Seperti perkiraan Keenan, Kanaya tidak akan bisa menolak jika mamanya yang membujuk.
Tepat pukul tujuh malam, Kanaya sudah tampil cantik dengan gaun putih yang berwarna senada dengan jas yang dikenakan oleh Keenan, mereka berdua sudah terlihat seperti pasangan pengantin yang akan menaiki pelaminan, padahal hanya akan menghadiri acara makan malam bersama para rekan bisnis Keenan.
"Cantik banget menantu Mama," Tania mencubit kedua pipi Kanaya dengan gemas, sejenak ia melupakan kegundahan hatinya tentang rumah tangga putranya.
"Anak Mama juga tampan sekali." Tania berpindah mencubit kedua pipi putranya.
"Siapa dulu dong Papanya." Sahut Vino yang duduk dengan santainya di sofa.
"Semoga gak ketularan mesumnya." Ucap Tania dengan pelan, namun masih dapat didengar oleh suaminya itu.
"Ya gak apa-apa dong mesum sama istri sendiri. Malah halal dan terjamin." Kekeh Vino. "Ya gak, Keenan?"
Keenan hanya menanggapi dengan senyuman kecut.
'Jangankan buat mesum, Pa. Dekat-dekat aja gak bisa.' Ucapnya dalam hati.
"Ya udah Ma, Pa. Kami berangkat dulu, Kami pasti sudah ditunggu." Ujar Keenan mengalihkan pembicaraan.
"Hati-hati dijalan, Mama sama Papa juga mau langsung pulang. Kalian jangan malam-malam pulangnya, kasihan menantu Mama nanti kelelahan." Ujar Tania, ia menatap menantu dan putranya bergantian. Berharap apa yang ia cemaskan tidaklah benar.
.
.
.
Tiba ditempat yang sudah dijanjikan, sebuah restoran berbintang lima. Kanaya dan Keenan disambut dengan hangat oleh para rekan bisnisnya. Mereka juga memuji Kanaya yang ternyata sangat cantik dan juga masih muda.
"Gak nyangka, Pak Keenan suka yang daun muda rupanya." Canda salah satu rekannya. Bagaimana tidak, usia Keenan mendekati kepala tiga sementara Kanaya sendiri berusia sembilan belas tahun.
Makan malam itu berjalan khidmat, sesekali mereka bercanda mengolok sepasang pengantin baru itu. Membuat Keenan tersipu sementara Kanaya mendengus kesal dalam hati dan duduknya sudah merasa tidak nyaman. Bagaimana tidak, rekan suaminya itu dengan blak-blakan membahas masalah anak yang sama sekali tidak diinginkan oleh Kanaya hadir diantara dirinya dan Keenan. Yah, Kanaya sangat berharap jika kejadian malam itu tak meninggalkan jejak dalam dirinya.
Tiga jam terlewat, Keenan pun berpamitan pada para rekannya yang membuat Kanaya langsung menghembuskan nafas lega.
Saat akan keluar dari restoran, pandangan Keenan tertuju pada seorang wanita yang cukup familiar dimatanya. Namun, Keenan masih mencoba mengingat dimana ia pernah melihat wanita itu.
"Dia ...." Kedua mata Keenan seketika terbelalak saat mengingat siapa wanita itu.
Yah, dialah wanita yang ingin menjebaknya malam itu.
'Sekarang juga Kamu harus memberi penjelasan.'
Keenan menarik tangan Kanaya, membawanya menuju dimana wanita itu berada.
Deg...
Wanita yang dihampiri Keenan itu terkejut melihat kedatangan Keenan, dia masih ingat betul dengan laki-laki yang sudah berdiri dihadapannya ini. Laki-laki yang hampir masuk kedalam perangkapnya atas perintah ibu sambungannya.
'Sial! Sepertinya dia mengenali ku. Aku harus segera pergi dari sini.' Dengan cepat ia mengambil tasnya kemudian berdiri.
Namun, sebelum ia melangkah tangannya sudah dicekal oleh Keenan.
"Jangan berpikir untuk melarikan diri, Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan mu malam itu. Gara-gara kamu, seorang gadis menjadi korbannya." Keenan berucap dengan begitu emosinya sehingga mengundang perhatian orang sekitar, ia pun tidak sadar mencengkeram erat tangan wanita itu sehingga si pemilik tangan merintih kesakitan.
"Maaf, sepertinya Anda salah orang." Wanita itu mencoba berkilah, namun Keenan tidak bodoh dan akan melepaskan begitu saja.
"Jangan berpura-pura tidak tahu apapun, sekarang Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu."
