Sore hari...
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Keenan bergegas untuk pulang. Ia tidak ingin terlambat sampai rumah dan membuat Kanaya berpikir ia akan mengingkari janjinya untuk pindah kerumah Istrinya itu.
Di perjalanan, Keenan tersenyum melihat pesan singkat yang dikirim oleh orang suruhannya.
📩 Semua barang-barang yang Bapak pesan sudah kami antar ke alamat yang bapak berikan, kami juga sudah menatanya dengan rapi didalam rumah.
Sesampainya di rumah, Keenan langsung menuju kamarnya mencari keberadaan Kanaya, namun sayang istrinya itu tak berada didalam kamar.
Dengan langkah cepat Keenan melangkah keluar dari kamar mencari keberadaan Kanaya. Ia tersenyum karena ternyata istrinya itu sedang berada di ruang keluarga bercengkrama bersama papa dan mamanya.
Di ambang pembatas ruangan, Keenan berdiri sembari menatap Kanaya yang tertawa lepas bersama orangtuanya. Entah apa yang mereka bicarakan. Keenan pun penasaran dan segera menghampiri mereka.
Kanaya yang tertawa pun seketika terdiam melihat kedatangan Keenan, hal itu tak lepas dari perhatian Tania. Apalagi melihat Kanaya yang diam saja dan tidak menyambut kepulangan suaminya.
Merasa diperhatikan oleh mama mertuanya, lantas Kanaya pun segera beranjak dari tempat duduknya menghampiri Keenan. Ia mencium punggung tangan Suaminya itu lalu mengajaknya duduk bersamanya.
"Lihat kalian berdua, Papa jadi ingat masa muda." Ujar Vino lalu melempar senyuman pada istrinya.
"Sampai sekarang Papa masih kelihatan muda kok, malah semakin terlihat tampan juga." Ucap Keenan, dan ia tidak berbohong untuk itu, sang Papa memang masih terlihat tampan dan awet muda meski usianya sudah melewati setengah abad.
Layaknya seorang gadis, Vino tersipu malu dipuji seperti itu yang membuat dua wanita berbeda generasi di ruangan itu terkekeh geli melihat tingkahnya.
"Pa, Ma, ini sudah sore. Keenan dan Kanaya pamit dulu ya." Ujar Keenan, yang membuat Kanaya langsung tersenyum senang. Ia sempat berpikir jika Keenan tidak akan menepati janjinya.
Tawa diwajah Tania dan Vino pun seketika sirna, namun dua paruh baya itu tidak ingin memperlihatkan kesedihannya.
"Iya, kalian hati-hati ya, maaf tidak bisa mengantarkan kalian. Tapi kapan-kapan Kami akan datang berkunjung." Ucap Vino setelah beberapa saat terdiam.
Keenan dan Kanaya serentak mengangguk, kemudian mereka bergantian memeluk Vino dan Tania.
.
.
.
Tiba dirumah Kanaya saat menjelang magrib. Kanaya hampir tak mengenali rumahnya saat masuk melihat semua perabot rumah serba baru. Di ruang tamu yang dulunya hanya sofa tua kini telah berganti sofa yang baru, tv yang rusak pun telah terganti dengan yang baru bahkan ukurannya lebih besar. Bahkan semua yang tidak ia punyai kini telah berada didalam rumahnya. Lemari pendingin, mesin cuci dan juga penanak nasi listrik. Di dapur, peralatan memasak juga semuanya serba baru.
Beralih kedalam kamar, Kanaya tercengang melihat isi kamarnya. Yang sebelumnya hanya ada sebuah kasur lipat yang ia pakai bersama adiknya, kini didalam kamarnya telah ada ranjang beserta kasur empuk yang berwarna senada dengan selimut tebal diatasnya.
Di samping ranjang, juga ada meja rias lengkap dengan perlengkapan dandan.
Meski merasa takjub, namun Kanaya tidak mau sampai terbuai dan berujung berhutang budi pada orang yang telah memasukkan semua benda itu kedalam rumahnya. Siapa lagi jika bukan laki-laki yang telah menjadi suaminya, lebih tepatnya adalah suami yang tidak ia inginkan.
Kanaya pun membalik badannya menatap Keenan yang sejak tadi mengekor di belakangnya.
"Setelah pernikahan kita berakhir, bawa semua barang-barang mu ini keluar dari rumahku. Aku tahu kau melakukan ini karena tidak bisa tinggal dirumah yang kumuh."
