Sesampainya di kediaman Erlangga, mereka semua langsung disambut oleh Anin dan Aryan.
Sejenak Kanaya melupakan kesedihannya melihat sang adik, ia menenggelamkan tubuh mungil Aryan kedalam pelukannya. Meluapkan rasa rindu yang sudah jarang bertemu.
"Kak Kanaya dan Bang Keenan akan tinggal disini lagi? Tanya Aryan sembari melepas pelukannya.
Kanaya mengangguk yang membuat Aryan bersorak senang.
Mereka semua pun masuk kedalam rumah, Tania meminta Kanaya untuk membawa Keenan beristirahat di kamar dan Kanaya pun juga harus banyak beristirahat untuk menjaga kehamilannya.
.
.
.
Di dalam kamar...
"Terima kasih ya, karena sudah bersedia tinggal disini lagi." Ujar Keenan.
"Terima kasih juga karena kau akan mempertahankan bayi kita, aku tahu kau tidak akan tega membunuh darah daging mu sendiri." Lanjutnya.
"Kita lihat saja nanti!" Tukas Kanaya.
Keenan tersenyum getir, ucapan Kanaya barusan terdengar seperti kalimat ancaman.
"Aku ingin bertemu Bang Damar." Ucap Kanaya lagi yang membuat Keenan tersentak.
"Kenapa?"
"Aku ingin meluruskan permasalahan ku dengannya." Jawab Kanaya.
"Baiklah, nanti malam Aku akan menemanimu dengan alasan ingin membeli makanan, karena Mama tidak akan mengizinkanmu pergi sendiri." Ujar Keenan pada akhirnya. Ia pun ingin permasalahan diantara Istri dan adiknya segera terselesaikan.
Dan Kanaya pun mengangguk, ia membawa dirinya duduk di tepi tempat tidur. Tanpa sadar ia mengusap perutnya yang masih terlihat rata, entah kenapa ia sama sekali tidak merasakan adanya sebuah kehidupan didalam rahimnya. Apakah bayinya itu tidak ingin menyusahkan dirinya karena tahu akan tidak diinginkan? Kanaya menghela nafas dengan panjang seolah membebaskan segala beban yang tercekat.
Semua itu tak lepas dari perhatian Keenan, calon ayah itu membawa dirinya duduk di samping sang istri.
"Jika dipikir, bayi kita ini sangat menyayangimu, Kanaya. Lihatlah, dia tidak membuatmu merasakan kehadirannya, akulah yang merasakannya dan rasanya benar-benar menyiksa. Kepalaku selalu terasa pusing dan mual, bahkan setiap pagi aku sampai muntah-muntah." Keenan terkekeh.
Kanaya pun sebenarnya merasa iba melihat apa yang dialami oleh Keenan dua bulan ini, namun karena ia tidak menginginkan keberadaan Keenan membuatnya mengabaikan dan berusaha tidak perduli. Dan iapun tidak tahu jika yang dialami oleh Keenan berasal dari dirinya.
.
.
.
Malam hari...
Di sebuah taman yang selalu didatangi oleh Damar dan Kanaya. Disitulah mereka berada saat ini.
Duduk berdampingan dengan sang kekasih, namun air mata Kanaya terus mengalir membanjiri pipinya. Ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Damar.
Padahal, baru tadi siang ia merasa sangat senang karena Keenan sudah akan mendaftar perceraian mereka dan kini malah kekasihnya sendiri yang menghancurkan harapannya.
"Kenapa Bang Damar? Padahal waktu itu Bang Damar pernah bilang akan menerima keadaanku, tapi kenapa sekarang Bang Damar berubah pikiran? Apa karena bayi ini, iya!'' Teriak Kanaya dengan emosi.
Damar menggeleng sembari mengusap air mata Kanaya. "Maafkan aku Kanaya, aku pun sakit kita harus berpisah. Aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak ingin egois dan mengorbankan bayi yang tak berdosa itu. Aku bisa saja menjadi Ayah pengganti untuknya, tetapi bayi itu lebih membutuhkan kedua orangtuanya."
"Tapi aku lebih membutuhkanmu, Bang Damar."
"Kalahkan lah rasa ego demi bayimu, Kanaya."
Mendengar ucapan Damar membuat Kanaya semakin terisak, ia sudah tidak sanggup mendengar apapun lagi dan beberapa kali ia menggeleng berharap jika semua ini hanyalah mimpi.
Damar menarik Kanaya kedalam pelukannya, dan Kanaya pun membalas tak kalah erat. Mereka berdua berpelukan sambil menangis, menangisi perpisahan yang tidak pernah mereka harapkan.
Sementara tak jauh dari mereka, tanpa sadar Keenan meneteskan air matanya. Tangannya terkepal erat melihat sepasang kekasih itu berpelukan dengan kesedihan yang mendalam diwajah keduanya.
