Damar mencoba mengingat lagi apakah ia pernah melakukan atau mengatakan sesuatu yang membuat Kanaya marah namun, ia meyakini tidak pernah melakukannya. Lalu ada apa dengan kekasihnya itu?
"Sebaiknya Aku menemui Kanaya." Setelah beberapa saat berpikir namun, tak menemui jawaban. Damar pun memutuskan untuk mendatangi hotel tempat Kanaya bekerja dan akan meminta penjelasan pada kekasihnya itu.
Sementara itu, Keenan dan Arland telah sampai di hotel. Mereka langsung mendatangi pihak hotel untuk meminta persetujuan melihat rekaman cctv tadi malam.
Setelah mendapat persetujuan, mereka pun langsung menuju ruangan cctv.
"Perhatikan dengan teliti, jangan sampai ada yang terlewat." Ucap Arland setelah petugas pengawas cctv memutar rekaman tadi malam di hotel saat acara berlangsung.
Keenan pun menarik kursi dan duduk di samping petugas pengawas cctv itu dan menatap layar monitor dengan teliti.
Kedua mata Keenan membulat saat rekaman memperlihatkan dirinya saat awal datang bersama Anin dan juga Damar, karena disinilah kejadian semalam bermula.
Keenan menegakkan posisi duduknya kala layar monitor itu menampilkan adegan selanjutnya, dimana seorang wanita yang berpenampilan cukup seksi itu menghampirinya kemudian memberikannya segelas minuman.
"Keenan, apa Kamu yakin tidak mengenal wanita itu?" Tanya Arland, ia juga duduk di samping Keenan memperhatikan wajah wanita itu.
Keenan tak langsung menjawab, ia masih menatap wanita itu dengan intens kemudian ia menggeleng sebagai jawabannya jika ia tak mengenal wanita itu.
Arland pun mengatakan pada petugas pengawas cctv itu agar nanti menyalin rekaman ini dan mengirimkan padanya, untuk ia pergunakan mencari tahu wanita yang ingin menjebak Keenan itu melalui orang suruhannya.
Kemudian rekaman pun kembali berlanjut, duduk Keenan mulai terlihat tak tenang ketika memperlihatkan dirinya yang berjalan tanpa arah saat reaksi obat itu sudah bekerja ditubuhnya.
Keenan langsung memalingkan wajahnya ketika dilayar monitor itu menampilkan dirinya yang masuk ke sebuah kamar kemudian menutupnya dengan kasar. Di dalam kamar itulah kesucian seorang gadis telah ia nodai.
Arland yang mengerti apa yang dirasakan Keenan saat ini langsung mengusap bahu sahabatnya itu.
Petugas pengawas cctv itu menjeda rekaman lalu bertanya, "Bagaimana, Pak apa sudah cukup?"
"Tolong dilanjutkan, Pak, Aku ingin melihat rekaman beberapa jam setelah Saya masuk ke kamar itu." Ujar Keenan, ia ingin melihat bagaimana gadis itu keluar dari kamar setelah kejadian itu.
"Baik, Pak." Petugas pengawas cctv itupun kembali memutar rekaman, dan mempercepat hingga ke beberapa jam ke depan.
"Stop, Pak." Pinta Keenan ketika layar monitor memperlihatkan gadis itu keluar dari kamar.
Rekaman pun kembali di jeda.
Keenan memperhatikan dengan seksama gadis itu, jika dilihat usianya masih sangat muda kira-kira seumuran dengan adiknya-Anin. Dari situ sekarang Keenan tahu kemana jas nya menghilang, ternyata gadis itu yang telah memakainya, dan iapun tahu kenapa gadis itu memakai jas nya adalah karena untuk menutupi pakaiannya yang telah ia robek.
Arland yang turut memperhatikan tanpa sadar menggeleng pelan kepalanya, ia tidak menyangka jika gadis itu masih sangat muda. Sangat disayangkan, namun semuanya sudah terjadi.
"Maaf, bukannya saya ingin ikut campur tapi jika saya boleh tahu ini sebenarnya ada apa? Apa sebenarnya hubungan kalian dengan Nak Kanaya ?"
Arland dan Keenan serentak menoleh mendengar pertanyaan petugas pengawas cctv itu.
"Jadi Bapak mengenal gadis itu?" Tanya Keenan sambil menunjuk ke arah layar monitor.
"Iya, namanya Kanaya." Petugas pengawas cctv itu tentu mengenal Kanaya karena setiap hari ia bertemu gadis itu saat jam makan siang untuk para pegawai hotel. Kanaya yang sudah tidak mempunyai orang tua sering bercerita padanya dan sudah menganggap Kanaya seperti anak sendiri.
Nafas yang sedari tadi terasa tercekat, terhembus kan dengan panjang. Keenan merasa sedikit lega karena ternyata petugas pengawas cctv ini mengenal gadis itu.
