"Ini tidak mungkin...."
Bayangan di air itu menjadi buram, riak-riak air terdengar cukup berisik di tengah rumpun bambu yang hening ini. Air bening yang memantulkan wajah seseorang, wajah seseorang dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Ini bukan diriku....bukan....!!"
Air yang tadinya mulai tenang kembali, menjadi tak karuan tepat ketika si pemuda menamparkan tangannya. Memandangi bayangan dirinya sendiri di pantulan air, serta mengingat apa yang baru saja ia lakukan, hal itu membuat hatinya terguncang dan entah kenapa membuat dirinya takut.
"Ada yang tidak beres...ini pasti gara-gara pedang gerhana!!"
Pemuda itu mencabut pedangnya, menunjukkan sinar kilat menggiriskan begitu bilahnya keluar dari sarung pedang.
Ukiran-ukiran indah berwarna merah tua seakan-akan diukir menggunakan darah manusia. Sung Han yang melihat ini, tanpa terasa bulu tengkuknya meremang dan tubuhnya gemetar. Dia takut!!
"Ini....pedang setan!" katanya perlahan dengan gemetar dan lidah kelu.
"Pedang setan!!!"
...****************...
"Apa-apaan ini? Hei kakak senior, bangun!"
Lelaki dua puluhan tahun itu menjadi panik dan cepat menghampiri kakak seniornya yang pingsan di bawah pohon besar.
Ia tendang kepalanya sekuat tenaga sampai orang yang dipanggil kakak senior itu tersentak dan mendudukkan diri.
"Apa....apa yang terjadi?" gumamnya dengan linglung.
"Kakak senior, lihat apa ini!" seru pria dua puluhan tahun itu kepada kakak seniornya yang mungkin baru menginjak kepala tiga.
Pria itu membalikkan tubuhnya dan segera matanya berkunang serta tubhnya melemas. Melihat genangan darah dan potongan tubuh di sana-sini, batinnya terguncang hebat.
"Ada apa sebenarnya?"
"Entahlah, aku tidak tahu! Saat aku baru bangun, keadaan sudah menjadi seperti ini. Kita harus segera memberitahu tuan muda!"
Lelaki tiga puluh tahun itu dibantu berdiri oleh adik juniornya. Ia tak sanggup membuka mata lama-lama karena pemandangan di hadapannya benar-benar mengenaskan.
"Tetua...." ucapnya kemudian dengan raut wajah sedih, melihat kondisi Tongkat Emas Pencabut Sukma yang sudah tidak utuh lagi.
"Tak ada yang bisa kita lakukan, bisa jadi pembunuh itu masih ada di sini. Beruntung kita tadi pingsan, sehingga mungkin sekali dia menganggap kita telah mati. Ayo lekas kembali, bau busuk ini benar-benar memualkan!" juniornya berkata jengah.
Dua orang ini adalah dua orang yang tadinya berusaha menahan Tongkat Emas Pencabut Sukma untuk mengeroyok Sung Han. Namun yang mereka dapat adalah lemparan dua tetua lain yang segera membuat mereka pingsan.
Dua orang ini pulalah, yang menurut pandangan Sung Han, masih memiliki sopan santun dalam bersikap. Yang ditujukan mereka kepada para pelayan restoran di desa Batu Alam.
"Ayo kembali....."
...****************...
Markas daripada Naga Hitam boleh dibilang berada di tempat yang cukup terpencil. Berada di antara dua lereng bukit tinggi, dan tepat di belakang markas adalah sebuah jurang yang seolah tak berdasar.
Tembok tinggi yang mengelilingi seluruh markas dibuat runcing pada ujungnya. Dengan cara meletakkan pecahan pedang atau tombak, supaya mengurangi adanya usaha penyusupan.
Pria yang mungkin berumur empat puluh lima tahun, berjalan keluar dari gedung yang paling besar. Di samping kanannya berdiri pula seorang yang beberapa tahun lebih muda. Namun karena tampangnya yang penuh brewok, sehingga pria ini seakan lebih tua.
"Kita akan mengunjungi guru besar lagi, tuan muda?"
Sosok yang dipanggil tuan muda ini menoleh dengan tatapan penuh tanya. "Memangnya kemana lagi?"
Pria brewok itu menghela nafas panjang, "Bukankah guru besar sudah meminta kita untuk tidak terlalu sering mendatanginya. Masih banyak urusan di sini."
Tuan muda itu termenung sesaat, memandang ke langit pagi yang biru cerah tanpa awan itu. "Aku hanya....kepikiran soal tragedi lima tahun lalu. Apakah kita memang menjadi pihak yang benar?"
Si brewok tadi melotot dan cepat menjawab, "Tentu saja! Ayah anda sendiri menjadi korban, kita tak bisa membiarkannya saja! Rajawali Putih pantas mendapatkannya!!"