Sebelum Keenan menarik tangan wanita itu untuk membawanya, wanita itu dengan cepat menginjak kaki Keenan sehingga cengkeraman Keenan terlepas dan wanita itu segera berlari sekencang mungkin.
"Hei jangan pergi!" Teriak Keenan sambil merintih kesakitan.
Kanaya yang berdiri di samping suaminya hanya diam saja, dari pembicaraan Keenan ia pun mengerti jika wanita itulah yang mencoba menjebak Keenan dan dirinya yang menjadi korban pelampiasan. Namun, Kanaya tak perduli apapun lagi karena tindakan apapun yang akan dilakukan Keenan pada wanita itu tak akan mengubah apapun. Yang sudah terenggut darinya tidak akan bisa kembali lagi.
Keenan hendak mengejar, namun melihat Kanaya yang hanya diam saja membuat ia mengurungkan niatnya.
"Kanaya, wanita itu dialah yang...
"Tidak perlu menjelaskan apapun," potong Kanaya. "Maupun wanita itu kau bunuh dihadapan ku tak akan bisa mengembalikan apa yang sudah kau renggut dariku." Tukasnya.
Keenan menundukkan kepalanya, Kanaya benar. Hukuman apapun yang ia berikan pada wanita itu tidak akan mengubah apapun. Hanya saja Keenan ingin tahu alasan wanita itu ingin menjebaknya.
Keenan pun memutuskan untuk mengajak Kanaya pulang, untuk wanita itu akan ia urus nanti .
Sesampainya di rumah, Keenan langsung menarik tangan Kanaya yang hendak masuk. Keenan dengan cepat mencegah karena jika istrinya itu sudah masuk ke kamar maka ia akan kesulitan untuk berbicara.
Tatapan Keenan tertuju pada kartu kredit yang ia letakkan didepan kamar Kanaya tadi pagi. Dengan masih memegang tangan Kanaya, ia menunduk mengambil kartu itu.
"Kenapa kartu ini masih ada disini?" Tanya Keenan dengan lirih. Ia merasa kecewa karena Kanaya tak mengambil pemberiannya.
"Itu bukan milikku jadi untuk apa Aku mengambilnya." Tukas Kanaya.
"Tapi ini adalah hakmu, Kanaya." Perlahan ia melonggarkan genggaman tangan Kanaya.
"Aku sudah bilang, aku tidak akan mau mengambil apapun pemberianmu!" Kanaya langsung menarik tangannya dari genggaman Keenan. Ia berbalik hendak masuk ke kamar, dan sebelum pintu kamarnya tertutup dengan cepat Keenan menyusul masuk.
Membuat Kanaya berteriak marah.
"Keluar dari kamarku!"
"Aku akan keluar asalkan Kau berjanji akan menerima semua pemberianku. Kanaya, setidaknya izinkan Aku tetap menafkahi mu meskipun pernikahan ini sama sekali tidak kau inginkan."
"Sudah kubilang aku tidak membutuhkan apapun darimu, kenapa tidak kau sudahi saja pernikahan ini? Aku sudah muak melihatmu!" Teriak Kanaya.
"Aku tidak akan mengakhiri pernikahan ini sebelum Aku memastikan sesuatu." Balas Keenan namun dengan nada yang pelan. Ia sekuat tenaga berusaha agar tidak tersulut emosi seperti Kanaya.
"Memastikan apa, huh?"
"Memastikan jika kejadian malam itu tidak akan membuatmu mengandung anakku."
Ucapan Keenan bagaikan sambaran petir bagi Kanaya, ia langsung terduduk lemas di tepi tempat tidur.
Keenan pun merendahkan tubuhnya bersimpuh di hadapan Kanaya.
"Tidak, aku yakin tidak akan hamil anakmu." Ucap Kanaya dengan lirih, ia sudah merasa lelah mengeluarkan semua emosinya.
Keenan pun memberanikan diri menggenggam tangan Kanaya, entah sadar atau tidak Kanaya hanya diam saja seolah tidak merasakan genggaman suaminya.
"Hanya tiga bulan, Kanaya. Untuk memastikan itu semua, maka dari itu aku mohon tolong jangan tolak apapun pemberianku selagi kita masih berstatus suami Istri. Aku tidak akan menuntut apapun darimu, aku hanya ingin menafkahi mu sebagaimana kewajiban ku sebagai suami, karena aku tidak ingin menjadi suami yang tak bertanggung jawab."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Rafly Rafly
Anda terlalu sabar pak Keenan...jgn jadi laki laki lemah
2025-03-31
0
febby fadila
ini kanaya nggak punya akhlak apa gimana siii...
2025-03-17
0
Sri Widjiastuti
akhlaknya gimana gitu
2025-02-12
0