Setelah mengantar Anin dan Aryan ke sekolah, Keenan tak langsung ke perusahaan. Ia pergi ke suatu tempat dan tiba di perusahaan saat pukul setengah dua belas siang.
Keenan tergesa-gesa berjalan masuk kedalam bangunan berlantai itu, saat tiba di perusahaan ia baru teringat jika tadi pagi seharusnya ia menghadiri pertemuan penting dengan klien. Namun, karena sedang mengurus sesuatu ia jadi tidak mengingatnya. Dan sekarang tujuannya adalah mencari Damar.
Damar yang sedang fokus pada layar laptopnya, langsung mengalihkan tatapannya pada pintu ruangannya yang terbuka. Ia langsung menyandarkan tubuhnya sembari menyilang kedua tangan di dada. Senyum sinis ia lemparkan pada laki-laki yang masuk ke ruangannya.
"Mentang-mentang sudah jadi seorang Suami, jadi mau seenaknya saja kapan datang ke Kantor. Opss, Aku lupa kalau Anda adalah pemilik perusahaan ini jadi Anda bisa bebas mau datang kapan saja."
Deg...
Keenan langsung menghentikan langkahnya, ia terpaku ditempatnya berdiri. Perkataan Damar barusan membuat dadanya bergemuruh. Dulu Damar memang sering memanggilnya dengan sebutan bapak karena menghargai dirinya sebagai pemilik perusahaan dan juga atasannya, tetapi kali ini Keenan tahu jika perkataan adik sepupunya barusan memiliki makna lain.
"Damar, bukan seperti itu, sebenarnya Abang sudah sejak pagi meninggalkan rumah. Abang mengantar Anin dan Aryan terlebih dahulu ke sekolah dan setelah itu Bang Keenan pergi membeli beberapa keperluan rumah karena Kanaya meminta hari ini tinggal dirumahnya sendiri." Ujar Keenan panjang lebar.
Damar seolah tak tertarik dengan kalimat penjelasan yang diutarakan oleh Keenan. Namun, dalam hatinya bertanya-tanya kenapa Kanaya ingin tinggal dirumahnya sendiri.
"Damar, sebenarnya Bang Keenan keruangan mu ingin bertanya tentang pertemuan dengan klien tadi pagi. Bagaimana, apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Keenan kemudian.
"Seperti biasa, Aku selalu bisa mengatasinya." Ujar Damar dengan angkuhnya.
Keenan mengukir senyum diwajahnya meski perasaannya kini tak baik-baik saja melihat perubahan sikap Damar padanya. Bahkan sejak tadi adik sepupunya itu tidak mempersilahkan dirinya duduk seperti biasanya yang selalu bersikap ramah.
"Yah, terima kasih, Kamu memang selalu bisa diandalkan. Perusahaan ini berhutang budi padamu." Ucap Keenan.
"Baiklah, kalau begitu Bang Keenan permisi dulu." Lanjutnya.
Dan lihatlah, jangankan untuk membalas ucapannya, bahkan Damar langsung membuang muka seperti menganggapnya tidak ada.
Dengan langkah gontai, Keenan pun melangkah keluar dari ruangan Damar.
Setelah sampai di ruangannya sendiri, Keenan langsung menghubungi Arland untuk menanyakan perkembangan pencarian wanita yang ingin menjebaknya itu.
"Tadi malam Aku hampir mendapatkannya, tapi sayangnya mobilku tiba-tiba saja mogok dan anak buah ku juga gagal mengejarnya. Keenan, sepertinya Wanita itu ada yang melindungi, karena menurut informasi dari anak buah ku ada sebuah mobil yang berusaha menghadang jalan mereka saat melakukan pengejaran. Tapi Kau tenang saja, Aku pasti akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan wanita itu dan menyeretnya ke hadapan mu."
Keenan menghela nafas panjang mendengar penuturan Arland diseberang telepon. Sepertinya ia juga harus turun tangan dalam mencari wanita itu agar semuanya segera terungkap.
"Baiklah Arland, terima kasih karena telah membantuku. Untuk kerugian mu karena bertemu Anin tadi malam aku akan mengganti dengan mentraktir mu makan diluar." Ujar Keenan kemudian, ia terkekeh mendengar ******* Arland yang kesal.
"Tidak perlu mengganti apapun, cukup pastikan saja jika Aku tidak akan bertemu lagi dengan Adikmu itu. Bertemu dengannya selalu membuat Aku kesal, lama-lama Aku bisa terkena darah tinggi."
