Pondok di tengah hutan itu amatlah sederhana dan nampak sunyi. Dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi dan taman bunga yang berada di pinggir kanan pondok, membuat keadaan bangunan kecil itu tampak asri dan sejuk.
Di sebelah kirinya, ada pula sebuah kandang kuda yang nampak kosong. Agaknya pemilik pondok sedang bepergian menggunakan kudanya itu.
Matahari sudah muncul dari arah Timur kurang lebih setengah jam lalu, tapi di tempat ini masih nampak remang-remang karena daun-daun pohon serta tebing di sebelah Timur pondok menutupi cahaya sang surya.
Burung-burung agaknya mulai bangun, bukan karena silau oleh cahaya matahari, tapi lebih tepat bangun karena naluri dan kebiasaan. Kicauan-kicauan indah lambat laun makin ramai di tengah kesunyian hutan yang masih terasa dingin itu.
"Kriieet...."
Pintu pondok yang entah milik siapa itu terbuka untuk memperlihatkan seorang bocah berumur sebelas sampai dua belas tahun yang nampak kebingungan. Iris kuningnya melirik ke sana-sini untuk menemukan sesuatu yang bisa menghilangkan rasa bingungnya. Tapi semakin dipandang, makin bingunglah ia.
"Dimana ini, aku tak kenal sama sekali dengan daerah ini." gumamnya perlahan ketika mengetahui tebing tinggi menjulang di sebelah kiri pondok.
"Lagipula, pondok siapa ini? Agaknya aku telah ditolong seseorang?" kembali terdengar gumaman pelan saat kepalanya meneliti setiap sudut pondok sederhana itu.
"Auh..." keluhnya perlahan saat merasakan nyeri di paha kirinya. Ketika dibuka celananya itu, ternyata ada balutan perban yang terikat erat di sana.
"Tang Qian...." pandangannya menyendu seketika teringat akan gadis cantik yang dibunuh secara mengenaskan tepat di depan wajahnya. Diam-diam dia menyesal kenapa selama ini tak pernah berpikiran untuk belajar ilmu beladiri barang secuil.
Larut dalam pikirannya, telinganya mendengar suara derap kaki kuda yang makin lama makin terdengar jelas. Cepat-cepat bocah ini keluar pondok untuk melihat siapa yang datang. Ternyata si penunggang kuda adalah seorang pria tiga puluhan tahun yang nampak sumringah melihat dirinya menyambut di pintu pondok.
"Ah, kau sudah bangun? Semalaman kau pingsan." ujar pria tersebut begitu sampai di hadapannya sambil turun dari pelana kuda.
"Nih, makan buah-buahan ini. Kau pasti lapar kan?" dengan senyum ramah orang yang belum dikenali bocah itu menyodorkan sekeranjang buah-buahan kepadanya yang ia terima dengan bingung. Orang itu lalu menuntun kudanya ke kandang untuk diberi makan.
Bocah yang tak lain adalah Sung Han ini memandang pria tersebut penuh perhatian. Melihat setiap gerak-geriknya yang halus, dia menaksir bahwa orang ini adalah orang biasa, sama sekali bukan ahli silat yang hanya sekilas pandang saja sudah nampak dari setiap gerakan tangan dan kaki.
Namun dia meragukan pemikiran ini ketika melihat sebatang pedang bersarung indah yang tergantung di punggung pria tersebut.
"Paman, siapakah engkau? Kau yang menolongku?"
Orang itu menghentikan kegiatannya memberi makan kuda dan menoleh menghadap Sung Han sambil tersenyum. "Kalau aku bilang aku menculikmu, apakah kau akan percaya?"
"Penculik mana yang memberi buah-buahan kepada barang culikannya. Ataukah makanan ini sudah tidak normal lagi?" yang dimaksud tidak normal oleh Sung Han adalah, dia mengatakan bahwa buah-buahan itu sudah diracuni.
"Hahaha....ada-ada saja kau." balas orang tersebut dan kali ini mengisi tempat minum kuda dengan seember penuh berisi air.
Sung Han mulai memakan satu buah apelnya sambil terus memandangi seseorang yang diyakini penolongnya itu. Tiba-tiba dia tersedak oleh apelnya dan tak sempat untuk batuk karena saking terkejutnya.
"Aku tak ingat ada ember air di sana sebelumnya. Dari mana dia dapat?" batinnya bertanya penuh kengerian. "Setankah orang ini? Atau siluman hutan? Tapi masih ada bayanganya!"
Orang ini kemudian menghampiri Sung Han dan diajaknya duduk di kursi depan pondok yang memiliki panjang sekutar dua meter.
"Namaku Xiao Shi Yong, siapa namamu anak muda? Dan bagaimanakah ceritanya sampai kau yang masih sekecil ini jatuh pingsan di tengah hutan?" tanya orang tersebut yang mengaku bernama Xiao Shi Yong.
Sung Han meletakkan keranjang buah di sampingnya, membiarkan Xiao Shi Yong mengambil beberapa buah itu. Lalu dia mulai memperkenalkan diri dan menceritakan semuanya.
Mulai dari mengirimkan barang, peti misterius berisi kepala. Lalu orang-orang dari perkumpulan Naga Hitam, bentrokan antara Rajawali Putih dan perkumpulan itu. Bahkan matinya Tang Qian yang sangat memilukan tak luput dari ceritanya.