"Pak, saya minta tolong pertemukan saya dengannya. Saya akan sangat berterima kasih jika Bapak bisa membantu saya bertemu dengannya." Keenan sampai menggenggam kedua tangan yang sudah terlihat kerutan nya itu.
"Tapi maaf, Pak, saya tidak bisa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi." Sambung Keenan.
Beberapa saat berpikir, petugas pengawas cctv itupun mengangguk lalu setelah itu ia beranjak untuk menemui Kanaya sementara ia meminta Keenan dan Arland untuk menunggu diruang cctv saja.
Dengan perasaan yang tak menentu, Keenan menunggu sambil terus mondar-mandir didalam ruangan itu, sementara Arland berdiri bersandar pada dinding sembari memperhatikan Keenan yang sudah seperti setrika menurutnya.
.
.
.
Sementara itu, Kanaya yang baru saja keluar dari kamar yang sudah ia bersihkan, wajahnya seketika mengembangkan senyum melihat sosok laki-laki paruh baya yang sudah ia anggap seperti orangtuanya sendiri, berjalan kearahnya.
"Naya, Kamu sudah selesai?" Itulah nama panggilan yang ia sematkan untuk gadis yatim piatu itu.
"Baru saja selesai, Pak. Oh ya tumben Bapak nyamperin Naya?" Tanya Kanaya.
"Ikut Bapak ke ruangan CCTV, ada yang ingin bertemu denganmu."
"Siapa ya, Pak?" Kedua alis Kanaya hampir menyatu, ia mencoba menerka siapakah yang ingin bertemu dengannya, apakah itu Damar? Jika iya, maka ia harus menghindari kekasihnya itu.
"Bang Damar ya, Pak?" Tanyanya lagi.
"Bukan, Bapak juga gak kenal, dia bilang hanya ingin bertemu denganmu."
Helaan nafas lega terhembus kan, Kanaya berpikir yang ingin bertemu dengannya adalah Damar.
Karena juga merasa penasaran, Kanaya pun mengikuti lelaki paruh baya itu menuju ruangan cctv.
.
.
.
Langkah Kanaya terhenti di ambang pintu kala tatapannya tertuju pada sosok laki-laki didalam ruangan, ia masih ingat betul wajah laki-laki itu. Dialah yang sudah merenggut paksa kehormatannya tadi malam.
Kedua tangan Kanaya terkepal, dan itu tak lepas dari pandangan Keenan. Melihat gadis itu berbalik akan pergi, dengan segera Keenan menyusulnya.
"Lepas!" Kanaya menyentak tangannya yang digenggam oleh laki-laki itu.
"Tunggu dulu Aku mohon jangan pergi, Kita harus bicara." Keenan menghadang langkah gadis itu.
Namun, Kanaya tak mau mendengar karena baginya laki-laki dihadapannya ini adalah laki-laki paling brengsek yang pernah ia temui dan ia tidak ingin melihat laki-laki itu lagi. Dengan sekuat tenaga Kanaya mendorong tubuh kekar itu hingga tersungkur ke lantai, kemudian ia berlari pergi dari sana.
Dengan segera Keenan bangkit dari atas lantai kemudian bergegas menyusul gadis itu.
Dari dalam ruangan, Arland menyaksikan dengan ekspresi datar. Untuk ini ia tidak akan mencampuri, biarlah Keenan berusaha sendiri namun, jika sahabatnya itu tetap mendapatkan kesulitan maka mau tidak mau ia akan turut membantu dengan caranya.
Tepat di pelataran hotel, Keenan berhasil mengejar gadis itu. Tangan mungil itu berhasil ia tangkap dan menggenggamnya dengan erat agar tak terlepas lagi.
"Lepaskan, Kau mau apa huh!"
"Dengarkan Aku dulu, Aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin ber...
"Aku tidak mau mendengar apapun, lepaskan Aku!" Kanaya terus memberontak berusaha melepaskan tangannya namun, lagi-lagi tenaga nya kalah kuat sehingga membuatnya kesakitan sendiri.
Melihat tangan gadis itu sudah memerah dibalik genggamnya, akhirnya Keenan pun melepasnya. "Baiklah, aku lepaskan tapi Aku mohon jangan pergi. Dengarkan dulu apa yang akan Aku katakan." Ucapnya berusaha membujuk gadis itu.
.
.
.
Mampir ke novel teman othor juga ya 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Ternyata petugas CCTV juga mengenal Naya,Mungkin ini sudah bisa membuatkan Kenan nemuin Naya..
2024-09-03
0
A Yes
good 👍👍
2024-03-28
0
Erna Fadhilah
ni pas damar ke sana dan liat naya sama keenan
2023-06-20
0