorang wanita yang sedang mengandung, dan ternyata rasanya cukup menyiksa." Keenan tersenyum kecut, selama dua bulan ini hampir setiap pagi ia selalu muntah namun tidak ada yang mengurusnya, Kanaya selalu bersikap acuh dan dan selalu mengabaikan dirinya.
Tania tersenyum haru, ia mengusap wajah putranya dengan sayang.
Tak lama kemudian Kanaya pun keluar, ia sedikit terkejut mendapati keberadaan kedua mertuanya.
Tania langsung berpindah memeluk menantunya, mengusap rambut panjang Kanaya dengan lembut.
Sementara itu, Kanaya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Damar. Namun, sepertinya kekasihnya itu sudah pergi.
Tak lama kemudian, Tania mengurai pelukannya.
"Mama senang banget, akhirnya sebentar lagi Mama akan jadi Nenek." Ujar Tania dengan wajah berbinar.
Kanaya pun tersenyum, namun tak ada satu katapun yang terucap dari bibirnya.
"Mulai hari ini, kalian tinggal bareng kami lagi ya? Dengan begitu Mama bisa ikut melihat perkembangan calon cucu Mama, lagipula Keenan juga sedang tidak sehat. Biar kamu tidak kewalahan, Mama akan membantumu merawat Keenan." Ujar Tania lagi.
Dan Kanaya hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, yang membuat Keenan benar-benar merasa lega. Karena dengan begitu ia tidak akan khawatir Kanaya berbuat yang macam-macam pada kandungan nya, karena ada keluarganya yang akan memantau Kanaya jika ia pergi bekerja.
Setelah mengurus biaya administrasi, mereka semua pun pulang dengan perasaannya masing-masing. Tania dan Vino tentu sangat merasa bahagia dengan kabar kehamilan Kanaya, dan Keenan tetap masih merasa cemas meski Kanaya bersedia tinggal bersama orangtuanya lagi, tak menutup kemungkinan jika Kanaya akan mau menerima dirinya sepenuhnya. Sementara Kanaya sendiri tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaannya saat ini, disaat seorang wanita merasa bahagia dengan kabar kehamilannya, justru dirinya tidak karena kehadiran bayinya itu akan menjadi penghalang untuk bersama Damar.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Rafly Rafly
suami enggak punya harga diri...bangke bener Lo nan../Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2025-03-31
0
febby fadila
muak aku sama sikapx kanaya
2025-03-17
0
Qaisaa Nazarudin
Hila Kanaya,Aku langsung Ilfil dgn sikapnya,Walau gimana pun Kenan itu tetap suami kamu,Selama kalian belum berpisah,kamu harusnya memperlakukan dan menjaga Kenan seperti seorang SUAMI,Coba aja Kanaya yg berada di posisi Kinan,Apa yg Kanaya rasakan,Aku swbagai wanita aja tdk membenarkan perlakuan Naya ke Suaminya,
2024-09-03
0