Lagi-lagi Keenan terkekeh, "Kalau untuk itu Aku tidak bisa menjamin. Selagi Kau masih berhubungan denganku maka Kau juga akan selalu bertemu dengan Adikku."
Arland langsung memijit pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa berdenyut, iapun mengakhiri sambungan telepon itu.
.
.
.
Di kediaman Erlangga...
Setelah mengemasi barang-barang adiknya, Kanaya pun pergi ke kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya juga. Sebelum berangkat Keenan sempat membahas tentang kepindahannya ini kepada orangtuanya. Dua paruh baya itu akhirnya mengizinkan meski diawal tidak menyetujui. Mereka menghargai keputusan Kanaya yang katanya ingin belajar mandiri.
Di ambang pintu kamar, Tania berdiri sembari memperhatikan menantunya yang sedang berkemas. Setelah selesai Tania pun menghampiri menantunya itu.
"Kami akan merasa kesepian loh kalian pindah, Anin juga jadi tidak punya teman lagi dirumah."
Kanaya tersenyum sembari mengusap bahu wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang tak lagi muda.
"Nanti Kami akan sering sering kesini kalau Bang Keenan tidak sibuk." Ujar Kanaya.
"Janji ya."
Kanaya mengangguk yang membuat mama mertuanya itu juga tersenyum.
"Aryan biarkan disini saja ya, biar Anin ada temannya."
Kanaya terdiam sejenak, jika adiknya tidak ikut bersamanya maka ia akan semakin merasa tidak nyaman karena hanya tinggal berdua dengan Keenan.
"Biar Aryan ikut kami saja, Ma. Aku khawatir dia merepotkan kalian."
"Aryan tidak akan merepotkan kami, Mama lihat Aryan itu anak yang pintar dan rajin. Semalam saja dia juga bantuin ART cuci piring loh padahal sudah Mama larang tapi Arya tetap kekeuh ingin membantu ART mencuci piring."
Kanaya tak lagi terkejut soal itu karena begitulah Aryan, meski adiknya itu laki-laki tetapi Aryan selalu membantunya dalam pekerjaan rumah apalagi semenjak orangtua mereka sudah tidak ada.
"Aryan disini saja ya." Ujar Tania sekali lagi. Tentu ada alasan lain ia meminta agar Aryan tidak ikut bersama anak menantunya.
"Tapi Aku bakalan kesepian dirumah sendiri kalau Bang Keenan pergi bekerja."
Tania tertawa pelan, "Kalau begitu ya kalian berdua tidak usah pindah, tinggal disini saja."
Seketika Kanaya langsung terdiam, ia bagai terjebak dalam perangkapnya sendiri.
"Ya udah, Ma, biar Aryan disini saja. Tapi kalau ada apa-apa langsung kasih tahu Kanaya ya, Ma." Ujar Kanaya pada akhirnya mengalah daripada ia tidak diperbolehkan tinggal dirumahnya sendiri.
"Kamu tenang saja, Mama jamin Aryan pasti akan baik-baik saja disini."
Dua wanita berbeda generasi itupun keluar dari kamar, Tania mengajak menantunya ke dapur untuk membuat kue. Semenjak Vino pensiun dari dunia bisnis, Tania sangat antusias selalu membuat camilan untuk suaminya dan itulah yang membuat Vino semakin betah berada di rumah. Bukan hanya hasratnya yang selalu tersalurkan kapanpun ia mau, tetapi perutnya juga selalu mendapat pelayanan terbaik dari sang istri.
Di sela-sela membuat kue, Tania memberitahu pada Kanaya makanan apa saja yang disukai oleh Keenan, tetapi Kanaya tidak begitu menanggapi karena saat dirumahnya nanti ia tidak perlu melakukan itu semua untuk Keenan. Laki-laki yang telah menjadi Suaminya sama sekali tidak tidak ia inginkan, maka tidak akan ada pula pelayanan untuk suaminya itu. Selama menjadi istri Keenan ia tidak akan bersikap selayaknya seorang istri kepada suaminya, karena pernikahan mereka terjadi hanya berdasarkan sebuah pertanggung jawaban diatas perjanjian.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Dewi Nurani
gak suka tokoh kanaya , angkuh
2024-07-31
1
A Yes
nyesel loe entar, sewot sih sewot mbak, tapi Kenan pun melakukan kewajibannya abg suami tetap mencari & memberi nafkah bahkan kenyamanan
2024-03-28
1
A Yes
moso bocil mrngusap bahu Mertua ,,, Songong banget, mengusap punggung tangan kali ya🤔🤔🤔🤔
2024-03-28
0