Menaiki bukit kecil itu, Yu Ping tak pernah berhenti mengoceh ini dan itu. Sung Han hanya mampu membalas dengan snyum tipis dan jawaban singkat.
Ketika dia mencoba mengobrol untuk mengakrapkan diri dengan Yu Ceng, hanya kekecewaan yang ia dapat dengan jawaban pedas dari gadis itu.
"Kau ingin mencuri adikku, jangan gunakan siasat dengan mendekati kakaknya! Kau tak akan mampu!"
Setelah itu Sung Han terus diam.
Selang beberapa menit kurang lebih seperempat jam, mereka tiba di puncak bukit kecil itu dan baru nampaklah oleh Sung Han, sebuah tembok tinggi kurang lebih empat meter dengan menara pengintai di setiap sudutnya.
Melihat kedatangan Yu Ceng ini, orang-orang yang ada di atas gerbang segera berseru untuk membukakan gerbang. Tanpa menghentikan langkah, Yu Ceng bersama Sung Han dan Yu Ping segera masuk ke kawasan penduduk.
Saat baru tiba di dalam, dapat dilihat oleh Sung Han, rumah di sana tidaklah banyak, juga amat sederhana. Namun sekiranya cukup untuk melindungi seseorang dari badai maupun panas.
Kawasan ini sungguh subur dan rimbun, banyak pohon-pohon tinggi yang juga dijadikan sebagai rumah pohon yang unik. Tanpa sadar Sung Han berdecak kagum.
"Pemandangan baru buatmu?" tanya Yu Ping seraya berusaha memandang mata Sung Han.
"Benar, entah kenapa....rasanya lebih enak untuk tinggal di sini daripada di markas utama."
"Kakakku memang pintar kan!?" Yu Ping berkata bangga.
Beberapa tindak mereka berjalan masuk, segera mereka dikerumuni oleh puluhan orang. Mungkin ada tiga puluhan lebih. Daripada mengerubungi mereka, lebih tepatnya mengerubungi Yu Ceng.
"Nona, dia kah si penghuni baru itu?"
"Pemuda ini? Tampan sekali!!"
"Nona Yu, apakah dia orangnya?"
Mendapat hujan pertanyaan seperti itu, Yu Ceng hanya mengangguk singjat dan berkata. "Namanya Sung Han, baik-baiklah dengannya."
Orang-orang itu meninggalkan Yu Ceng dan berkumpul di sekeliling Sung Han, "Selamat datang saudara baru Sung Han!"
"Eh!?"
Orang-orang berpakaian serba hitam dengan sulaman naga di dada itu, menandakan murid-murid Naga Hitam, bersikap ramah padanya! Sungguh berbeda dari orang-orang yang ada di markas. Bahkan tampang mereka pun tampan-tampan dan cantik-cantik. Berbeda dengan di markas yang sangar dan tua brewokan.
"Sung Han lelah, ia akan tinggal di rumahku. Jangan menganggunya!" Yu Ceng berkata, namun cukup nyaring.
Lalu ada salah satu kawan Yu Ceng, perempuan yang cantik manis datang menghampiri gadis itu dan menyenggol lengannya.
"Hm....adik perempuan saja apa tidak cukup? Sekarang kau ingin mengeram lelaki?"
"Bodoh! Ini perintah guru besar dan aku juga punya ruangan lain untuknya!! Sung Han, ikut aku!" wajahnya sedikit merah dan membentak dengan sedikit gemetar untuk mengurangi rasa gugupnya.
...****************...
"Eh....unik sekali ya. Tak kusangka rumahmu ada di atas pohon."
Yu Ceng menoleh cepat dan berkata sinis, "Kau kira rumah kami di bawah tanah? Kalau kau mau, aku ada peti untukmu masuk ke lubang tanah dan bertemu sosok bersayap!"
Yang dimaksud bersayap oleh Yu Ceng ini adalah malaikat maut.
"Sudahlah kak...jangan galak seperti itu..." Yu Ping merasa tidak enak dengan Sung Han. Yu Ceng hanya mendengus dan pergi ke kamarnya, meninggalkan Sung Han dengan semangkuk bubur buatannya.
Sung Han melongo melihat kejadian ini. Wanita ini galak benar, pikirnya.
Tak lama setelah itu, Yu Ping bangkit dan menyusul kakaknya seraya berseru, "Nikmati sarapanmu kakak Han...."
Sung Han menghendikkan bahu, mencoba tak peduli lantas memakan bubur itu sampai kandas. Tak tahu harus berbuat apa, terutama ini rumah perempuan dan dia merasa tak sopan dengan hanya bergerak sedikit saja, Sung Han memandang ke luar jendela.
Kabut pagi di sini sungguh tebal, bahkan seperti awan yang turun dari langit dan menghalangi pemukiman di sini. Namun tak berselang lama, kedamaiannya teralihkan oleh beberapa butir batu yang melesat cepat mengarah wajahnya.
Ia tak ambil pusing, guna menggertak lawan, tanpa menghindar ia buka mulutnya. Lalu saat batu mendekat, ia arahkan ke sela-sela gigi atas dan bawah, kemudian menggigitnya. Mengubah batu itu jadi bubur.