Melihat sepasang kekasih yang hancur karena dirinya membuat dada Keenan berdenyut nyeri.
Keenan merutuki dirinya dan mengutuk perbuatannya malam itu, andai saja kejadian itu tidak pernah terjadi, pasti saat ini Damar dan Kanaya sedang berbahagia tidak menangis seperti yang ia lihat sekarang.
Dengan segera Keenan mengusap air matanya ketika melihat Damar dan Kanaya yang berjalan kearahnya.
Damar menggenggam tangan Kanaya dan melepasnya saat sudah berada dihadapan Keenan. Meski berat, namun mereka sudah sepakat untuk berpisah demi bayi yang sedang dikandung Kanaya.
Seandainya saja Kanaya tidak hamil, Damar akan memperjuangkan kekasihnya meskipun Kanaya sudah tak memiliki mahkotanya. Namun, sekarang keadaannya berbeda, ada anak diantara Kanaya dan Keenan yang membutuhkan orangtuanya.
Sejenak hening masih mengambil alih, hingga Keenan sedikit terkejut saat Damar menyatukan tangannya dengan tangan Kanaya. Ia menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh adiknya itu.
"Selama denganku, tidak pernah sekalipun aku membuat Kanaya menangis ataupun bersedih. Dan Aku mau, Bang Keenan juga melakukan itu. Membuat Kanaya selalu bahagia."
Keenan hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia masih terdiam mencoba mencerna ucapan Damar barusan.
"Damar...
Hanya itu yang mampu Keenan ucapkan, rasanya masih benar-benar tak percaya.
"Bang Keenan, aku merelakan Kanaya untuk Abang. Tapi Bang Keenan harus berjanji akan selalu membuat Kanaya bahagia, jangan pernah membuatnya bersedih apalagi sampai menangis." Ucap Damar dengan tulus. Namun, tak bisa dipungkiri hatinya benar-benar sakit harus merelakan sang kekasih untuk kakaknya sendiri.
Keenan benar-benar bahagia mendengarnya, ia langsung memeluk adiknya itu dengan erat. Kata terima kasih saja tak akan cukup membalas keikhlasan Damar.
"Iya, Bang Keenan berjanji akan selalu membuat Kanaya bahagia. Terima kasih Damar, terima kasih atas kebesaran hati mu. Bang Keenan akan selalu mendoakan kebahagiaanmu."
Keenan memeluk adiknya dengan sangat erat, Damar yang semulanya hanya diam saja perlahan mengangkat kedua tangannya membalas pelukan Keenan.
.
.
.
Pulang dengan wajah yang berseri-seri, Keenan tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya, sepanjang perjalanan ia terus mengembangkan senyum meski Kanaya terus memasang wajah datar. Entah apa yang dipikirkannya.
Sesampainya di rumah, Keenan langsung mengajak Kanaya menuju kamar, tak menghiraukan keberadaan keluarganya yang berada di ruang keluarga.
Sebelum mencapai kamar, langkah mereka terhenti karena panggilan Aryan.
Keenan dan Kanaya serentak berbalik dan keduanya pun bersamaan merentangkan tangan hendak menangkap tubuh Aryan yang berlari kearah mereka.
Dan Kanaya hanya bisa tersenyum kecut karena ternyata Aryan lebih memilih membenamkan diri kedalam pelukan Keenan.
"Ada apa, hum? Kenapa belum tidur? Besok kan harus sekolah." Keenan mencubit hidung adik iparnya itu dengan gemas.
"Aku sedang menunggu kalian berdua, kata Kak Anin, didalam perut Kak Kanaya ada dedek bayinya. Apa itu benar?"
Keenan menganggukkan kepalanya, "Apa Kau senang? Sebentar lagi akan ada yang memanggilmu dengan sebutan Om Aryan."
Aryan mengangguk dengan antusias, tak perduli akan di panggil apa nantinya. Yang ada dalam benaknya saat ini, ia akan memiliki teman bermain yang baru.
"Aryan, sekarang tidurlah. Besok sekolah jangan sampai bangun kesiangan." Ujar Kanaya.
Aryan pun meminta diturunkan dari gendongan Keenan, dan segera berlari menuju kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
febby fadila
jangan khwatir damar.. kanaya akan sellu bahagia klw kanaya mau menerima takdir ini
2025-03-17
0
Qaisaa Nazarudin
Setelah ini aku harap kenan menepati janji nya utk tidak menyakiti Kanaya,Ingat Kenan perjuangan mu utk mendapatkan Kanaya itu susah,Jangan sia2 kan pengorbanan Damar..
2024-09-03
0
Qaisaa Nazarudin
Ini lah yg sebaiknya,Aku salut dgn kebesaran hati Damar melepaskan Naya utk Kenan,Salah satu dari mereka harus ada yg mengalah,Biar semuanya berjalan semesti nya..
2024-09-03
0