Tatapan tuan muda itu menjadi sendu dan sedih. Kemudian dia bergumam, seolah ditujukan kepada dirinya sendiri. "Aku ingat....tatapan itu......tatapan bocah itu....penuh dendam. Dia pasti akan mencari kita."
Si brewok pura-pura tak mendengar dan kembali berkata, "Lalu apa hubungannya antara kita yang mengunjungi guru besar dengan peristiwa itu?"
"Aku ingin minta saran."
"Tapi tuan muda–"
"Tuan muda!!!"
Serentak keduanya ini menoleh untuk menemukan pria gendut dan tinggi besar, berlari ngos-ngosan menuju kearah mereka.
"Pat Kue, ada apa?" si brewok bertanya.
"Wah....gawat benar.....tuan muda, Bao Leng, ada berita menggemparkan!!" jawab pria gendut bernama Pat Kue itu.
Bao Leng, si brewok menyipitkan mata dan memandang penuh selidik. "Jelaskan!"
"Hah....hah...aku tak kuat. Datangi saja gerbang." kemudian Pat Kue jatuh terlentang dengan nafas memburu dan keringat membasahi seluruh tubuh.
Bersamaan dengan itu, Bao Leng bersama tuan mudanya segera mengerahkan ilmu meringankam tubuh menuju gerbang. Beberapa detik kemudian, mereka sampai dan segera dikejutkan dengan kehadiran dua orang yang telah pergi beberapa hari lalu.
"Ada apa?" seru tuan muda itu.
Dua orang saudara seperguruan yang baru saja mengalami kejadian hebat itu serentak berdiri dan memberi hormat kepada tuan muda mereka. Lalu pria yang lebih tua berkata. "Seluruh rombongan tewas tuan muda, saat kami bentrok melawan Hati Iblis...."
"Apa!! Hati Iblis mengacau!" Bao Leng terlihat marah. Namun segera dihentikan oleh tuan mudanya.
"Lanjutkan."
Pria tiga puluh tahun itu mengangguk dan kembali menjelaskan, "Saat kami bentrok dengan mereka, datang seorang pemuda yang kepandaiannya luar biasa mengerikan. Dia mengaku dahulunya adalah....kacung Rajawali Putih."
Kamudian dia juga menceritakan kondisi setelah pertarungan itu yang sangat mengenaskan.
"Apa?"
Mata tuan muda dan Bao Leng melebar. Kemudian tubuh tuan muda itu seperti menggigil dengan mulut sedikit terbuka. Tiba-tiba teringatlah ia akan bocah berpakaian sederhana sekali, yang pada saat bentrokan Naga Hitam dengan Rajawali Putih lima tahun lalu dia hanya mampu berdiri diam dengan raut ketakutan. Lalu saat terakhir, dia memangku tubuh seorang gadis kecil sambil menangis. Seorang bocah yang mungkin akan mati di tangan Bao Leng jika dia tak cepat menyelamatkannya.
"Dia kembali?"
"Bangsat! Darimana pemuda itu hah!?" Bao Leng menjadi berang.
"Saya tidak tahu! Saya bersama adik junior pingsan saat kejadian itu. Bahkan kami berdua tidak tahu siapa yang melakukan semua pembunuhan itu. Yang saya tahu, hanyalah bentrokan dengan Hati Iblis, lalu muncul pemuda kacung Rajawali Putih itu." pria ini menjawab ketakutan saat kerah bajunya ditarik dengan kasar oleh Bao Leng.
"Bao Leng, tenang! Kita lanjutkan urusan kita. Kalian berdua, lekas masuk dan beristirahat!"
...****************...
"Kau tunggu di luar."
Bao Leng hanya mengangguk mengiyakan dengan apa yang diperintahkan oleh tuan mudanya.
Lelaki empat puluh lima tahun ini berjalan memasuki gua yang sangat gelap, juga seram. Di dinding-dinding gua ditumbuhi berbagai macam lumut dan juga lubang-lubang entah apa itu.
Namun begitu masuk lebih jauh, ruangan di dalam gua menjadi luas dan tepat di ujung gua, ruangan menjadi sangat luas serta terang.
Ruangan di ujung gua ini memperoleh pasokan sinar matahari dari lubang-lubang kecil di langit-langit gua.
Di tengah ruangan, duduk seorang pria tua gundul bermata sipit, mengenakan jubah hitam dengan sulaman naga emas di dadanya. Di depan pria tersebut, terdapat satu buah kitab kecil. Lalu di samping kirinya, nampak dua buah kipas berwarna putih.
"Guru...saya datang berkunjung." tuan muda itu membungkuk hormat.
Giok Shi, itulah sosok yang saat ini sedang duduk sendirian di dalam goa itu. Mengasingkan diri dan menyerahkan segala tugas kepemimpinan Naga Hitam kepada sosok yang dipanggil tuan muda ini.
Ketua Naga Hitam itu tersenyum tipis kemudian terdengar suaranya perlahan. Walaupun perlahan, namun terdengar seperti datang dari berbagai arah.