Setelah mengatakan itu Kanaya keluar dari kamar meninggalkan Keenan begitu saja.
Keenan hanya bisa menatap punggung istrinya dengan nanar hingga hilang dari pandangannya. Seandainya istrinya itu tahu jika ia melakukan ini semua demi untuk membuat Kanaya merasa nyaman. Bukan karena dirinya apalagi karena tidak bisa tinggal dirumah yang kumuh. Tidakkah Kanaya ingat jika semalam ia rela tidur dilantai demi istrinya itu.
.
.
.
Keenan melirik arlojinya, sudah satu jam Kanaya belum juga kembali kedalam kamar. Lantas iapun melangkah keluar dari kamar untuk mencari keberadaan istrinya.
Saat berada diruang tengah, samar-samar Keenan mendengar suara orang mengobrol diluar rumah. Karena merasa penasaran siapakah yang berada diluar rumah malam-malam begini, Keenan pun mengintip dari jendela.
Keenan cukup dibuat terkejut saat melihat ternyata itu adalah Kanaya bersama Damar. Mereka terlihat mesra dan sesekali tertawa. Tanpa sadar Keenan menggeleng pelan kepalanya, tidak takut kah sepasang kekasih itu bila warga melihat mereka berduaan malam-malam begini.
Keenan khawatir jika sampai hal itu terjadi, iapun memutuskan keluar dan menyuruh Damar pulang sebelum sesuatu benar terjadi.
Suara pintu terbuka disertai deheman kecil membuat sepasang kekasih itu langsung menoleh ke asal suara. Entah sadar atau tidak Kanaya refleks melepas genggaman Damar yang membuat kekasihnya itu memasang wajah cemberut.
"Damar, maaf sebelumnya, Bang Keenan tidak bermaksud untuk mengusir kamu tapi sebaiknya kamu pulang karena ini sudah malam. Jikapun kau ingin mengobrol dengan Kanaya sebaiknya didalam saja jangan diluar seperti ini. Bagaimana kalau ada warga yang melihat kalian? Apa kata mereka nanti bila melihat seorang gadis berduaan dengan laki-laki yang bukan suaminya. Apa kalian tidak takut diarak warga?"
Ucapan panjang lebar Keenan, justru ditanggapi dengan tawa renyah oleh Damar membuang dahi Keenan berkerut heran.
"Para warga disini sudah sering melihat kami duduk berdua disini, bahkan mereka juga sering ikut mengobrol ringan bersama kami. Jadi siapa yang akan menghakimi Kami?" Tanpa rasa canggung ataupun memikirkan perasaan Keenan, Damar kembali menggenggam tangan Kanaya bahkan didepan Keenan langsung dia mengecup jari yang terdapat cincin pernikahan.
Meski terkejut dengan penuturan Damar, namun Keenan berusaha menutupi dengan mengulas senyum tipis.
"Oh ya? Mereka cukup pengertian rupanya. Tapi bagaimana tanggapan mereka nanti jika tahu Kanaya sudah mempunyai Suami? Apa kau mau Kanaya di cap wanita yang tidak baik karena masih sering berduaan dengan laki-laki yang bukan suaminya sementara didalam rumah ada laki-laki yang merupakan suami Kanaya."
Mendadak wajah Damar berubah kesal mendengarnya. Begitupun dengan Kanaya yang langsung menghunus tatapan tajam pada Keenan. Namun, merek berdua tidak bisa mengatakan apapun karena apa yang dikatakan Keenan itu benar adanya.
"Jadi bagaimana? Kau mau masuk dan lanjutkan obrolan kalian didalam, atau pulang saja?" Tanya Keenan kemudian. Yang mana pertanyaannya itu membuat Damar benar-benar kesal sementara Kanaya semakin menumbuhkan rasa bencinya.
Tanpa menjawab pertanyaan kakak sepupunya, Damar beranjak dari tempatnya duduk, jika sebelumnya ia mengecup tangan Kanaya didepan Keenan dan kali dengan lancangnya dia mengecup kening Kanaya dengan mesra sebelum akhirnya berpamitan pulang pada kekasihnya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
febby fadila
damar juga egois biar gmnapun kamu mustii hargai keenan sebagai suami kanaya
2025-03-17
0
Sri Widjiastuti
duhh si kanaya, ati2 itu lidah.. nya jangan sampai jilat ludah sendiri
2025-02-12
0
Rafly Rafly
jadilah perempuan jalang sekalian Naya..../Facepalm//Facepalm/
2025-03-31
0