Xiao Shi Yong mengangguk-angguk sambil mengelus dagunya yang bersih tanpa jenggot itu. "Mmm....aku paham ceritamu. Sungguh malang sekali nasibmu yang masih demikian muda sudah melihat hal-hal tak mengenakkan." gumamnya memberi komentar sebelum menggigit pisang di tangannya.
"Paman sendiri siapa? Penjaga hutan ini?"
"Uhuk...uhuk-uhuk....hahahaha..."
Tiba-tiba orang itu terbatuk disusul tawa bergelak mendengar pertanyaan polos Sung Han barusan. Dia menepuk-nepuk pahanya sendiri seakan pertanyaan itu sungguh lelucon paling lucu dalam hidupnya.
"Hahaha...aku hanya orang biasa yang tinggal di sini. Kau pikir aku ini setan penjaga hutan?" katanya setelah tawanya mereda.
"Tapi tadi paman bisa memunculkan ember air dari udara. Aku tak lihat ada ember sebelumnya." jawab Sung Han polos menunjuk ember kosong di depan kandang kuda. Seakan mengerti ucapan Sung Han, kuda itu menoleh dan meringkik seolah menertawakan kepolosan bocah itu.
"Hahaha...ember itu sudah di sana sejak sebelum aku pergi, hanya saja letaknya di samping kandang. Dari sini mana kelihatan?"
"Oh...." hanya itu yang menjadi tanggapan Sung Han sambil memendam rasa malunya.
Setelah itu, hanya keheningan yang ada di antara mereka. Keduanya sibuk makan buah-buahan yang dibawa pulang Xiao Shi Yong tanpa sepatah kata pun.
Sung Han merenung memandang jauh ke depan, pandangannya kosong tak berekspresi, seolah tak ada jiwa di dalamnya. Kecuali mulutnya yang terus bergerak mengunyah buah segar, mungkin sekali pandang Sung Han terlihat seperti patung yang duduk di kursi depan pondok.
Berbeda jauh dari raut wajah Xiao Shi Yong yang nampak berseri dan selalu tersenyum itu. Perlahan jari-jari tangannya mengupas setiap kulit buah yang dipegangnya. Entah itu pisang, jeruk, apel, bahkan anggur sekali pun!
Sung Han yang merasa heran dengan orang di sebelahnya karena makannya terkesan lambat sekali itu, tak tahan untuk tidak menoleh dan melihat. Matanya membeliak kaget mengetahui orang itu sedang mengelupas kulit melon yang sebesar telapak tangannya.
"Paman, apakah tak ada pisau untuk mengupas kulit melon itu? Haruskah pakai jari? Kenapa tak pakai pedang itu?"
Kali ini orang itulah yang kaget, "Wah, pakai pedang ini? Tentu tidak bisa! Pedang ini senjata, bukan alat kupas!"
"Lalu kenapa pakai tangan langsung?"
Mendengar pertanyaan itu, mulut Xiao Shi Yong tersenyum simpul ketika berkata. "Ini untuk melatih tenaga dalamku."
"Woah...paman bisa silat?" Sung Han terlonjak kaget.
"Hahaha....tentu saja bisa! Tak tampak kah dari penampilanku ini?" Xiao Shi Yang membusungkan dadanya sambil memegang gagang pedang di punggung.
Kemudian dia meletakkan melon yang sudah terkelupas setengah kulitnya itu ke keranjang dan melompat ke halaman pondok. "Nah lihat ini, beberapa ilmu silatku!"
Xiao Shi Yong mulai bermain silat dengan tangan kosong. Mengandalkan tendangan dan pukulan diiringi bentakan-bentakan nyaring memekakkan telinga. Sung Han terkagum-kagun melihat itu.
Karena pengetahuan bocah ini akan ilmu silat benar-benar kosong, maka dalam pandangannya gerakan dasar yang dimainkan oleh Xiao Shi Yong itu sangatlah hebat. Padahal dia tidak tahu kalau gerakan semacam itu hanyalah gerakan silat paling mudah dipajari.
Dia hanya berpikir, kalau gerakan orang itu mirip seperti gerakan Sie Kang ketika mengajar silat murid-muridnya. Dia selalu kagum akan gerakan orang tua itu yang gesit dan tangkas. Namun kali ini, Xiao Shi Yong memainkan setiap gerakan dengan lebih cepat dan kuat. Sehingga dalam pemikiran polos Sung Han, orang ini lebih kuat dari Sie Kang.
"Paman, ajari aku yang seperti itu!" Sung Han berseru gembira seraya mendekati Xiao Shi Yong yang terpaksa menghentikan gerakan.
Orang itu tersenyum, melihat raut kegembiraan di wajah Sung Han. Seolah pemuda itu telah melupakan kejadian mengenaskan beberapa waktu lalu yang baru saja dialaminya.
Memang inilah tujuannya, untuk menghibur Sung Han yang sedang amat berduka atas kematian keluarganya, terutama sekali Tang Qian.
"Baiklah, kau jadi muridku mulai hari ini! Akan kulatih kau sampai mahir main silat!" ujar Xiao Shi Yong penuh semangat membara. Membuat semangat Sung Han bangkit pula dan cepat bersujud.
"Murid memberi hormat pada guru..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 269 Episodes
Comments
adhy nofx
lanjut
2025-03-29
0
azizan zizan
wahhh ini cerita agak kemelayuan Nih sebab di sebut silat...🤭🤭🤭🤭
2024-03-11
0
Malaikat Maut
terus
2023-10-21
0