"Gu Ren, angkat kepalamu. Ada apakah kau berkunjung kemari?"
Gu Ren, sosok tuan muda itu mengangkat kepala dan melanjutkan, "Ingin meminta saran dari guru."
"Saran apa itu?" Giok Shi dengan suara lembut menjawab.
"Ada banyak sekali permasalahan yang menimpa Naga Hitam semenjak anda pergi mengasingkan diri. Saya tahu anda tidak ingin kitab dan pusaka itu jatuh ke tangan orang yang salah, namun Naga Hitam akhir-akhir ini selalu mendapatkan masalah."
"Hm, apa itu? Aku yakin dengan adanya dirimu dan Bao Leng, semua baik-baik saja."
Gu Ren melanjutkan, "Seperti yang guru tahu sendiri, urusan dengan Rajawali Putih kian merumit dan membingungkan, bahkan mereka lenyap entah kemana. Lalu akhir-akhir ini kami sering terlibat bentrokan dengan Hati Iblis. Dan baru saja saya menerima laporan, kalau Tongkat Emas...telah tewas."
Giok Shi mengerutkan kening dan kepalanya sedikit terangkat. Kemudian kembali tersenyum, "Ceritamu belum selesai. Gu Ren, lanjutkan dan biarkan aku mendengar kisah lengkapnya."
Akhirnya setelah beberapa waktu berlalu, Gu Ren menceritakan kisah pembantaian dua belas utusan Naga Hitam yang disampaikan oleh sepasang saudara seperguruan. Dia juga menjelaskan soal kemunculan pemuda yang mengaku dulunya kacung Rajawali Putih.
"Gu Ren....dengar. Urusan ini menyangkut tiga belah pihak."
"Saya tahu guru!"
"Nah....hanya pesanku, jangan membuat ribut dengan Rajawali Putih. Mereka tidak bersalah, aku yakin."
"Saya juga berpikir demikian guru. Tapi.....sepertinya hanya kita berdua saja dan segelintir orang yang percaya akan hal itu. Kita berdua tahu, hampir seluruh anggota Naga Hitam adalah mantan bandit dan penjahat yang dahulu anda tundukkan. Mereka tak akan mau terima sudah jika dendam belum terbalas." Gu Ren berkata cemas.
"Nah, kau pintar. Sekarang dengan ikut campurnya Hati Iblis, mungkin.....ini rumit..." Walau pun masih tersenyum, namun sinar mata Giok shi menunjukkan perubahan.
"Hati Iblis, apakah mereka yang telah menimbulkan konflik berkepanjangan ini?" tiba-tiba Gu Ren berseru dan mengejutkan Giok Shi. "Benar juga! Bisa jadi seperti itu!!"
"Gu Ren, jangan asal menuduh."
"Guru, kita merupakan partai besar. Yang semua orang sudah tahu, kita merupakan pemburu harta warisan Raja Dunia Silat. Lalu tentang kepemilikan kitab serta pusaka yang anda temukan itu, menggegerkan rimba persilatan. Hati Iblis tentu ingin memanfaatkan ini!!"
"Jika memang begitu, lalu kita harus apa?" Giok Shi masih bersikap halus dan sabar.
"Itu tak bisa dibiarkan, Hati Iblis harus bertanggung jawab atas segalanya. Ayahku mati karena mereka!!" Gu Ren seolah lupa sedang berbicara kepada siapa. Dia mengatakan semua itu dengan emosi meluap-luap.
Giok Shi memandang sepasang mata Gu ren penuh perhatian. "Bagaimana dengan kacung Rajawali Putih itu?"
"Eh, maksud guru?"
"Apa kau tak memikirkannya. Ancaman yang lebih besar mungkin saja bukan datang dari Hati Iblis, melainkan dari bocah itu. Kau sendiri dulu yang bilang, kalau kau menyelamatkan satu bocah dari Rajawali Putih kan?"
Gu Ren termenung sejenak sebelum menjawab, "Benar guru." Namun cepat-cepat ia menyambung, "Maksud guru, hanya satu orang saja dia sudah mampu mengancam kita. Guru, itu–"
"Gu Ren, hanya engkaulah yang tahu akan diriku...." Giok Shi memandang muridnya tajam. "Gu Ren, api yang ada di sini, sangat sulit untuk dipadamkan." Giok Shi menunjuk dadanya sendiri.
"Gu Ren, jika memang anak itu yang dahulu engkau selamatkan, bukankah dia sama seperti diriku? Gu Ren, api yang ada di hati, bisa membakar segalanya...."
Wajah Gu Ren menjadi pucat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 269 Episodes
Comments
adhy nofx
oklah
2025-03-29
0
Yoihoi Yoi
Tenang Bang, ini masih proses mcnya..
2023-08-12
1
Dewo Bumi
sayang MC Naif,jadi ku banyak yg ku skip di alur ceritanya 🤣
2023-06-29
2