Setelah adegan singkat ini, tak ada lagi yang melemparkan batu itu.
"Cih, apa aku tidak bisa tenang barang sesaat?" umpatnya dan bangkit keluar.
Karena ini daerah orang, ia tak berani asal membentak dan berteriak-teriak. Ia keluar rumah dan berjalan pada salah satu dahan tebal dan besar, lalu dirinya berjongkok saat memandang ke bawah.
"Ada apa? Kiranya kalian berdua, sepasang kakak beradik?"
Memang di bawah sana adalah kakak beradik seperguruan yang waktu itu selamat dari amukan Sung Han. Mereka memandang dari bawah dengan tatapan tajam.
"Sung Han kan namamu? Hei Sung Han, jangan lupakan urusan lalu!" teriak si pemuda dua puluh lima tahun.
"Berapa sih yang mati waktu itu? Dibandingkan dengan Rajawali Putih lima tahun lalu, lebih banyak mana? Apakah kalian waktu itu ikut? Bukankah sudah setimpal? Lagipula baik lima tahun lalu atau beberapa waktu lalu, kalian sendirilah yang asal menyerang diriku."
Si tiga puluh tahun menggertakkan gigi, "Tentu kami ikut!! Aku ingat sekarang, kau kacung yang dahulu diselamatkan tuan muda kan? Nah bagus, sekarang kau sudah besar dan pandai ambil nyawa orang! Namaku Lie Cong dan juniorku ini Pek Siam. Ingat itu!"
Pandangan Sung Han menajam dengan kening berkerut, "Oh...kalian ikut lima tahun lalu. Ah..." Sung Han teringat akan sesuatu. Ia nampak menghitung dengan jari.
"Berarti lima orang waktu itu, kalian, tuan muda kalian, si brewok dan satu murid yang melaporkan berita ditemukannya tetua kalian kan. Benar?"
Dua orang itu nampak terkejut. Apalagi saat mendengar tentang "satu murid yang melaporkan berita ditemukannya tetua kalian", mereka menjadi heran juga kaget sekali.
"Sung Han, kenapa kau bisa tahu satu orang sisanya?" tanya Pek Siam.
"Tadi guru besar kalian berkata pada diriku, kalau murid yang datang melapor atas penemuan tetua kalian, juga ikut dalam penyelidikan bersama tuan muda kalian."
Lie Cong dan Pek Siam nampak mengerutkan kening dan pandangan mereka berubah. Keduanya saling pandang, hal itu juga menimbulkan keheranan di hati Sung Han.
"Kenapa, kalian datang ke sini mau ribut? Hei, mengingat perlakuan guru dan tuan muda kalian yang masih membelaku, aku coba melupakan peristiwa itu. Jangan kalian ungkit-ungkit lagi."
"Sung Han!" Lie Cong tiba-tiba berseru. Membuat Sung Han sedikit terperanjat.
"Eh, ada apa?"
"Kami pergi dulu, kapan-kapan kita lanjutkan obrolan ini. Banyak yang ingin kami bicarakan kepada dirimu. Tapi ingat, hubungan kita belum baik dengan kejadian di hutan!!" Lie Cong menjawab.
Sung Han merangkapkan dua tangan dan berkata pula, "Aku ingat itu dan aku tak akan cari ribut jikalau kalian tetap tenang tanpa mengusikku. Rajawali Putih dan Naga Hitam mencoba berdamai, setidaknya itulah yang dapat kusimpulkan setelah melihat perlakuan guru kalian padaku."
"Kalau begitu, Sung Han dan kedua nona, kami pamit." Lie Cong dan Pek Siam menjura sebelum pergi.
Sung Han terperanjat, cepat dirinya menoleh untuk menemukan dua kepala yang menyembul keluar dari dalam jendela.
"Kalian...." ekspresi Sung Han sulit diartikan.
Keduanya nampak terkejut tapi Yu Ping cepat berkata membela diri, "Kakakku ini mengkhawatirkanmu saat mendengar kau beradu mulut dengan mereka."
"Jangan asal omong!" tukas kakaknya sambil menjewer telinga adiknya. "Aku cuma penasaran!"
Dia lalu menoleh cepat ke arah Sung Han, namun tatapannya terlihat tidak bersahabat. "Sung Han, jujur aku dan semua orang di sini tidak tahu akan dirimu atau hal-hal lain yang membuat guru mengharuskan aku merawatmu di sini. Tapi mendengar percakapam kalian, agaknya dua orang itu tahu tentang permasalahanmu."
Yu Ceng berhenti sejenak untuk menatap sepasang mata kuning teduh milik Sung Han. Lalu lanjut bicara, "Sung Han, cepat masuk dan aku mau bicara banyak padamu!"
"Hah?" wajah pemuda ini tampak bodoh.
"Kenapa banyak sekali orang yang ingin bicara padaku?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 269 Episodes
Comments
adhy nofx
ok
2025-03-30
0
Yuki tanzeela
usul, klo si MC di matikan aja,,,,
2023-07-22
2